Larangan Melaknat dalam Islam

Melaknat yaitu mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah swt. Dalam kitab Maraqi Ubudiyah karya Syeikh Nawawi Banten, sebuah kitab syarh (penjelasan) dari kitab Bidayah Hidayah karya Imam Ghazali, disebutkan larangan menggunakan lisan untuk melaknat. Meskipun, dalam era teknologi informasi saat ini, bukan hanya terbatas pada lisan, tapi juga tulisan.

Disebutkan: jangan melaknat ciptaan Allah, entah itu terhadap hewan, makanan, tumbuhan, dan manusia meskipun ia kafir. Misalnya, kamu berkata, “Semoga Allah swt melaknat si Fulan karena orang Yahudi.” Sebab, hal ini sangat berbahaya karena bisa jadi ia mendapat hidayah lalu masuk Islam, kemudian mati, dan di akhirat kelak termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi-Nya. Adapun melaknat tanpa menyebutkan nama seseorang, maka hal itu diperbolehkan seperti ungkapan, “Semoga Allah melaknat orang-orang zhalim, semoga Allah melaknat orang-orang kafir, semoga Allah melaknat orang Yahudi dan Nasrani, semoga Allah melaknat orang-orang fasik dan munafik, semoga Allah melaknat para pemahat dan pematung,” dan lain sebagainya.

Jangan pula kamu memastikan dengan kesaksian kepada seorang yang kiblatnya sama, sama-sama Muslim, bahwa ia orang musyrik, munafik, atau kafir, karena hal itu adalah sesuatu yang amat berat. Lagi pula hanya Allah swt yang Maha Mengetahui isi hati dan rahasia seseorang. Maka janganlah kamu ikut campur dalam rahasia seorang hamba dengan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seseorang bersaksi atas orang lain bahwa ia kafir melainkan salah satu dari keduanya akan mendapatkannya. Apabila orang itu (benar-benar) kafir, hal itu seperti yang dikatakannya, dan jika ia bukan orang kafir maka ia (penuduh) pun telah kafir karena telah mengkafirkannya.”

Jika ada orang bertanya, “Bolehkah melaknat Yazid bin Muawiyah karena ia telah membunuh al-Husein bin Ali  bin Abi Thalib, atau telah menyuruh seseorang untuk membunuhnya?” Maka jawaban kami, “Pada dasarnya, ini tidak terbukti maka tidak boleh mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah telah membunuhnya, atau telah menyuruh orang lain untuk membunuhnya selama belum ada bukti, apalagi melaknatnya. Karena, seorang Muslim tidak boleh dituduh melakukan dosa besar sebelum ada bukti yang menguatkannya. Namun, kamu boleh mengatakan bahwa Ibnu Muljam membunuh Ali bin Abi Thalib, dan Ibnu Lu’luah membunuh Umar bin Khattab karena hal itu telah terbukti secara mutawatir.” Demikian jawaban Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulum ad-Din.

Ketahuilah, pada hari kiamat kelak kamu tidak akan ditanya, “Mengapa kamu tidak melaknat si Fulan, mengapa kamu mendiamkannya?” bahkan, seandainya kamu tidak pernah melaknat iblis dan setan seumur hidup, dan tidak pernah menyibukkan lisan melaknatnya, maka pada hari kiamat kelak kamu tidak akan ditanya tentang hal itu dan tidak pula dituntut, bahkan kamu diam pun juga tak akan dituntut. Akan tetapi, jika kamu melaknat satu makhluk Allah maka kamu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jika kamu terlanjur melaknat sesuatu yang tidak patut dilaknat maka segeralah mengatakan, “Ia tidak patut dilaknat.” Demikian an-Nawawi berpesan dalam al-Adzkar.

Jangan mencela sesuatu yang telah diciptakan Allah. Sebab, Rasulullah saw tidak pernah sekali pun mencela makanan yang buruk. Tetapi, apabila beliau menyukai suatu makanan, beliau memakannya, dan apabila beliau tidak suka, beliau meninggalkannya tanpa mencelanya. Di antara kata-kata yang dipakai seseorang untuk mencela orang lain adalah: Hai Keledai! Hai Anjing! Hai Kambing jantan! Dan lain sebagainya. Ini merupakan perkataan yang buruk dilihat dari dua segi: pertama adalah dusta, dan kedua menyakitkan.

Lain lagi dengan perkataan: “Hai Zhalim!” dan sejenisnya. Dalam kondisi terpaksa dan darurat, perkataan semacam ini masih diperbolehkan karena pada umumnya perkataan itu benar, bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat zhalim kepada dirinya atau orang lain. Demikianlah yang disebutkan oleh an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *