Secarik Fatwa dari Syaikh Ahmad Nahrawi, Ulama yang Terlupakan Zaman

Fatwa tersebut tertulis di secarik kertas dan menjadi sangat berharga, bukan hanya karena berisi fatwa syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi (Kiyai Nahrawi Banyumas) terkait masalah hukum naqus (kentongan), melainkan juga karena selembar kertas ini dapat melngkapi informasi dan data akan keberadaan sosok beliau yang jejaknya sudah lama hilang terkubur.

Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi adalah salah satu ulama Makkah asal Jawi yang cukup berpengaruh, satu generasi dengan beberapa ulama besar Makkah asal Nusantara lainnya seperti Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Ahmad Fathani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain.

Meski demikian, tak banyak yang mengupas sejarah hidup tokoh wong ngapak satu ini, baik dalam sumber-sumber Arab atau pun sumber-sumber Nusantara. Hal inilah yang menjadikan sosok beliau seakan terlupakan, hilang terkubur oleh putaran zaman.

Sebuah informasi menyatakan jika beliau lahir di Banyumas pada paruh abad ke-19 M dari pasangan KH Harja Muhammad yang merupakan imam masjid besar kauman Purbalingga. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi wafat pada tahun 1926 M di Makkah.

Sebelumnya, jejak Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi ditemukan dalam kata pengantar kitab al-Durr al-Mandhud yang menyebutkan adanya sebuah catatan ulasan (taqrirat) penting atas kitab fikih “Minhaj al-Qawwim” yang ditulis oleh beliau. Ulasan tersebut berjudul Taqrirat Qayyimah ala Syarh Minhaj al-Qawwim fi al-Fiqh al-Syafii. Sayangnya, taqrirat tersebut berlum terlacak.

Jejak lainnya tentang sosok Kiyai Nahrawi Banyumas ditemukan pada sebuah  taqrizh (endorsment) beliau, dalam kapasiatas sebagai editor (musahhih) kitab Fath al-Majid fi Syarh Jauharah al-Tauhid karangan Syaikh Ali bin Umar al-Falimbani. Kitab tersebut selesai ditulis di Makkah oleh seorang cendekiawan asal Palembang pada tahun 1912 M, dan diterbitkan di Kairo oleh penerbit Maktabah al-Syuruq di tahun yang sama.

Dalam taqrizh tersebut, tertulis nama Syaikh Ahmad Nahrawi bin Imam Raja al-Jawi sebagai musahhih (editor). Nama ayah beliau yang ditulis Imam Raja mengindikasikan sosok Kiyai Harja yang menjadi Imam di Purbalingga. Hal ini menegaskan jika sosok Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi bukan cendekiawan sembarangan, karena tentu saja posisi sebagai editor ahli dipegang bukan oleh sosok orang yang kapasitas ilmu dan bahasanya biasa saja.

Di beberapa kitab karangan ulama Nusantara lainnya yang terbit di Timur Tengah (Makkah dan Kairo), selain nama Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi, ditemukan beberapa nama editor ahli lainnya atas kitab-kitab tersebut, seperti Syaikh Ahmad al-Fathani (dari Patani, Thailand Selatan), Syaikh Idris al-Marbawi (Marbu, Semenanjung), dan Syaikh Ilyas Ya’qub (Minangkabau).

Mudah-mudahan data pendukung lain terkait Kiyai Nahrawi Banyuwas dapat ditemukan lebih lengkap, untuk mengungkap salah satu mutiara Islam Nusantara yang berkemilau di Makkah tetapi terkubur dan terlupakan zaman.[red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *