Talfiq dan Perbedaan Madzhab

Home / Pendidikan / Umum / Talfiq dan Perbedaan Madzhab

Talfiq

Talfiq adalah menggabungkan dua pendapat beda madzhab dalam satu kerangka masalah (qodhiyyah). Misalnya dalam wudhu: setelah berwudhu seseorang memegang kemaluannya tanpa syahwat dan menganggapnya tidak membatalkan wudhu karena mengikuti pendapat Imam Malik, namun saat berwudhu tidak menggosok-gosok anggota wudhunya dengan air karena mengikuti Imam Syafii. Bila ia sholat, hukumnya tidak sah karena menurut pendapat Imam Syafii, wudhunya batal karena telah memegang kemaluan dan menurut Imam Malik tidak sah karena tidak menggosok anggota wudhunya. Dengan demikian maka wudhunya batal menurut pendapat kedua Imam.

Namun, jika talfiq dilakukan di antara dua kerangka masalah (qodhiyyah), seperti wudhu dengan mengusap sebagian kepala karena mengikuti Imam Syafii dan shalat menghadap ke arah kiblat (jihah/tidak benar-benar tepat lurus ke Ka’b ah) karena mengikuti Imam Abu Hanifah, maka shalatnya sah. Sebab dalam kasus ini kedua Imam tidak bersepakat atas ketidakabsahan wudhunya.

Perbedaan Madzhab

Di satu sisi, mengikuti salah satu madzhab empat menjadi suatu keharusan bagi kaum muslimin. Akan tetapi di sisi lain, di antara madzhab-madzhab empat ada sekian banyak perbedaan pendapat. Persoalannya adalah:

“Apakah dengan terjadinya sekian banyak perbedaan pendapat, bukan berarti keberadaan madzhab empat akan menjadi malapetaka bagi kaum muslimin yang akan menyebabkan timbulnya perpecahan di antara mereka, sehingga pada akhirnya kita perlu mengikuti himbauan sebagian kalangan yang menyerukan penyatuan madzhab fiqih  dalam Islam dan melepaskan baju bermadzhab dari tengah-tengah kehidupan kaum muslimin?”

Demikian pertanyaan yang tak jarang kita dengar akhir-akhir ini. Perbedaan pendapat di antara madzhab fiqih yang empat memang banyak sekali terjadi dan menjadi realitas sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi bila dicermati, perbedaan pendapat itu bukan unsur kekurangan dan sumber malapetaka bagi kaum muslimin. Bahkan sebaliknya, perbedaan pendapat itu termasuk unsur kesempurnaan syariat Islam dan menjadi rahmat bagi kaum muslimin.

Setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan dalil-dalil yang mengakui eksistensi perbedaan pendapat di kalangan mujtahid serta hikmah yang tersimpan di balik perbedaan tersebut. Berikut akan dikemukakan dalil-dalil al-Quran dan hadits yang mengakui eksistensi perbedaan pendapat di antara mujtahid.

  1. Ayat al-Quran

“Dan ingatlah kisah Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberi keputusan mengenai tanaman, sebab tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami yang menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberi pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (QS al-Anbiya’:78-79)

Dalam ayat ini diterangkan, Allah memberi pujian kepada nabi Daud as dan nabi Sulaiman as, dan Allah memberi keduanya hikmah dan ilmu, padahal kebenaran dalam kepuusan berada pada keputusan nabi Sulaiman as. sementara nabi Daud as, mengeluarkan keputusan yang sebaliknya. Tetapi karena keduanya mengeluarkan keputusan berdasar ijtihadnya masing-masing, Allah tidak mencela, bahkan memberi keduanya pujian dengan hikmah dan ilmu. Dari sini ulama ahlussunnah wal jamaah berkesimpulan, perbedaan pendapat di kalangan mujtahid tidaklah tercela. Bahkan eksistensinya diakui oleh al-Quran berdasarkan ayat tadi.

  1. Hadits Sanksi Peminum Khamr

Ali bin Abi Thalib ra berkata:

“Nabi saw mendera orang yang minum khamr sebanyak 40 kali. Abu Bakar mendera 40 kali pula. Sedangkan Umar menderanya 80 kali. Dan kesemuanya adalah sunnah. Tapi, 40 kali lebih aku sukai.” (HR Muslimdan Abud Daud)

Dalam hadits ini Ali bin Abi Thalib ra menetapkan dera 40 kali yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan Abu Bakar ra, dan dera 80 kali yang dilakukan Umar kepada orang yang minum khamr, keduanya sama-sama benar. Hadits ini menjadi bukti bahwa perbedaan pendapat di antara sesama mujtahid di bidang fiqih, tidaklah tercela, bahkan eksistensinya diakui berdasarkan hadits.

  1. Hadits Bani Quraizhah

Ibnu Umar berkata:

“Sepulangnya dari perang Ahzab, Rasulullah bersabda, “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Sebagian sahabat ada yang memahami hadits itu secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar – walau waktunya telah berlalu- kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, hingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di kampung yang dituju. Ketika menerima laporan tentang kasus ini, Nabi saw tidak menyalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami hadits beliau.”

  1. Hadits Ijtihad

Dalam hadits Amr bin al-Ash dan lain-lain, Rasulullah saw bersabda:

“Apabila seorang hakim melakukan ijtihad, lalu ijtihadnya benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya keliru, maka baginya satu pahala.”

Berdasarkan dalil-dalil di atas bisa disimpulkan, perbedaan pendapat di kalangan mujtahid diakui eksistensinya oleh agama, sehingga agama tidak membebankan tanggung jawab dosa bagi mujtahid yang kadang dalam ijtihadnya mengalami kekeliruan. Bahkan agama memberikan mereka credit point satu pahala, apabila terjadi kekeliruan dalam ijtihadnya.

Berangkat dari kenyataan ini, di kalangan sahabat Nabi saw sendiri tidak jarang terjadi perbedaan pendapat dalam masalah hukum fiqih. Tapi perbedaan itu tidak merusak dan mengganggu hubungan harmonis yang terjalin di antara mereka. Bahkan perbedaan pendapat itu mereka anggap sebagai rahmat dari Allah. Dalam hal ini, Imam Ibn Sa’ad dan al-Hafidz al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Bakar as-Shiddiq ra yang berkata: “Perbedaan pendapat di kalangan sahabat Muhammad adalah rahmat bagi manusia.”

Tradisi perbedaan pendapat ini terus berlangsung hingga generasi Tabiin. Mereka juga menganggapnya sebagai rahmat bagi kaum muslimin. Di antara mereka semisal khalifah yang salah, Umar bin Abdul Aziz berkata:

“Aku tidak senang sekira menukar perbedaan pendapat di kalangan sahabat Rasulullah saw dengan unta-unta merah. Karena andaikan perbedaan pendapat tidak terjadi di antara mereka, niscaya tidak akan ada keringanan-keringanan dalam pelaksanaan hukum.”

Di masa Imam Malik bin Anas (pendiri madzhab Maliki), khalifah Abu Ja’far al-Manshur pernah meminta restu untuk menyalin al-Muwaththa’ menjadi beberapa salinan dan akan dikirimnya di berbagai kota di negeri Islam, dalam rangka menyatukan kaum Muslimin dalam satu madzhab. Tetapi Imam Malik menolaknya dan mengatakan:

“Jangan anda lakukan ini. Karena masyarakat telah menerima berbagai pendapat sebelumnya. Mereka telah mendengar sekian banyak hadits, dan meriwayatkan sekian banyak riwayat yang berbeda-beda. Masing-masing telah mengambil pendapat-pendapat yang berbeda, yang mereka peroleh sebelumnya dan mereka ikuti, dalam beragama. Biarkan mereka memilih pendapat yang sesuai dengan kondisi sosial mereka.”

Permintaan serupa juga dilakukan oleh Khalifah Harun al-Rasyid, cucu al-Manshur. Khalifah Harun punya  rencana menyatukan kaum muslimin dalam satu madzhab dengan menggantung kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik di dalam Ka’bah dan mewajibkan kaum muslimin mengikutinya. Tetapi Imam Malik menolaknya dan berkomentar:

“Jangan anda lakukan, hai Amirul Mukminin. Para sahabat Rasulullah sawtelah berbeda pendapat dalam sekian banyak masalah cabang. Mereka berpencar-pencar di berbagai daerah. Sesungguhnya perbedaan ulama itu rahmat dari Allah SWT bagi umat ini. Masing-masing mengikuti pendapat yang diyakininya benar. Masing-masing tepat dalam apa yang mereka lakukan dan sesuai dengan petunjuk dari Allah.”

Kesimpulan

Perbedaan pendapat di antara madzhab empat adalah hal yang wajar terjadi dalam syariat Islam. Karena di samping perbedaan itu menjadi bagian dari kesempurnaan syariat Islam, yaitu tidak memberi beban tanggung jawab kepada mujtahid yang kadangmengalami kesalahan dalam ijtihadnya, bahkan memberinya profit satu pahala. Perbedaan itu juga menjadi rahmat bagi kaum muslimin, hingga masing-masing daerah bisa menerapkan hukum ijtihadi yang lebih mashlahat bagi masyarakat sebagaimana diisyaratkan oleh khalifah Abu Bakar ra dan Imam Malik bin Anas.

Maka ajakan sekelompok orang untuk melepaskan baju bermadzhab dengan madzhab yang empat dari tengah-tengah kehidupan kaum muslimin adalah bid’ah yang mengancam eksistensi syariat Islam itu sendiri. Karena di samping ajakan itu keluar dari koridor sunnah Rasul saw, sunnah para sahabat dan ulama salaf yang memberi rekomendasi atas terjadinya perbedaan pendapat di kalangan mujtahid dan tradisi bermadzhab, ajakan tersebut juga akan berdampak sangat negatif bagi kehidupan keagamaan kaum muslimin yaitu rentan melahirkan mujtahid-mujtahid baru yang tidak memiliki kualifikasi dan kelayakan dalam segi keilmuan. Hal ini dapat melahirkan madzhab-madzhab baru yang tidak terhitung jumlahnya.[]

Admin of greatsunni.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *