Kiai Agung Muhammad Besari

Sejarah
Silsilah Keturunan Kiai Agung Muhammad Besari berasal dari Caruban, Madiun. Ayahnya bernama Kiai Anom Besari dari Kuncen, Caruban, Madiun. Kiai Agung Muhammad Besari mempunyai sembilan putra-putri. Salah satunya bernama Zainal Abidin yang diambil menantu oleh Raja Selarong, Malaysia. Sedangkan putri bungsunya dinikahkan dengan Kiai Binu Umar. Dalam catatan sejarah, tokoh yang namanya disebut terakhir ini nantinya menjadi ulama besar yang mengajar di daerah Banjar. Berguru Kepada Kiai Danapura Sewaktu muda, Ki Agung Besari bersama adiknya, Nur Shadiq, berguru kepada Kiai Danapura, seorang ulama besar yang tinggal di sebelah tenggara Kota Ponorogo. Kiai Dana pura adalah keturunan dari Sunan Tembayat. Empat tahun lamanya mereka berdua belajar, setelah mereka melanglang buana ke daerah Ponorogo. Pada saat singgah di Mantub, Ngadisan, mereka berdua bertemu dengan Kiai Nur Salim dan singgah di rumah kiai…
Read More

Dalil tentang Umur Panjang Nabi Khidir dan Penyebabnya

Sejarah
Daruqhuthni meriwayatkan sebuah kisah dari Ibnu Abbas ra dengan mata rantai perawi sebelumnya. Dia menuturkan, “Ajal (kematian) Khidir ditangguhkan sampai dia bisa mendustakan Dajjal saat kemunculannya nanti.” Adapun dalam kitab al-Mubtada’ Ibnu Ishaq mengungkapkan, “Para sahabat kami memberitahu bahwa ketika maut hendak menjemput Nabi Adam as, dia mengumpulkan anak-anaknya dan berkata, “Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab kepada penghuni bumi. Maka, bawalah jasadku ini ke dalam gua dan kuburkan aku di negeri Syam.’ Demikian pula ketika banjir bandang melanda, Nuh berkata kepada anak-anaknya, ‘Sesungguhnya Adam berdoa kepada Allah agar Dia memanjangkan umur orang yang menguburkan jasadnya hingga terjadi hari kiamat. Ternyata, tak ada seorang pun yang menguburkan jasad Adam, hingga Khidir melakukannya. Maka, Allah pun mengabulkan permintaan Adam sehingga Khidir bisa hidup hingga waktu yang dikehendaki Allah.” Dalam biografi Zulkarnain, Ibnu…
Read More
Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Sejarah
Kalau melihat lebih luas dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan Sriwijaya punya peranan penting. Dalam Buku Pintar Aswaja, disebutkan secara gamblang hal ini. Salah satu kekuatan bangsa nusantara di masa lampau adalah kemampuan masyarakatnya di sektor kelautan. Para pelaut dan pedagang Sriwijaya (Palembang) menjalin hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Arab, India, Cina dan lainnya. Dinamika Islam di dunia Arab pun diketahui masyarakat nusantara. Masyarakat Sriwijaya misalnya, secara intens mengenal Islam sejak abad VII. Hubungan diplomatik terjadi antara penguasa Sriwijaya era Sri Maharaja Indra Warmadewa dengan dinasti Umayyah era Muawiyah bin Abi Shufyan (661 M) dan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). komunikasi intensif masyarakat nusantara dengan Dinasti Umayyah mempererat keduanya. Komunikasi penguasa nusantara dengan dunia Arab juga terus berlanjut di era Dinasti Abbasiyah masa kepemimpinan Harun al-Rasyid (786-809…
Read More
Dalil Tentang Kenabian Khidir

Dalil Tentang Kenabian Khidir

Sejarah
Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau memberikan bukti kuat kenabian Khidir. Perbincangan tentang nabi Musa dalam al-Quran, Allah menceritakan kisah nabi Khidir: “Dan aku tiada melakukannya menurut kemauanku sendiri.” (QS al-Kahfi [18]: 82). Secara tekstual, ayat ini dapat dipahami bahwa Khidir melakukannya karena perintah dari Allah. Perbuatan tersebut meliputi melubangi perahu yang dinaikinya bersama nabi Musa, membunuh seorang anak yang masih suci, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh. Namun, ada pula kemungkinan pendapat lain yang menyatakan bahwa perintah itu disampaikan melalui perantara nabi lain yang tidak disebutkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Pendapat yang terakhir ini sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada jalan untuk mengatakan bahwa itu merupakan suatu ilham (kepada seseorang yang bukan nabi). Sebab ilham akan muncul sebagai wahyu dari seseorang yang bukan…
Read More
Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Sejarah
Sejarah selalu mengungkapkan banyak hal. Salah satunya, dalam Buku Pintar Islam Nusantara, dituliskan bahwa kerajaan nusantara pernah mengirim sebuah rombongan delegasi untuk menemui Rasulullah saw setelah mendengar kabar tentang keagungan beliau. Delegasi khusus dari sebuah kerajaan di Sumatera dikirim untuk menemui Rasulullah saw di Madinah. Utusan khusus tersebut terdiri dari dua orang, yaitu seorang pejabat kerajaan dan didampingi oleh seorang staf. Keduanya dikirim ke Madinah untuk melihat secara langsung aktivitas Nabi Muhammad saw. Eksistensi nabi Muhammad saw membangun kota Madinah yang beradab ternyata telah didengar masyarakat luas, termasuk masyarakat nusantara. Perjalanan utusan dari salah satu kerajaan nusantara menuju Madinah penuh tantangan. Sesampai di Madinah ternyata kedua orang utusan tersebut gagal menunaikan misinya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad saw, karena Nabi telah wafat. Bahkan Khalifah Abu Bakar pun telah wafat. Pada…
Read More

Fath Al-Qadir Fi Ajaib Al-Maqadir: Kitab Metrologi Islam Nusantara

Sejarah
Kitab yang berjudul Fath al-Qadir fi Ajaib al-Maqadir ini dikarang oleh KH Mashum Ali, ulama besar nusantara dari Jombang, Jawa Timur (w. 1351 H/ 1933M). Kitab ini membahas kajian ilmu ukur dan timbangan, atau yang juga disebut metroogi dan surveying (the science of measurement). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Arab (Jawi), dan kadang diselingi dengan bahasa Jawa. Dalam kolofon, disebutkan jika kitab ini diselesaikan pada ahun 1339 H (1921 M. Kitab ini lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan (Surabaya) tanpa tahun. Versi cetakan Nabhan, tebal kitab ini sebanyak 24 halaman. Dalam ensiklopedi Wikipedia, disebutkan jika metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu ini erat kaitannya dengan satuan ukuran dan timbangan. Dalam tradisi Arab Islam,…
Read More

Hasyiah Al-Tarmasi: Karya Fikih Madzhab Syafii Terbesar Abad ke-20

Sejarah
Ini adalah kitab Mauhibah Dzi al-Fadhl Hasiyah ala Syarh Ibn Hajar ala Muqaddimah Ba-Fadhal. Disebut pula al-Manhal al-Amim bi Hasyiah al-Manhaj al-Qawwim karangan seorang ulama beswar dunia Islam yang hdiup di abad ke-14 H (akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M) dan bermukim di Makkah, yang berasal dari nusantara (Tremas, Jawa Timur, yaitu Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah ibn Abd al-Mannan al-Tarmasi tsumma al-Makki (dikenal dengan Syaikh Mahfudz Tremas, w. 1920 M). Kitab ini juga dikenal dengan nama Hasyiah al-Tarmasi, yang tercatat sebagai karya terbesar dalam fikih madzhab Syafii di seluruh dunia Islam yang ditulis pada abad ke-14 H. karena itu, tidaklah mengherankan jika karya ini dikaji dan dirujuk di pelbagai belahan dunia Islam yang penduduknya menganut fikih madzhab Syafii, mulai dari Haramain, Mesir, Suriah, Irak, Kurdistan, Dagestan…
Read More

Kenapa Dinamakan Khidir?

Sejarah
Dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan tentang asal-usul nama Khidir. Suatu ketika dia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang dia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau (khadra’). Pendapat ini diungkapkan oleh Imam Ahmad, mengutip riwayat Ibnu Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam, yang bersumber dari Abu Hurairah ra. sebagaimana dijelaskan di atas, farwah berarti tanah kering. Dalam riwayat lain, Imam Ahmad juga mengungkapkan riwayat ini dengan redaksi sebagai berikut, “Kami mendapatkan kisah dari Abdurrazzaq, dia diberitahu Ma’mar kisah dari Hammam, dari Abu Hurairah ra bahwasanya dinamakan Khidir karena ketia dia duduk di atas farwah, tanah itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” Dalam hadis ini, farwah diartikan sebagai rumput kering yang berwarna putih. Mengenai riwayat di atas, Abdullah bin Ahmad menyatakan,…
Read More

Ini Dia Sebab Karya Ulama al-Azhar Diterima di Pesantren

Sejarah
Ada banyak faktor yang menjadikan karya ulama al-Azhar dapat diterima secara luas oleh kalangan pesantren. Di sini, ada 3 faktor utama, yaitu: Pertama. Faktor hubungan guru-murid. Hubungan guru-murid memegang peranan sangat penting dalam penyebaran sebuah karya. Maklum diketahui bahwa seorang murid akan merasa tersanjung apabila dapat meneruskan dan mengembangkan pemikiran sang guru. Ikatan di antara keduanya yang tidak terbatas di dunia saja menjadikan seorang murid merasa berkewajiban untuk melestarikan ajaran sang guru. Hubungan guru-murid ini berlanjut kepada cucu murid dan seterusnya. Hal ini yang mendorong alumnus Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Tremas sebagai dua tokoh yang sangat berpengaruh di dunia pesantren untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari dari guru-gurunya dalam pesantren yang mereka dirikan. Kemudian, murid-murid para kiai alumnus juga bertindak sama sehingga dari pesantren satu ke pesantren lain…
Read More

Ini Dia 10 Riwayat tentang Garis Keturunan Nabi Khidir

Sejarah, Tauhid
Ada beberapa riwayat berkaitan dengan garis keturunan Nabi Khidir. Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa Khidir adalah putra nabi Adam as, yang tercipta dari tulang sulbinya. Pendapat ini diriwayatkan oleh Daruquthni dalam kitab al-Afrad dari jalur Rawwad bin Jarah. Ia memperoleh kisah ini dari Muqatil bin Sulaiman, dari adh-Dhahhak, yang bersumber dari  Ibnu Abbas ra. Rawwad adalah perawi yang lemah (dhaif), Muqatil perawi yang ditinggalkan (matruk), sedangkan adh-Dhahhak tidak pernah mendengar hadis ini dari Ibnu Abbas ra. Kedua. Pendapat yang menyatakan, Khidir adalah anak dari Qabil, putra nabi Adam. Pernyataan ini dikatakan oleh Abu Hatim as-Sijistani dalam kitab al-Muammarin. Ia mengatakan, “Kami mendapatkan kisah ini dari guru-guru kami, salah satunya Abu Ubaidah.” Kemudian Abu Hatim menyebutkan riwayat yang menyatakan bahwa Khidir adalah putra Qabil. Riwayat ini mu’dhal, hadis mu’dhal yaitu para…
Read More
Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Sejarah
Para ulama inilah yang membuka awal hubungan keilmuan antara nusantara dan al-Azhar. Di kemudian hari, pertalian ini sangat erat karena lebih diikat oleh pertalian sanad keilmuan. Ulama-ulama nusantara pun banyak yang berguru kepada ulama asal Mesir, meskipun tidak langsung di Mesir, melainkan bertemu di Makkah. Alhasil, ulama nusantara banyak yang menjadi pengajar di Makkah, mempunyai murid dari nusantara dan daerah lain selain nusantara. Murid-murid dari nusantara ini ketika kembali ke tanah air, lantas menjadi para pengasuh pesantren di banyak daerah. Beberapa tokoh ulama tersebut adalah: Abdus Shamad al-Falimbani Dalam buku Akar Tasawuf di Indonesia karya Dr. Alwi Syihab, dijelaskan bahwa Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (1791 M) adalah tokoh besar yang membawa ajaran Tarekat Samaniyah dan mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang kedua disebut adalah tarekat yang berkembang sangat pesat di Mesir.…
Read More

Mengenal Fath al-Mutafakkirin Karya Syaikh Usman Ibnu Syihabuddin Pontianak

Sejarah
Kitab Fath al-Mutafakkirin merupakan karya terjemahan ulama besar nusantara asal Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat) yang berkarir di Makkah, yaitu Syaikh Usman ibnu Syihabuddin Funtiyanaq al-Jawi. Kitab ini mempunyai judul lengkap Fath al-Mutafakkirin Supaya Bertempat Iman dan Yakin, ditulis dengan bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi), sebagai terjemahan dari risalah karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti besar madzhab Syafii di Makkah. Kitab ini berisi kajian kontemplatif (tadabbur dan tafakkur) terhdap beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, penciptaan manusia dan hakikat eksistensinya, tazkiyatun nafs (jalan menuju pribadi manusia yang bersih dan bening), serta tuntunan menuju kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat. Isi kitab Fath al-Mutafakkirin bisa dikatakan sebagai perpaduan antara kajian teologi dan tasawuf. Karya ini diselesaikan di kota Thaif di Semenanjung Arabia…
Read More

Secarik Fatwa dari Syaikh Ahmad Nahrawi, Ulama yang Terlupakan Zaman

Sejarah
Fatwa tersebut tertulis di secarik kertas dan menjadi sangat berharga, bukan hanya karena berisi fatwa syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi (Kiyai Nahrawi Banyumas) terkait masalah hukum naqus (kentongan), melainkan juga karena selembar kertas ini dapat melngkapi informasi dan data akan keberadaan sosok beliau yang jejaknya sudah lama hilang terkubur. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi adalah salah satu ulama Makkah asal Jawi yang cukup berpengaruh, satu generasi dengan beberapa ulama besar Makkah asal Nusantara lainnya seperti Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Ahmad Fathani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain. Meski demikian, tak banyak yang mengupas sejarah hidup tokoh wong ngapak satu ini, baik dalam sumber-sumber Arab atau pun sumber-sumber Nusantara. Hal inilah yang menjadikan sosok beliau seakan terlupakan, hilang terkubur oleh putaran zaman. Sebuah informasi menyatakan jika beliau lahir di Banyumas pada paruh abad…
Read More
Sandal Wudlu Itu pun Sampai ke Amsterdam

Sandal Wudlu Itu pun Sampai ke Amsterdam

Sejarah, Umum
Kebersihan itu sebagian dari iman. Orang yang beriman pasti mencintai kebersihan. Kebersihan merupakan cara untuk memperoleh kesucian. Allah sangat mencintai orang-orang yang bersih dari dosa (Taubat) dan mensucikan dirinya. Sebagaimana tercantum di dalam surat al-Baqoroh/2: 222 yang menjelaskan tentang darah menstruasi. Bahwa para suami dilarang mendatangi atau berhubungan dengan istrinya, ketika mengalami menstruasi. Tunggulah sampai menstruasi itu berhenti dan mandi sebagai tanda menghilangkan hadats besarnya. Setelah suci baru dibolehkan kembali para suami mendatangi istrinya. Menjaga kesucian baik dari najis atau pun hadats merupakan bab pertama dalam fikih. Dalam kitab-kitab kuning klasik seperti fathul qorib, safinatunnajah, kifayatul akhyar, fathul muin, ianatut tholibin, dan lain-lain diletakkan pada bab pertamanya tentang bersuci. Sebelum jauh-jauh membicarakan sholat, puasa, zakat, dan haji, atau segudang masalah khilafiyah yang banyak terjadi di kalangan masyarakat, dalam ilmu fikih…
Read More

REVIEW: THESIS ISLAM AND JAVANESE ACCULTURATION TEXTUAL AND CONTEXTUAL ANALYSIS OF THE SLAMETAN RITUAL

Sejarah
REVIEW Judul dan pengarang   Judul : Islam and Javanese Acculturation, Textual and Contextual Analysis of the Slametan Ritual   Terjemahan : Akulturasi Islam dan Jawa, Analisis Teks dan Kontekstual Ritual Slametan   Pengarang/Penulis : Masdar Hilmy   Penerbit : Institut of Islamic Studies McGill University Montreal Canada 1999     Latar Belakang Javanese Islam has the reputation in some quarters of being an inferior variety of Islam, mainly because it differs from what people May consider ta be "genuine Islam," or the so-called "Middle Eastern Islam.[1]   Islam Jawa memiliki catatan di beberapa tempat yang menjadikan nuansa Islam yang berbeda, apalagi terdapatnya kelompok "Islam murni" atau yang biasa disebut "Islam Timur Tengah." Namun demikian, komunitas Muslim Jawa sebagian besar terdiri dari Muslim nominal (abangan) yang hanya sedikit pengetahuan formal…
Read More

PARADIGMA IDEOLOGI NEGARA (SUATU TINJAUAN ISLAMISASI HINGGA KONFLIK PEMIKIRAN ISLAM-POLITIK KONTEMPORER DI INDONESIA)

Sejarah
Oleh: Octavian Hendra PERSPEKTIF WAWASAN KE-INDONESIA-AN Kharakteristik majemuk merupakan suatu hal yang tak bisa dipungkiri ketika berbicara perihal ke-Indonesia-an. Pandangan tersebut didasarkan atas keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan yang merupakan kekayaan serta aset berharga bagi bangsa Indonesia. Kondisi demuikian dipengaruhi oleh perspektif fundamental yang menyebabkan Indonesia diselimuti keberagaman, sehingga bangsa ini memiliki keunikan tersendiri dari bangsa-bangsa lain di belahan dunia manapun. Perspektif fundamentalis yang dimaksud dapat ditinjau dari sisi geografis maupun dari segi historisitas. Dua ranah  tersebut memiliki efek dominan dalam terbentuknya sebuah karakter bangsa yang plural. Tinjauan dari sisi geografis menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau. Konsekuensi dari faktor geografis tersebut mampu menimbulkan komposisi ragam budaya yang berbeda. Ditambah dengan posisi silang Indonesia yang terletak antara benua Asia dan Australia, serta Samudera Pasifik…
Read More

Contoh Terbaik dalam Membangun Umat

Sejarah
Di masa lalu, Platon dengan konsep Republik, Aristoteles dengan konsep politiknya, keduanya gagal mengimplementasikan masyarakat dengan konsep tersebut Bahkan Romawi setelahnya malah tidak beres sistemnya Akan tetapi, rasulullah saw justru menerapkan pondasi-pondasi wahyu di dalam masyarakat Misalnya, dalam Quran disebutkan untuk mengajak perdamaian dan solidaritas di antara umat, menegaskan bahwa kemuliaan bukan tergantung pada suku atau nasab dll, akan tetapi dari sudut pandang keunggulan moral dan etika. Maka Islam tidak menyatukan dengan pondasi pada satu kaum saja, sebagaimana para nabi sebelumnya hanya diutus untuk kaumnya saja Akan tetapi, Islam menyatukan umat seluruhnya, umat manusia Penyatuan itu didasarkan pada umat terbaik yang melepaskan sekat-sekat kesukuan, meredam berbagai peperangan di antara mereka, Yang mana peperangan tersebut menghilangkan tujuan awal penciptaan manusia di alam ini Rasulullah saw menampakkan mukjizat sosial, yang mana setiap…
Read More

Pandangan KH Wahab Chasbullah soal Hukum Potong Tangan

Sejarah
Dalam lintas sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan, pemerintahan Indonesia pernah mengalami berbagai perubahan bentuk. Pada 1945-1949 menggunakan sistem presidensial, 1949-1950 berbentuk parlemen semu, 1950-1959 berbentuk parlementer, kemudian dari 1959 hingga saat ini, Indonesia masih menggunakan sistem presidensial. Pada rentang 1956-1959 perwujudan pemerintahan parlementer yaitu dengan membentuk Majelis Konstituante. Pada masa ini terjadi perdebatan alot antara tiga faksi (kubu) terkait dengan unsur yang ingin dijadikan sebagai dasar negara. Pertama ialah Faksi Pancasila yang sama sekali tidak menginginkan piagam Jakarta menjiwai dalam dasar negara. Kedua Faksi Islam (NU termasuk di kubu ini) yang menginginkan piagam Jakarta tidak dihilangkan secara serta merta, dan ketiga, kubu ekonomi sosialis demokrasi yang menginginkan dasara negara sosialis. Bahkan di tubuh faksi Islam secara formal menginginkan Islam menjadi dasar negara. Meskipun NU ada di kubu ini, organisasi para kiai tersebut…
Read More