Refleksi Akhir Tahun: Pergeseran Makna Hijrah

Refleksi Akhir Tahun: Pergeseran Makna Hijrah

Umum
Pekan ini adalah pekan terakhir di tahun 1440 Hijriyah. Tentunya hal tersebut menambah renungan bagi setiap muslim tentang perjalanan waktu: apa saja yang telah diperbuat setahun kebelakang? Waktu terus berjalan, apakah tingkah laku dan ibadah semakin baik? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang lantas harus terus kita ulang, meskipun tidak berkaitan dengan pergantian tahun. Sejatinya, setiap detik saja pertanyaan tersebut sangat relevan untuk dipertanyakan kepada diri kita sendiri. Tidak perlu menunggu pergantian tahun untuk melakukan introspeksi, karena setiap orang tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Akan tetapi, momentum pergantian tahun Hijriyah sangat baik untuk dilakukan permenungan. Terutama dari sisi historis penetapannya sebagai sebuah sistem penanggalan dalam Islam. Tahun Hijriyah ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah setelah bermusyawarah bersama para sahabat, berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah…
Read More

Narasi Beringas Kemenangan Umat Islam

Umum
Ada hal menarik yang harus dipahami secara utuh. Saat ini, banyak beredar ajakan untuk kembali memaknai agama Islam. Tentu saja ini baik. Tapi masalahnya, kadangkala ajakan ini disertai dengan konklusi yang bergeser, sebagaimana hal tersebut terjadi, dimulai dari pergeseran pondasinya. Ajakan agitatif ini sedikit tidak nyaman. Ketika umat Islam dikondisikan saat ini sebagai umat yang mundur, terbelakang, dan jauh dari kemajuan, lalu disajikan solusi instan: kembali memahami ajaran agama agar umat Islam menjadi maju. Tujuan kemajuan umat tidak lain adalah untuk menguasai umat lain. Di sinilah titik di mana kemajuan umat, yang seringkali dimotori oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan akhlak, seringkali berakhir tragis. Mengapa demikian? Karena tidak lain bertujuan untuk  menguasai umat lain. Apa benar Islam ini sejak awal adalah agama untuk menguasai umat lain? Umat agama…
Read More

Manusia Bertakwa Bukanlah Manusia Ompong

Tauhid
Pada suatu ketika, Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bani Bayadhah agar mereka mengawinkan salah satu perempuan dari suku mereka dengan Abu Hindun. Akan tetapi, mereka menolak, sembari berkata,”Apakah kami akan mengawinkan anak-anak perempuan kami dengan para budak?” Lantas turunlah ayat ke-13 dari Surat al-Hujurat, bahwasannya  Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Ayat tersebut sudah sangat masyhur bagi kita, bahkan mungkin sebagian besar dari kita telah menghapalnya. Akan tetapi, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mungkin tidaklah semudah yang dibayangkan. Ayat itu berkenaan dengan toleransi di tengah keragaman makhluk. Keragamaan…
Read More

Puisi Neno Warisman dalam Sudut Pandang Postmodernisme

Umum
Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara bertajuk Munajat 212, Neno Warisman membaca sebuah puisi yang ternyata mengundang banyak reaksi negatif. Ini adalah persambungan kaitan antara agama dan politik. Kata-kata yang bermakana kurang lebih demikian: jika kami kalah, maka kami khawatir tidak akan ada yang menyembah Engkau, wahai Tuhan. Meskipun penyelamat Neno sendiri adalah pisau bedah analisa hermeneutika, tetapi rasa beragama banyak orang akan tetap terusik. Mengapa demikian? Banyak penafsiran yang menggiring bahwa Neno tidak betul paham akan konsep teologi dalam Islam. Lebih-lebih secara akar budaya bangsa Indonesia. Menyeret pilpres yang secuil pentingnya dengan urusan makro-mikro kosmos, tentu sangat tidak relevan. Yang menarik, puisi Neno ini bisa ditinjau pula dari sudut pandang postmodernisme. Fredric Jameson, seorang pakar budaya berpendapat ada beberapa elemen yang menjadi ciri postmodernisme. Elemen-elemen tersebut menjadi garis…
Read More

Era Pasca-Kebenaran dalam Tinjauan Komunikasi Politik

Umum
Kemenangan Donald Trump pada tahun 2016 menyisakan banyak tanda tanya, terutama pada lingkup akademisi dan masyarakat luas. Bagaimana tidak, pola hubungan politik di dalam masyarakat terkesan begitu ambigu, dengan ketidaktepatan prediksi. Setelah itu, peristiwa Brexit juga memberikan penguat argumen tentang kekacauan di era pasca-kebenaran. Sebenarnya, apa itu era pasca-kebenaran? Ulya menjelaskan bahwa era pasca-kebenaran adalah era politik yang mengabaikan objektivitas dan rasionalitas, namun lebih bersandar kepada sikap sensasional dan emosional.[1] Motif tindakan lebih didasari oleh emosi. Di era ini sebenarnya nalar kolektif masyarakat tetap ada, tetapi tidak digunakan sepenuhnya. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan teknologi informasi, dimana di dalamnya penuh dengan berita hoax, yaitu anak kandung dari era pasca-kebenaran itu sendiri. Ciri paling utama dalam era pasca-kebenaran adalah prioritas terhadap emosi dan mengesampingkan nalar logis. Padahal, dalam berbagai peristiwa,…
Read More
Historiografi dan Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Historiografi dan Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Sejarah
Pendahuluan Sejarah tentu mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi sebuah bangsa. Segala peristiwa di masa lalu dapat diceritakan kembali dengan pendekatan dan metode yang berbeda, sesuai dengan kemampuan para sejarawan untuk mengaitkannya dengan topik tertentu. Akan tetapi, sejarah kerapkali tidak dilirik kembali dan dianggap barang usang, terutama bagi generasi millenial. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlawi mengkhawatirkan terjadinya pendangkalan nilai-nilai kebangsaan pada generasi millenial mengingat sebagian besar mereka hanya melihat sesuatu hanya dari permukaan. Mereka enggah membaca informasi secara mendalam, padahal masalah kebangsaan merupakan masalah yang rumit.[1] Beliau menyayangkan sikap dan kemauan generasi millenial yang tidak mau mendalami sejarah kebangsaan secara detail, melainkan hanya permukaan saja. Dalam hal ini, kaitan antara sejarah, bangsa, dan generasi millenial menjadi acuan yang menarik, terutama bagaimana permasalahan hubungan antara bangsa, negara, dan agama…
Read More
Petani: Cita-Cita Manusia Pilihan Tuhan

Petani: Cita-Cita Manusia Pilihan Tuhan

Umum
Suatu ketika, saya bertanya tentang cita-cita peserta didik di sebuah kelas. Tentu ini suatu hal yang mengasyikkan bagi mereka. Sejenak berpikir, mereka lalu menyahut apa cita-cita mereka kelak. Ada yang umum, ada yang spesial menurut saya. Cita-cita yang lumrah dan umum seperti menjadi dokter, tentara, polisi, guru, koki, penyiar, dan perawat. Yang spesial dan jarang diucapkan seperti menjadi petugas pemadam kebakaran, pengusaha batik, dan karyawan BUMN. Akan tetapi, saya menemukan satu cita-cita dari satu anak di kelas yang menurut saya luar biasa. Anak tersebut laki-laki, pendiam, penurut, dan prestasinya di kelas lumayan baik. Ia berteriak, “Jadi petani, Pak.” Saya kira saya salah dengar, saya suruh ulangi lagi dan jawabannya sama: ia bercita-cita menjadi seorang petani. Pikiran saya langsung menuju ke sana kemari. Benarkah anak ini yakin ia kelak akan menjadi…
Read More
Dialog: Upaya Penyelesaian Konflik dalam Negara-Bangsa

Dialog: Upaya Penyelesaian Konflik dalam Negara-Bangsa

Umum
Anthony Giddens mengaitkan kekerasan dengan negara-bangsa. Berbagai probematika etnis dan agama selalu menghantui dan mengancam keutuhan negara-bangsa dalam era modern sekarang. Bahkan sub-negara mulai bermunculan dalam bentuk ancaman kekerasan. Isu kekerasan tidak hanya bermula dari komponen terkecil, yaitu gender, tetapi meluas ke hal-hal lainnya.   Politik Radikal dan Kekerasan Giddens beranggapan bahwa sebuah program politik radikal harus disiapkan untuk mengahadapi peran kekerasan dalam urusan manusia. Hal ini disebabkan kekerasan merupakan hal yang paling sulit dikaji dari sudut teori politik yang sudah mapan. Baik kaum kiri sosialis ataupun liberalisme sama-sama belum menawarkan konsep yang relevan untuk merumuskan teori politik normatif tentang kekerasan. Pemikiran sayap kanan cenderung menganggap kekerasan sebagai ciri khas kehidupan manusia yang memang diperlukan dan bersifat endemik. Dampak kekerasan mencakup semua sisi dari kekerasan laki-laki terhadap kaum perempuan yang…
Read More
Karakteristik Penganut Paham Radikal: Pemikiran, Pengetahuan, Moral, dan Ciri Individual

Karakteristik Penganut Paham Radikal: Pemikiran, Pengetahuan, Moral, dan Ciri Individual

Umum
Masyarakat saat ini menjadi bingung dengan adanya paham-paham radikal yang tentu saja menyelisihi pendapat mayoritas. Mengapa demikian? Dalam berbagai isu yang berkaitan dengan agama, paham radikal cenderung ‘menggurui’ dan ‘melabeli’ siapapun dan apapun yang berbeda dengan mereka sebagai musuh, orang lain atau pihak bersalah. Hal ini membuat masyarakat Indonesia yang sudah ajeg dan mapan dalam beragama, menjadi ricuh dan terbelah. Di satu sisi, pola berpikir instan dalam era modern digunakan untuk beragama. Tentu saja yang terjadi selanjutnya adalah kekacauan-kekacauan dalam berbagai aspek, bukan hanya dalam ranah agama. Hal ini dilandasi bahwa agama merupakan pusat dari aspek-aspek kehidupan lainnya. Ketika kekacauan beragama mencuat, turut pula mempengaruhi aspek yang lain. Yang justru menyedihkan, justru paham radikalisme berkembang dari lembaga pendidikan seperti sekolah. Dalam sebuah penelitian, ditemukan hasil yang mencengangkan, yaitu sejumlah SMA…
Read More
Sebagai Manusia, Mari Hargai Hak Asasi Kardus

Sebagai Manusia, Mari Hargai Hak Asasi Kardus

Umum
Mulai malam ini hingga beberapa waktu ke depan, istilah kardus akan semakin populer. Siapa yang tak kenal kardus? Semua pasti tahu. Ia berbentuk kubus, berwarna coklat, dengan segala macam fungsinya: menjamin barang yang ada di dalamnya akan aman. Semua orang butuh kardus. Distribusi barang dari satu tempat ke tempat lain dibungkus dengan kardus. Setelah barang dikeluarkan, ia dapat dipakai kembali. Sekadar disimpan untuk dipakai lagi di masa depan atau segera diisi dengan barang lain. Segala macam barang dapat dimasukkan di dalam kardus. Itulah mengapa, kardus tidak identik dengan sesuatu yang buruk. Kardus sangat bermanfaat. Akan tetapi, seringkali masyarakat lupa satu hal: siapa pencipta kardus sebenarnya? Mengapa ketika kita bersentuhan dengan lampu, kita ingat Thomas Alva Edison. Melihat sendok jatuh, kita ingat Isaac Newton. Melihat telepon, kita ingat Alexander Graham Bell.…
Read More
Islam Nusantara: Dialektika Pergulatan Sosial

Islam Nusantara: Dialektika Pergulatan Sosial

Umum
Beberapa waktu belakangan ini beredar banyak tulisan dan video yang menolak jargon Islam Nusantara di media sosial. Padahal, jargon tersebut merupakan tema muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang tahun 2015. Anehnya, mengapa akhir-akhir ini justru diungkit kembali setelah 3 tahun berjalan. Seolah-olah penolakan tersebut muncul terlambat dan justru dilakukan sebagai pintu masuk agenda tersembunyi dalam kancah perpolitikan. Seharusnya, definisi yang ditegaskan oleh NU menjadi standar dalam memahami Islam Nusantara. Akan tetapi, justru kelompok yang menolak Islam Nusantara memberikan sejumlah definisi yang tentunya melenceng jauh dari definisi aslinya. Pertarungan diskursus tentang Islam Nusantara ini menarik, karena bukan saja mempertaruhkan tentang masa silam, tetapi justru sebagai tolok ukur kedewasaan media sosial – di mana pertarungan diskursus lebih banyak terjadi dan bersinggungan – dan perannya dalam membentuk kesadaran kolektif masyarakat Indonesia. Definisi…
Read More
Revolusi Ojol Mempercepat Datangnya Hari Kiamat

Revolusi Ojol Mempercepat Datangnya Hari Kiamat

Umum
Apa yang terdetik di pikiran anda terhadap ojek online? Ialah ojek yang disertai dengan teknologi informasi canggih. Akan tetapi, pernahkah berpikir bahwa ojol adalah semacam pesuruh, karena ia melakukan apa saja yang kita mau? Pernahkah membayangkan, apakah anda mau diperintah orang lain untuk membelikan makanan, misalnya, dengan tarif setara ojek online? Bisa jadi tarif yang dipatok menurut sebagian besar orang adalah sangat murah sekali. Awalnya dari ojek, sebuah jasa transportasi yang mengantar orang dari satu titik ke titik lain. Berkembang lebih lanjut, yang diantar adalah barang. Akan tetapi, berbeda dengan orang, barang seringkali membutuhkan kecermatan dan ketelitian untuk menemukannya. Misalnya, anda menitipkan ojol untuk membelikan anda obat di apotek. Mulai dari merk, rasa, serta spesifikasi lain yang rumit. Bayangkan, ojol harus datang ke apotek, mungkin antri, lalu membacakan spesifikasi yang…
Read More
Kok #2019gantipresiden? Seharusnya #2019gantirakyat dong!

Kok #2019gantipresiden? Seharusnya #2019gantirakyat dong!

Umum
Tagar #2019gantipresiden beralih dari dunia maya ke dunia nyata. Setelah sebelumnya kaos dengan tagar tersebut dipromosikan habis-habisan di dunia maya, kini donatur utama gerakan ganti presiden 2019, yaitu Neno Warisman akan berkeliling Indonesia menyelenggarakan acara deklarasi ganti presiden ditambah dengan tabligh akbar. Akan tetapi, di Batam, Neno ditolak oleh warga setempat dan ia sempat tertahan selama 8 jam. Ada apa dengan gerakan ganti presiden ini? Benarkah murni gerakan dari masyarakat? Dilansir dari detik.com pada Sabtu (28/7/2018), sejumlah warga membawa spanduk bertuliskan penolakan atas kehadiran Neno Warisman di Batam. Spanduk itu dibentang warga di depan pintu kedatangan Bandara Hang Nadim, Batam. Selain membentangkan spanduk, mereka juga terdengar meneriakkan yel-yel. Neno sendiri rencananya hadir di Batam untuk untuk hadir pada kegiatan tabligh akbar dan deklarasi 2019 Ganti Presiden. Sempat terjadi keributan antara…
Read More
Tik Tok Diblokir dan Kapal Tenggelam, Pertanda Buruk Bagi Bowo

Tik Tok Diblokir dan Kapal Tenggelam, Pertanda Buruk Bagi Bowo

Umum
Anda tahu aplikasi Tik Tok? Pemerintah Indonesia secara resmi memblokir aplikasi Tik Tok karena aplikasi tersebut dianggap banyak melakukan pelanggaran. "Pornografi, pelecehan agama, banyak sekali pelanggarannya," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan kepada BBC Indonesia, 3 Juli 2018. Selain pemblokiran Tik Tok, dunia maya juga dihebohkan oleh kejadian kapal tenggelam. KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba pada 18 Juni 2018 sebagaimana dilansir oleh liputan6.com (18/6/2018). Peristiwa tersebut terjadi di perairan air tawar. Unduh Aplikasi Android 100 Tanya Jawab Al-Quran Tak berapa lama, perairan air laut juga dirundung duka. Seperti dilansir viva.co.id pada Rabu (4/7/2018), kapal bertonase GT 1.519 yang dinakhodai Agus Susanto, oleng dan separuh bagiannya tenggelam di perairan Dusun Pabbaddilang, Kecamatan Bontomatene Kabupaten, Selayar, Sulawesi Selatan. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Agus H. Purnomo mengatakan, Kapal…
Read More
Terima Kasih TGB! Akhirnya Kedok Itu Tersingkap!

Terima Kasih TGB! Akhirnya Kedok Itu Tersingkap!

Umum
Tuan Guru Bajang (TGB) membuat heboh dunia maya beberapa waktu yang lalu. Ia jelas memberi isyarat untuk mendukung Joko Widodo menjadi presiden kedua kalinya. Sebagaimana dilansir www.detik.com (Kamis, 6/7/2018), Jokowi menganggap itu sebuah penghargaan. "Saya kira beliau melihat dengan rasionalitas yang wajar," kata Jokowi. Alasan TGB mendukung Jokowi dua periode adalah memberi kesempatan menyelesaikan tugas kepresidenannya. TGB menyoroti percepatan pembangunan di NTB, khususnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dia khawatir pembangunan itu mandek ketika ada pergantian kepemimpinan. "Jadi keputusan apa pun itu harus mempertimbangkan kemaslahatan bangsa, umat, dan akal sehat. Keseluruhan dari tiga hal ini, menurut saya, pantas dan fair kalau kita beri kesempatan kepada Bapak Presiden Jokowi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang selama 4 tahun ini beliau mulai," kata TGB saat berkunjung ke redaksi Transmedia, Rabu (4/7). Di kesempatan lain,…
Read More
Amien Rais Didukung Nyapres oleh KUM, Empat Partai Bereaksi

Amien Rais Didukung Nyapres oleh KUM, Empat Partai Bereaksi

Umum
Koalisi Ummat Madani (KUM) meminta Amien Rais untuk bisa menjadi calon presiden. Hal ini didasari karena kondisi umat sudah di ujung tanduk, menurut KUM. Peristiwa itu kontan memancing reaksi dari empat partai, yaitu Partai Demokrat (PD), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Nasional Demokrat (NasDem). Sebagaimana dilansir oleh detik.com pada Sabtu (30/6/2018), Kadiv Advokasi dan Hukum PD Ferdinand Hutahaean mengatakan bahwa ada pencalonan tersebut harus berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan hanya sekadar omongan belaka. "Dukungan tersebut haruslah atau setidaknya didasari kekuatan nyata dalam politik, misalnya syarat dalam UU Pilpres yang mengatur syarat minimum 20 persen untuk bisa nyapres. Ini sudah dipikirkan belum? 20 persennya dari mana? Nah, hal-hal begini yang harus dipikirkan dan diperjuangkan," ujarnya. Ia juga meminta dukungan agar masyarakat mau memperjuangkan untuk penghapusan…
Read More