Petani: Cita-Cita Manusia Pilihan Tuhan

Home / Pendidikan / Umum / Petani: Cita-Cita Manusia Pilihan Tuhan

Suatu ketika, saya bertanya tentang cita-cita peserta didik di sebuah kelas. Tentu ini suatu hal yang mengasyikkan bagi mereka. Sejenak berpikir, mereka lalu menyahut apa cita-cita mereka kelak. Ada yang umum, ada yang spesial menurut saya.

Cita-cita yang lumrah dan umum seperti menjadi dokter, tentara, polisi, guru, koki, penyiar, dan perawat. Yang spesial dan jarang diucapkan seperti menjadi petugas pemadam kebakaran, pengusaha batik, dan karyawan BUMN. Akan tetapi, saya menemukan satu cita-cita dari satu anak di kelas yang menurut saya luar biasa. Anak tersebut laki-laki, pendiam, penurut, dan prestasinya di kelas lumayan baik. Ia berteriak, “Jadi petani, Pak.” Saya kira saya salah dengar, saya suruh ulangi lagi dan jawabannya sama: ia bercita-cita menjadi seorang petani.

Pikiran saya langsung menuju ke sana kemari. Benarkah anak ini yakin ia kelak akan menjadi petani? Murnikah cita-citanya ini menjadi petani? Apa yang menarik minatnya untuk menjadi petani, mengingat di daerah kami lahan sawah sangatlah jarang. Sudah tahukah ia beratnya menjadi petani di era sekarang? Bibit yang mahal, tengkulak yang bermain harga, cuaca ekstrim, hama yang berdaya rusak luar biasa, hingga melimpahnya hasil pertanian impor di negara ini?

Atau jangan-jangan, saya berpikiran negatif, ia baru saja menonton sebuah film drama aksi heroik yang tokoh utamanya seorang petani? Akan tetapi, beberapa kali ditanya, ia tetap mantap menjawab ingin menjadi petani, meskipun alasannya sederhana: hanya ingin saja.

Jikalau boleh disurvey, berapa persen anak-anak Indonesia yang bercita-cita menjadi petani, tentu ini menjadi data yang sangat berharga. Kebanyakan, yang saya pantau dari celoteh teman-teman, petani saat ini menjadi petani karena terpaksa. Ketika di kota tidak mendapatkan pekerjaan, sebagian anak muda kembali ke desa untuk bertani. Sedangkan desa saat ini kosong, hanya diisi oleh orang-orang yang sudah tua renta. Hanya merekalah yang memilih profesi petani karena tidak ada lagi lahan pekerjaan yang tersedia di desa. Sehingga pemuda yang kembali ke desa dan hidup di sana sedikit sekali. Kadang mereka di antara dua keadaan: tak mendapatkan pekerjaan di kota atau berkewajiban menjaga orang tua mereka.

Sungguh saya sangat bahagia hari itu. Ada seorang murid yang letak kotanya jauh dari lahan persawahan lalu bercita-cita menjadi petani. Sebuah pepatah Arab berbunyi,”Al-fallah sayyid al-bilad wa malik al-haqiqiy” yang artinya seorang petani adalah pemilik negeri dan raja yang sesungguhnya. Anak ini siap untuk menjadi rakyat pemilik negeri ini, sekaligus menjadi rajanya.

Selamat wahai anakku. Tuhan telah mempersiapkanmu sebagai pemilik dan raja negeri ini. Engkau adalah manusia pilihan di antara anak-anak yang lain. Semoga engkau dapat meraih cita-citamu itu. Hatiku benar-benar terenyuh saat itu.

Tiba-tiba pikiran saya mengingat sesuatu dan mengacaukan segala lamunan. Apakah masih ada lahan pertanian kelak ketika anak ini siap menjadi petani?[]

Seorang pengamat sosial yang berusaha melihat sisi lain dari setiap hal. Mencoba meracik, meramu, dan menemukan sesuatu yang baru. Penulis buku: Ketika Huruf V Digugat (2018)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *