Monopoli Klaim Kebenaran: Hanya Mereka yang Sesuai Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Oleh: Nasrudin Toha

Aliran atau kelompok yang membangun paham tidak benar terhadap makna-makna tamkin, sebagian kelompok tersebut memplokamirkan diri dengan ilmu dan dakwah, lebih-lebih bahwa mereka satu-satunya contoh yang mempraktekkan ahlus sunnah wal jamaah. Struktur dan metode aliran ini dianggap madzhab mubtadi’ (dari kata bid’ah) dipandang dari sisi perkembangan, rujukan, deskripsi, dan cara pandangnya terhadap negara muslim dan klasifikasi mereka tentang masyarakat muslim. Dari hal-hal itulah mereka sebenarnya jauh dari metode ahlus sunnah wal jamaah.

Mereka membatasi metode yang dinisbahkan kepada ahlus sunnah hanya dalam serangkaian isu keilmuan dan fiqih, yang umat Islam sendiri sudah membahasnya sejak dahulu. Dari hanya beberapa isu dan permasalahan inilah, muncul parameter dan timbangan, apakah seseorang masuk atau keluar dari ahlus sunnah dalam pandangan mereka. Oleh karena itu, kita temukan bahwa porsi terbesar dari hasil intelektual modern dari aliran dan para pembesar mereka adalah ungkapan tentang bantahan, bantahan dari bantahan, dan demikianlah. Banyak karya yang berisi tentang menuduh bid’ah, menuduh banyak orang masuk ke dalam kubangan syirik, sesuai dengan ijtihad mereka. Juga memasukkan orang dan mengeluarkannya dari madzhab ahlus sunnah wal jamaah sesuai dengan apa yang menjadi landasan aliran ini dari berbagai madzhab dan pendapat. Hal tersebut terlihat jelas dari buku, ceramah (baik audio maupun visual), khutbah jumat, dan metodologi pengajaran pada ma’had (pesantren) yang dibangun sesuai dengan pokok-pokok dasar ajaran mereka.

Ketika anggota kelompok ini mengeluarkan pendapatnya tentang tamkin, mereka bertolak dari pendapat yang salah terhadap realitas umat: bagaimana tanggapan mereka tentang hukum di negara muslim, tentang madzhab fiqih yang dianut, serta dimensi spiritual, rohani, dan tingkah laku. Mereka berkata,” sesungguhnya umat telah menyeleweng dari manhaj (metode) salaf (umat Islam di periode awal Islam) solih dalam sisi akidah, fiqih, dan suluk. Oleh karena itu, maka harus ada yang berbuat untuk mengembalikan ke metode yang benar. Mereka mempersempit metode yang benar itu hanya pada buku-buku yang mereka terbitkan, juga pada ulama-ulama (baik yang lama maupun yang baru) yang dianggap contoh bagi metode ahlus sunnah wal jamaah versi mereka.

Aliran ini lebih mengutamakan pandangan umum tentang perbaikan umat, tetapi dari sisi mereka. Mereka berusaha menghancurkan apa yang sudah mapan dari umat selama beberapa abad, yaitu dalam permasalahan akidah, madzhab fiqih,  metode pendidikan rohani, dan tingkah laku (suluk).

Mereka menjadikan perangkat keilmuan sebagai jalan untuk menggapai tujuan, untuk dapat menyaingi lembaga keilmuan yang kompeten (karena sudah teruji dalam waktu lama) di negara mayoritas muslim. Hal tersebut karena lembaga keilmuan tersebut adalah lembaga yang punya kelebihan dalam menjaga syariat Islam dari penyelewengan. Akan tetapi, kelompok radikal lebih mengutamakan pemahaman yang berorientasi kepada perbaikan umat (versi mereka) yang menuju tamkin dalam pandangan mereka. Salah satu yang dijadikan argumen adalah klaim kerusakan akidah al-Asya’iroh dan al-Maturidiyah, degradasi tingkah laku, dan kejumudah fiqih sepanjang zaman karena umat Islam hanya berpatokan pada empat madzhab fiqih.

Salah satu mekanisme tamkin adalah pemusatan dan fokus dalam bidang dakwah.  Di antaranya perhatian kepada buku-buku yang mencakup pondasi dasar dakwah mereka dan mempersiapkan para kader yang dapat menjalankan metode khusus tentang pemahaman mereka. Hal tersebut juga harus mencakup pandangan-pandangan mereka tentang permasalahan fiqih, akidah, tingkah laku, dan usaha untuk menyebarkan dakwah mereka kepada masyarakat. Kembali mencetak buku-buku yang dianggap para ulama ahlus sunnah wal jamaah sebagai sesuatu yang mengakibatkan huru-hara dan merusak akidah kaum muslimin. Mereka mempromosikan kepada seluruh umat manusia bahwa mereka mencakup tentang akidah ahlus sunnah wal jamaah dan seusai dengan cara salaf sholih (generasi awal umat Islam).

Langkah-langkah mereka dalam merealisasikan tamkin adalah menyebarkan madzhab mereka di antara kaum muslimin dalam setiap bidang kehidupan. Mereka pun mengumumkan bahwa mereka dalam tahap menyiapkan generasi muslim yang di tangan merekalah tamkin akan terwujud. Tak tanggung-tanggung, mereka mempersiapkan metode, gambaran, dan bekal dalam hal referensi ilmiah dan intelektual dalam membentuk generasi ini.

Dengan berjalannya waktu, semakin lengkaplah persiapan mereka untuk menyebarkan paham ini, terutama sebagian pelajar dan mereka mengatakan kepada umat muslim bahwa mereka membawa metode ahlus sunnah wal jamaah. Mereka mengaku-ngaku sebagai pemimpin kebangkitan umat. Sejumlah orang (dari laki-laki dan perempuan) dipenuhi oleh paham dan metode dakwah mereka, yang mana dijadikan model  dalam hal beberapa isu agama dan realitas modern. Artinya, orang-orang ini dianggap menjadi contoh nyata dalam mempraktekkan pemahaman mereka, karena sebagai bukti nyata akan klaim kebenaran paham mereka. Padahal, pendapat mereka banyak berbenturan dengan hal-hal yang menurut mayoritas umat sudah mapan selama beberapa abad. Anehnya, mereka malah mengaku sebagai satu-satunya kelompok yang memonopoli kebenaran (kelompok lain yang berseberangan pendapat dengan mereka dianggap salah). Mereka pun mengklaim sebagai contoh dalam menerapkan metode ahlus sunnah wal jamaah. Mereka pun memproklamirkan diri sebagai kelompok yang diberi kemenangan dan kekuasaan di atas muka bumi.

Mereka beranggapan bahwa awal dari metode meraih tamkin adalah menyebarkan paham mereka dan menerobos ke dalam segala lapisan masyarakat dan individu. Parameter keberhasilan menurut mereka adalah sampai sejauh mana mencapai tamkin dengan menghilangkan hal-hal yang sudah dianggap sudah mapan oleh umat Islam, baik dalam kategori akidah, fiqih, dan suluk selama berabad-abad yang lalu. Mereka juga berusaha menggeser posisi para pemimpin syariat, menghilangkan lembaga ilmiah yang syar’i, dan mengganti itu semua dengan contoh-contoh yang sudah ada di masa lampau dan masa kini (yang sesuai dengan pendapat dan paham mereka).

Mereka mengklaim sebagai pemimpin kaum muslimin dimana kaum muslimin harus ada di belakang mereka demi menciptakan generasi yang dapat meraih kekuasaan di segala bidang. Itulah poin-poin yang harus diperhatikan. Kita berusaha membandingkan dengan kenyataan hari ini, dimana hal tersebut berhubungan dengan permasalahan tamkin. Seluruh aliran yang menjalankan metode dan praktek politik, perjuangan bersenjata, dan pemahaman takfir, sesungguhnya berkata bahwa rujukan dan titik tolok mereka dari metode ahlus sunnah wal jamaah. Ini adalah klaim semata. Mengapa? Karena mereka merujuk dan bertolak dari hal yang sama, tetapi berbeda dengan ahlus sunnah wal jamaah dalam menafsirkan dan mempraktekkan tamkin. Hal ini dibuktikan bahwa mereka menggunakan, baik secara verbal dan perbuatan, segala praktek kekerasan, benturan dengan pihak lain, dan paham takfiri (mengkafirkan orang lain yang tidak sepemahaman dengan mereka).

Ket:

Jika melihat lebih detail, kita tidak akan menemukan seseorang, baik dari segi pikirannya, keilmuannya, dan perbuatannya, tumbuh di bawah naungan metode hakiki ahlus sunnah wal jamaah yang perilakunya seperti perilaku kaum radikal. Kita juga tidak akan menemukan seseorang yang menimba ilmu di pesantren-pesantren yang sesuai syariat dan metode yang benar, yaitu dengan cara talaqqi dari ulama umat,  lantas ia melenceng sebagaimana melencengnya anggota kelompok ini. Kita tidak akan menemukan orang yang sungguh-sungguh ber-ahlus sunnah wal jamaah lantas berubah haluan dari kondisi yang tenang lalu menjadi beringas, mengajak orang lain untuk berperang melawan masyarakat muslim lainnya jika mendapat kesempatan untuk melakukan itu. Hal ini telah terbukti di banyak negara muslim, terutama beberapa tahun belakangan ini.

Ada beberapa poin juga yang harus diperhatikan terhadap kelompok yang menganggap diri mereka dekat dengan ilmu dan ahlus sunnah wal jamaah. Mereka berkata: Kami mengajak kepada al-Quran dan sunnah, kepada metode ahlus sunnah wal jamaah! Namun ketika diteliti lebih lanjut perkataan ini, kita akan menemukan  bahwa mereka melanggar pondasi ahlus sunnah baik dari sisi akidah, fiqih, dan tingkah laku. Mereka menyeru manusia dengan nama salafus sholih, tetapi mereka bertentangan sama sekali dengan salafus sholih dari sisi akidah, fiqih, dan tingkah laku. Mereka semakin menjauh sedikit demi sedikit dari praktek yang benar dalam agama dan syariat. Beberapa tuduhan yang sering mereka alamatkan kepada para ulama, yaitu tuduhan bid’ah, penjilat penguasa, pengecut, dan tidak perhatian terhadap umat. Anehnya, mereka mengklaim diri mereka sebagai kelompok yang paling mampu dalam urusan memimpin umat Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *