Ibrah Haditsul Ifki

Ketika kita menyebarkan sebuah informasi yang belum nyata nilai kebenarannya, maka berhati-hatilah. Bisa jadi informasi yang kita sebar berbanding terbalik 360 derajat dari realita.

Sesuatu yang belum tentu benar, lalu disampaikan kepada seseorang, seseorang tersebut bercerita kepada orang lain, dan orang lain tadi menyebarkan lagi, begitu terus dan berkelanjutan entah sampai mana ujungnya. Bahkan bisa jadi tak memiliki ujung. Secara tak langsung kita telah terjebak dalam situasi yang dapat melahirkan dosa, inilah yang disebut dengan dosa kolektif.

Kanjeng Nabi pernah mendapatkan cobaan demikian. Namun tuduhan tidak langsung ditujukan kepada beliau, tetapi kepeda istri termudanya yang dijuluki “humaira” oleh beliau, yaitu Sayyidah Aisyah. Salah satu istri nabi yang juga sebagai perawi hadits terbanyak dari kalangan kaum mukminin wanita. Humaira adalah panggilan sayang baginda Nabi kepada Sayyidah Aisyah. Panggilan tersebut juga menunjukkan bahwa Aisyah adalah salah satu orang yang bernilai spesial dimata baginda Nabi. Bukan hanya cantik, tetapi kecerdasannya dalam menghafal hadits juga sangat luar biasa.

Masihkah kita ingat tentang haditsul ifki (berita bohong)? Dimana adanya sebuah peristiwa pahit yang menimpa keluarga nabi. Istri beliau Sayyidah Aisyah difitnah bermain serong dengan laki-laki lain. Tentu saja tujuan berita ini disebarkan dengan tujuan merusak citra baik Sayyidah Aisyah dan keluarga baginda Nabi.

Berita bohong ini tersebar dengan begitu cepatnya, hanya karena melihat situasi yang belum dipahami secara utuh. Tanpa ada pertanyaan ataupun semacam klarifikasi dari peristiwa tersebut, langsung saja menyimpulkan dengan nafsunya sendiri. Berita ini mula-mula bersumber dari mulut Abdullah bin Ubay bin Salul, seseorang yang sudah sangat terkenal kemunafikannya di masa itu. Namun ternyata masih banyak juga orang yang mempercayai kabar yang keluar dari orang yang munafiq ini.

Awal mulanya Sayyidah Aisyah belum mengetahui secara langsung jika ada desas-desus tentang beliau, namun Sayyidah Aisyah melihat ada perubahan dari sikap Baginda Nabi. Pada saat itu kondisi fisik Sayyidah Aisyah sedang terganggu. Sudah menjadi sebuah kebiasaan, ketika ada salah satu istri baginda nabi yang sedang sakit, maka beliau akan bersikap lebih lembut dan perhatiannya bertambah. Namun tidak pada saat itu, baginda nabi bersikap ala kadarnya (biasa saja), beliau hanya menanyakan keadaan Sayyidah Aisyah. Dari sinilah mulai terbaca bahwa ada hal yang tidak beres yang tengah terjadi.

Dari mulut ke mulut, akhirnya sampai juga desas-desus itu ke telinga Sayyidah Aisyah. Setelah Sayyidah Aisyah mengetahui adanya berita bohong seperti itu yang telah menyebar luas, menangislah beliau dari malam hingga pagi tiba, sehingga membuat sakit beliau semakin parah. Bisa kita membayangkannya, seorang yang memiliki derajat mulia di sisi Allah dan sebagai istri utusan Allah dituduh melakukan perbuatan nista. Banyak orang yang juga ikut terhasut dari berita bohong ini, dari kalangan sahabat, orang tua Sayyidah Aisyah, maupun Rasulullah sendiri, hingga beliau berkata “Hai Aisyah, aku telah dengar apa yang digunjingkan orang kepadamu, jika engkau tidak bersalah, Allah pasti akan membebaskan dirimu, jika engkau telah melakukan dosa, mintalah ampunan kepada Allah”. Secara tidak langsung, Rasulullah pun masih meragukan kejujuran Sayyidah Aisyah, namun sebagai istri dan hamba yang taat, beliau tak mau banyak bicara, beliau menyerahkan semuanya kepada Dzat yang Maha Mengetahui tentang semua perbuatan hamba-Nya.

Hingga akhirnya turunlah firman Allah yang menjelaskan bahwa Sayyidah Aisyah tidaklah bersalah, tidak ada siapa-siapa yang menjadi pembela beliau, kepasrahannya kepada Allah-lah yang menjadi modal utama dan menjadi kekuatan untuk sabar dalam menghadapi fitnah yang menimpa beliau.

Fitnah sungguh luar biasa, bahkan setelah ada ayat yang menjelaskan perihal tersebut, namun masih ada saja golongan yang menganggap bahwa Sayyidah Aisyah adalah peselingkuh dan tukang main serong, na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Bahaya fitnah akan terus mengalir walaupun orang yang difitnah sudah tidak ada lagi di dunia ini. Berhati-hati dari berbagai berita adalah kunci utama agar kita dapat terhindar dari yang namanya dosa kolektif.

Masih mau menyebarkan sesuatu yang tidak jelas pangkal ujungnya ?[]

One thought on “Ibrah Haditsul Ifki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *