MELAWAN HOAX DI MUSIM KAMPANYE: Konsep Falsifikasi Popper dan Manusia Ruang EMHA

Home / Sejarah / MELAWAN HOAX DI MUSIM KAMPANYE: Konsep Falsifikasi Popper dan Manusia Ruang EMHA

Perkembangan teknologi digital memberi konsekuensi dari melimpah ruahnya informasi yang kita terima. Bukan mustahil dalam derasnya arus informasi, melalui media digital khususnya, seiring difusi pesan (teks, gambar, video dan sebagainya) mengakibatkan apa yang kemudian disebut sebagai polusi informasi. Kita tidak lagi mampu dengan mudah membedakan mana informasi yang valid (benar sesuai fakta) dan sebaliknya.

Celakanya, bagi kalangan awam seringkali berita yang diterima dikonsumsi begitu saja. Seolah berita tersebut menggambarkan fakta yang terjadi di lapangan. Tanpa melakukan verifikasi, cek dan ricek – (dalam bahasa agama disebut tabayyun). Memang benar, tengara yang disampaikan oleh Nicholas Carr dalam bukunya The Shallow, bahwa internet mengakibatkan pendangkalan berpikir. Hal itu tampak dengan semakin mudahnya kita membagikan berita yang kita terima seolah itu pasti sebuah kebenaran padahal bisa jadi itu adalah hoax.

Seandainya false information (informasi palsu atau keliru) adalah sebuah garis, maka kita apati disinformation (kebohongan yang isengaja untuk menyesatkan) berada disalah satu ujungnya dan misinformation (kesalahan yang jujur) berada di ujung yang lainnya.(1) Maka jelas Hoax berada pada kutub disinformation. Maka sampai disini kita semestinya paham bahwa tidak setiap berita bohong adalah hoax. Selanjutnya, apa sih hoax itu?

Menurut KBBI, hoax bermakna berita bohong. Curtis D. MacDougall (1958) dalam bukunya berjudul Hoaxes menerangkan bahwa Hoax adalah kepalsuan atau kebohongan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran atau agar dianggap sebagai sebuah kebenaran. Disini ada setidaknya dua hal yang menjadikan bahwa sebuah kebohongan bisa dikategorikan sebagai sebuah hoax. Yang pertama adalah adanya unsur kesengajaan. Yang kedua adalah adanya sebuah aksi massif dengan sumber daya yang massif- secara terus menerus agar kebohongan yang diproduksi bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran. Maka tak heran kemudian Rocky Gerung dalam sebuah episode ILC pernah mengungkapkan bahwa produsen terbesar hoax adalah negara dengan segala sumber dayanya. Hal ini hemat kami terkait dengan faktor kedua.

Pemerintah terkadang menyebarkan informasi palsu untuk memfasilitasi tujuan mereka, seperti pergi berperang. Ini sering datang di bawah judul propaganda hitam. Sering ada campuran tipuan dan penindasan serta manajemen informasi yang nyata untuk memberikan kesan yang diinginkan. Di masa perang dan saat-saat desas-desus ketegangan internasional meluas, beberapa di antaranya mungkin merupakan kebohongan yang disengaja. Amerika, ketika menginvasi Irak adalah contoh sahih dari premis ini. “Ada kesalahan data intelijen,” ujar seorang pejabat AS, mengomentari tidak ditemukannya senjata pemusnah masal di Irak.(2) Tapi sebuah negara sudah terlanjur hancur. Apakah benar itu sebuah kesalahan ataukah ada motif lain di belakangnya.

Apakah pemerintah Indonesia pernah menyebarkan hoax? Film G-30 S adalah salah satu yang saat ini ditengara sebagai hoax yang dilahirkan oleh pemerintah orde baru untuk melegitimasi kekuasaanya. Bagaimana pemerintahan saat ini? Saat ini isu itu terlalu sesnsitif, karena kalau dibilang menyebarkan hoax nanti dikira memihak atau sebaliknya. Silahkan dinilai sendiri. Meskipun demikian makalah ini mencoba untuk memotret maraknya hoax yang beredar ditengah musim kampanye, dan bagaimana kita menyikapinya.

 

Bersikap Obyektif dengan Falsifikasi Popper di tengah Musim Kampanye

Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang sampai sekarang banyak dianut oleh mayoritas ilmuwan dengan metode induksinya untuk mencari kebenaran. Fondasinya adalah empirisme yang diletakkan oleh Bacon. Nah falsifikasi Popper adalah counter narasi dari positivisme yang berkembang.

Pandangan Popper menyatakan  berbagai kesulitan logika induktif yang tidak dapat diatasi. Kesimpulan induktif, meskipun tidak ‘benar-benar valid’, dapat mencapai tingkat ‘keandalan’ atau ‘probabilitas’ tertentu. Menurut doktrin ini, kesimpulan induktif adalah ‘kemungkinan kesimpulan’. [Cf. J. M. Keynes, A Treatise on Probability, 1921; O. Kulpe, Vorlesungen uber Logic (ed. By Selz, 1923); Reichenbach (yang menggunakan istilah ‘implikasi kemungkinan’), Axiomatik der Wahrscheinlichkeitsrechnung, Mathem. Zeitschr. 34, 1932; dan di tempat lain.] “Kami telah mendeskripsikan,” kata Reichenbach, “prinsip induksi sebagai sarana di mana ilmu pengetahuan memutuskan kebenaran. Untuk lebih tepatnya, kita harus mengatakan bahwa itu berfungsi untuk memutuskan probabilitas. Karena itu tidak diberikan kepada sains untuk mencapai kebenaran atau kepalsuan. . . tetapi pernyataan ilmiah hanya dapat mencapai derajat probabilitas berkelanjutan yang batas atas dan bawahnya yang tidak mungkin tercapai adalah kebenaran dan kepalsuan. [Reichenbach, Erkenntnis 1, 1930, hal. 186. (3)

Karena sifatnya yang masih berupa probabilitas kebenaran, maka tentu ada ruang-ruang perkecualian -meskipun bahkan probabilitas itu mendekati seratus persen. Maka sebuah tesis/teori untuk dapat dikatakn sebagai sebuah kebenaran mutlak harus mampu  harus mampu menjawab “pertanyaan-pertanyaan yang meragukan”.

Selain itu, kendala dari proses induksi adalah adanya bias psikologi dari ilmuwan. Subjektivitas sebagai lawan objektivitas, bagaimanapun tidak bisa dilepaskan dari seorang peneliti. Penolakan apapun bentuknya tidak bisa dihindarkan. (4) Saya kasih contoh sederhana dengan sebuah barisan angka berikut biar menjadi lebih jelas. Apabila ada barisan 2, 3, 5, 8,  maka angka barisan selanjutnya adalah? Anda bisa menjawab 11 sebagai angka berikutnya. Bisa juga angka 12. Namun sangat  mungkin ada yang menjawab 13. Atau ada kemungkinan jawaban yang lain? Sangat tergantung dari asumsi yang diambil bukan? Dan lagi lagi itu bukannya sesuatu yang subyektif?

Maka proses induksi memberikan implikasi adanya verifikasi-verifikasi untuk mencari bukti-bukti kebenaran.(5) Verifikasi yang dilakukan  bila tidak berhati hati -menurut saya- malah terjatuh kepada pembenaran-pembenaran. Sebaliknya falsifikasi adalah proses yang berkebalikan dengan verivikasi -berusaha mencari celah kekurangan dari sebuah teori argumen. (6) Dalam pemahaman saya, ini lebih seperti sikap skeptis.

Kondisi masyarakat kita, terlebih di tengah musim kampanye ini, cenderung melakukan pembenaran-pembenaran terhadap setiap informasi yang sekira menguntungkan kelompok yang didukungnya. Kelompok pendukung calon presiden petahana akan cenderung dengan mentah-mentah menerima informasi yang mendukung atau menguntungkan calonnya dan sebaliknya tentunya. Hal ini mirip dengan verivikasi-verivikasi dalam proses induksi bukan? Maka dalam konteks ini falsifikasi Popper bisa diajukan sebagai salah satu “obat alternatif” menyikapi “kegilaan” ini.

Subjektivitas adalah poin pertama dari relasi yang bisa kita temukan antara konsep pemikiran Popper dan gejala politik nusantara.(7) Subjektivitas yang kemudian melahirkan kecenderungan untuk mencari pembenaran-pembenaran atas informasi yang diterima menjadikan kita -yang terjebak dalam polarisasi politik saat ini- tidak mampu bersifat kritis.

Metode induksi -dengan verifikasi-verifikasinya – pada gilirannya memaksa ilmuan untuk cenderung hanya memperhatikan gejala-gejala atau fenomena-fenoma yang sejalan dengan proposisi hepotesisnya dan mengabaikan bahkan membuang gejala atau fennomena yang tidak sejalan.(8) Dalam konteks masyarakat kita saat ini, perilaku itupun sama saja.Tidak hanya menjangkiti ilmuwan -kelompok ahli pendukung capres- melainkan lebih parah lagi pada masyarakat awam bukan? Yang jelas, bila mau diamati, Anda akan menemukan bahwa cara yang ditempuh oleh pendukung para politikus tadi, memiliki kesamaan dengan mekanisme verifikasi kaum (kelompok penganut) positivisme logis.(9)

Alih-alih mencari bukti yang membenarkan, falsifikasi lebih condong untuk mencari bukti-bukti yang melemahkan atau bahkan menolak suatu teori. Dengan begitu, setidaknya kita belajar sedikit untuk lebih obyektif ketika menilai sesuatu dengan tidak hanya mengamati hal-hal yang sesuai dengan keyakinan diri, juga tidak abai terhadap hal-hal yang berkontradiksi dengannya.(10) Pada akhirnya, hasil dari falsifikasi tersebut disandingkan dari proses verifikasi untuk kemudian dibiarkan “bertarung” dalam medan uji. Apakah nantinya malah menguatkan teori awal, atau malah mendekonstruksi asumsi-asumsi awal yang telah terbangun.

Dalam konteks polusi informasi -khususnya dalam momen pilpres ini- falsifikasi bisa diwujudkan atau dimulai dengan sikap skeptis -meragukan sesuatu, tidak mudah menerima apa adanya. Maka bila kita menerima sebuah informasi, setidaknya pertanyaan yang muncul, “Masak sih?”, “Apa betul seperti itu?” , “Kenapa gak seperti ini?” dan seterusnya. Lalu kemudian lakukan falsifikasi –counter narasi -sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

Falsifikasi Popper ini adalah perwujudan dari rasionalisme kritis yang belajar dari kesalahan-kesalahan. Dalam aplikasinya Falsifikasi ini kemudian melahirkan metode trial and error .(11) Sebuah proses yang membutuhkan “ketahanan”  dalam mencari kebenaran. Masalahnya dalam konteks mencari kebenran dari sebuah salah dalam polusi informasi saat ini juga tidak mudah. Selain akses untuk melakuakn verifikasi obyektif yang tidak mudah, seberapa urgen kita memilah informasi tersebut. Seberapa kuat kita mampu melakukan falsifikasi?

Menjadi Waras di Tengah Bising Kampanye dengan Menjadi Manusia Ruang(12)

Konsep manusia ruang adalah konsep baru, setidaknya bagi saya sendiri. Dari pengakuan mbah Nun, konsep ini adalah konsep yang dilahirkan dari Sabrang –putranya. Mbah Nun meminjam kemudian sekaligus melakukan penajaman-penajaman secara filosofis.

Konsep ini lahir dalam semangat islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh semesta. Karena ia adalah ruang, maka ia mampu memuat segala macam aliran dan corak warna. Cak Nun (Mbah Nun) adalah sosok citra manusia ruang itu sendiri. Beliau bisa menerima macam-macam kelompok dengan sama baiknya tanpa ada tendensi apapun. Hal itu kemudian yang kadang “dimanfaatkan” oleh sebagian orang, seolah-olah beliau memberikan dukungan tertentu.

Dalam konsep ruang-waktu, kita hidup dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu. Kita adalah titik yang selalu terikat dalam dimensi tersebut. Begitu juga setiap peristiwa adalah titik-titik dalam dimensi ruang waktu. Maka memandang sebuah titik ada tiga cari. Apakah ia berada pada sebuah garis? Apakah ia berada dalam sebuah bidang? Ataukah ia berada dalam sebuah ruang?

Bagaimana dengan peristiwa pemilihan presiden? Apakah ia sebuah garis, bidang atau ruang? Pemilihan presiden yang akan kita jelang tahun depan adalah sebuah garis dengan kutub-kutubnya adalah Capres petahana disatu ujung dan Sang penantang di ujung lainnya. Para simpatisan riuh rendah berkelompok mendekati kutub masing-masing. Kalau kita mau berada dalam garis tersebut, maka kita harus mampu bersikap adil dan seimbang. Bersikap adil dan seimbang tentu saja harus berada di tengah-tengah garis. Condong ke salah satu sisi sedikit saja, kita bisa dibilang cebong atau kampret. Susah bukan?

Pilihan lainnya adalah menempatkan diri kita menjadi sebuah titik pada sebuah bidang atau bahkan menjadi titik pada sebuah ruang. Nah inilah yang kemudian “direkomendasikan” oleh Mbah Nun kepada cucu-cucu ideologisnya. Kalau kita menjadi sebuah titik dalam ruang kita akan bisa melakukan pendekatan dengan kemungkinan yang tak terhingga terhadap garis. Kita bisa berada sangat dekat dengan sebuah kutub tapi sekaligus jauh -karena kita tidak terhubung secara langsung dengan garis tersebut.

Untuk menjadi manusia ruang, kita wajib menghindari tiga “C”. Cupet, Cedak dan Cetek. Cupet (bahasa jawa) bermakna sempit, mengindikasikan kesempitan berpikir dan sekaligus kesempitan hati. Untuk menjadi manusia ruang kita harus meluaskan cakrawala berfikir kita dengan mengayakan paradigma, perspektif berfikir serta point of view dalam memandang tiap fenomena. Untuk masalah keluasan hati terkait dengan lelaku (thoriqoh) hidup yang kita tempuh jadi sangat tidak mungkin diseragamkan caranya (maka tidak kita bahas disini).

Cedak (bahasa jawa) bermakna dekat. Konsekuensinya adalah sebagai manusia ruang kita bisa berpikir jauh kedepan (berupa kemungkinan-kemungkinan konsekuensi dari sebuah peristiwa) bahkan kebelakang (melihat aspek kesejarahan obyektif). Semakin jauh lintasan waktu baik kedepan maupun kebelakang yang bisa kita pertimbangkan, tentu semakin mendekati ketepatan (kebaikan) sikap -bukan kebenaran atau alhaq karena dalam berbagai forum diskusi Mbah Nun beliau menyampaikan bahwa yang tau Alhaq hanyalah Allah.

Cetek (bahasa jawa) bermakna dangkal. Dangkal berfikir terjadi karena kita terlalu mengandalkan akal. Maka manusia ruang tidak semata mengandalkan akal dalam mengambil keputusan sikap tapi juga melibatkan aspek perenungan-perenungan kontemplatif sehingga keputusan sikap ataupun berfikirnya tidak dangkal. Pada akhirnya timbul kesadaran, kesadaran bahwa ada hal-hal yang beyond rasio dalam setiap peristiwa sehingga kita bisa menjadi lebih arif dan mawas diri.

Dalam konteks, pemilihan presiden secara khusus, kita sudah punya kesepakatan asasnya adalah LUBER (langsung, umum, bebas dan rahasia) maka tinggal kita menyepakati itu saja. Sederhana bukan? Kecuali anda adalah bagian dari timses, maka sebaiknya tidak usah menyibukkan diri dengan hal-hal terkait. Pada saatnya nanti tinggal datang, coblos pilihan anda, dan cukup diri anda dan Tuhan yang tahu.

Tapi kalaupun ingin ikut dalam riuh ramai arus massa, pastikan itu hanya sekedar guyon dan tidak dimasukkan hati dan yang lebih penting tidak menyakiti saudaramu.

 

***

Baik konsep Falsifikasi Popper dan Manusia Ruangnya Emha, hakikatnya adalah menjadikan kita untuk mampu berdiri otonom dengan nilai-nilai kebenaran (kebaikan) sehingga tidak larut dalam arus massa. Keduanya akan menghindarkan kita dari sikap fanatisme berlebihan terhadap apapun.

Sebagai sebuah konsep, manusia ruangnya emha lebih holistik -namun tentu juga lebih sulit sekaligus lebih mudah dipraktekkan. Lebih mudah dipraktekkan karena kita tinggal mengambil jarak dari sebuah peristiwa dan tidak berada dalam garis hubung kutub-kutub peristiwa. Lebih sulit karena butuh latihan, dan tidak hanya melibatkan ketajaman akal, namun juga kejernihan hati.

 

 

 

 

 

End Note:

(1) Cook, John & Lewandowsky, John. 2011. The Debunking Handbook. St Lucia, Australia : University of Quensland

(2) Goodman, Amy & Goodman David. 2014. Standing Up To The Madness. Hyperion. USA

(3) Popper, Karl L. 2005. The Logic of Scientific Discovery. London. UK

(4) Popper, Karl L. 2005. The Logic of Scientific Discovery. London. UK

(5) Popper, Karl L. 2005. The Logic of Scientific Discovery. London. UK

(6) Popper, Karl L. 2005. The Logic of Scientific Discovery. London. UK

(7) Hasan, Rianto. 2018. Geotimes.co.id. Belajar sedikit lebih obyketif dari Karl Popper.

(8) Popper, Karl L. 2005. The Logic of Scientific Discovery. London. UK

(9) Hasan, Rianto. 2018. Geotimes.co.id. Belajar sedikit lebih obyketif dari Karl Popper.

(10) Hasan, Rianto. 2018. Geotimes.co.id. Belajar sedikit lebih obyketif dari Karl Popper.

(11) Ardhina, Anik Hamlul. 2010. Kritik Atas Falsifikasi Popper. Skripsi. UINSUKA

(12) Bagian ini merupakan hasil dari ikut sinau bareng mbah Nun dan diskusi denga teman-teman simpul maiyah bontang dan samarinda

Bukan siapa-siapa tapi memiliki minat di kajian tafsir, sejarah islam, fikih serta parenting. Saat ini menggawangi bimbel ME dan sebagai pengajar tahfidz di pesantren Musab Bin Umair Kersik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *