Membongkar Kesesatan Tamkin: Kebelet Berkuasa Berkedok Agama

Oleh: Nasrudin Toha

Tamkin secara bahasa berarti mashdar dari kata makuna (kuat dan tinggi). Maka tamkin bermakna menghilangkan penghalang. Secara istilah, tamkin sesuai dengan apa yang ada di al-Quran dan hadits (tidak keluar dari makna bahasa), yaitu kepemilikan, kekuatan, dan kekuasaan. Dapat pula dimaknai sebagai mempermudah urusan, menghilangkan penghalang, dan melimpahnya sebab-sebab. Jika ditinjau dari segi syariat, tamkin sendiri berarti menegakkan ibadah, tersebar dan eksisnya agama Islam. Secara umum, tamkin merupakan perwujudan dari perbuatan Tuhan yang mutlak. Manusia di bawah naungan-Nya dapat mewujudkan tujuan mereka secara bermacam-macam.

 

Pengertian Tamkin Menurut Kelompok Menyeleweng

Para anggota dan pembesar kelompok menyeleweng telah membentuk pengertian, pandangan, pemahaman yang salah terhadap Islam. Kelompok menyeleweng ini kerapkali membentuk sebuah pemahaman baru terhadap agama dan syariat. Mereka menciptakan definisi  yang baru terhadap beberapa istilah dalam syariat yang telah mapan.

Bahkan pemahaman mereka justru berbenturan dengan dalalah qhot’iyah (artinya sumber petunjuk yang valid) dalam al-Quran dan sunnah. Umat muslim sepanjang zaman tidak pernah bersepakat terhadap pemahaman mereka tersebut. Kelompok ini bahkan menambah beberapa istilah baru yang tidak sesuai dengan pondasi agama, sehingga memunculkan banyak pertentangan dengan syariat.

Dalam beberapa kasus, justru mereka mempunyai bentuk dan pemahaman baru terhadap Islam, yang kemudian menyelisihi  pokok agama yang benar dan hakikat syariat. Hal ini pun berimbas terhadap satu definisi baru – sebelumnya tidak pernah dibahas oleh para ulama secara spesifik- yaitu tamkin.

Tamkin berasal dari pemahaman Qurani dimana para ulama telah membuka dalalah dan makna yang lantas dijelaskan secara jelas sesuai dengan tujuan syariat. Maka datanglah kelompok menyeleweng ini membawa sebuah pemahaman yang menyeleweng (yaitu tamkin) dari dalalah Quran terhadap kata ini. Yang menjadi argumentasi kita, bahwasanya pemahaman terhadap istilah tamkin menurut aliran kelompok ini adalah salah, yaitu pengambilan kesimpulan yang cacat terhadap makna tamkin di dalam al-Quran, sunnah Nabi saw, dan perkataan ahli ilmu.

Telah terlihat jelas bagi orang yang menggunakan akal pikirannya, sebuah kemampuan untuk melihat secara gamblang kepada hakikat segala sesuatu. Bagaimana kelompok menyeleweng ini  memiliki pikiran dan pemahaman yang menyeleweng jauh dari makna yang benar dalam syariat. Dibuktikan lebih lanjut dalam kenyataan inderawi dan sejarah modern (sebelum masuk ke dalam nash syariat): bahwa mereka telah mengganti dan melakukan bid’ah di dalam pondasi dan cabang agama Islam, dalam bidang akidah, fiqih, akhlak, dan penyucian diri, dibungkus dengan dalih “perbaikan umat Islam”.

 

Penyempitan Makna Tamkin dalam Kemenangan Politik dan Dimensi Hukum-Politik

Jika melihat ke realita kaum muslimin saat ini, kita mendapatkan bahwa pemahaman untuk mencapai tamkin menurut jamaah yang menyeleweng (dari segi pikiran dan perbuatan), lebih mendahulukan bentuk mencapai puncak kekuasaan, penguasaan politik, dan kepemilikan kekuatan. Mereka berdalih bahwa hakikat tamkin yang sesuai syariat dapat dicontohkan dalam: pencapaian kelompok atau partai tertentu dalam puncak kekuasaan di negeri muslim, penguasaan perangkat-perangkat hukum, kemudian mewajibkan praktek beragama dan duniawi kepada masyarakat yang sesuai dengan pemahaman mereka. Hal itu dianggap sebagai penerapan syariat Islam yang benar.

Kalau bisa diringkas penyelewengan mereka tentang makna tamkin: kadar kesuksesan dalam tamkin dianalogikan dengan sejauh mana pencapaian mereka dalam kekuatan politik dan pengendalian penuh terhadap kekuasaan.  Makna itulah yang bertentangan dengan al-Quran dan hadits jika ditinjau makna sebenarnya secara umum dan bervariasinya makna tamkin itu sendiri. Khususnya pemahaman sesat ini melahirkan banyak kejadian dan peristiwa yang bertentangan dengan syariat, yang dicontohkan secara aplikatif dengan dasar kesalahan pemahaman kelompok ini terhadap pemaknaan tamkin. Mereka menjadikan agama sebagai wasilah (sarana) untuk mendapatkan kekuasaan dan kekuatan, bukan menjadikan agama sebagai ghoyah (tujuan) sebagaimana dipahami oleh mayoritas umat muslim dari dulu hingga sekarang.

Arah pikiran dan praktek aliran ini menciptakan bangunan politik dalam penggambarannya untuk mencapai kekuasaan. Sesungguhnya para pendiri dan teoritis aliran ini mengklaim bahwa mereka adalah reformis (kelompok yang menggaungkan perbaikan umat). Akan tetapi, di balik itu semua sesungguhnya tujuan terbesar mereka adalah membentuk penyangga dari kaum pemuda, yang mana mereka dapat menggapai  kekuatan yang dipersiapkan untuk penguasaan politik dan perangkat hukum. Jalur itulah yang dianggap dapat menerapkan langkah-langkah penyebaran ide dan paham mereka di masyarakat, berangsur-angsur untuk bisa menembus ke ranah hukum.

Bingkai gerakan mereka secara umum dalam membangun praktek politik adalah:

  1. Menentukan metode tertentu yang dapat menyempurnakan praktek beragama versi mereka, dibagi dalam beberapa tahapan: mengenalkan kelompok dan tujuan mereka, cara mencapai tujuan ini, tahapan praktek dan ciri khas setiap tahapan. Mereka membangun pondasi strukturalis yang berawal dari pembagian peran bagi setiap orang yang tertarik dengan gerakan ini.
  2. Berusaha membentuk para kader yang kelak akan dibebankan tanggung jawab kepada mereka untuk mencapai tujuan kelompok atau partai ini, sesuai dengan metode, pemahaman, dan teori yang dianggap sebagai pendapat beragama yang paling benar. Hal tersebut dari sisi akidah, fiqih, dan akhlak, sesuai dengan realita negara muslim.
  3. Adanya sebagian ciri khusus pada anggota kelompok ini yang harus dipenuhi: haurs berbaiat kepada jamaah ini, harus taat secara total, dan memutus hubungan dengan kelompok lain (tidak boleh terdaftar atau bergabung dengan kelompok lain), mengedepankan kepentingan kelompok dibanding kepentingan bangsa, dan mengaitkan kehidupan umum dan khusus dengan pemahaman kelompok. Artinya, ia harus masuk secara penuh terhadap kelompok ini. Maka keterkaitan dengan kelompok dan seluruh usahanya harus didedikasikan untuk mencapai tujuan kelompok.
  4. Kemungkinan mengadakan kerja sama secara bertahap dengan partai politik dan kelompok apa saja, dengan tujuan mencapai keberhasilan setiap tahapan. Akan tetapi, dengan masih menjaga ideologi umum yang menjadi ciri khas kelompok.

Dengan melihat realita yang terjadi di beberapa negara muslim, kami mendapatkan bahwa kelompok atau aliran ini di belakang tujuan mereka untuk mencapai tamkin (penguasaan politik) sudah jauh dari hakikat agama, karena bercampur antara apa yang disyariatkan dengan apa yang tidak disyariatkan.

Dari contoh di atas, apa yang terjadi pada Hizbut Tahrir akan dibahas secara detail.

Ket:

Hizbut Tahrir adalah sebuah gerakan politik yang mengklaim berbuat di bawah naungan agama, menyerukan kepada kembali membentuk daulah khilafah islamiyah, menyatukan umat muslim semua di bawah naungan daulah khilafah. Hizbut tahrir bergerak di lingkup politik dan informasi sebagai corong penyebaran partai. Partai mengambil langkah politik dan pemikiran sebagai jalannya. Berdiri di al-Quds awal tahun 1953 M, didirikan oleh Qodhi Taqiyuddin al-Nabhani. Pengendali politik di Hizbut Tahrir disebut al-Imarot yang dipimpin oleh seorang Amir Hizb, yang pemilihannya dilakukan secara internal dan berjenjang dalam mekanisme partai, durasi imarohnya (kepemimpinannya) tidak terbatas. Kepemimpinannya bersifat global, artinya dia seorang amir (pemimpin) bagi setiap anggota partai di setiap tempat di dunia ini. An-Nabhani dialah amir pendiri, memimpin partai ini sampai wafatnya tahun 1977 M.

Tamkin menurut Hizbut Tahrir

Dari beberapa penggambaran yang salah terhadap tamkin kelompok Hizbut Tahrir: berawal dari metode mereka dalam memahami pentingnya berbuat untuk penegakan khilafah dan mengembalikan kehidupan Islami di negara muslim yang mereka anggap bahwa negara-negara muslim saat ini telah kehilangan hal tersebut (penegakan khilafah dan kehidupan Islami). Mereka berpendapat bahwa hal yang paling perlu dilakukan manusia saat ini adalah merealisasikan tujuan ini. Hal tersebut dibuktikan dari sebagian besar pendapat mereka dalam memaknai permasalahan tamkin:

  1. Tujuan Hizbut Tahrir

Memulai kembali kehidupan Islami dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini bermakna mengembalikan kaum muslimin ke dalam kehidupan yang Islami di darul Islam, masyarakat Islami, yang mana seluruh urusan kehidupan di dalamnya sesuai dengan hukum syariat, menjadikan segala pandangan di dalamnya adalah halal dan haram di bawah naungan daulah Islamiyah (negara Islam), yaitu  daulah khilafah (bentuk pemerintahan khilafah). Bentuk ini ketika umat muslim mengangkat seorang khalifah, mereka membaiat khalifah dengan ketaatan penuh (sam’an wa tho’atan) terhadap hukum yang bersumber dari al-Quran dan sunnah rasul-Nya, dan  membawa risalah Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad.

  1. Metode Hizbut Tahrir

Karena keadaan kaum muslimin saat ini mereka hidup di darul kufri (negara kafir), karena mereka tidak berhukum dengan apa yang telah diturunkan Allah, maka negara mereka mirip ketika periode Mekkah ketika Rasulullah saw diutus, karena itu wajib diperlakukan peran seperti di Mekkah saat itu ketika berdakwah (merujuk konsep dan cara seperti periode Mekkah saat itu).

Cara untuk mengikuti siroh Rasul saw di Mekkah sampai mendirikan negara di Madinah, terlihat jelas bahwa beliau melewati proses bertahap dengan ciri-ciri khusus. Perbuatan beliau juga terlihat dengan jelas saat itu. Maka partai mengambil metode tersebut dengan berkaca pada sejarah hidup beliau, mengikuti tahapan-tahapan hidup beliau, dan merujuk kepada perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh beliau saw dalam setiap tahapnya.

Ket:

Ini adalah kesalahan besar bagi partai ini, mengumumkan bahwa mereka mendapat ilham dari sunnah nabawiyah. Maka muncul pertanyaan: Apakah perbuatan rasulullah saw berdasarkan dakwah untuk menuju Allah dan mengenalkan Islam kepada manusia, atau sebuah usaha untuk membentuk masyarakat yang memiliki kekuatan dan kekuasaan??? Di sini seorang muslim wajib untuk mengingat satu poin penting: bahwa awalnya penggunaan kekuatan dalam era dakwah nabi adalah bertujuan untuk membela diri dari gangguan. Kemudian setelah itu berusaha membuka jalan untuk menyampaikan dakwah. Dan yang mengarahkan semua itu adalah nabi saw sendiri, dan beliau ma’shum (maksum: terjaga dari kesalahan dan dosa). Maka sangat tidak mungkin di era sekarang, ada manusia yang berusaha mengaku-ngaku memiliki metode yang maksum, dan mengaitkannya dengan petunjuk nabawi.  Jika melihat pada realita modern sekarang, adalah sebuah kebohongan jika ada pembunuhan, peperangan, dan perusakan di atas muka bumi lalu dikaitkan bahwa perbuatan tersebut (diklaim oleh pelakunya) sebagai perbuatan yang mengikuti perbuatan nabi yang suci.

Berdasarkan hal tersebut, maka Hizbut Tahrir membatasi metode perjuangan mereka dalam 3 tahapan:

Pertama. Tahap membangun peradaban, yaitu menjaring orang-orang yang meyakini pikiran partai dan metode partai, agar menjadi massa partai.

Kedua. Tahap interaksi dengan umat untuk menjalankan Islam, hingga umat merasa punya tanggun jawab untuk melaksanakannya, agar umat berbuat untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga. Tahap menerima hukum, mengimplementasikan Islam secara menyeluruh, dan membawa hal tersebut ke seluruh penjuru dunia.

Perjuangan Politik

Pertama. Memerangi negara kafir penjajah, yang menguasai dan mengendalikan negara-negara Islam, serta memerangi penjajahan dengan berbagai bentuknya, baik penjajahan pikiran, politik, ekonomi, dan militer. Membongkar strategi dan langkah penjajahan, untuk menyelamatkan umat dari kekuasaan penjajah, dan membebaskan umat dari segala bekas penjajahan.

Kedua. Melawan pemerintahan di negara Arab dan muslim, membongkar kedok mereka, mengkritik mereka, dan mengingkari mereka setiap mereka menindas hak umat. Atau menyelewengkan kewajiban mereka terhadap umat, atau meremehkan urusan umat. Atau ketika para pemerintah ini bertentangan dengan hukum Islam. Berusaha untuk menghilangkan hukum mereka (hukum yang tidak sesuai Islam) agar hukum Islam dapat tegak sebagaimana mestinya.

Ket:

Itulah sebabnya, para anggota Hizbut Tahrir selalu berusaha memutus kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya dengan cara menggaungkan keburukan pemerintah, termasuk dalam bentuk postingan di media sosial. Bahkan keburukan-keburukan ini, baik dibuat-buat maupun didistorsi sesuai keinginan mereka, disebarkan secara massif dalam media sosial, karena hanya media sosial yang dapat mereka kendalikan, meskipun tulisan, meme, dan video, tidak jelas siapa pembuatnya.

Dari salah satu sumber partai dan yang disebarkan dalam sebuah buku yang berjudul Manhaj Hizb al-Tahrir fi al-Taghyir (Metode Hizbut Tahrir dalam Perubahan), ditulis di dalamnya metode mereka dan deskripsi mereka tentang realitas negara muslimin saat ini, dalam kalimat:

“Mendirikan khilafah: isu krusial umat muslimin di dunia. Sesungguhnya isu krusial bagi kaum muslimin di dunia adalah mengembalikan hukum sebagaimana yang diturunkan oleh Allah, dengan cara mendirikan khilafah, mengangkat seorang khalifah bagi kaum muslimin yang dibaiat untuk menjalankan kitabullah dan sunnah rasulullah saw. untuk menghancurkan hukum kafir, dan menempatkan hukum Islam pada tempatnya yaitu dalam implementasi dan penerapan, berusaha membuat negara Islam menjadi Dar Islam, dan masyarakat di dalamnya menjadi masyarakat Islami, dan membawa pesan Islam ke dunia dengan dakwah dan jihad.

Dengan menentukan isu krusial bagi kaum muslimin akan tercipta tujuan yang wajib untuk dilakukan dalam dakwah islam bagi para simpatisan, partai-partai, dan masyarakat untuk mengimplementasikannya. Kemudian akan muncul cara-cara yangharus dilalui untuk dapat mencapai tujuan tersebut.

Untuk mengetahui itu, maka harus diketaui realitas kaum muslimin hari ini, keadaan negara muslim, dan realita negara di negara muslim. Juga masyarakat yang hidup di dalamnya terdapat kaum muslimin, lalu mengetahui hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan itu. Hukum-hukum syariat yang berhubungan dengan urusan yang harus diterapkan dalam ranah isu krusial ini:

  1. Realitas umat muslim, meskipun keadaan mereka muslim, tetapi dikuasai oleh percampuran pikiran dan perasaan Islam-Barat-sosialisme, kesukuan-kebangsaan-kedaerahan, dan madzhabisme-kelompok.
  2. Realitas negara-negara muslim, termasuk di dalamnya negara Arab, sesungguhnya berhukum semuanya – dengan sangat disayangkan- dengan hukum kafir. Terkecuali sebagian hukum-hukum Islam seperti pernikahan, talak, nafkah keluarga, warisan, status bapak dan anak, yang mana memiliki pengadilan khusus yang disebut pengadilan syariat (pengadilan agama, red). Juga terkecuali sebagian hukum syariat lain diterapkan di pengadilan pada sebagian negara muslim seperti Saudi Arabia dan Iran.
  3. Realitas negara yang mana umat muslim hidup di dalamnya hari ini pada semua wilayah, pada kenyataannya adalah darul kufri (negara kufur) dan bukanlah Darul Islam (negara Islam).” (Kitab Manhaj Hizb at-Tahrir dalam Perubahan (hal 3-4), Penerbit Dar al-Umat, Beirut, Lebanon, Cetakan Kedua tahun 2009 M)

Ket:

Pada poin yang didengungkan oleh simpatisan aliran menyimpang ini menunjukkan ketiadaan pengetahuan mereka terhadap syariat dan realitas sekaligus. Isu yang lebih utama untuk digaungkan sebenarnya adalah dakwah dan tarbiyah (pendidikan) dengan semampunya sesuai petunjuk nabi dan perbaikan jiwa dengan metode Qurani terhadap seluruh tahapan akidah, fiqih, dan tingkah laku. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah dengan sekadar mengumumkan khalifah bagi kaum muslimin saat ini akan otomatis kembali ke peradaban Islam? Apakah dengan mengangkat khalifah, keadaan masyarakat akan otomatis baik? Untuk mencapai tujuan inilah, aliran menyimpang ini melakukan kerusakan dan pengrusakan di bawah keinginan mereka untuk berusaha mengembalikan khilafah.

Mereka juga menulis dalam kitab yang sama pada halaman 8:

“Dengan ini maka jelas bahwa seluruh negara muslim saat ini tidak menerapkan syarat hukum Islam, meskipun pemimpin mereka, sebagian besar, adalah pemimpin dari kalangan muslimin. Oleh karena itu sangat disayangkan, tidak dianggap Darul Islam. Meskipun ia adalah negara islam, meskipun penduduknya kaum muslimin. Karena yang ditekankan dalam sebuah Dar (negara) adalah hukum-hukum dan perangkat hukumnya, bukan wilayah dan penduduknya. Sedangkan realita masyarakat di negara muslim saat ini sesungguhnya tidak Islami. Pada hakikatnya masyarakat terdiri dari orang-orang, pikiran, perasaan, dan hukum, yang mana bahkan keika hanya terdiri dari orang-orang muslim lantas bisa disebut masyarakat muslim. Masyarakat adalah kumpulan dari manusia yang selalu terhubung dengan faktor-faktor lainnya, karena jika tidak ada hubungan yang konstan, maka itu hanyalah kelompok, tidak berbentuk masyarakat, seperti layaknya rombongan perjalanan di kapal, pesawat, atau kafilah.”

Inilah gambaran yang dibangun oleh partai ini (Hizbut Tahrir) yang menganggap diri mereka sesuai dengan agama dan perbuatan Islami dalam mempromosikan gagasannya tentang tamkin, kemenangan, dan penerapan syariat.

 

Tamkin Terealisasi dengan Benturan

Selain benturan, narasi yang dibangun adalah perjuangan bersenjata melawan masyarakat muslim, pemerintahan negara Islam, dan masyarakat non-muslim. Sebab dibangunnya metode benturan adalah perkataan bahwa kufurnya hukum pemerintah di negara muslim. Hal itu mencakup pemerintahan dan rakyatnya sekaligus. Dari sini, mereka beranggapan bahwa kewajiban mereka sesuai dengan pendapat menyeleweng mereka yaitu berbuat untuk melenyapkan hukum ini dan menjatuhkan pemerintahan. Cara yang dipakai adalah kekuatan bersenjata dengan berbagai macam dan bentuknya. Hasilnya adalah dibentuknya puluhan organisasi bersenjata takfiri yang memiliki nama yang berbeda-beda, menyebar di negara muslim beberapa waktu yang lalu.

Mereka tidak punya tujuan kecuali berusaha berbenturan dengan pemerintahan dan ingin menjatuhkan perangkat hukum dan melemahkannya. Agar mencapai penguasaan atas kepemimpinan sebuah wilayah negara dan memeiliki kekuatan untuk tamkin (penguasaan total). Contoh dari itu sangat banyak sekali di negara-negara muslim, banyak bermunculan pikiran untuk menurunkan pemerintah yang sah, menngkondisikan masyarakat tertentu (agar ikut terlibat) atau menciptakan wilayah separatis “wilayah Islami” untuk membentuk genarasi mujahid yang bekerja untuk implementasi tamkin. Juga muncul pemahaman menghalalkan harta dan darah orang lain dengan tujuan penguasaan sumber daya untuk mendanai pergerakan penerus ini.

Ket:

Hal ini jika ditambahkan pada sesuatu yang tampak dan menyebar dari adanya pendanaan asing yang mana aliran/kelompok ini bertumpu darinya untuk menjalankan strateginya. Maka setiap orang akan bertanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang dilihat dan didengar dari pemberitaan. Bagaimana bisa kelompok ini mencapai jumlah dana yang begitu besar berupa persenjataan, perbekalan, dan segala kemungkinannya? Dari mana datangnya dana dalam usaha ini? Siapa yang bertanggung jawab mempersiapkan milisi ini?

Di samping itu, kelompok-kelompok menyeleweng ini berusaha membuka front (blok, sekutu) lain dengan negara non-muslim dengan cara melakukan praktek terorisme di dalamnya bertujuan untuk menekan negara muslim. Bahkan dalam beberapa kondisi hingga memasukkan militer asing ke dalam negara muslim. Mereka mencoba menghadapkan negara muslim dengan musibah dari dalam dan luar. Hal ini membuat kaum muslimin dari segala lapisan, pemerintahan, organisasi, bahkan personal, mengerahkan kemampuan mereka untuk meluruskan gambaran salahyang disebarkan oleh mereka tentang Islam di dalam dan di luar. Akibatnya menghasilkan sebuah penampakan tentang pemahaman mereka tentang agama dalam sebuah bingkai yang suka berbenturan dengan orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka. Alhasil mereka  tidak dapat hidup bersama dengan yang lain.

Para penganut aliran jihad bersenjata bertolak dari pikiran takfir (mengkafirkan) mutlak dan dari sebuah perkataan bahwa masyarakat muslim telah masuk ke dalam kesyirikan. Selain itu, pengkafiran pemerintahan muslim dan anggapan bahwa mereka musuh yang dekat, harus dilawan dan dijatuhkan. Mereka memperpendek jalan untuk merealisasikan tujuan mereka, yaitu benturan dengan pemerintah dan lembaga negara untuk mempermudah realisasi tujuan mereka.

Salah satu contoh yang mengadopsi pemahaman ini adalah buku-buku Muhammad Abd al-Salam Faraj, khususnya dalam buku al-Faridloh al-Ghoibah (Kewajiban yang Raib). Buku ini dianggap sebagai pedoman dan petunjuk bagi pikiran orang-orang yang menganut paham benturan senjata dari kelompok menyeleweng. Faraj menetapkan di dalam buku tersebut deskripsi dan pendapatnya untuk merealisasikan kemenangan dan tamkin. Ia menjadikan salah satu rukun agar tercipta hal tersebut dengan perlawanan terhadap pemerintah, ia berkata dalam sebuah judul “Musuh yang Dekat dan Musuh yang Jauh” sebagai berikut:

“Ada sebuah pernyataan bahwa ladang jihad hari ini adalah membebaskan al-Quds (Palestina, red). Pada kenyataannya bahwa membebaskan tanah suci adalah sesuatu yang sesuai syariat, wajib bagi setiap muslim. Akan tetapi Rasulullah saw menggambarkan seorang muslim: Kayyis fathin (baik pikiran dan tingkah lakunya). Artinya, bahwa seorang muslim tahu apa yang bermanfaat dan apa yang harus diubah, mengedepankan solusi  yang tegas dan radikal. Maka poin ini mengharuskan penjelasan sebagai berikut:

Pertama. Memerangi musuh yang dekat lebih utama daripada memerangi  musuh yang jauh.

Kedua. Darah kaum muslimin akan terus menetes banyak bahkan jika kemenangan telah terwujud! Maka pertanyaannya sekarang: apakah kemenangan ini untuk kebaikan daulah islamiyah yang tegak? Atau kemenangan ini untuk kebaikan hukum kafir? Yang mana hukum kafir adalah penegasan dasar-dasar daulah yang keluar dari syariat Allah? Mereka para penguasa (pemerintah, red) mengambil keuntungan dari pemahaman kaum muslimin dalam rangka merealisasikan tujuan mereka yang tidak Islami, meskipun secara sekilas terlihat Islam. Maka peperangan (terhadap pemerintah, red) harus di bawah panji dan kepemimpinan Islam, tidak ada perselisihan dalam hal itu.” (al-Faridloh al-Ghoibah hal 5)

Ket:

Barang siapa yangmempertimbangkan perkataan yang menyimpang ini, akan menemukan bahwa hal ini tidak diturunkan kecuali dalam memperlakukan musuh umat, karena anggota  aliran ini mengatakan tidak ada penghalang untuk meninggalkan negera muslim dengan tujuan menjarah wilayah dan penghidupan musuh umat. Mereka tidak menganggap musuh bagi umat kecuali pemerintahannya. Telah kita saksikan dengan mata kepala sendiri pada keadaan hari ini, dimana tujuan aliran  dan kelompok tersebut beserta metodenya, tidak pernah mendatangkan kebaikan selamanya untuk negara muslim. Melalui investigasi dan penelitian mendalam, kita tidak menemukan di belakang kelompok ini kecuali perangkat negara-negara yang memusuhi negara muslim yang mana merencanakan untuk merusak sistem negara muslim. Seperti diketahui, sistem negara muslim menjaga keberadaan negara dan menjaga kepentingan penduduknya. Jika melihat kepada sejarah Khawarij lama, ditemukan kemiripan yang sangat besar antara pemahaman kelompok saat ini dan pemahaman Khawarij lama di mana Khawarij lama mengkafirkan para pemimpin kaum muslimin dan menghalalkan darah kaum muslimin. Mereka seperti dikabarkan oleh Nabi saw, “Mereka membunuh umat Islam dan membiarkan penyembah berhala, jika saya mendapatkan mereka pasti saya akan melenyapkan mereka (dengan cepat) sebagaimana Kaum Aad dilenyapkan” (Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab al-Anbiya’, pada bab firman Allah SWT, “Adapun kaum Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang” (QS Al-Haaqqah ayat 6) dari hadits Abu Sa’id al-Khudri).

Anehnya, setelah waktu yang panjang melakukan praktek bersenjata, pengkafiran, penghalalan darah kaum muslimin, penyebaran huru-hara dan kekacauan di masa lalu, beberapa pemimpin mereka yang di masa lalu yang membawa pemahaman ini, menyesal dan bertaubat dari pemahaman dan fatwa yang mengkafirkan kaum muslimin dan sistem hukum di negara kaum muslimin. Mereka mengutuk kekerasan dan mengumumkan bahwa mereka melakukan kesalahan yang besar di segala sisi di masa lalu. Keluar dari pemahaman menyeleweng ini adalah kebaikan yang sangat baik. Adalah sebuah kebaikan jika seorang yang salah menjauhi kesalahannya dan mengumumkan taubatnya dari paham mengkafirkan dan menghalalkan darah. Mereka harus kembali kepada hukum-hukum agama dengan pemahaman yang benar. Akan tetapi, yang disayangkan, pertaubatan mereka setelah mengalirkan darah yang banyak, dan setelah merusak banyak pikiran para pemuda. Lantas, apakah kita perlu membalas mereka dengan pengkafiran dan penumpahan darah? Maka kita harus kembali kepada kebenaran dan menutup pintu ini. Kita semua harus kembali menggaungkan agama yang toleran, menjalankan perintah Allah, membangun metode perbaikan dalam mendidik sebagai sarana untuk menciptakan kebahagiaan pada negara kaum muslimin dalam rangka memperbaiki keadaan dan meningkatkan kualitas setiap muslim.

Aliran-aliran yang menganut paham takfiri jihadi bersenjata di negara muslim, metode dan cara mereka untuk mencapai tamkin adalah dengan benturan senjata melawan sistem hukum, lembaga negara, dan segala perbuatan untuk melemahkan perangkat keamanan. Urutan tahap ini adalah dengan menyiapkan sistem organisasi dan pelatihan militer untuk mempersiapkan anggota yang akan menyempurnakan perlawanan dan jihad melawan pemerintah di bawah kendali mereka. Diiringi pula dengan adanya referensi pemahaman yang dijadikan rujukan pada tokoh dan buku, senantiasa menghiasi setiap yang batil sehingga mereka dapat mencapai tujuan. Mereka menafsirkan nash syariat sesuai keinginan mereka, berdalil dengan perkataan yang bukan dalil, menuduh kaum muslimin sebagai pelaku syirik, dan mereka menciptakan beberapa istilah yang cocok dengan metode mereka, seperti: amir, baiat, imaroh, hijrah, jamaah mukminin, dan hidup jahiliyah. Mereka juga berusaha mengokohkan dan mencari akar bagi metode mereka dalam hal tamkin.

Penulis buku, Ali Muhammad Sholabi, menulis judul “Fiqh al-Nashr wa al-Tamkin” (Fiqih Kemenangan dan Penguasaan) tentang cara mencapai tamkin dengan cara perlawanan bersenjata, ia menulis:

“Tahap mengalahkan musuh harus dicapai jika setiap individu telah menguasai pengertian jihad secara umum. Para kader dalam setiap lingkup telah siap untuk bergerak untuk menguasai urusan hukum dan menjalankan hukum syariat Allah, dan melakukan penguasaan demi agama. Gerakan kaum muslimin dalam tahap mengalahkan ini, harus mengguncang singgasana kedzaliman. Setiap para penguasa dzalim itu menghentikan tahap dakwah ini, meskipun satu tahap saja, bertambahlah kepanikan mereka dan semakin mendekati akhir dari hukum jahiliyah. Panah para pendakwah tertuju kepada dasar-dasar yang mana singgasana kedzaliman bertumpu padanya, dan dasar yang paling penting dimana dakwah berusaha untuk mencabutnya yaitu: mencabut kendali kekuasaan dari tangan mereka.” (Fiqh al-Nashr wa al-Tamkin fi al-Quran al-Karim, hal. 41, Daar al-Ma’rifat, Beirut, Lebanon, Cet. Ke-5, 2006)

Penulis buku ini terpengaruh oleh paham benturan terhadap pemerintah sebagai jalan untuk mencapai tamkin. Akan tetapi, jika seseorang merenung sedikit, maka dia akan menemukan paham ini pada hakikatnya adalah ajakan untuk menciptakan perang saudara di antara kelompok kaum muslimin. Karena penguasaan menurut kaum radikal, tidak tercapai di antara satu orang atau dua orang saja, melainkan tercipta dari berbagai pasukan bersenjata yang saling berperang satu dengan yang lain. Darah akan mengalir dari sini ke sana. Seseorang akan terkejut jika mendapatkan di akhir semua urusan, bahwa paham tamkin ini, menurut mereka, tidak akan diraih kecuali dengan satu cara, yaitu menguasai pemerintahan, mencerabut  kendali kekuasaan dari pemerintah, merumuskan kembali  sistem hukum, dan mengklasifikasi masyarakat sesuai dengan keyakinan mereka.

Ket:

Jika melihat ke realita saat ini, kita akan mendapatkan banyak dari masyarakat telah meyakini paham ini dan lantas kaum radikal mencari jalan untuk merealisasikan penguasaan yang digaungkan. Penguasaan yang dilakukan tidak jauh dari: penguasaan terhadap kekuasaan dan sistem hukum. Kelompok-kelompok ini mulai dari dulu sampai sekarang: Jamaah Islamiyah di Mesir, Jamaah Jihad di Mesir, al-Qaeda pimpinan Usamah bin Laden, Jamaah Jihadiyah di al-Jazair, ISIS, Boko Haram di Nigeria, Jamaah Anshor Bait al-Maqdis, dan masih banyak lagi. Kelompok-kelompok  tersebut bertujuan untuk melakukan perlawanan bersenjata, menghalalkan darah kaum muslimin, dan menghancurkan bangunan negara dan lembaga-lembaga negara, merupakan cara untuk merealisasikan tamkin yang digaungkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *