Refleksi Akhir Tahun: Pergeseran Makna Hijrah

Pekan ini adalah pekan terakhir di tahun 1440 Hijriyah. Tentunya hal tersebut menambah renungan bagi setiap muslim tentang perjalanan waktu: apa saja yang telah diperbuat setahun kebelakang? Waktu terus berjalan, apakah tingkah laku dan ibadah semakin baik?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang lantas harus terus kita ulang, meskipun tidak berkaitan dengan pergantian tahun. Sejatinya, setiap detik saja pertanyaan tersebut sangat relevan untuk dipertanyakan kepada diri kita sendiri. Tidak perlu menunggu pergantian tahun untuk melakukan introspeksi, karena setiap orang tidak tahu kapan ajal akan menjemput.

Akan tetapi, momentum pergantian tahun Hijriyah sangat baik untuk dilakukan permenungan. Terutama dari sisi historis penetapannya sebagai sebuah sistem penanggalan dalam Islam. Tahun Hijriyah ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah setelah bermusyawarah bersama para sahabat, berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah, bukan dari peristiwa kelahiran Nabi, Isra’ Mi’raj, diangkat dalam hal kenabian, dan bukan pula peristiwa wafatnya beliau. Di antara pilihan tersebut, akhirnya ditetapkanlah bahwa tarikh Islam dimulai dari hari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah menuju Madinah menjadi awal tarikh Islam, yaitu awal tahun Hijriyah. Hal ini sesuai dengan usulan Ali bin Thalib Ra.

Salah satu alasan mengapa peristiwa hijrah disepakati karena hijrahnya Nabi Muhammad Saw mempunyai nilai yang lebih dalam sejarah perkembangan dakwah Islamiyah. Setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, dakwah Islam mulai mencapai kejayaannya yang gemilang.

Secara harfiah, hijrah berasal dari hajara, yang berarti al-khuruj min ardhin ila ardhin; keluar dari satu tempat ke tempat lain (Ibnu Mandzur dalam kamus Lisanul Arab). Dari makna lughotan (bahasa) seperti ini, hijrah berarti berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu. Ibnu Mandzur kemudian menjelaskan perbedaan antara muhajirun dan mutahajjirun dengan mengutip perkataan Umar bin Khattab ra,”Haajiruu wa laa tuhajjiruu.” Abu Ubaid memberikan pengertian perkataan tersebut: Ikhlaskanlah hijrah untuk Allah Swt dan janganlah berpura-pura hijrah seperti kaum Muhajirin, padahal kalian tidaklah seperti mereka. Kaum Muhajirin yaitu orang-orang yang berhijrah bersama Rasulullah Saw, sedangkan mutahajjir yaitu orang-orang yang seolah-olah hijrah, padahal tidak.

Kaum Muhajirin adalah kaum yang meninggalkan rumah dan tempat tinggal mereka atas dasar kecintaan kepada Allah Swt, lalu mereka sampai di Madinah tanpa harta dan keluarga sama sekali. Allah Swt meninggikan derajat kaum Muhajirin. Allah Swt berfirman dalam QS An-Nisa’ ayat 100: “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya [sebelum sampai ke tempat yang dituju], maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Syeikh Nawawi al-Bantani dalam tafsir Maroh Labid Li Kasyfi Ma’na al-Quran al-Majid menafsirkan ayat tersebut,”Barang siapa berhijrah dalam ketaatan kepada Allah menuju sebuah negeri lain, maka ia akan mendapatkan di tempat baru tersebut kebaikan dan kenikmatan, yang itu dapat menjadi sebab dipermalukannya musuh-musuh mereka dahulu di tempat asal. Karena jika seseorang berhijrah ke tempat yang asing, dan ia mendapatkan kebaikan di tempat baru tersebut, sehingga sampailah kabar itu ke penduduk negeri tempatnya berasal, hal itu akan mempermalukan penduduk negeri asal karena buruknya perlakuan mereka terhadap orang yang berhijrah ini, dan itu dapat mempermalukan mereka.”

Dari sini, hijrah dimaknai sebagai perpindahan tempat demi menjalankan perintah Allah Swt dan Allah Swt sendiri yang menjamin atas rejeki di tempat yang baru tersebut. Hal senada juga diungkapkan dalam kitab tafsir al-Jalalain, bahwa yang dimaksud hijrah pada ayat ini adalah perpindahan tempat secara fisik.

Pergeseran Makna Hijrah

Di era sekarang, banyak yang menggunakan kata ‘hijrah’ meskipun tidak dimaknai perpindahan secara fisik. Hijrah di era modern lebih dimaknai sebagai perpindahan dari satu situasi ke situasi lain, yaitu perubahan dari situasi yang buruk menjadi lebih baik. Adapun lebih singkatnya: perubahan dari kondisi yang masih berlumur dosa dan maksiat, menuju ketaatan maksimal terhadap ajaran agama.

Lalu pertanyaan selanjutnya: mengapa digunakan istilah hijrah? Mengapa bukan taubat atau insyaf? Padahal jika definisi dari hijrah modern adalah demikian, taubat dan insyaf pun memiliki definisi yang tidak jauh berbeda. Semuanya memiliki inti, yaitu perubahan menuju diri yang lebih baik dengan meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh ajaran agama.

Sampai titik ini, definisi hijrah baik-baik saja, dengan syarat maknanya setara dengan taubat dan insyaf. Akan tetapi, yang menjadi masalah ketika hijrah dimaknai secara serampangan dan ditarik-tarik menuju paham tertentu. Anda mungkin tidak percaya, tapi mari kita lihat kelanjutannya.

Ketika seseorang percaya bahwa ia berhijrah berarti meninggalkan semua kemaksiatan dan menuju perubahan yaitu ketaatan terhadap perintah agama, maka istilah taubat dan insyaf tidak dipakai lagi. Istilah hijrah inilah yang melekat pada pikirannya. Maka apa yang ada di pikirannya dengan melekatnya kata hijrah? Makkah dan Madinah. Ketika ia melihat ke masa lalu, maka ia digiring bahwa segala perbuatannya di masa lalu adalah seperti dalam periode Makkah, yaitu ketika ada sifat jahiliyah massal yang menyelimuti banyak orang.

Ia diyakinkan bahwa sikapnya untuk mau berubah adalah sikap yang terpuji, meskipun dengan berat hati meninggalkan banyak teman, rekan, tetangga, dan bahkan keluarga. Mereka adalah orang-orang yang terkena sifat jahiliyah. Sedangkan orang yang hijrah ini, ia sedang mengalami proses meninggalkan Makkah dan menuju kesempurnaan beragama dalam periode Madinah.

Apa yang menjadi batas pemisah antara Makkah dan Madinah? Tidak lain adalah perubahan dalam praktik beragama, perubahan dalam memandang dunia luar, dan perubahan dalam menjalankan ajaran agama secara ‘benar’(meskipun menurut versi orang yang hijrah ini).

Di sinilah pintu masuk radikalisme dalam beragama. Menganggap seluruh muslim selain kelompoknya belum berhijrah sebagai penganut jahiliyah seperti periode Makkah saat itu, berarti menafikan keislaman umat muslim secara keseluruhan. Memandang bahwa pemahaman agama yang dianut setelah hijrah adalah kesempurnaan beragama layaknya masa gemilang Madinah, berarti menganggap pemahaman agama muslim yang tidak sama dengannya adalah salah dan tidak sempurna.

Alhasil, niatan awal yang ingin berubah menjadi lebih baik, lebih taat, lebih tunduk, dan lebih patuh terhadap ajaran agama, justru jauh dari harapan. Dalam sebuah kitab yang berjudul Dalil al-Muslimin ila Tafnid Afkar al-Mutathorrifin, pemahaman semacam ini jauh dari pemahaman yang diyakini oleh mayoritas para ulama. Dalam peristiwa hijrah, yang mengarahkan semua itu adalah Nabi Saw sendiri, dan beliau maksum (terjaga dari kesalahan dan dosa).

Maka sangat tidak mungkin di era sekarang, ada manusia yang berusaha mengaku-ngaku memiliki metode yang maksum dan mengklaimnya sama dengan kemaksuman di zaman nabi.  Jika melihat pada realita modern sekarang, adalah sebuah kebohongan jika ada pembunuhan, peperangan, dan perusakan di atas muka bumi lalu dikatakan bahwa perbuatan tersebut (diklaim oleh pelakunya) sebagai perbuatan yang mengikuti perbuatan Nabi Saw yang suci.

Maka, mengembalikan makna hijrah kepada makna taubat dan insyaf lebih utama. Taubat berarti penyucian diri dari segala dosa dan kesalahan. Fokusnya adalah ke dalam diri, bukan ke luar. Seseorang yang membersihkan dirinya dengan taubat, tidak sempat memperhatikan orang lain. Ia sibuk hanyut dalam upaya membersihkan seluruh jiwa raganya menjadi manusia baru.

Momentum tahun baru Hijriyah ini mari kita lekatkan dengan konsep perbaikan diri terus menerus, melakukan perjalanan ke dalam, mengevaluasi segala tindak-tanduk tingkah laku dan perbuatan, sehingga output yang dihasilkan adalah kebermanfaatan sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Hijrah secara bahasa adalah perpindahan tempat dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw. Jika dimaknai perubahan diri menjadi lebih baik, maka bermakna taubat dan insyaf.

Adapun pergesaran makna hijrah yang menghasilkan kesombongan individual dan kelompok, pergeseran nilai kebenaran, dan tuduhan jahiliyah kepada sesama muslim, harus dihindari agar umat muslim tidak terjebak oleh kamuflase pemaknaan paham agama. Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib Ra ketika banyak ayat al-Quran diselewengkan pemaknaannya demi ambisi kelompok tertentu, “Kata kebenaran, tetapi yang dimaksudkan adalah kebatilan.”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *