Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Kalau melihat lebih luas dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan Sriwijaya punya peranan penting. Dalam Buku Pintar Aswaja, disebutkan secara gamblang hal ini. Salah satu kekuatan bangsa nusantara di masa lampau adalah kemampuan masyarakatnya di sektor kelautan. Para pelaut dan pedagang Sriwijaya (Palembang) menjalin hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Arab, India, Cina dan lainnya.

Dinamika Islam di dunia Arab pun diketahui masyarakat nusantara. Masyarakat Sriwijaya misalnya, secara intens mengenal Islam sejak abad VII. Hubungan diplomatik terjadi antara penguasa Sriwijaya era Sri Maharaja Indra Warmadewa dengan dinasti Umayyah era Muawiyah bin Abi Shufyan (661 M) dan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). komunikasi intensif masyarakat nusantara dengan Dinasti Umayyah mempererat keduanya. Komunikasi penguasa nusantara dengan dunia Arab juga terus berlanjut di era Dinasti Abbasiyah masa kepemimpinan Harun al-Rasyid (786-809 M) yang berpusat di Baghdad, Irak.

Dinasti Umayyah dan Abbasiyah mengenal nusantara sebagai sebuah negeri yang besar yang telah mengenal sistem pemerintahan. Sebuah negeri yang terdiri dari beberapa penguasa namun mempunyai konsensus untuk menyatu di bawah seorang pemimpin. Pada tahun  775 M, Raja Sriwijaya memang dikenal sebagai “raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi di antara semua raja di muka bumi,” (O.W. Wolters, 2011).

Dinasti Umayyah dan Abbasiah juga mengenal masyarakat nusantara yang memiliki kekayaan alam yang dihuni binatang-binatang  seperti gajah dan hewan lainnya. Nusantara juga dikenal dengan sungai-sungai yang mengalir, sehingga menyuburkan tanahnya. Tumbuh-tumbuhan yang bernilai semacam kacang-kacangan, kayu gaharu (aquilaria) hingga kaya akan kapur barus, sebuah zat yang teradapat dalam kayu tanaman jenis pohon laurel kamper.

Terkhusus komunikasi dengan Umar bin Abdul Aziz, penguasa Sriwijaya secara eksplisit membangun diplomasi yang saling menguntungkan. Sriwijaya mengirimkan beberapa komoditas negerinya yang bernilai sebagai simbol penghormatan hubungan kedua kerajaan, sebaliknya Sriwijaya meminta kepada dinasti Bani Umayyah untuk mengirimkan intelektual yang mampu memberikan ilmu pengetahuan tentang Islam. Sriwijaya memandang penting memahami Islam dan hakikat keselamatan hidup. Selain meminta dikirimi pakar Islam, Sriwijaya juga meminta buku-buku referensi tentang Islam yang dapat dipelajari (Ibnu Abd Rabih, 2007).

Di luar Sriwijaya, terdapat Kerajaan Perlak (Aceh Timur) yang berdiri pada 840 M sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Sebagian besar penduduk Kerajaan Perlak telah lama memeluk agama Islam. Maka dipastikan Islam masuk jauh sebelum tahun berdirinya kerajaan itu.

Pada 1042 M berdiri kerajaan Islam Samudera Pasai (Aceh Utara) dan pada 1025 M berdiri Kerajaan Islam Aceh. Menurut Muhammad bin Muhammad al-Lawati al-Tanjawi atau yang dikenal dengan nama Ibnu Batutah (1304-1377 M) pengelana asal Maroko, kerajaan Samudera Pasai dengan raja pertamanya al-Malikus Saleh, merupakan kerajaan yang menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah dan memilih madzhab Syafii.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *