Sebagai Manusia, Mari Hargai Hak Asasi Kardus

Home / Pendidikan / Umum / Sebagai Manusia, Mari Hargai Hak Asasi Kardus

Mulai malam ini hingga beberapa waktu ke depan, istilah kardus akan semakin populer. Siapa yang tak kenal kardus? Semua pasti tahu. Ia berbentuk kubus, berwarna coklat, dengan segala macam fungsinya: menjamin barang yang ada di dalamnya akan aman.

Semua orang butuh kardus. Distribusi barang dari satu tempat ke tempat lain dibungkus dengan kardus. Setelah barang dikeluarkan, ia dapat dipakai kembali. Sekadar disimpan untuk dipakai lagi di masa depan atau segera diisi dengan barang lain. Segala macam barang dapat dimasukkan di dalam kardus.

Itulah mengapa, kardus tidak identik dengan sesuatu yang buruk. Kardus sangat bermanfaat. Akan tetapi, seringkali masyarakat lupa satu hal: siapa pencipta kardus sebenarnya? Mengapa ketika kita bersentuhan dengan lampu, kita ingat Thomas Alva Edison. Melihat sendok jatuh, kita ingat Isaac Newton. Melihat telepon, kita ingat Alexander Graham Bell. Akan tetapi, siapa penemu kardus yang fungsinya sangat luar biasa itu? Tidak ada yang pernah tahu.

Alangkah malangnya penemu kardus ini. Namanya tidak pernah diingat semua orang. Ia sosok yang tidak diketahui. Yang dirasakan oleh orang banyak hanya fungsi kardusnya. Sungguh kejam masyarakat dunia ini, bahkan sampai penemu kardus saja tidak ditempatkan sebagaimana maqomnya. Dalam urutan 100 orang paling berpengaruh di dunia saja tidak ada namanya.

Tapi hidup ini memang seperti itu. Seseorang yang berjasa besar belum tentu diakui. Alangkah naifnya jika seorang pahlawan, yaitu penemu kotak coklat bernama kardus itu, jangan-jangan hidup miskin dan menderita. Atau sanak keluarganya adalah orang-orang tak mampu. Padahal salah satu keluarganya berjasa besar bagi hampir seluruh manusia di atas muka bumi ini.

Lagipula, kardus tidak jelek-jelek amat. Ada kardus yang tebal, dengan segala kekuatannya mampu menahan berbagai barang. Tapi ada juga kardus yang tipis, karena memang diciptakan hanya untuk menyangga barang yang ringan. Kardus yang tebal biasanya disimpan jika tidak digunakan. Kardus yang tipis biasanya dibuang begitu saja.

Entah sejak kapan kata ‘kardus’ identik dengan keburukan jika disematkan kepada manusia. Judulnya manusia kardus, yaitu manusia yang hilang kemanusiaannya. Bisa saja berarti manusia yang tidak punya pendirian (ikut sana-sini), bisa jadi manusia yang seolah dari luar ‘yes’ tapi isinya kosong. Apa mungkin disebabkan manusia seperti ini layaknya kardus yang tidak bisa dipakai lagi, identik dengan sampah. Atau penamaan manusia kardus menggambarkan bahwa manusia vis a vis kardus. Manusia adalah makhluk berakal dengan nalar logis, sedangkan kardus adalah benda mati yang bisa diisi apa saja. Jadilah frasa ‘manusia kardus’ adalah manusia yang akalnya bisa dikendalikan oleh apa saja.

Definisi semacam ini menurut saya sah-sah saja. Yang dirasa kurang etis ketika penyebutan kata kardus itu disematkan pada jabatan yang mulia, semisal jenderal. Padahal kata jenderal itu baik sekali. Apa tidak takut menyinggung perasaan para jenderal lainnya, ketika sebutan ‘jenderal kardus’ ini akan diingat masyarakat luas? Coba bayangkan, misalnya ketika anak-anak kita yang laki-laki main perang-perangan terus salah satu dari mereka berkata,”Ayo kita bagi dua pasukan. Kamu dan aku jenderalnya. Tapi kamu jenderal kardusnya, aku jenderal beneran.” Kira-kira apa respon temannya? Mungkin akan berkata,”Enggak ah, aku gak mau jadi jenderal kardus. Mending kita main masak-masakan aja.” Lah ini justru melemahkan minat anak bangsa untuk jadi tentara.

Apalagi kalau sang jenderal kardus mencalonkan diri jadi presiden. Dalam demokrasi, setiap calon presiden punya kemungkinan untuk menang. Lah, kan lucu kalau akhirnya sang jenderal kardus, misalnya, benar-benar jadi presiden. Saya tak mampu membayangkan sebutan yang akan keluar setelahnya: presiden kardus. Ini bisa lebih sensitif lagi kalau diluaskan: kabinet kardus, pemerintahan kardus, rezim kardus, rakyat kardus, dan negara kardus.

Lagipula, sebagai manusia, marilah kita hargai hak asasi kardus. Meskipun benda mati, ia layak dihormati. Apalagi penemu kardus belum diketahui siapa orangnya sampai saat ini. Setidaknya, kalau tidak mau menghormati kardusnya, minimal dapat menghormati penemunya. Apalagi cuma urusan kekuasaan, jangan sampai bawa-bawa kardus![]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *