Puisi Neno Warisman dalam Sudut Pandang Postmodernisme

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara bertajuk Munajat 212, Neno Warisman membaca sebuah puisi yang ternyata mengundang banyak reaksi negatif. Ini adalah persambungan kaitan antara agama dan politik. Kata-kata yang bermakana kurang lebih demikian: jika kami kalah, maka kami khawatir tidak akan ada yang menyembah Engkau, wahai Tuhan.

Meskipun penyelamat Neno sendiri adalah pisau bedah analisa hermeneutika, tetapi rasa beragama banyak orang akan tetap terusik. Mengapa demikian? Banyak penafsiran yang menggiring bahwa Neno tidak betul paham akan konsep teologi dalam Islam. Lebih-lebih secara akar budaya bangsa Indonesia. Menyeret pilpres yang secuil pentingnya dengan urusan makro-mikro kosmos, tentu sangat tidak relevan.

Yang menarik, puisi Neno ini bisa ditinjau pula dari sudut pandang postmodernisme. Fredric Jameson, seorang pakar budaya berpendapat ada beberapa elemen yang menjadi ciri postmodernisme. Elemen-elemen tersebut menjadi garis pemisah dengan konsep modernisme itu sendiri.

Pertama, masyarakat postmodern disifatkan dengan superfisialitas dan kedangkalan. Jameson menggambarkan dengan kata sederhana: ingin hidup di permukaan untuk sementara”. Artinya, masyarakat jenis ini tidak ingin mengetahui segala sesuatu secara mendalam, detail, dan lengkap. Mereka hanya ingin tampak luar saja, tidak benar-benar mengerti isi dan substansi.

Begitu pula dengan puisi Neno. Dalam puisinya, Neno sama sekali tidak paham konsep tauhid dan bagaimana hubungan antara makhluk dan Khalik. Apakah nada ancaman kepada Tuhan itu patut didengungkan, seolah apa yang terjadi saat ini adalah keadaan genting, semacam perang, yang lantas jika kalah (tentu saja orang akan sangat mudah berasumsi, karena Neno merupakan timses salah satu capres), Islam akan musnah.

Apakah umat Islam hanya di Indonesia saja? Sedangkan jika perang Badar, dimana tekstualitas tersebut muncul karena memang hanya itu umat Islam yang ada, sehingga Rasulullah saw benar-benar berharap kemenangan umat Islam dalam perang Badar. Sedangkan pilpres di Indonesia? Tentu ini analogi yang cacat. Meskipun karya seni penuh dengan penafsiran, tetapi menempatkan analogi cacat semacam itu tentu menjadi karya seni yang jelek. Justru karya sastra seringkali gemilang karena permainan analogi-analogi cantik, meskipun kata-kata yang digunakan tergolong sederhana.

Kedua, karakter postmodernisme adalah menyusutnya emosi dan pengaruh. Dengan kata lain, jiwa manusia posmo adalah gersang. Jikalau dalam kancah modernisme, psikologi manusia digolongkan sebagai  alienasi (terasing), maka dalam postmodernisme lebih digambarkan sebagai fragmentasi (terpecah, kering, gersang).

Puisi Neno sama sekali tidak membuat orang lantas bergembira, optimis, lebih rajin bekerja atau lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Yang ditawarkan olehnya adalah pesimisme, ketakutan, perasaan akan kepunahan dan menggemborkan perasaan terancam. Padahal, semua aman-aman saja. Mbak Neno harus jalan-jalan menemui seluruh rakyat pedesaan, pegunungan, dan seluruh pantai yang ada di negara ini. Tanyakan kepada mereka, adakah perasaan terancam karena pilpres? Sama sekali tidak! Paling-paling mereka akan “sambat” masalah utang mereka di warung.

Ketiga, hilangnya historitas. Proses masa lalu seakan menjadi suatu hal yang gaib, tanpa ada jalan menuju ke sana. Ini berarti sejarah bahkan lebih terkesan sebagai dongeng. Hal ini seperti menunjukkan perkataan: mengurai benang kusut. Para ahli sejarah gagal untuk dapat mengungkap kebenaran atas masa lalu. Kemunculan satu argumen dan peruntuhnya sekaligus terkesan membingungkan.

Sama seperti puisi Neno, seakan tidak melihat sejarah masa lalu bangsa ini. Dahulu kala, ketika melawan kolonial, bahkan orang-orang sangat enjoy beribadah sambil berperang. Itu dimana ketertindasan beribadah sangat nyata. Sedangkan saat ini, dimana setiap orang bebas beribadah ritual dimana saja dan kapan saja, mengapa digambarkan sedang dalam keadaan terancam? Apakah Neno sangat pendek dan dangkal untuk sedikit saja menguak cerita masa lalu?

Keempat, adanya teknologi baru yang diasosiasikan dengan masyarakat postmodern. Terutama jika menyangkut era sekarang, teknologi informasilah yang menjadi dominan.

Puisi Neno sudah tersebar ke seluruh penjuru dengan adanya teknologi informasi yang canggih. Sehingga sangat rentan sekali, puisi yang tidak bermakna, sarat pesimisme, dan analogi cacat lantas diketahui oleh banyak orang. Saya rasa ini pengaruh yang sangat buruk. Buruk dalam lingkup pendidikan, budaya, dan peradaban.

Kelima, sistem kapitalistis multinasional yang berada di balik teknologi dan representasi budaya. Hal ini tentu mencerminkan sub-ordinasi (ketertundukan) negara dunia ketiga dengan ciri konsumerisme yang tinggi.

Puisi Neno, tentu saja sangat jauh dari akar budaya ketimuran, terutama bangsa Indonesia. Puisi semacam ini lahir dari sifat konsumerisme terhadap teknologi dan budaya luar. Harus diakui, karya seni yang tidak benar-benar lahir dari budaya sendiri akan terdengar asing. Seperti puisi Neno, terlihat asing dan gersang, kering dan hambar, lantas beberapa tokoh masyarakat merespon dengan kritikan yang tajam. Ini berarti penolakan terhadap karya seni menunjukkan bahwa karya seni tersebut tidak lahir dari rahim budaya bangsa sendiri.

Dari kelima ciri postmodernisme versi Jameson ini, puisi Neno sangat bermasalah. Ia menjadi ciri kekosongan atas makna-makna modern, bahkan dari sudut pandang postmodernisme, puisi tersebut sangat bernuansa kekacauan. Benar saja, banyak ahli yang lantas menganggap postmodernisme adalah identik dengan kekacauan dan anomali yang senantiasa bertabrakan satu dengan yang lain.

Maka sangat disesalkan puisi itu lahir di masa pilpres semacam ini.[]

One thought on “Puisi Neno Warisman dalam Sudut Pandang Postmodernisme

  • Isa

    Ini adalah politik dua supit kepiting, sengaja satu supit membuat hal hal aneh untuk membuat pro kontra dg apa yg dilakukan sehingga diharapkan masyarakat sibuk membahasnya sehingga tak hiraukan lagi dg kerja supit yg lain yaitu bergerilya dg kampanye hitamnya,
    Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *