Kritik Teks terhadap Ibnu Taimiyah (9)

Adapun aspek kedua, dia mengatakan:

 

“Satu hal merupakan perbandingan dari satu hal lainnya. Hal-hal yang dapat diketahui, dilogika, diindra, dan diimajinasikan, merupakan satu perbandingan.”

 

Perhatikan pernyataan yang gawat ini. Ibnu Taimiyah hendak mengatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang muncul pada alam indrawi dan imajinasi, maka dia juga pasti muncul di alam nyata dan logika.”

 

Artinya, jika dikatakan bahwa imajinasi dan pengindraan dalam suatu entitas itu terkadang bisa terjadi berlawanan dengan hukumnya, maka harus pula dikatakan bahwa logika dan pengetahuan dalam entitas tertentu dapat terjadi berseberangan dengan keduanya.

 

Ibnu Taimiyah melontarkan pernyataan ini tak lain karena dia menyakini bahwa kedudukan indra dan imajinasi sama dengan kedudukan akal. Akal, menurut dia, tak lain hanyalah satu dari beberapa tingkatan benda fisik. Atau, akal merupakan benda fisik sendiri, akan tetapi berbeda dalam hal tertentu.

 

Pengertian seperti ini merupakan pengertian yang kami jelaskan dalam ringkasan akidah Ibnu Taimiyah di akhir buku ini. Perlu Anda ketahui, pernyataan yang dilontarkan Ibnu Taimiyah ini sangat berbahaya. Sebab, pada hakikatnya ini merupakan eliminasi terhadap hal-hal yang dapat dilogika (al-ma’qulat) sekaligus eliminasi terhadap kedudukan akal sekaligus. Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah bahkan identik dengan kelompok Materialis-Ateis, seperti kelompok Samniyyah di masa lalu dan sejumlah kaum ateis Barat di masa kini. Di sisi lain, dia justru menunjukkan sikap berlawanan terhadap pernyataan ulama-ulama Islam di bidang ini.

 

Kesimpulan dari pendapat Ibnu Taimiyah adalah: akal merupakan bagian dari hal-hal indrawi (fisik) dan imajinasi. Jika hal-hal indrawi tak ada, maka akal pun tak ada.

 

Sementara, para ulama Islam mengatakan bahwa alat-alat pengindra merupakan syarat dalam proses berpikir (logika). Akan tetapi, ia bukan sebab terjadinya proses berpikir, bukan pula rukun darinya. Sebaliknya, proses logika juga bukan rukun dari alat-alat pengindra. Terdapat perbedaan yang besar antara dua hal ini jika Anda perhatikan.

 

Semua ini kami simpulkan seluruhnya dari pernyataan Ibnu Taimiyah sendiri, yaitu bahwa perkara-peraka yang dapat diindra (fisik) itu sama dengan perkara-perkara yang dapat diketahui (nonfisik) dalam hal perbandingan. Artinya, jika dikatakan bahwa kekurangan dan kesalahan itu boleh terjadi pada alat-alat pengindra, maka demikian pula dengan ilmu (pengetahuan), bahkan juga akal.

 

Dari sini kami ingin mengatakan, Ibnu Taimiyah mengklaim bahwasanya panca indra meskipun semuanya dalam kondisi baik, bisa saja salah. Demikian pula akal, terkadang bisa melakukan kesalahan meskipun telah menempuh metode yang benar dalam mengamati dan berpikir.

 

Kita semua tahu betapa bahaya pernyataan ini. Konsekuensi kerusakan dan cela yang ditimbulkannya juga sangat besar.

 

Meski demikian, ada saja pembaca yang merasa heran dengan pernyataan ini. Mereka mengatakan, “Bagaimana mungkin kalian memahami makna yang sangat krusial ini hanya dari pernyataan singkat tersebut? Di samping itu, apakah pernyataan itu otomatis menunjukkan kesimpulan tadi?”

 

Jawaban kami: sejatinya kami menyimpulkan pemahaman ini dari pernyataan Ibnu Taimiyah di berbagai kitab karyanya sebagai prioritas. Kami tidak menyimpulkan pemahaman hanya dari kalimat-kalimat singkat itu saja.

 

Di samping itu, pernyataan Ibnu Taimiyah tersebut juga menunjukkan sebagaimana yang kami simpulkan, meskipun kita tidak menyimak pernyataan-pernyataan dia lainnya di tempat lain. Tetapi, baiklah, agar Anda yakin mari kita baca secara lengkap sisa pernyataan Ibnu Taimiyah selanjutnya.

 

Setelah pernyataan di atas, Ibnu Taimiyah langsung melanjutkannya dengan ungkapan yang dia tujukan kepada Imam ar-Razi (1/309), “Pernyataan Anda, ‘Tetapnya hal ini berseberangan dengan hukum ilusi dan imajinasi’ adalah sama halnya dengan seseorang yang mengatakan, ‘Sesuatu ini bisa ditetapkan meskipun berseberangan dengan hukum akal dan ilmu.’”

 

Sesungguhnya Ibnu Taimiyah dalam pernyataannya di atas menyamakan antara dua hal berikut:

 

Pertama, kemungkinan tetapnya sesuatu meskipun bertentangan atau berseberangan dengan ilusi dan imajinasi. Kedua, kemungkinan tetapnya sesuatu meskipun bertentangan atau berseberangan dengan akal dan ilmu.

 

Penyamaan dua pernyataan di atas oleh Ibnu Taimiyah memberi petunjuk yang jelas bahwa dia ingin menyamakan antara logika dan imajinasi, serta antara indra-ilusi dan pengetahuan. Ini mempertegas (kebenaran) tudingan kami terhadapnya sebagaimana kami sebutkan sebelumnya.

 

Jadi, pada hakikatnya Ibnu Taimiyah tidak membedakan antara imajinasi dan logika, juga antara proses imajinasi dan proses logika (berpikir). Sehingga, apa pun yang dapat Anda pikirkan harus pula dapat dihayalkan atau dibayangkan. Adapun jika sesuatu itu dapat Anda pikirkan namun tak dapat Anda bayangkan, maka hal itu mustahil ada dan pasti batil, menurut Ibnu Taimiyah.

 

Bahkan, merupakan kekeliruan pula jika Anda memercayai eksistensi suatu entitas secara mutlak, akan tetapi Anda tak dapat mengkhayalkan atau membayangkannya. Atas dasar ini, maka Ibnu Taimiyah sebagaimana kita ketahui sebelumnya mengatakan, “Sesungguhnya kita tidak beriman kepada Allah kecuali karena kita dapat mengkhayalkan, membayangkan, dan menggambarkan-Nya. Jika kita tak dapat mengkhayalkan dan membayangkan-Nya, maka secara logika kita tidak boleh beriman kepada-Nya.”

 

Pernyataan ini, sebagaimana kita lihat dengan sangat gamblang, jelas-jelas bertentangan dengan pernyataan tokoh-tokoh ulama Islam di masa lalu maupun masa kini. Sebab, kita beriman kepada Allah swt. dan tidak membayangkan hakikat Dzat-Nya, tidak pula memikirkan-Nya.

 

Apa yang diminta oleh akal kita sepenuhnya adalah tunduk pada hukum sifat-sifat-Nya, serta meyakini sepenuh hati akan adanya Dzat-Nya.

 

Sementara, pernyataan Ibnu Taimiyah di atas sebagaimana telah kami terangkan, jelas-jelas menolak adanya tingkatan lain setelah tingkatan imajinasi dan pengindraan. Bahkan, menurut dia, tidak ada proses berpikir (logika) tanpa disertai pengindraan dan imajinasi.

 

Oleh sebab itu, menurut kami Ibnu Taimiyah meyakini bahwa pengindraan merupakan salah satu rukun akal (logika) dan bagian darinya. Dengan kata lain, akal adalah bagian sekaligus bentuk dari hal-hal yang dapat diindra. Artinya, ia merupakan bentuk tertentu dari gambaran-gambaran imajinatif yang terdapat dalam pikiran manusia. Dengan pernyataannya ini, Ibnu Taimiyah menentang dasar-dasar dan aturan teori pengetahuan manusia.[]

 

Referensi

سعيد عبد اللطيف فودة. الكاشف الصغير عن عقائد ابن تيمية (عمان: دار الرازي للنشر, 2000)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *