Wow… Ternyata Imam Syafi’i Berpendapat Lebih Baik Mengakhirkan Sholat Isya

Dalam pendapat Imam Syafii, dikenal dengan istilah Madzhab Qodim (Pendapat Lama) dan Madzhab Jadid (Pendapat Baru). Dalam madhzab baru, Imam Syafii merevisi pendapatnya karena menemukan dalil jalur periwayatan hadits yang lebih kuat. Itulah sebabnya, ada beberapa pokok masalah yang kemudian direvisi oleh beliau, salah satunya tentang mengakhirkan atau melambatkan sholat Isya lebih utama (dalam pandangan Madzhab Jadid).

Titik Temu Secara Umum

Bahwa secara umum, tidak ada perbedaan dalam madzhab qodim dan jadid, yang utama ialah menyegerakan sholat pada setiap waktu. Kecuali, pada waktu Dzuhur bila cuaca sangat panas. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, berkata:

“Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, pekerjaan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: sholat tepat pada waktunya.”

Alasan lainnya, karena Allah SWT mewajibkan kaum muslim agar menjaga sholat.

Imam Syafii megeaskan dalam kitab al-Umm, “Apabila seseorang sudah yakin dengan masuknya akhir waktu fajar, maka hendaklah ia melakukan sholat subuh, karena lebih sesuai dengan kitabullah, pedapat para ahli hadits, dan lebih akrab dengan sabda-sabda rasulullah SAW dan lebih dikenal di kalangan para ulama.”

Adapun hal yang baik adalah menyegerakan sholat Dzuhur, kecuali cuaca sangat panas, hendaklah imam melambatkan sholat Dzuhur hingga akhir waktu. Hal ini sesuai dengan berita dari Abu Sufyan, dari Az-Zuhari, dari Sa’id bin Al Musayyib, dari Abu Hurairah, bahwa rasulullah SAW bersabda:

“Apabila cuaca sangat panas, maka lambatkanlah sholat sehingga cuaca menjadi lebih sejuk, karena sesungguhnya cuaca panas itu adalah hembusan dari Jahannam.”

Adapun mengenai sholat Ashar, Imam Syafii lebih mengutamakan agar dikerjakan pada awal waktunya dan tidak dilambatkan.

An-Nawawi berkata, “Menurut kesepakatan ulama, menyegerakan sholat Maghrib merupakan hal yang lebih utama.”

Bagaimana dengan sholat Isya?

Madzhab Qodim: Menyegerakan Sholat Isya Lebih Baik

Karena rasulullah SAW selalu menyegerakan sholatnya. Hal ini didasarkan pada riwayat an-Nu’man bin Basyir:

“Saya orang yang paling mengetahui waktu sholat Isya, Rasulullah SAW selalu melaksanakan sholat Isya pada pergerakan bulan untuk ketiga kalinya.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzi dengan sanad shohih)

An-Nawawi menegaskan, “Nash ini mengindikasikan sholat Isya lebih afdhal pada awal waktu.”

Madzhab Jadid: Melambatkan Sholat Isya Lebih Baik

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Kalau bukan karena memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk melaksanakan sholat Isya pada sepertiga malam, atau pertengahan.” (HR at-Tirmidzi, dengan kategori hasan shohih)

Dari Abi Barzah ra berkata: Rasulullah SAW suka melambatkan sholat Isya (HR Bukhori dan Muslim)

Dari Jabir bin Samrah ra berkata: Rasulullah SAW selalu melambatkan sholat Isya hingga sepertiga akhir (HR Muslim)

Hadits-hadits yang disebutkan di atas, merupakan hadits shohih yang menerangkan sunnahnya melambatkan sholat Isya. Pendapat ini adalah pendapat Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, dan lainnya. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi  dari mayoritas ulama, sahabat, dan tabiin.

Pendapat KH Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam

Dalam hal ini, para pemuka ulama madzhab Syafii memilih madzhab qadim, yaitu lebih baik menyegerakan sholat Isya. Sebagaimana Imam an-Nawawi berpendapat:

“Yang paling shohih dari dua pendapat ini adalah madzhab qadimnya, yang dipilih oleh para pemuka madzhab, seperti Syekh Hamid, Al Mahamili dalam kitabnya al-Majmu’ wa at-Tajrid, penulis kitab Mushanif, Syekh Nasr, Asy-Syasyi, Al Mahamili dalam kitab al-muqni’, Aj-Jurjani dalam kitabnya, Syekh Nasr dalam kitabnya al-Kafi, al-Ghazali dalam kitabnya al-Khulashoh, asy-Syasyi dalam kitabnya al-‘Umdah, dan lainnya. Sedangkan az-Zubair lebih memilih pendapat versi madzhab jadid karena hadits-hadits yang menjadi hujjah adalah hadits shohih.”

Menurut KH Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam, an-Nawawi berhujjah dengan hadits dari an-Nu’man bin Basyir karena haditsnya shohih. Sedangkan an-Nawawi tidak menggunakan hadits Abdullah ibnu Mas’ud karena hadis ini hadits dhoif. Beliau –KH Ahmad Nahrawi- mengatakan, adalah sangat mungkin untuk menggabungkan antara hadits-hadits yang menyerukan agar menyegerakan sholat dan hadits-hadits yang menyerukan  melambatkan sholat. Disunnahkan bagi imam sholat agar menyegerakan sholat berjamaah pada awal waktu, karena kondisi manusia berbeda-beda, sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “Mudahkanlah dan janganlah kalian mempersulit.” Kaidah ini sering dilakukan oleh Rasulullah. Kemudian, bagi orang yang hendak melaksanakan sholat Isya di rumahnya, sehingga tidak khawatir akan terlewatkan waktu sholat Isya, boleh melambatkannya.

Referensi

KH Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam. Al-Imam Asy-Syafi’I Dalam Qaul Qadim dan Jadid (Pancoran: Yayasan Annahrawi, 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *