Kiai Agung Muhammad Besari

Silsilah Keturunan

Kiai Agung Muhammad Besari berasal dari Caruban, Madiun. Ayahnya bernama Kiai Anom Besari dari Kuncen, Caruban, Madiun. Kiai Agung Muhammad Besari mempunyai sembilan putra-putri. Salah satunya bernama Zainal Abidin yang diambil menantu oleh Raja Selarong, Malaysia. Sedangkan putri bungsunya dinikahkan dengan Kiai Binu Umar. Dalam catatan sejarah, tokoh yang namanya disebut terakhir ini nantinya menjadi ulama besar yang mengajar di daerah Banjar.

Berguru Kepada Kiai Danapura

Sewaktu muda, Ki Agung Besari bersama adiknya, Nur Shadiq, berguru kepada Kiai Danapura, seorang ulama besar yang tinggal di sebelah tenggara Kota Ponorogo. Kiai Dana pura adalah keturunan dari Sunan Tembayat. Empat tahun lamanya mereka berdua belajar, setelah mereka melanglang buana ke daerah Ponorogo. Pada saat singgah di Mantub, Ngadisan, mereka berdua bertemu dengan Kiai Nur Salim dan singgah di rumah kiai kharismatik ini.

 

Diambil Menantu

Rupa-rupanya, Kiai Nur Salim tertarik dengan kepribadian Ki Agung Muhammad Besari. Sehingga, oleh Kiai Nur Salim, ia dikawinkan dengan putri sulungnya. Setelah menikah, Ki Agung Muhammad Besari memboyong istrinya ke pesantren Kiai Danapura. Di sana, mereka tinggal selama satu tahun. Setelah itu, mereka disarankan oleh Kiai Danapura untuk membuka tanah di seberang Timur sungai yang kemudian diberi nama Tegalsari.

Di desa yang baru dibukanya ini, Ki Agung Muhammad Besari memberikan pengajaran agama kepada masyarakat. Ia juga dikenal sangat sakti, karena berhasil mengalahkan semua magi (ilmu mistik) yang dikuasai para warok, pemimping Reog Ponorogo. Semenjak itulah ia mulai dikenal luas oleh masyarakat, sehingga bertambah hari muridnya kian banyak. Bahkan setelah Kiai Danapura meninggal, praktis perhatian masyarakat beralih kepada Pesantren Tegalsari yang didirikannya ini.

Perancang Pondok Pesantren Tegalsari

Pesantren Tegalsari sendiri dirancang dan didirikan oleh Kiai Agung Muhammad Besari (w. 1773 M), tokoh yang hidup sezaman dengan Syekh Abdul al-Muhyi, ulama kharismatik asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Konon, pesantren tersebut mengalami masa kejayaannya pada saat diasuh oleh Kiai Hasan Besari (1800-1862 M). Lebih lanjut, Kiai Hasan Besari yang terakhir ini dikenal sebagai guru dari Ronggowarsito.

Tentang sejarah berdirinya Pondok Pesantren Tegalsari ini, seorang Belanda bernama F. Fokkens telah melakukan penelitian dan menghasilkan sebuah karya yang diberi judul ‘De Priesterschool te Tegalsari’ (Sekolah Utama Tegalsari) yang diterbitkan dalam TGB, 1877. No.24. Dalam buku tersebut, Fokkens menjelaskan bahwa pada tahun 1742 M., ketika Susuhunan Paku Buwono II menghadapi perang pemberontakan orang-orang China-Jawa dan perlawanan Mas Garendi, di Ponorogo, tepatnya di desa Tegalsari, tinggallah seorang ulama besar yang bernama Kiai Agung Muhammad Besari. Bertahun-tahun ia tinggal menyendiri dan mengasingkan diri di daerah yang terletak di kaki Gunung Wilis tersebut.

Dalam kesepiannya dan jauh dari keramaian, ia hanya makan akar-akaran dan mengabdikan hidupnya kepada Allah semata. Setelah itu berdatangan kerabat-kerabatnya untuk menetap di sana. Ia lalu mengajarkan membaca al-Quran dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Lambat laun pengikutnya bertambah banyak sehingga tempat pertapaan itu berkembang menjadi desa yang diberi nama Tegalsari.

Tegalsari Pondok Pesantren Pertama

Memotret peta jaringan ulama pesantren di nusantara, khususnya di daerah Jawa, maka Pesantren Tegalsari tidak bisa dilupakan. Pasalnya, keberadaan Pesantren Tegalsari merupakan cikal bakal pesantren dengan sistem dan kurikulum pendidikan, serta pengelolaan pesantren seperti yang dikembangkan oleh pesantren-pesantren di tanah Jawa saat ini. Hal ini karena pesantren Tegalsari pada dasarnya merupakan “pondokan” atau zawiyah untuk mempelajari tasawuf sekaligus sebagai basis pengembangen tarekat tertentu.

Sehingga wajar saja, ketika banyak pengkaji menyebut keberadaan Pondok Pesantren pada abad ke-17 M dan bahkan satu abad sebelumnya, yaitu abad ke-16 M, namun pada kenyataannya tidak ditemukan data yang menjelaskan bentuk pondok pesantren pada masa itu secara utuh. Hal ini, misalnya, pernah dikemukakan oleh Martin van Bruinessen. Menurutnya, sebelum adanya Pesantren Tegalsari, belum ditemukan satu bukti pun yang menyatakan bahwa terdapat pondok pesantren lain. Hal ini karena yang ia jadikan sebagai standar model pesantren adalah pesantren Jawa seperti yang ada saat ini. Sehingga Martin berkesimpulan bahwa pesantren di Jawa baru ada pada abad ke-18 M, yang tak lain direpresantasikan oleh Pesantren Tegalsari.

Mengajar Kitab Kuning

Karena banyak orang yang datang dari berbagai daerah untuk belajar di Tegalsari, maka didirikanlah sebuah masjid yang dikelilingi pondok-pondok kecil untuk tinggal sementara. Sejak saat itulah, pelajaran Bahasa Arab mulai diajarkan di pesantren tersebut di bawah asuhan langsung Kiai Agung Muhammad Besari.

Sampai saat ini, sudah ditemukan sejumlah kitab peninggalan yang masih tersisa di Tegalsari, yaitu tiga jilid kitab Syarh Fathul Muin karangan Zainuddin al-Malibari pada abad ke-16 M. penulisan kitab tersebut selesai pada tahun 1933 M. oleh Muhammad Jalalain bin Hasan Ibrahim bin Hasan Muhammad bin Hasan Yahya bin Hasan Ilyas bin Muhammad Besari. Di samping itu, ditemukan pula satu bendel kitab tua yang merupakan kumpulan dari kitab al-Jauhar as-Samin li Ummu al-barahin, al-Mimhati, jauhar at-Tauhid, dan kitab Tajwid yang tidak lengkap.

Tidak diketahui siapa penulis keempat kitab tersebut, namun bila dilihat dari tulisannya, diduga keempat kitab tersebut ditulis oleh satu orang. Tampaknya sang penulis adalah seseorang yang pernah belajar di tanah suci karena dalam kitab tersebut terdapat beberapa keterangan dengan menggunakan bahasa Arab, bukan bahasa Jawa. Kertasnya juga tidak berasal dari Tegalsari. Pada halaman pertama dari kitab Ummu al-Barahin terdapat keterangan tentang bulan penulisannya, yaitu bulan Jumadil Awwal tahun Alif.

Terdapat juga satu bendel kitab yang tampaknya paling tua usianya. Sampulnya terbuat dari kulit dan sudah hancur dengan memakai kertas gedok dari Tegalsari. Pada halaman awal terdapat catatan tentang proses berdirinya Tegalsari sebagai desa perdikan berikut catatan cacah desa, serta jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Di dalamnya terdapat penggalan karya fiqih yang tidak jelas dikutip dari kitab fiqih apa – dan dari kitab fiqih siapa. Teks ini ditulis menggunakan bahasa Arab Pegon atau huruf Arab Melayu. Di samping itu, dalam kitab ini juga ditemukan kitab fiqih (tidak lengkap) berjudul al-Muharrar karangan Abu al-Qasim ar-Rafi’ (w. 623 H/1226 M). Kitab ini diperkirakan ditulis oleh Kiai Yahya atau Hasan Yahya, pengasuh Pesantren Tegalsari, pada sekitar tahun 1800-an. Ini berarti pada masa itu kitab-kitab berbahasa Arab sudah diajarkan di Tegalsari.

Selain kitab al-Muharrar, juga terdapat penggalan kitab Fath al-Wahhab, sebuah syarah tulisan Zakariya al-Anshari (w. 926 H/1277 M) atas karanganna sendiri, yaitu kitab Minhaj at-Thullab. Kitab Fath al-Wahhab secara berturut-turut berasal dari Minhaj at-Thalibin karangan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi (w. 676 H), yang merupakan ringkasan dari kitab al-Muharrar karangan Imam ar-Rafi’. Buku tentang fiqih lainnya adalah kitab Faraidh. Tidak diketahui siapa yang menulis dan yang memiliki kedua kitab tersebut.

Selanjutnya, juga terdapat kitab  al-Muharrar (tidak lengkap) yang ditulis oleh Kiai Muhibbat (Mukibat) bin Ismail bin Muhammad Besari. Cucu dari Kiai Agung Muhammad Besari ini, meskipun terlihat kreatif menulis tetapi ia tidak pernah menjadi pemimpin pusat Tegalsari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *