Dalil Tentang Kenabian Khidir

Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau memberikan bukti kuat kenabian Khidir. Perbincangan tentang nabi Musa dalam al-Quran, Allah menceritakan kisah nabi Khidir: “Dan aku tiada melakukannya menurut kemauanku sendiri.” (QS al-Kahfi [18]: 82).

Secara tekstual, ayat ini dapat dipahami bahwa Khidir melakukannya karena perintah dari Allah. Perbuatan tersebut meliputi melubangi perahu yang dinaikinya bersama nabi Musa, membunuh seorang anak yang masih suci, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh. Namun, ada pula kemungkinan pendapat lain yang menyatakan bahwa perintah itu disampaikan melalui perantara nabi lain yang tidak disebutkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Pendapat yang terakhir ini sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada jalan untuk mengatakan bahwa itu merupakan suatu ilham (kepada seseorang yang bukan nabi). Sebab ilham akan muncul sebagai wahyu dari seseorang yang bukan nabi, hingga dijadikan landasan oleh Khidir untuk melakukan perbuatan-perbuatan itu.

Maka dari itu, jika kita menyatakan bahwa Khidir adalah seorang nabi, tentu kita tidak boleh mengingkari apa yang dilakukannya. Lagi pula, jika Khidir bukan nabi, bagaimana mungkin seorang yang bukan nabi lebih tahu dari seorang nabi? Sedangkan dalam sebuah hadis sahih nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa Allah swt berkata kepada Musa: “Tetapi dia adalah hambaku, Khidir.”

Lantas, bagaimana mungkin seorang nabi (Musa) menjadi pengikut orang yang bukan nabi. Maka berkaitan dengan hal ini, ats-Tsa’labi menyatakan, “Khidir adalah seorang nabi, demikian itu tidak terbantahkan.” Sementara beberapa ulama kenamaan mengatakan, “Simpul (akidah) pertama yang terlepas dari kaum zindik adalah keyakinan mengenai kenabian Khidir. Sebab, mereka selalu berkoar-koar bahwa Khidir bukanlah seorang nabi, bahkan meyakini seorang wali lebih utama dibanding nabi. Hal ini sebagaimana diungkapkan salah seorang dari mereka: Kedudukan kenabian di alam barzakh adalah di atas rasul, di bawah wali (artinya, urutan berdasarkan keutamaan menurut mereka adalah  wali, nabi, dan rasul).[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *