Menjauhi Fanatik Buta

}Fanatik buta dianggap menciderai akal sehat

}Mengapa?

}Karena fanatik buta kerapkali dianggap sebagai sebab utama kejumudan umat

}Tantangan Islam pertama kali ketika muncul adalah yaitu kebiasaan fanatik buta yang diturunkan dari satu generasi ke generasi

}Maka Islam tidak hanya mencegah fanatik buta, melainkan membangkitkan perasaan beragama di masyarakat

}Islam tidak mengenal dogma atau doktrin

}Yang dijunjung oleh Islam adalah seruan menggunkaan akal pikiran di dalam beragama, membangun akidah di atas kebenaran yang nyata, di atas bukti (dalil) yang kuat

}Islam berusaha menghapus fanatik buta pada awal fase perkembangan, lalu mengobatinya dengan  dengan penjelasan dan pembuktian

Upaya Melawan Fanatik Buta

}Pertama: agar tersebar pondasi-pondasi agama dengan maksud menghidupkan kemanusiaan

}Kedua: agar perasaan beragama terjaga dari dorongan syahwat, menolak pemikiran huru-hara, dan menawarkan untuk perkembangan akal dan peradaban berpondasi ilmiah

}Ketiga : untuk menegaskan bahwa pandangan agama tetap terjaga

}Upaya ini untuk menyapa seluruh manusia agar akal pikirannya tidak dikendalikan oleh hawa nafsunya

}Melepaskan dari kecenderungan beragama yang Allah sebutkan sendiri: sangat mudah condong kepada hawa nafsu

}Islam menyeru untuk menggunakan akal pikiran dengan cara argumentasi dan pembuktian untuk menghormati akal itu sendiri

}Islam mampu untuk mengatur dan mendamaikan antara akal pikiran dan perasaan beragama

}Hal ini tercatat pertama kali terjadi dalam sejarah agama-agama

}Islam sangat menerima untuk menjadikan masyarakat sebagai masyarakat yang baik, tanpa ada benturan akal dan agama

}Pertama kali Islam diturunkan, maka yang pertama kali ditekankan adalah peringatan, peringatan ini untuk membangunkan insting berpikir

}Menceritakan umat-umat yang telah lalu

}Setelah fase pembukaan ini, Islam menyingkap alasan utama mengapa harus masuk Islam, yaitu fanatik buta mereka yang diturunkan dari nenek moyang, dan menjelaskan bahwa itu sesuatu yang buruk

QS Al-Baqarah 170-171

 وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ

 وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى يَنۡعِقُ بِمَا لَا يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءً۬ وَنِدَآءً۬‌ۚ صُمُّۢ بُكۡمٌ

عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “[Tidak], tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami”. “[Apakah mereka akan mengikuti juga], walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”  Dan perumpamaan [orang yang menyeru] orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka [oleh sebab itu] mereka tidak mengerti.

}Maksud dari ayat ini adalah bahwa Allah memberi permisalan tentang fanatik buta, yang mana jika ada orang yang mengajak mereka kepada Islam, seolah-olah berteriak kepada hewan yang tidak paham sama sekali perkataan si pengajak tersebut

}Mereka tuli, bisu, dan buta

}Hal itu disebabkan karena mereka memegang kuat apa yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, serta menghindari berpikir sehat

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *