Karakteristik Penganut Paham Radikal: Pemikiran, Pengetahuan, Moral, dan Ciri Individual

Masyarakat saat ini menjadi bingung dengan adanya paham-paham radikal yang tentu saja menyelisihi pendapat mayoritas. Mengapa demikian? Dalam berbagai isu yang berkaitan dengan agama, paham radikal cenderung ‘menggurui’ dan ‘melabeli’ siapapun dan apapun yang berbeda dengan mereka sebagai musuh, orang lain atau pihak bersalah. Hal ini membuat masyarakat Indonesia yang sudah ajeg dan mapan dalam beragama, menjadi ricuh dan terbelah.

Di satu sisi, pola berpikir instan dalam era modern digunakan untuk beragama. Tentu saja yang terjadi selanjutnya adalah kekacauan-kekacauan dalam berbagai aspek, bukan hanya dalam ranah agama. Hal ini dilandasi bahwa agama merupakan pusat dari aspek-aspek kehidupan lainnya. Ketika kekacauan beragama mencuat, turut pula mempengaruhi aspek yang lain.

Yang justru menyedihkan, justru paham radikalisme berkembang dari lembaga pendidikan seperti sekolah. Dalam sebuah penelitian, ditemukan hasil yang mencengangkan, yaitu sejumlah SMA Negeri favorit di beberapa kabupaten di Jawa Tengah dan DIY mengakui kecolongan adanya bibit-bibit paham radikal masuk ke sekolahnya melalui kegiatan Kerohanian Islam atau Rohis.[1] Dari kegiatan Rohis inilah paham radikal justru masuk, mendoktrin, dan menumbuhkembangkan paham radikal kepada para siswa. Sepintas Rohis tampak baik, tetapi di dalamnya justru menegaskan adanya kepentingan berbagai pihak radikal.

Selain itu, ada survei yang mengungkap tingkat intoleran para siswa semakin mengkhawatirkan. Survei toleransi pelajar Indonesia yang dilakukan oleh Setara Institute pada 2016 menyimpulkan bahwa 35,7% siswa memiliki paham intoleran yang baru dalam tataran pemikiran, 2,4% persen sudah menunjukkan sikap intoleran dalam tindakan dan perkataan, dan 0,3% berpotensi menjadi teroris. Survei ini dilakukan atas 760 responden yang sedang menempuh pendidikan SMA Negeri di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.[2] Agus Mutohar, penulis artikel tersebut mengungkapkan adanya 3 tipe sekolah swasta Islam yang rentan mendidik siswanya menjadi radikal. Tiga tipe sekolah tersebut yaitu: sekolah tertutup (closed school)[3], sekolah terpisah (separated school)[4], dan sekolah yang mengajarkan identitas Islam murni (schools with pure Islamic identity)[5].

Maka dari sinilah pentingnya mengetahui pola dan ciri penganut paham radikal, baik secara luas di dunia, maupun yang ada di Indonesia. Prof. Dr. Syaikh Ali Jumah mengungkapkan beberapa kriteria, pola, dan ciri dari penganut paham radikal agar lebih mudah dikenali. Dalam buku yang berjudul, Hikayat al-Irhab, beliau memberikan gambaran umum dalam muqoddimah bukunya tersebut, dengan empat hal, yaitu: pola pikir, ciri pengetahuan, penyakit moral, dan ciri individual (akal dan jiwa).[6]

Pola Pikir Radikalisme

Dalam membentuk pola pikir radikalisme, ada beberapa hal yang menjadi poin, yaitu:

  1. Pendapat bahwa pemerintah negara Islam semuanya adalah pelayan bagi penjajah Barat dan pengkhianat umat Islam. Pemerintah negara Islam memerintah negara mereka hanya untuk kepentingan Barat dan untuk membantu pembalasan perang Salib untuk misionarisme di antara umat Islam.
  2. Pemerintah muslim dan juga rakyatnya ridho terhadap Israel, menyerahkan Baitul Maqdis kepada Israel, dan pemerintah muslim mengikuti rencana Zionis dalam membantu mimpi Israel untuk menghancurkan masjid al-Aqsho dan membangun Haikal Solomon di atasnya. Serta untuk membantu mendirikan negara Israel Raya dari sungai Nil hingga sungai Eufrat.
  3. Bahwa pemerintah negara Islam tidak setuju terhadap persatuan negara-negara Arab dan negara-negara islam.
  4. Negara Islam tidak ditemukan di dalamnya keadilan sosial dan kesetaraan. Pemerintah negara Islam juga mencegah revolusi, monopolistik, menyiksa kaum muslimin, serta mengancam dan menyempitkan gerak mereka.
  5. Mengkafirkan masyarakat karena keluar dari pemerintahan ilahi. Kaum radikalis beranggapan bahwa negara Islam menggunakan hukum selain apa yang diturunkan oleh Allah. Jika pemerintah dan rakyat rela dengan itu (menggunakan hukum selain hukum Allah), maka mereka kafir terhadap syariat Allah.
  6. Negara Islam atau pemerintahannya menolak khilafah dan tidak mendukung untuk mendirikannya lagi.
  7. Keyakinan bahwa mereka (kaum radikalis) adalah mujahid di jalan Allah. Sedangkan selain mereka, yaitu kelompok umat muslim yang lain, baik pemerintah dan rakyat terlalu longgar dalam menjalankan kewajiban dari Allah (yaitu jihad) dan meremehkan puncak kebesaran Islam.
  8. Rusaknya tauhid kaum radikalis ketika mereka membagi tauhid menjadi tiga, yaitu tauhid uluhiyah, rububiyah, dan sifat. Itu adalah langkah pertama dalam mengkafirkan umat muslim seluruhnya, menggolongkan manusia dengan ciri berdasarkan pembagian ketiga tauhid ini. Adapun setelahnya adalah wala (suka) dan barra’ (benci) berdasarkan pula dari pembagian tauhid tersebut. Membagi tauhid menjadi tiga adalah sebuah bid’dah yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dan menjadi pintu untuk mengeluarkan umat Islam dari agama mereka.
  9. Kaum radikalis beranggapan bahwa mereka sedang dinajikan Allah berupa kemenangan dan penguasaan atas manusia seluruhnya, dengan argumen merekalah yang paling berhak atas kemenangan itu. Dengan alasan tersebut, mereka berpendapat adalah suatu kepastian untuk bermusuhan dengan seluruh umat manusia dan peradaban apapun.
  10. Kaum radikalis merasa paling berhak untuk memerintah negara Islam dengan tujuan menegakkan kekuasaan Allah di atas muka bumi, memerintah dengan syariat-Nya yang lama tiada, dan mereka adalah pemimpin dan mujahid kaum muslimin. Sehingga dengan argumen ini, mereka menganggap kaum muslimin selain mereka adalah pantas untuk diperintah dan dipimpin.

Ciri Pengetahuan Radikal

Adapun radikalisme jika ditinjau dari sudut pengetahuan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mereka mengingkari madzhab. Dengan ini mereka mengingkari keberagaman pendapat dalam pikiran, pemahaman, dan penerapan hukum-hukum syariat. Mereka mengaku bahwa paham yang benar cuma satu dan hal itu membuat mereka banyak bertabrakan dengan pendapat para ahli fiqih yang juga mujtahid.
  2. Membuka pintu fatwa dan ijtihad untuk orang awam. Mereka membiarkan orang awam untuk mengobrak-abrik nash syariah (Quran dan hadits) tanpa kesadaran dan ilmu, seperti menggunakan metode sederhana dalam memahami, nalar, dan penerjemahan secara bahasa. Hal ini merusak hukum-hukum syariat sehingga tidak sejalan dengan masholih/maslahat, akal, dan logika. Mereka pun tidak mengenal nash secara baik, tidak paham maqoshid syariah, tidak membedakan antara qoth’iy dan dzonniy, tidak membedakan mana yang syadz dan ijma’, dll.
  3. Meremehkan bahasa. Sesungguhnya bahasa adalah ilmu dan di dalamnya terdapat banyak kesulitan dan dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menyelaminya. Banyak dari mereka memakai pakaian ulama akan tetapi perkataannya tidak mencerminkan kedalaman pemahaman terhadap bahasa (terutama bahasa Arab) dan tidak memahami pentingnya bahasa Arab dalam memahami nash syar’i.
  4. Mengingkari tasawuf. Padahal tasawuf berdiri di atas mengekang nafsu, menahan syahwat, menyucikan ruh, dan mengawasi tingkah laku dengan akhlak dan nilai. Kaum radikalis hanya mengambil agama dari sisi luar saja, tetapi justru mengingkari pentingnya mengokohkan nafsu dan tingkah laku.
  5. Mengingkari negara. Kaum radikalis tidak mengetahui atau sengaja mengingkari bahwa Allah sendiri di dalam al-Quran telah menjadikan kekuasaan bagi ulil amri. Mereka mengingkari itu, dan cenderung mengangkat sebagian dari mereka sebagai amir atau pemimpin, lalu mengajak masyarakat untuk membebaskan diri dari pemerintah yang sah.
  6. Mengingkari makna bangsa. Mereka mengingkari persamaan hak dan kewajiban di antara anak bangsa di depan hukum. Mereka memerangi kebangsaan karena mengaku bahwa mereka mengikuti umat, sedangkan bangsa adalah bagian dari umat. Mereka adalah kaum tersesat dengan anggapan mereka adalah kaum yang mendapat petunjuk, sehingga seolah-olah melegalkan mereka untuk menciptakan permusuhan dengan siapa saja, baik dari non-muslim atau dari muslim yang sudah mereka anggap kafir. Permusuhan itu bernuansa tuduhan murtad, hanya gara-gara perbedaan di dalam pemahaman, pikiran, dan penerapan hukum syariat.
  7. Mengagungkan agama tandingan. Agama tandingan di sini maksudnya adalah mereka tidak rela dengan agama Islam dan berbagai madzhabnya yang telah dilakukan oleh para ulama dan kaum muslimin sepanjang sejarah. Mereka menyajikan keraguan kepada masyarakat dengan dalih mereka memiliki pemahaman yang benar karena menghidupkan nuansa agama para sahabat dan salaf. Ini adalah dusta yang nyata. Kenyataannya, umat Islam dari satu generasi ke genarsi lain adalah tetap beragama Islam, tetapi berbeda dalam memahami dan menerapkan syariat sesuai tantangan zaman.
  8. Upaya dan kesadaran mereka menggunakan pola piramida terbalik. Hal yang remeh dianggap besar, hal yang besar dianggap remeh. Inti dari syariat dijadikan cabang, cabang syariat dijadikan inti. Misalnya, mereka menetapkan wala’ (suka) dan barra’ (benci) berdasarkan jenggot dan cadar. Padahal jenggot dan cadar bukanlah hal yang pokok, melainkan hanya cabang (furu’).
  9. Pemahaman radikal semakin merosot dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemahaman ini justru semakin melenceng dari kaum muslimin dan mayoritasnya.
  10. Mengkafirkan umat muslim. Kaum radikalis bersandar pada pemikiran murtad dan mengembangkannya untuk ditujukan kepada kaum muslimin yang lain dengan sebutan kafir. Sepanjang sejarah mereka hadir, tidak ada satu ulama pun yang selamat dari tuduhan kafir mereka, sehingga memunculkan hasrat kekerasan dan pembunuhan pada diri mereka.

Penyakit Moral

Adapun penyakit moral yang sering menjangkiti perilaku mereka adalah sebagai berikut:

  1. Kekerasan dan menghalalkan pertumpahan darah yang hal itu diharamkan oleh Allah, serta perlawanan kepada seluruh umat manusia.
  2. Menolak dari jalan Allah, baik dengan landasan ilmu atau tidak.
  3. Memperburuk citra Islam, seburuk-buruknya pendakwah dan utusan yang mengatasnamakan Islam.
  4. Menghilangkan maslahat/kepentingan kaum muslimin, yaitu banyaknya negara yang terpecah, peradaban runtuh, tidak lain karena disebabkan penentangan mereka terhadap setiap hukum dan agama.
  5. Kegagalan yang berlanjut.
  6. Mengancam umat manusia dengan menyebarkan peperangan, ketakutan, dan penjajahan di atas muka bumi.
  7. Sombong atas makhluk Allah yang dianggap berbuat salah dan berdosa, dimana mereka memposisikan diri sebagai maksum/tanpa dosa dan tidak pernah salah sekalipun. Mereka memiliki kecenderungan untuk tampil beda dari orang lain dan hasrat menguasai masyarakat.
  8. Merendahkan derajat kaum wanita. Dalam pandangan mereka, wanita diciptakan untuk melayani dan bukan makhluk yang setara dengan kaum pria.
  9. Lari dari tanggung jawab. Perilaku ini mencerminkan bahwa mereka tidak mau bersabar atas tanggung jawab dan enggan berupaya dalam bekerja. Mereka menggantungkan hidup mereka kepada orang lain dan tidak mempedulikan kegagalan anak-anak mereka dari urusan pendidikan.
  10. Watak dan sifat yang bergejolak. Awalnya adalah seorang yang mengingkari agama, melakukan segala larangan dan keburukan, berubah menjadi seseorang yang terlihat taat beragama dengan tuduhan fasiq kepada orang lain dan menghukumi kafir kepada orang yang malas melakukan shalat di masjid.

 

Ciri Individual

Adapun ciri-ciri individual kaum radikalis adalah sebagai berikut:

  1. Pemikiran yang menang sendiri. Menolak dialog dan keberagaman pendapat.
  2. Melawan nalar logika dan mantiq.
  3. Tekstual dan selektif. Meyakini hanya ada satu dalil nash dan dipilih yang sesuai dengan keinginan mereka dan meninggalkan pemahaman yang umum dari nash tersebut.
  4. Mengikuti prasangka dan khayalan semata yang jauh dari keadaan nyata dalam kehidupan. Mereka menghakimi manusia atas dasar prasangka dan keinginan saja. Mereka memperindah kehidupan para sahabat di awal-awal Islam tanpa mempelajari nilai dan metode yang diterapkan sahabat di zaman itu.
  5. Merendahkan ilmu dan menghina para ulama. Mereka bodoh dalam segala bidang: bahasa Arab, realitas sosial, maslahat/kepentingan, maqashid/tujuan syariat, dan mekanisme penerapan syariat.
  6. Menyebarkan kebencian terhadap segala sesuatu, menghancurkan segala yang diagungkan, serta menghilangkan segala nilai yang telah diajarkan oleh syariat. Misalnya, mereka menggambarkan bahwa tahid rububiyah dan uluhiyah akan menuai kebencian dari orang lain. Lalu mereka menanamkan kebencian kepada selain golongan mereka.
  7. Kehilangan sanad (mata rantai keilmuan. Ketika mereka menisbahkan golongan mereka kepada para sahabat awal (salaf), tetapi mereka tidak punya sanad dalam hal itu. Padahal sanad adalah keunggulan umat Islam dalam menjaga pemahaman yang benar terhadap nash syariah.
  8. Kehilangan berkah, karena mereka mementingkan materi. Mereka kosong dari ketenteraman hati.
  9. Menggunakan media untuk menerapkan tujuan mereka, seperti buku, mimbar masjid, kegiatan sosial, dan media elektronik. Tidak lain dengan tujuan menyebarkan pemahaman mereka yang sesungguhnya menghancurkan dan metode mereka yang sesungguhnya rusak kepada seluruh umat manusia.
  10. Perhatian yang tinggi terhadap penampilan dan bentuk luar. Mereka sangat berlebih-lebihan terhadap hal yang cabang/furu’. Muslim yang baik menurut pemahaman mereka adalah mereka yang tinggal di gurun atau gunung, membawa senjata, memakai gamis, memanjangkan jenggot, makan dengan tangan langsung, dll.

 

Penutup

Dari pemaparan ini, karakteristik penganut paham radikal dapat dikenali sebagaimana tercermin dalam berbagai hal yang tampak secara kasat mata. Dengan adanya klasifikasi semacam ini, dapat mempermudah bagi setiap masyarakat untuk lebih mendeteksi dini segala penyimpangan paham radikal yang ada, baik dalam lingkup pendidikan atau di luar itu.

Tentunya kesalahpahaman dari radikalisme harus diluruskan agar tidak menjangkiti setiap generasi muda yang rentan terpengaruh olehnya. Ini adalah tanggung jawab dari semua pihak. Sampai kapanpun, beragama menurut pendapat mayoritas adalah lebih aman dan selamat.

 

 

[1] http://jateng.tribunnews.com/2017/03/31/beberapa-sman-favorit-kecolongan-adanya-bibit-bibit-paham-radikal-masuk-ke-rohis , diakses 30 September 2018.

[2] http://theconversation.com/radikalisme-di-sekolah-swasta-islam-tiga-tipe-sekolah-yang-rentan-96722 , diakses 30 September 2018.

[3] sekolah tertutup (closed school) yaitu sekolah yang mengajarkan sikap yang sempit dan cenderung menutupi ide-ide dan perkembangan dari luar, menekankan pentingnya praktik ajaran Islam versi mereka, dan menolak versi Islam yang kebanyakan dianut oleh muslim di Indonesia.

[4] sekolah terpisah (separated school) yaitu sekolah yang sangat ketat dalam proses perekrutan guru, terutama guru agama. Sekolah dalam kategori ini hanya akan merekrut guru agama dari kelompok mereka. Sekolah akan menggunakan rekomendasi dari jejaring mereka atau merekrut alumni yang mempunyai paham Islam yang sama. Selain itu, sekolah tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat yang tidak sesuai dengan paham mereka.

[5] sekolah yang mengajarkan identitas Islam murni (schools with pure Islamic identity)yaitu sekolah yang menjadikan Islam sebagai konstruksi identitas tunggal dan menolak identitas-identitas yang lain. Mereka hanya mempunyai penafsiran Islam tunggal sesuai dengan aliran mereka. Terjadi pengkotak-kotakan antara muslim dan kafir, serta terhadap muslim lain yang berbeda penafsiran dengan mereka.

[6] أ.د. علي جمعة. حكاية الإرهاب. (القاهرة: دار النهار و التوزيع, 2017) ص: 6 – 13.

One thought on “Karakteristik Penganut Paham Radikal: Pemikiran, Pengetahuan, Moral, dan Ciri Individual

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *