Tiga Tingkatan Hamba dalam Menjalankan Agama (Kitab Maraqi Al-Ubudiyah)

Ketahuilah, posisi seorang hamba dalam agamanya dibedakan dalam 3 tingkatan.

Pertama, adakalanya hamba itu selamat dari dosa. Yaitu, orang yang membatasi diri hanya mengerjakan amalan-amalan fardhu dan meninggalkan maksiat.

Kedua, adakalanya orang yang beruntung untuk akhiratnya. Yaitu, orang yang rela dan berlapang dada melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengerjakan amalan-amalan sunnah.

Ketiga, seorang hamba yang merugi, celaka, atau berdosa. Yaitu, orang yang ceroboh dan lalai dalam mengerjakan kewajiban yang harus ditunaikan.

Allah Swt berfirman, “Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri (dengan kelalaian dalam amal), dan di antara mereka ada yang pertengahan (yang beramal pada sebagian besar waktunya), dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan (dengan belajar, beramal dan mengajar serta membimbing orang lain dalam beramal) dengan izin Allah.” (QS Fathir [35]: 32)

Abu Bakar al-Warraq menanggapi ayat tersebut, katanya, “Seorang hamba memiliki tiga keadaan, yaitu: bermaksiat serta lalai, bertaubat, mendekatkan diri kepada Allah. Apabila ia durhaka maka ia termasuk golongan orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Jika ia bertaubat, berarti ia termasuk golongan orang-orang pertengahan. Apabila taubatnya diterima dan banyak melakukan ibadah serta bermujahadah kepada Allah maka ia termasuk golongan orang-orang yang lebih dulu berbuat kebajikan.”

Jika kamu tidak bisa menjadi hamba yang beruntung dengan mengerjakan amalan-amalan sunnah, berusahalah menjadi hamba yang selamat dengan mengerjakan amalan-amalan wajib serta menjauhi segala perbuatan maksiat dan dosa. Oleh karena itu, waspadalah…, dan sekali lagi waspadalah…, jangan sampai menjadi hamba yang merugi akibat lalai dan ceroboh dalam mengerjakan amalan-amalan fardhu.

Betul bahwa seorang hamba akan masuk surga berkat karunia Allah, tapi itu bukan berarti ia tidak mempersiapkan diri untuk berbuat taat kepada Allah. Karena, rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat kebajikan. Hal ini sebagaimana diceritakan dalam sebuah riwayat tentang seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil.

Konon, seorang lelaki bani Israil beribadah kepada Allah selama 70 tahun. Kemudian Allah mengutus para malaikat untuk mengabarkan padanya bahwa ia tidak pantas masuk surga meskipun telah beribadah selama 70 tahun. Ketika mendengar kabar tersebut, laki-laki ahli ibadah itu berkata, “Kami diciptakan untuk beribadah kepada-Nya maka sudah sepantasnya bagi kami untuk menyembah-Nya.”

Kemudian malaikat itu kembali menemui Allah dan berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau lebih mengetauhi apa yang ia katakan.”

Allah swt. berfirman, “Karena ia tidak berpaling dari menyembah-Ku, Akupun tidak berpaling darinya. Dengan kemuliaan-Ku, maka saksikanlah, wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni dosa-dosanya.”[]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *