Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Fiqh
Tidak ada perbedaan antara qadim dan jadid bahwa masuknya shalat Maghrib adalah pada saat terbenam matahari. Dasar hukumnya adalah hadits yang menceritakan bahwa Jibril shalat Maghrib ketika matahari terbenam, dan orang puasa telah berbuka. Perbedaannya terletak pada, apakah Maghrib mempunyai dua waktu atau satu waktu? Mari kita tinjau dari pendapat qadim dan jadid Imam Syafii.   Madzhab Qadim Abu Tsaur menceritakan dari Asy-Syafii bahwa shalat maghrib memiliki dua waktu, yaitu saat terbenam matahari, dan kedua adalah dari terbenamnya matahari hngga hilangnya benang merah di langit. Sebagian pengikut madzhab Syafii menjadikan waktu kedua sebagai madzhab jadidnya. Riwayat ini ditentang oleh mayoritas pengikut madzhab Syafii, karena az-Za’farani yang dipercaya orang paling terpercaya dalam madzhab qadim mengatakan bahwa hanya satu waktu bagi shalat maghrib. An-Nawawi menegaskan, “Waktu maghrib yang kedua dari terbenamnya matahari…
Read More
Zikir dan Doa dengan Suara Keras

Zikir dan Doa dengan Suara Keras

Fiqh
Ahli hadits Abdurrauf al-Munawi menyebutkan beberapa hadits-hadits yang menunjukkan anjuran zikir dengan suara keras, di antaranya adalah Hadits al-Baihaqi “Saya berjalan bersama Nabi SAW suatu malam, lalu beliau bertemu dengan seseorang yang mengeraskan suara berzikir. Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, mungkin orang ini pamer?’ Nabi menjawab: “Tidak, dia orang yang banyak mengingat kepada Allah.” Hadits al-Hakim “Dari Jabir bin Abdillah ra, ia berkata: “Orang-orang melihat ada obor di kuburan, mereka mendatanginya ternyata Rasulullah SAW ada di kuburan dan berkata, “Bantulah aku mengubur sahabat kalian.” Ternyata jenazah itu adalah seorang yang banyak zikirnya kepada Allah, yang mengeraskan suaranya dengan zikir.” (HR al-Hakim, dan dinilai shahih oleh al-Dzahabi) Sementara khusus zikir setelah shalat dengan suara keras adalah sesuai dengan riwayat: كان ابن الزبير يقول فى دبر كل صلاة حين يسلّم : لا إله…
Read More

ZAKAT DAN LENYAPNYA (HARTA) QORUN

Fiqh
Secara bahasa, zakat mengandung makna berkembang. Sedangkan menurut istilah, zakat adalah nama harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dengan cara tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu (Syaikh Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qoshim al Ghozi dalam Fathul Qorib). Kalau kita mau meneliti lebih jauh tentang ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan perintah zakat, maka kita akan mendapati bahwa perintah tersebut selalu menggunakan kata “atu”-suatu kata yang dari akarnya dapat dibentuk berbagai ragam kata dan mengandung berbagai makna (Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Lentera Al Quran; Kisah dan Hikmah Kehidupan). Diantara makna-makna tersebut adalah istiqomah dan cepat atau bergegas. Dari kedua makna tersebut dapat ditarik sebuah benang merah bahwa pertama, mengeluarkan zakat harus dilakukan secara istiqomah. Istqomah di sini mengandung pengertian bahwa zakat yang dikeluarkan harus disertai dengan…
Read More
Ini Dia Beberapa Pendapat Lama Imam Syafii yang Tetap Diunggulkan Ulama

Ini Dia Beberapa Pendapat Lama Imam Syafii yang Tetap Diunggulkan Ulama

Fiqh
Para ulama madzhab Syafiiyah telah mengunggulkan madzhab qadim dalambeberapa masalah. Telah diketahui, Imam Syafii punya pendapat lama dan baru dalam beberapa permasalahan. Setelah mendapatkan sanad hadits yang lebih kuat, beliau merevisi pendapatnya yang disebut qaul jadid (pendapat baru). Akan tetapi, pemuka madzhab Syafii masih tetap mengunggulkan pendapat lama Imam Syafii dibanding pendapat barunya. Apa saja pendapat lama Imam Syafii yang tetap diunggulkan oleh para pemuka madzhab Syafii? Ini dia masalah-masalah tersebut: Menyucikan diri dengan batu, dimana qadim membolehkannya Menyentuh muhrim, dalam madzhab qadim tidak membatalkan wudhu Air yang mengalir, dalam qadim disebutkan suci menyucikan kecuali salah satu sifatnya berubah Menyegerakan sholat Isya, madzhab qadim mengatakan lebih utama Waktu Maghrib, qadim menetapkan sampai hilangnya benang merah dari langit Seorang yang sholat sendiri kemudian ingin berjamaah, dalam qadim disebutkan boleh Memakan kulit…
Read More
Bagaimana Kedudukan Ibnu Taimiyah Dalam Madzhab Imam Ahmad bin Hambal?

Bagaimana Kedudukan Ibnu Taimiyah Dalam Madzhab Imam Ahmad bin Hambal?

Fiqh
Ibnu Taimiyah yang sering dirujuk oleh sebagian kecil masyarakat saat ini, nama panjangnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Ia salah satu ulama madzhab Hambali, seorang mujtahid yang mumpuni dalam bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, dan hadits. Lahir pada tanggal 10 Rabiul Awwal 661 H. Ada dua macam kelompok terhadap figur Ibnu Taimiyah ini. Pertama, sangat menyukainya dan yang kedua, sangat membencinya. Kalau kita mau proporsional dalam menyikapi ini, tentu penting sekali. Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid. Akan tetapi, di kalangan madzhab Hambali sendiri, ia banyak dikritik keras oleh ulama-ulama madzhab Hambali sendiri, semisal Adz Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan al-Hafidz Ibnu Rajab. Di dalam buku yang ditulis oleh Musthofa Hamdu Alyan al-Hambali, as-Sadah al-Hanabilah wakhtilafuhum Ma’a as-Salafiyah al-Mu’ashiroh, penulis memaparkan bahwa kedudukan pendapat Ibnu Taimiyah dalam madzhab Hambali…
Read More
Wow… Ternyata Imam Syafi’i Berpendapat Lebih Baik Mengakhirkan Sholat Isya

Wow… Ternyata Imam Syafi’i Berpendapat Lebih Baik Mengakhirkan Sholat Isya

Fiqh
Dalam pendapat Imam Syafii, dikenal dengan istilah Madzhab Qodim (Pendapat Lama) dan Madzhab Jadid (Pendapat Baru). Dalam madhzab baru, Imam Syafii merevisi pendapatnya karena menemukan dalil jalur periwayatan hadits yang lebih kuat. Itulah sebabnya, ada beberapa pokok masalah yang kemudian direvisi oleh beliau, salah satunya tentang mengakhirkan atau melambatkan sholat Isya lebih utama (dalam pandangan Madzhab Jadid). Titik Temu Secara Umum Bahwa secara umum, tidak ada perbedaan dalam madzhab qodim dan jadid, yang utama ialah menyegerakan sholat pada setiap waktu. Kecuali, pada waktu Dzuhur bila cuaca sangat panas. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, pekerjaan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: sholat tepat pada waktunya.” Alasan lainnya, karena Allah SWT mewajibkan kaum muslim agar menjaga sholat. Imam Syafii megeaskan dalam kitab…
Read More