Cinta dan Hati yang Terluka

Banyak peristiwa-peristiwa kecil yang melatarbelakangi peristiwa besar. Kalau tak mempelajari sejarah, tentu tidak akan mendapatkan benang merahnya. Apalagi kisah-kisah tersebut kadang disembunyikan, disimpan rapat-rapat dalam kotak sejarah, dan dimodifikasi agar tersamar dari aslinya. Tapi tetap saja sejarah lambat laun akan membuktikannya di hadapan banyak orang.

Seperti misalnya tentang pembantaian keji Husein cucu Rasulullah. Peristiwa yang paling menyedihkan sepanjang sejarah Islam itu dilakukan oleh Yazid bin Muawiyah. Tatkala kepala Husein dipisahkan dari badannya, lantas diarak keliling kota, hampir setiap orang menangisinya. Sebegitu dendamnya Yazid kepada Husein. Apa penyebabnya? Banyak sejarah yang mengulas dari sisi kekuasaan, bahwa Husein menghalang-halangi Yazid berkuasa. Akan tetapi, itu bisa jadi puncaknya alias hilir atau akibat. Bisa jadi, ada rentetan peristiwa lain yang menjadi pemicu dan menjadi bom waktu yang tinggal menunggu untuk meledak.

Seperti diketahui, Yazid adalah putra mahkota, calon pengganti khalifah, yaitu Muwaiyah. Ia digadang-gadang menjadi penerus ayahnya. Meskipun bergelar khalifah, sejatinya Muawaiyah adalah raja. Oleh karena itu, tampuk kekuasaan diturunkan ke anak keturunannya. Kekhalifahan Bani Umayah sesungguhnya adalah kerajaan dinasti Umayah.

Singkat kata, Yazid jatuh cinta kepada Ummu Khalid, istri dari Adiy bin Hatim at-Thai ketika ia berkunjung ke Madinah. Sekelebat pandangannya kepada Ummu Khalid begitu membekas di benaknya. Hingga akhirnya suatu hari Yazid jatuh sakit dan tidak ada yang mampu mengobatinya. Ia sungguh-sungguh demam jatuh cinta. Tapi sayangnya, Ummu Khalid sudah bersuami. Itu awal mula permasalahan.

 

Seperti kisah roman lain, Yazid benar-benar cinta mati kepada Ummu Khalid. Ketika itu umurnya 17 tahun. Bisa jadi, cintanya kepada Ummu Khalid adalah cinta pertamanya. Semua orang tahu, cinta pertama tak mudah dilupakan. Maka ia katakan hal itu kepada ibunya, kemudian disampaikan ke Muawiyah. Amru bin Ash kemudian dimintai nasihat oleh Muawiyah atas masalah ini.

Amru bin Ash sendiri mengakui bahwa permasalahan ini berat. Bagaimana mungkin mencari solusi atas cinta terlarang satu arah dan harus dilegalkan? Tapi begitulah Amru, ia adalah sahabat yang terkenal cerdas. Ia mengajukan beberapa solusi kepada Muawiyah.

Esoknya, rencana dijalankan. Muawiyah memanggil Adiy bin Hatim at-Thai ke istananya di Damaskus. Amru bin Ash mendampingi Adiy hingga waktu bertemu khalifah tiba. Muawiyah bertanya, “Apakah Adiy sudah beristri?” Dengan polosnya ia menjawab, “Sudah.” Muawiyah menepuk keningnya kemudian meninggalkan jamuan makan. Begitu pula seisi ruangan. Hanya tersisa Adiy bin Hatim yang kebingungan dan Amru bin Ash di ruangan itu. Amru kemudian berkata, “Khalifah ingin menjodohkanmu dengan anaknya, tapi ia tak mau dimadu.” Demi menyenangkan khalifah, Adiy esok harinya menceraikan Ummu Khalid dan kabar itu sontak menyebar luas ke santero negeri.

Yazid yang tengah sakit tiba-tiba sembuh. Sakitnya sakit cinta. Yang menyembuhkannya juga cinta. Yazid senang bukan kepalang. Ia sangat optimis, Ummu Khalid akan mau menerima cintanya. Siapa yang tidak mau menikah dengan putra mahkota? Hati Yazid berdebar-debar tak sabar menunggu saat yang indah itu.

Abu Hurairah diutus oleh Muawiyah untuk meminang Ummu Khalid atas nama khalifah. Tentu saja untuk dinikahkan kepada Yazid, sang putera mahkota. Sebelum bertemu Ummu Khalid, Abu Hurairah bertemu dengan beberapa sahabat lainnya, dan mereka juga turut meminta Abu Hurairah untuk menitipkan lamaran. Mereka adalah Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan Husein bin Ali.

Ketika masa iddah Ummu Salamah habis, Abu Hurairah menghadap dan menyampaikan maksudnya. Ia membawa lamaran empat orang. Karena seorang janda, Ummu Khalid bebas menentukan pilihannya. Di antara empat orang itu, yaitu Yazid bin Muwaiyah, ibnu Umar, ibnu Zubair, dan Husein bin Ali, Ummu Khalid justru memilih Husein bin Ali. Betapa hancur hati Yazid. Cinta pertamanya kandas sia-sia. Bisa jadi, kekalahan Yazid untuk mendapatkan cinta Ummu Khalid benar-benar menjadi rentetan peristiwa yang berakibat terbunuhnya Husein di kemudian hari.

Mari kita melihat peristiwa ini dari kaca mata Yazid. Ia adalah putera mahkota. Kekuasaan dan imperium yang luas terhampar di depannya. Ia masih muda. Untuk mendapatkan gadis muda seusianya tentu tidaklah susah. Tapi cinta pertamanya terlanjur kepada istri orang. Setelah dengan susah payah suami istri tersebut berpisah,  justru cintanya ditolak. Ia dikalahkan oleh seorang yang miskin, meskipun Husein adalah keturunan Rasulullah. Bagaimana harga diri dan martabat Yazid hancur diinjak-injak. Hal itu bisa jadi mengawali ketidaksukaan Yazid kepada Husein, karena ia merebut cinta pertamanya.

Padahal Husein melakukan hal tersebut untuk mengkritik kekhalifahan Bani Umayah yang melakukan perbuatan tidak wajar. Mengorbankan cinta Adiy dan istrinya, demi cinta Yazid. Husein ingin menyelamatkan Ummu Khalid dari kesewenang-wenangan penguasa. Pada akhirnya, Husein mengatakan kepada Adiy bahwa ia sama sekali tidak menyentuh Ummu Khalid. Hal serupa juga dilakukan oleh ibnu Zubair dan ibnu Umar dalam rangka mengkritik penguasa.

Ketika berbicara cinta, ini adalah hal yang rumit. Peristiwa besar terbunuhnya Husein, yang nanti akan menjadi huru-hara dan semakin terpecahnya umat Islam karena kelompok Syiah semakin kuat, ternyata salah satu pemicunya adalah cinta. Cinta tak sampai. Cinta yang tertolak. Cinta bertepuk sebelah tangan. Atau apapun namanya.

Di balik peristiwa besar, ada hal sederhana yang terjadi. Di balik perang besar yang menewaskan banyak orang, ada hati yang terluka. Bukankah itu pengulangan terhadap sejarah? Pembunuhan pertama kali di atas muka bumi, karena apa? Hati-hati terhadap cinta dan hati yang terluka.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *