Puasa Melatih Keikhlasan Seorang Hamba

Puasa merupakan ibadah yang bersifat  individual. Artinya, hanya Alloh SWT dan orang itu sendiri yang tahu bahwa dia berpuasa atau tidak. Oleh karena itulah, puasa mengajarkan kepada seorang muslim untuk berbuat sesuatu ikhlas karena Allah. Ia hanya menginginkan penilaian Allah, bukan penilaian manusia. Hatinya senang dengan ibadah puasa yang ia lakukan meskipun orang disekelilingnya tidak mengetahuai bahwa ia sedang berpuasa. Keberhasilan puasa seseorang sangat bergantung kepada ikhlas atau  tidaknya dia dalam menjalankan ibadah puasa. Di dalam sebuah hadits Rosulullah SAW. bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika berbicara ikhlas dalam beribadah, maka diperlukan sikap kehati-hatian terhadap penyakit yang bisa menggrogoti keikhlasan seorang muslim dalam beribadah. Penyakit tersebut adalah riya’. Riya’ adalah sesuatu yang sangat berbahaya karena bisa merusak dan membatalkan pahala dari setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim. Di dalam kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ – Karangan Syekh Abu Bakr as-Sayyid al-Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan riya’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang bernilai akhirat dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan dan kemulyaan dari sesama manusia, misalnya melaksankan sholat, berpuasa, bershodaqoh, menunaikan ibadah haji, membaca Al Qur’an dengan tujuan agar orang lain mengagungkannya, memulyakannya, atau memberinya sesuatu (baca: harta). Amal perbuatan orang yang seperti itu jelas ditolak dan tidak bernilai pahala di sisi Alloh SWT. Di samping itu, semua usaha yang dia lakukan akan sia-sia.

Oleh karena itulah, bulan Ramadhan adalah bulan yang paling tepat untuk melatih keikhlasan seorang muslim. Orang yang berpuasa, bisa saja makan dan minum dengan sembunyi-sembunyi tanpa seorang pun melihatnya, akan tetapi dia tidak melakukan hal itu. Dia rela menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa agar ibadah puasa yang sedang dijalani diterima di sisi Allah SWT. Wallahu A’lam bis- showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *