Islam Menyebarkan Pondasi Kemanusiaan

}Allah mengerti, bahwa manusia, meskipun sama dalam fitrahnya, sama dalam berpikir logis, tetapi ada hal-hal yang merusak, seperti: pendidikan yang menyesatkan, pengaruh keturunan, terjerat fanatisme buta, kebodohan, dan rasa kesukuan.

}Umat Islam akan bersentuhan dengan umat lainnya, maka kehidupan sosial menjadi pondasi yang disiapkan secara umum dapat membuat umat Islam menjadi umat terbaik.

لَّا يَنۡهَٮٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَـٰتِلُوكُمۡ فِى ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡہِمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak [pula] mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS al-Mumtahanah: 8)

}Seolah-olah dalam ayat ini Allah berkata, Allah tidak melarang kalian untuk bergaul dengan baik kepada orang non-muslim, yang mana mereka tidak memerangi kalian dengan tujuan untuk menjauhkan kalian dari agama kalian dan mengusir kalian dari rumah kalian, dan berbuat adil di dalam interaksi kalian bersama mereka, Allah menyukai orang-orang yang adil.

}Dahulu kerajaan Romawi menutup diri terhadap umat lain: melarang umat selain agama mereka masuk ke dalam wilayah mereka, meskipun untuk berdagang

}Umat agama lain dijadikan budak atau dibunuh

}Ketika Islam banyak tersebar di seluruh penjuru dunia, hal ini berbeda. Orang non-muslim mendapatkan perlindungan dari kaum muslim

}Maka orang non-muslim ketika memasuki wilayah kaum muslimin, baik berdagang atau sekedar berpergian, akan aman jiwa dan hartanya.

}Itu dianggap sebagai faktor terbesar masuknya puluhan juta non-muslim ke dalam agama Islam.

Islam mengakui perbedaan

}Perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan sunnatullah. Allah sendiri jika mau, dapat membuat umat manusia ini hanya satu umat saja.

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬‌ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ‌ۚ وَلِذَٲلِكَ خَلَقَهُمۡ‌ۗ

Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. (QS Hud: 118-119)

}Maka, prinsip utama dalam berdakwah (menyeru kepada Islam) adalah tidak memaksa, memberi tauladan dalam sifat terpuji – di mana Islam menyuruh setiap muslim untuk melakukannya-, dengan tujuan agar berada di tengah (moderat) di antara dua kutub ekstrim.

}Tidak terlalu lembek, tidak terlalu keras, dan jika sudah dilakukan, maka diserahkan kepada Allah hasilnya.

}Tidakkah sejarah membuktikan, bahwa Islam adalah yang paling baik dalam berdakwah dan menyediakan prinsip-prinsip kemanusiaan yang detail di dalamnya?

}Bahkan dalam suasana perang, Islam tetap menyerukan prinsip kemanusiaan: tidak berlebihan dalam membunuh, tidak menyerang yang terluka, tidak menyerang yang menyerah, tidak menyerang elemen pembantu pasukan musuh yang tidak bersentuhan langsung dengan perang

}Jika mendapatkan tawanan perang, harus diperlakukan secara baik

}Rasulullah saw bersabda: saya mewasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada tawanan perang

}Tidak boleh membunuh orang yang sudah tua, pembesar agama, wanita, dan anak-anak

}Tidak boleh membakar sawah dan rumah musuh

}Apalagi dalam keadaan damai, umat Islam hidup rukun dan damai dengan non-muslim

}Rasul sendiri menjadi rujukan dalam hal ini: mengunjungi rumah mereka, mengunjungi orang yang sakit dari non-muslim, menghadiri undangan mereka, tidak melarang mereka pergi ke tempat peribadatan mereka untuk beribadah

}Rasul saw tidak membedakan dalam masalah berbuat baik dan sedekah, tidak membedakan antara muslim dan non-muslim.

}Rasul bersabda: bersedekahlah kepada pemeluk agama semuanya

تصدّقوا على أهل الأديان كلِّها

}Maka para sahabat menjalankan perintah ini dengan sebaik-baik penerapan

}Mujahid berkata: ketika saya, Abdullah bin Umar dan anaknya sedang menguliti domba, Abdullah bin Umar berkata kepada anaknya: jika engkau menguliti, maka mulailah membaginya dengan tetangga kita yang yahudi, sampai berkata berkali-kali. Aku (Mujahid) berkata, berapa banyak engkau mengulang-ulangnya?  Ia menjawab: sesungguhnya Rasulullah saw masih saja mewasiatkan kami untuk berbuat baik kepada tetangga hingga kami takut bahwa rasul saw (seolah-olah) mewariskan (wasiat tersebut kepada kami) – saking banyaknya rasul menyuruh hal tersebut-.

}Diriwayatkan seorang Yahudi melaporkan Ali bin Abi Thalib kepada Umar, Umar menyebut kun-yah Ali yaitu Abul Hasan (bapaknya Hasan), Umar berkata: wahai Abu al-Hasan, duduklah! Maka tampak di wajah Ali rasa marah, maka Umar al-Faruq bertanya: apakah engkau marah wahai Ali, karena aku mendudukkanmu sejajar dengan Yahudi ini?

}Ali berkata: tidak, akan tetapi aku marah karena engkau meninggikanku darinya dengan memanggil kun-yah (abul hasan) kepadaku seorang, dan engkau tidak memanggil kun-yah kepadanya (Yahudi ini).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *