Tingkatan Dengki dalam Kitab Maraqi al-Ubudiyah

Dengki adalah cabang dari sifat kikir, dendam, dan marah, sebab orang bakhil adalah orang yang menahan harta yang ada pada tangannya, padahal syariat dan sikap mulia menuntutnya agar ia berinfak untuk orang lain yang membutuhkan. Sedangkan orang kikir adalah orang yang bakhil terhadap nikmat Allah swt, sementara nikmat itu berada dalam perbendaharaan kekuasaan Allah swt untuk para hamba-Nya.

Dengan demikian, kikir lebih besar daripada bakhil, karena orang kikir adalah orang yang menghalangi pemberian seseorang kepada orang lain sebagaimana menahan pemberiannya sendiri kepada orang lain.

Selanjutnya, orang yang dengki adalah orang yang merasa susah terhadap dirinya atas nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain, entah itu berupa ilmu, harta, kecintaan orang-orang kepadanya, atau suatu keberuntungan. Bahkan, dengki itu menginginkan lenyapnya semua nikmat itu dari seoranghamba meskipun ia tidak mendapatkannya.

Dengan kata lain, dengkinya itu tak menghendaki suatu nikmat, apapun, ada pada orang lain. Jelasnya, orang dengki suka akan hilangnya nikmat orang lain, dan sifat seperti ini merupakan perbuatan yang sangat buruk, dan keinginan semacam ini merupakan salah satu tingkatan dengki.

Tingkatan kedua adalah menginginkan hilangnya nikmat orang lain dan mengharapkan untuk dirinya sendiri. Keinginan memiliki rumah mewah, istri cantik, harta melimpah, atau jabatan yang dimiliki orang lain adalah beberapa contoh terkait dengki di tingkat ini.

Tingkatan ketiga adalah sifat dengki yang tidak menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang lain, tetapi menginginkan nikmat yang sama. Hanya saja, jika ia tidak bisa memperolehnya, dan karenana ia mengharapkan lenyapnya nikmat itu dari orang lain supaya tidak ada perbedaan antara dirinya dengan orang lain. Dengki seperti ini merupakan sifat tercela dan dilarang agama.

Tingkatan dengki yang keempat adalah menginginkan nikmat sejenis bagi dirinya, tetapi jika ia tidak bisa memperolehnya maka ia tidak mengharapkan lenyapnya nikmat itu dari orang lain. Iri dalam tingkatan ini bisa dimaafkan jika menyangkut urusan dunia, dan dianjurkan apabila berkaitan dengan masalah agama.

Karena dengki adalah perbuatan yang amat kotor, maka Rasulullah saw bersabda, “Kedengkian itu memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR Imam Ibnu Majah)

Mengapa terjadi demikian? Sebab, secara tidak langsung orang yang dengki telah menuduh Tuhan bodoh dan dungu. Di samping itu, orang yang dengki juga telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Orang yang dengki adalah orang yang tersiksa hatinya, dan tidak ada seorang pun yang mengasihinya.

Tentu, dia akan selalu tersiksa di dunia. Ketahuilah, kedengkian menimbulkan lima perkara, yaitu: rusaknya ketaatan, maksiat dan kejahatan, kesusahan dan kepayahan yang tidak memberikan manfaat, hati menjadi buta sehingga hampir tidak bisa memahami hukum-hukum Allah, kegagalan dan tidak pernah sampai pada tujuan yang diinginkan.

Kehidupan dunia tidak akan pernah sepi dari teman dan kenalan yang Allah mengaruniakan kepada mereka berbagai macam nikmat yang berbeda-beda, baik berupa ilmu, harta, maupun jabatan dan pangkat. Jadi, orang yang dengki senantiasa tersiksa hidupnya di dunia. Ia hanya akan selalu mendapatkan kesusahan, kegundahan, dan beban hingga akhir hayatnya, dan niscaya siksa akhirat itu lebih pedih dan lebih besar daripada adzab yang diterima di dunia.

Bahkan, seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat kesempuranaan iman sebelum ia mencintai apa yang dimiliki orang-orang muslim lainnya seperti ia mencintai apa yang dimilikinya sendiri dalam hal ketaatan dan hal-hal mubah yang bersifat duniawi, baik yang berupa materi seperti kekayaan ataupun yang bersifat nonmateri seperti ilmu.

Lebih dari itu, hendaknya ia turut serta dan berempati bersama kaum muslimin dalam keadaan lapang dan sempit, senang dan susah. Muslim dengan muslim lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan, seperti satu tubuh yang bila salah satu anggota tubuhnya merasa sakit maka anggota tubuh lainnya pun merasakan sakit.

Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang mukmin itu bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dan tidak bisa tidur.”

Ibnu Bathal dan ulama lainnya berkata, “Cinta itu ada tiga macam: pertama, cinta karena penghormatan dan pengagungan seperti cinta anak terhadap orang tua. Kedua, cinta karena kasih sayang seperti cinta orang tua terhadap anak. Ketiga, cinta karena simpatik seperti cinta kepada manusia lainnya.”

Apabila kamu tidak mendapatkan ketiga cinta ini dalam hati maka sibuk mencari keselamatan adalah hal yang lebih penting untuk mendapatkan perhatian daripada kamu menyibukkan diri dengan permasalahan-permasalahan furu’ atau perdebatan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *