Narasi Beringas Kemenangan Umat Islam

Ada hal menarik yang harus dipahami secara utuh. Saat ini, banyak beredar ajakan untuk kembali memaknai agama Islam. Tentu saja ini baik. Tapi masalahnya, kadangkala ajakan ini disertai dengan konklusi yang bergeser, sebagaimana hal tersebut terjadi, dimulai dari pergeseran pondasinya.

Ajakan agitatif ini sedikit tidak nyaman. Ketika umat Islam dikondisikan saat ini sebagai umat yang mundur, terbelakang, dan jauh dari kemajuan, lalu disajikan solusi instan: kembali memahami ajaran agama agar umat Islam menjadi maju. Tujuan kemajuan umat tidak lain adalah untuk menguasai umat lain.

Di sinilah titik di mana kemajuan umat, yang seringkali dimotori oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan akhlak, seringkali berakhir tragis. Mengapa demikian? Karena tidak lain bertujuan untuk  menguasai umat lain. Apa benar Islam ini sejak awal adalah agama untuk menguasai umat lain? Umat agama lain? Umat non-muslim? Bahkan kalau dikatakan secara kasar, untuk menguasai orang kafir?

Dalam fase sejarah, tentu kita akan menjadi arif dan bijaksana jika mengenal fase-fase kemajuan dan kemunduran umat Islam. Adakalanya umat ini terpuruk, adakalanya berada di fase keemasan. Apa yang menyebabkan itu semua? Jawabannya mudah: takdir. Hal tersebut merupakan takdir dari Allah SWT yang senantiasa sesuai dengan skenario-Nya.

Tidaklah penting apakah umat berada dalam keterpurukan atau kemajuan, jika yang dijadikan parameter adalah penguasaan atas umat yang lain. Tentu dalam beberapa hal, acuan semacam itu menjadi rancu. Dalam beberapa khalifah bani Umayah misalnya, ada fase dimana umat Islam menjadi pemenang dalam urusan dunia, tetapi hancur lebur dalam urusan moral. Juga ada fase tertentu, kemiskinan merajalela, tetapi moral dan urusan agama terjaga dengan baik.

Maka standar dan parameter kemajuan umat inilah yang harus diperbaiki cara pandangnya. Apakah dengan barpatokan pada penguasaan atas umat lain atau dengan pengamalan ajaran agama. Terus terang, ada seorang kawan yang berkata bahwa umat Islam saat ini harus menguasai iptek lebih banyak dari bangsa Barat. Konon, bangsa Barat adalah penguasa segala-galanya dalam bidang iptek. Kemudian diajukan pertanyaan , mengapa harus seperti itu? Ia menjawab, agar umat Islam menjadi umat pemenang agar bisa menguasai umat lain, agar tidak terus-menerus ditindas oleh umat lain.

Awalnya saya mengira jawabannya adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menguasai iptek, agar kita tahu kebesaran-Nya, lalu tertunduk sujud mengakui kemahabesaran Allah. Iptek sebagai gerbang untuk mempertebal ketauhidan. Sebagai makhluk, ternyata kita bukanlah apa-apa dibandingkan-Nya. Tapi ketika jawaban yang keluar adalah untuk menguasai umat lain, saya merasa ada yang salah dengan jawaban ini.

Urusan pemenang atau kalah, penguasa atau dikuasai, ini bukan hal yang benar-benar penting dalam Islam. Ya, memang Islam mengajarkan mencintai ilmu pengetahuan dan menuntut ilmu, tetapi agar bermanfaat untuk sebanyak mungkin manusia lain. Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain, bukan yang paling menguasai orang lain. Tidaklah benar jika semakin menguasai, semakin baik. Tidak, tidak sama sekali, karena menguasai orang lain belum tentu bermanfaat bagi orang lain.

Satu lagi, setiap bangsa atau umat, tunduk pada skenario-Nya untuk berada di atas atau di bawah. Jika dikatakan saat ini Barat berjaya, lihatlah beberapa abad yang lalu sebelum zaman pencerahan. Jika dikatakan umat Indonesia saat ini terpuruk, lihatlah beberapa abad yang lalu bagaimana gemilangnya peradaban Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan lain. Bahkan hingga beberapa abad jauh ke belakang, peradaban Lemurian. Setiap bangsa atau umat, punya jatahnya sendiri untuk menjadi pemenang atau kalah yang murni diatur oleh-Nya.

Tapi itu bukan berarti kita tidak berusaha mengamalkan ajaran agama Islam. Tugas kita hanya menanam dan merawat, urusan panen adalah urusan Yang Maha Kuasa.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *