Historiografi dan Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Pendahuluan

Sejarah tentu mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi sebuah bangsa. Segala peristiwa di masa lalu dapat diceritakan kembali dengan pendekatan dan metode yang berbeda, sesuai dengan kemampuan para sejarawan untuk mengaitkannya dengan topik tertentu.

Akan tetapi, sejarah kerapkali tidak dilirik kembali dan dianggap barang usang, terutama bagi generasi millenial. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlawi mengkhawatirkan terjadinya pendangkalan nilai-nilai kebangsaan pada generasi millenial mengingat sebagian besar mereka hanya melihat sesuatu hanya dari permukaan. Mereka enggah membaca informasi secara mendalam, padahal masalah kebangsaan merupakan masalah yang rumit.[1] Beliau menyayangkan sikap dan kemauan generasi millenial yang tidak mau mendalami sejarah kebangsaan secara detail, melainkan hanya permukaan saja.

Dalam hal ini, kaitan antara sejarah, bangsa, dan generasi millenial menjadi acuan yang menarik, terutama bagaimana permasalahan hubungan antara bangsa, negara, dan agama menjadi isu yang kembali mencuat akhir-akhir ini. Apalagi jika sebagian pihak menonjolkan superioritas umat Islam dalam pembentukan NKRI, seperti slogan: “Indonesia adalah Islam.” Tanpa umat muslim, tak ada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negeri ini berdiri berkat jasa para pejuang yang notabene mayoritas dari mereka adalah muslim. Karena itu menyisihkan Islam dan/atau menyampingkan umat muslim dari ranah politik, ekonomi, dan budaya sama artinya dengan “pengkhianatan”.[2]

Meskipun nanti akan terjadi bias, karena sebagian orang mengaku mereka adalah umat muslim yang sebenarnya, yang sedang tersisih dan termarjinalkan. Sedangkan selain kelompok mereka, dianggap tidak merepresentasikan umat muslim, meskipun juga dari kelompok muslim dan juga beridentitas muslim. Bias ini justru ditangkap oleh sebagian generasi millenial sebagai ketertindasan umat muslim dan kewajiban menjawab seruan kebangkitan umat muslim.

Akhirnya, paham radikal dimulai dari sekolah dan dilanjutkan di kampus-kampus. Seorang peneliti, Anas Saidi, mengungkapkan dalam penelitian yang dilakukan pada 2011 di lima universitas di Indonesia UGM, UI, IPB, Unair, Undip menunjukkan peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan khususnya di kalangan mahasiswa di kampus-kampus umum.[3] Kecenderungan itu masih berlaku hingga saat ini.

Hasil survei lain mengungkap hal senada. Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Prof Dr Bambang Pranowo –yang juga guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.[4]

Oleh karena itu, tulisan ini ingin mengungkap historiografi sebagai upaya rekonstruksi jati diri bangsa. Bagaimanapun juga, sejarah kebangsaan menjadi poin penting sebagai bagian dari masa lalu untuk membangun masa depan.

Historiografi Nusantara

Ahmad Baso dalam bukunya yang berjudul Islam Nusantara mengungkapkan bahwa historiografi adalah perbincangan dalam penulisan sejarah. Menurutnya, ada dua pendekatan kontras dalam historiografi Nusantara. Pertama, rasionalitas penulisan sejarah yang dilakukan oleh Hoesein Djajadiningrat dalam teks sejarah Islam Nusantara, yaitu dalam penulisan Sajarah Banten. Rasionalitas di sini berarti penghilangan unsur mitos menurut Hoesein. Kedua, fungsi pedagogis (pendidikan moral) penulisan sejarah yang dilakukan oleh Ajengan Haji Mustapa dalam reportase sejarah-etnografis (teks kode Lor 7636) di Aceh dan Adat-istiadat Orang Sunda. Menurut Baso, Ajengan Haji Mustapa berhasil menulis sejarah dari sudut pandang masyarakat Nusantara sendiri, sehingga dapat memunculkan nilai-nilai pedagogis di balik label mitos dan takhayul.[5]

Dua pendekatan ini bertabrakan satu sama lain, meskipun sama-sama ditulis oleh anak bangsa sendiri. Menurut Baso, Hoesein Djajadiningrat memakai pola pandang orientalis yang cenderung rasionalis, sehingga sejarah Banten yang ditulisnya itu, didekonstruksikan kembali tanpa dapat memahami apa pesan yang tersembunyi di balik mitos dan takhayul.

Berbeda dengan Hoesein, Ajengan Haji Mustapa memberikan pola pandang pesantren dalam penulisan sejarah, meskipun ia menjadi asisten Snouck Hurgronje dalam reportase masyarakat Aceh saat itu. Tetapi Ajengan Haji Mustapa dapat menuliskannya dengan pola pandang berbeda dengan Hoesein, misalnya mitos dan takhayul itu diungkap makna pedagogisnya sebagai bagian dari pembelajaran leluhur kepada generasi selanjutnya.

Dua perbedaan pondasi dalam penulisan sejarah ini tentu mengakibatkan bagaimana penulisan sejarah dipahami di masa depan. Artinya, rekonstruksi peristiwa di masa lalu, baik dengan pendekatan rasional maupun normatif (di sini dicontohkan dengan pendekatan pedagogis), memberikan penyajian pengungkapan sejarah yang berbeda, meskipun dalam lingkup objek yang sama.

Bambang Purwanto juga mengungkap sejumlah masalah dalam penulisan sejarah di Indonesia, terutama dalam historiografi indonesiasentris. Dimulai dari generasi awal sejarawan pada tahun 1957 hingga saat ini, masih ditemukan kecenderungan kolonialisme dalam penulisan sejarah. Pemerintah Hindia-Belanda sebagai penjajah dan bumiputera sebagai terjajah, dengan berbagai aksi penindasan dan perlawanan, menjadi tonggak utama konstruksi sejarah Indonesia.[6]

Bambang mencontohkan peristiwa Perang Paderi sering dimaknai sebagai perang antara dua kelompok. Kelompok adat didukung oleh kolonial dan kelompok Paderi yang dianggap mempertahankan eksistensi sosial, kultural, dan politik setempat dari eksploitasi kolonial. Pendekatan ini sangat sederhana dan mengabaikan kondisi masyarakat. Bambang menilai banyak hal yang dilupakan dalam kondisi masyarakat Minangkabau saat itu, sebagaimana yang ditulis oleh Christin Dobbin yang mengatakan bahwa ranah Minangkabau saat itu merupakan wilayah yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat melalui produksi  dan perdagangan beras dan kopi. Bonjol yang merupakan salah satu pusat perlawanan para ulama merupakan daerah yang makmur, yang memungkinkan para penduduknya membangun pertahanan berupa benteng dan pengadaan peralatan perang yang cukup.

Narasi faktual yang dipahami oleh Dobbin menunjukkan bahwa faktor-faktro penyebab Perang Paderi tidak sekedar minum tuak, judi, sabung ayam, atau eksploitasi kolonial, melainkan sebuah produk dari rivalitas sosial, ekonomi, kultural, dan bahkan politik antara dua kelompok sosial yang berbeda di dalam masyarakat Minangkabau sendiri dengan atau tanpa adanya kolonialisme Belanda.[7] Seolah Bambang ingin mengatakan, ada atau tidaknya kolonial Belanda, perang Paderi akan tetap terjadi. Faktor-faktor dalam masyarakat yang begitu kompleks seharusnya tidak diabaikan.

Joni Apriyanto memberikan pola pandang rekonstruksi sejarah yang memunculkan lokalitas untuk memberikan keseimbangan dari dominasi umum penulisan sejarah. Menurutnya, sejarah kebangkitan masyarakat lokal seringkali luput dari penulisan sejarah arus utama, seperti ia mencontohkan dalam kasus kebangkitan masyarakat Gorontalo. Joni berhasil memberikan pola pandang baru, bahwa masyarakat Gorontalo juga memberikan perlawanan dengan pers, sastra, dan organisasi modern terhadap kolonial Belanda.[8]

Historiografi Islam dan Lokalitas

Umat muslim memberikan perhatian yang besar terhadap sejarah. Awalnya, umat muslim mengambil hikmah dari cerita-cerita yang ada dalam al-Quran, yaitu sejarah tentang umat-umat terdahulu.  Selanjutnya adalah kebutuhan untuk mendapatkan hadits-hadits peninggalan Rasulullah saw. yang senantiasa dijadikan rujukan. Penggalian tentang hadits ini mau tidak mau bersentuhan dengan penulisan sejarah. Effendi mengungkapkan, selain dua hal tersebut, umat muslim senantiasa melengkapi keilmuan kesejarahan, mengutip penjelasan Husein Nashir, dengan berbagai alasan berikut: Pertama, kebutuhan para khalifah untuk menjalankan roda pemerintahan. Mereka membutuhkan sejarah masa lalu dari penguasa di wilayah lain dalam rangka mengelola pemerintahan yang semakin hari semakin meluas. Kedua, banyaknya orang asing yang membanggakan asal muasal sejarah peradaban mereka. Hal ini mendorong bangsa Arab untuk menuliskan sejarah sehingga dapat bersaing dengan superioritas bangsa lain. Ketiga, faktor keuangan pemerintahan yang membedakan penggajian menurut latar belakang sejarah individu. Misalnya, apakah orang tersebut ikut perang Badar atau tidak, ikut hijrah atau tidak, dan lain sebagainya. Keempat, penuturan sejarah secara lisan (oral history) yang sudah ada ketika pra-Islam semakin hari semakin berkembang dan berubah bentuk menjadi tulisan.[9]

Perkembangan historiografi Islam dari awalnya sederhana, kemudian semakin kompleks dan memunculkan berbagai tema dan topik dalam banyak disiplin ilmu. Generasi  awal sejarawan muslim adalah orang Arab, lalu mendapat pengaruh dari ahli kitab (Yahudi-Nasrani) dan Persia. Pada abad ke-2, banyak dipengaruhi oleh orang non-Arab karena pengaruh Islam yang semakin meluas. Meskipun demikian, corak penulisan sejarah historiografi Islam masa awal lebih kepada studi kritik hadits dan penuturan bercorak deskriptif naratif yang konvensional. Penerjemahan buku-buku Yunani turut memberi andil dalam pola pikir kesejarahan yang lebih rasional.[10]

Dari beberapa varian ilmu yang dihasilkan dari penulisan sejarah, salah satunya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Effendi ketika mengutip A. Muin Umar adalah sejarah lokal. Sejarah lokal ini dapat dipahami sebagai warisan dari historiografi Islam yang dapat dikembangkan lebih jauh untuk memberikan keragaman penulisan sejarah. Pola pandang lokalitas tentu bisa saja sangat sederhana, tetapi bisa jadi sangat detail dalam mekonstruksi sejarah yang tidak dapat ditawarkan oleh pola pandang lainnya.

Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Di saat sekarang, banyak isu-isu yang mengancam keutuhan Indonesia sebagai bangsa. Semisal, bagaimana dasar dan filosofi negara, yaitu Pancasila, digugat kembali. Maka perlu adanya rekonstruksi jati diri bangsa sebagai upaya mempertahankan keberlangsungan nilai kepancasilaan. Sayangnya, nilai ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak didukung oleh pemahaman yang sama tentang jati diri bangsa.

Dalam kaitannya dengan jati diri bangsa, Ibnu Khaldun memiliki cara pandang sejarah yang lengkap dan detail. Sebagaimana ditulis dalam penelitian Maryam, Ibnu Khaldun mengungkap bahwa sebuah negara yang berbudaya dapat terbentuk melalui pembangunan dan sikap masyarakat yang memiliki sikap ‘ashobiyah yang kuat.[11]

‘Ashobiyah bisa dimaknai sebagai rasa fanatik atau fanatisme. Fanatisme dalam ranah negara adalah nasionalisme. Artinya, jika mengikuti konsep Ibnu Khaldun, dapat dikatakan seperti ini: Sebuah negara dapat terbentuk melalui dua hal, yaitu pembangunan dan nasionalisme. Akan tetapi, lebih lanjut Ibnu Khaldun mengatakan bahwa negara layaknya seperti makhluk hidup. Negarapun memiliki fase: pertumbuhan, kemajuan, dan kehancuran.

Ibnu Khaldun secara rinci juga memberikan 5 tahap negara dan perkembangannya. Pertama, tahap pendirian negara, ditandai dengan ‘ashobiyah yang kuat untuk mengalahkan musuh dan melegitimasi kekuasaan. Kedua, tahap pemusatan kekuasaan atau tirani, ditandai dengan monopoli kekuasaan dengan menghancurkan ‘ashobiyah dalam roda pemerintahan. Ketiga, tahap kemakmuran, ditandai dengan proses menikmati harta kekayaan. Keempat, tahap kemalasan, ditandai dengan stagnannya negara dan tidak ditemukan kemajuan. Kelima, tahap keruntuhan negara, ditandai dengan dihamburkannya uang negara oleh raja dan pendukungnya.[12]

Maka, dalam konsep Ibnu Khaldun di atas, ketika nasionalisme itu luntur, yang akan terjadi selanjutnya adalah munculnya kekuasaan tiran. Monopoli kekuasaan tidak lagi mengatasnamakan keinginan bersama dalam lingkup nasionalisme, melainkan keinginan pribadi yang dipaksakan untuk diterapkan karena adanya kontrol kekuasaan individu atas orang banyak.

Itulah mengapa nasionalisme perlu dimunculkan kembali setiap saat, terutama dalam perkembangan sebuah negara dalam kaitannya membendung kekuasaan tiran. Hal ini menjadi penting, mengingat nasionalisme menjadi pondasi dalam setiap pembangunan dalam ranah negara. Ketika nasionalisme tidak hadir, maka justru memberi peluang atas munculnya kekuasaan tiran. Salah satu cara untuk selalu memunculkan nasionalisme melalui penulisan sejarah (historiografi).

Apalagi historiografi tidak hanya menuliskan sejarah. Historiografi harus dapat memberikan solusi atas keadaan faktual dan masalah sosial. Sebagaimana diungkapkan oleh Singgih Tri Sulistiyono, historiografi haruslah menyajikan solusi atas persoalan bangsa. Ia memberikan alasan kemunduran historiografi indonesiasentris[13] disebabkan keberlengguan pada formalisme metodologi dan epistemologi, serta ketidakberanian sejarawan dalam mengungkap realitas kekinian.[14]

Slamet Subekti lantas mengelaborasi pemikiran Bambang Purwanto dan Singgih Tri Sulistiyono, dengan mencirikan historiografi harus bersifat dekonstruktif, yaitu membongkar kejumudan yang ada selama ini. Slamet Subekti lantas memberikan pola pandang baru, yaitu historiografi alternatif, dengan landasan bahwa penulisan sejarah tidak boleh terlepas dari segala permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, historiografi harus mampu membantu masyarakat untuk menemukan jalan keluar yang mendasar guna memecahkan persoalan masyarakat dan bangsa untuk menuju kejayaannya di masa depan.[15]

Oleh karena itu, historiografi harus dekat dengan kondisi faktual masyarakat dan mampu memberikan alternatif dan cara pandang baru, sehingga jati diri bangsa dapat dimaknai kembali secara simultan. Jati diri bangsa tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah variabel komponen bangsa, melainkan ditafsirkan dalam lingkup nasionalisme yang terus aktif dimaknai. Salah satu cara memaknai nasionalisme adalah dengan penulisan sejarah.

NU dan Upaya Historiografi

Semenjak jargon Islam Nusantara muncul pada muktamar NU ke-33 tahun 2015, maka NU secara tidak langsung turut membidani  tema baru dalam kajian historiografi. Ini adalah upaya merekonstruksi kembali jati diri bangsa melalui pemahaman ke-NU-an. Alhasil, banyak karya-karya sejarawan NU yang memberikan sumbangsih yang besar bagi penulisan sejarah.

Agus Sunyoto menulis buku yang berjudul Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya, 10 Nopember 1945 (2017) dan Atlas Wali Songo (2016). Kedua buku ini berupaya untuk memberikan tema keterlibatan santri, kyai, dan ulama dalam ranah keagamaan dan kebangsaan. Atlas Wali Songo misalnya, sebagai upaya atas tuduhan bahwa Wali Songo hanyalah mitos dan bukan fakta sejarah. Buku Fatwa dan Resolusi Jihad sebagai interpretasi sejarah baru, yang mana membuka keterlibatan Nahdlatul Ulama dalam ranah menjaga keutuhan dan keselamatan bangsa.

Ahmad Baso dalam bukunya yang berjudul Islam Nusantara (2015), memberikan banyak ragam tema pemahaman sejarah. Di antaranya bagaimana proses Islamisasi di Nusantara dimaknai sebagai proses alamiah dan legal secara fiqih, ushul fiqih, dan tetap menjunjung lokalitas. Pemaknaan kembali cara beragama dan proses Islamisasi, sebagai wujud dekonstruksi pemahaman yang sudah ada: bahwa Islam di Indonesia hanya bersifat pasif (menerima apa yang datang dari luar). Ahmad Baso memberikan bukti-bukti sejarah, bahwa justru Islam di Indonesia (Nusantara/negeri bawah angin/al-Jawi) pernah memberikan kontribusi yang besar bagi peradaban dan khazanah intelektual dalam tingkat dunia.

Faisol Fatawi dalam buku Manaqib Ulama Nusantara: Sejarah Hidup dan Mata Air Keteladanan (2017) memberikan pola pandang sejarah biografi para ulama dan kyai yang tersebar di seluruh Indonesia. Buku ini menekankan otentitas sanad keilmuan para ulama yang satu dengan yang lain dapat diketahui melalui penulisan sejarah. Hal ini dirasa penting sebagai upaya untuk menyusun mata rantai keilmuan keislaman yang ada di pesantren, sebagai lembaga pendidikan keilmuan Islami yang memiliki sejarah panjang dengan pemahaman dan aktualisasi beragama yang ada di masyarakat.

Amirul Ulum dalam bukunya yang berjudul Kiprah Ulama Nusantara di Haramain (2017) adalah upaya menulis sejarah biografi para ulama yang lahir di Nusantara dan menjadi pengajar di Haramain. Hal ini tentu sebagai penguat atas kontribusi masyarakat Nusantara dalam khazanah keilmuan keislaman di dunia. Banyak ditemukan para tokoh Nusantara yang mempunyai pengaruh besar dalam kancah internasional, sehingga pendapat-pendapat mereka menjadi rujukan dunia. Hal itulah yang dicoba diungkap oleh Amirul Ulum sebagai penguat bahwa Islam di Indonesia tidak hanya pasif menerima dari luar, tetapi turut memberikan peran aktif kepada dunia.

Buku berjudul Gerakan Kultural Islam Nusantara (2015) yang disusun oleh Jamaah Nadliyyin Mataram (JNM) merupakan penulisan sejarah yang menekankan pada korelasi budaya dan agama yang senantiasa saling mempengaruhi sehingga dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Buku ini menjelaskan berbagai kajian kebudayaan dalam proses Islamisasi di masyarakat.

Tentu saja masih banyak karya-karya dalam kajian disiplin ilmu yang lain, semisal filologi, yang turut mendukung kelengkapan dalam penulisan sejarah. Hal ini mencirikan bahwa penulisan sejarah terus dimaknai sebagai penguat atas jati diri bangsa. Jati diri bangsa yang kuat akan turut memperkuat nasionalisme, sehingga seperti dikatakan di atas, nasionalisme akan terus dimaknai secara terus-menerus dan dapat menangkal kekuasaan tiran, serta mempertegas arah dan tujuan pembangunan negara.

Kesimpulan

Historiografi tidak hanya cabang ilmu yang hambar, kering, stagnan, dan jauh dari problem sosial masyarakat. Akan tetapi, historiografi harus memberikan pemaknaan yang terus-menerus terhadap kondisi masyarakat, terutama jati diri bangsa.

Jati diri bangsa yang kuat akan menentukan nasionalisme, dimana nasionalisme dan pembangunan adalah dua hal yang saling berkelindan dalam mewujudkan cita-cita kolektif bangsa. Maka, historiografi adalah salah satu cara yang dapat dipahami sebagai upaya untuk terus menjaga keutuhan bangsa. Langkah-langkah para sejarawan dalam menghasilkan karya dalam historiografi, terutama dalam interpretasi yang beciri lokalitas dan agamis, merupakan salah satu upaya intelektual dalam kontribusi penulisan sejarah di Indonesia.

[1] http://www.nu.or.id/post/read/83155/generasi-millenial-rawan-alami-pendangkalan-nilai-kebangsaan, diakses 9 Desember 2018 pukul 00.42

[2] https://geotimes.co.id/opini/islam-dan-nasionalisme-indonesia-polemik-yang-tak-berkesudahan/, diakses 9 Desember 2018 pukul 01.01

[3] https://www.uinjkt.ac.id/id/peneliti-lipi-anak-muda-indonesia-makin-radikal/, diakses 9 Desember 2018 pukul 01.10

[4] idem

[5] Ahmad Baso, Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Indonesia (Tangerang: Pustaka Afid, 2015), hal. 147-148

[6] Bambang Purwanto, Historisisme Baru dan Kesadaran Dekonstruktif:Kajian Kritis Terhadap Historiografi Indonesiasentris, Jurnal Historia Volume XIII No.1/2001, hal. 32

[7] Bambang, idem, hal. 36

[8] Joni Apriyanto, Tumbuhnya Nasionalisme di Gorontalo: Sebuah Pencitraan Historiografi, Jurnal Inovasi Volume 5 Nomor 2, Juni 2008, hal. 20-24

[9] Effendi, Menguak Historiografi Islam dari Tradisional-Konvensional hingga Kritis-Multidimensi, Jurnal TAPIs Vol. 9 No.1, Januari-Juni 2013, hal. 121-125

[10] Effendi, hal. 129

[11] Maryam, Kontribusi Ibnu Khaldun dalam Historiografi Islam, Jurnal Thaqafiyyat, Vol. 13 No.1, Juni 2012, hal. 219

[12] Maryam, idem.

[13] Istilah yang muncul pada tahun 1957 dilandasi oleh dekolonisasi sejarah. Awalnya sejarah Indonesia lebih banyak ditulis oleh kolonial Belanda (para sejarawan Belanda) yang menggunakan pola pandang kolonial, hingga pada tahun tersebut bumiputera (pribumi) menuliskan sejarah sebagai bentuk perlawanan atas dominasi kolonial dalam hal penulisan sejarah.

[14] Singgih Tri Sulistiyono, Historiografi Pembebasan: Suatu Alternatif, Jurnal Agastya, Vol. 6 No.1, Januari 2016, hal. 10

[15] Slamet Subekti, Tinjauan Kritis terhadap Kecenderungan Historiografi Indonesia Masa Kini, jurnal Humanika, Volume 15, Tahun IX, Januari-Juni 2012, hal. 8

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *