Reaksi Pemikiran Islam Terhadap Globalisasi

Home / Pendidikan / Umum / Reaksi Pemikiran Islam Terhadap Globalisasi

Latar Belakang

Isu seputar globalisasi mulai marak sekitar dekade 1990-an, pada masa ini
sering disebut sebagai zaman globalisasi atau the age of globalization. Ramainya
diskursus seputar globalisasi pada dekade ini tidak lepas dari booming ekonomi
yang melanda dunia. Era pasar bebas free trade yang tidak lagi dibatasi oleh sekatsekat
geografi, budaya, dan ideologi politik sebuah negara, seolah sudah menjadi
suatu kepastian yang harus terjadi.
Meskipun berangkat dari persoalan ekonomi, namun globalisasi tidak hanya
didominasi oleh masalah ekonomi saja, tetapi juga berkaitan dengan persoalanpersoalan
lain seperti sosial, budaya, agama, politik, pendidikan, dan lain
sebagainya.

Dalam menyikapi globalisasi yang penuh ‘ketakutan’ atas fenomena yang tidak bisa dihindari, tentu bukan sesuatu yang diharapkan. Globalisasi merupakan keharusan sejarah yang mesti disikapi dengan arif, terlebih bagi umat Islam yang memiliki tatanan ajaran global yang sangat luhur dan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Globalisasi, dalam pemaknaan perubahan, merupakan ketentuan Ilahi (natural law) yang mau tidak mau pasti akan terjadi. Filosof Heiraklitus pernah menyatakan bahwa “semua yang ada di dunia ini akan berubah,
tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.”2
Globalisasi adalah sebuah term yang telah lama mewacana. Hingga kini,
konsep globalisasi masih terus menjadi materi perbincangan di kalangan ilmuwan
dari varian disiplin keilmuan. Ia adalah sebuah entri baru dalam leksikon. Ia
merupakan sebuah istilah teknis yang sering digunakan dalam konferensi dan
perbincangan intelektual masa kini. Kendati demikian, proses globalisasi itu sendiri
telah memosisikan diri sejak permulaan sejarah umat manusia, kendati berjalan
lambat. Satu hal yang menjadikannya terlihat baru hanyalah karena cepatnya
perubahan yang terjadi sebagai imbas dari perkembangan teknologi.
Ironisnya, konsep globalisasi belakangan ini lebih banyak diatributkan pada
isu-isu ekonomi, yang seolah menyiratkan ternafikannya dimensi yang lain. Hal ini
terlihat pada definisi globalisasi yang diungkapkan oleh Princeton N. Lyman, yaitu
“rapid growth of interdependency and connection in the world of trade and
finance”. Padahal, globalisasi itu sendiri bukanlah sekadar dimensi ekonomi,
melainkan sebuah konsep yang bersinggungan dengan segenap sendi kehidupan,
termasuk agama.
Islam sebagai agama menjadi patut mendapat uraian yang utuh terkait
dengan globalisme yang kian tak terbendung. Paling tidak, uraian ini akan
mengelaborasi fenomena keIslaman kekinian di tengah himpitan globalisme.

Sebagai sebuah keniscayaan sejarah, lalu bagaimana pandangan Islam
sebagai agama menghadapi globalisasi? Tulisan ini tidak bermaksud menyejajarkan
antara Islam dan globalisasi sebagai dua terma yang saling bertentangan, tetapi
lebih menitikberatkan pada Islam sebagai agama dakwah global, yang memiliki
pemahaman universal dalam menghadapai globalisasi.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat
ditentukan rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana konsep globalisasi?
Bagaimana reaksi pemikiran Islam terhadap globalisasi?
Berdasarkan rumusan di atas, tujuan penulisan ini adalah untuk: Menelaah
dan mengkaji konsep globalisasi.Menelaah dan mengkaji reaksi pemikiran Islam
terhadap globalisasi.

Konsep Globalisasi

Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai oleh kemajuan
bidang teknologi informasi dan komuniasi. Bidang tersebut merupakan penggerak
globalisasi. Dan kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor lain dalam
kehidupan. Contoh sederhananya adalah internet, parabola TV, orang dibelahan
manapun akan dengan mudah mengakses berita dan belahan dunia yang lain secara
cepat. Hal itu menjadi interaksi antar manusia secara luas, yang akhirnya
mempengaruhi satu sama lain. Globalisasi juga dapat mempengaruhi pemuda
dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut dan
sebagainya.

Globalisasi atau global yang makna harfiahnya adalah universal. Achmad
Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda
atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh
wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi
kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya.
Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau
proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin
terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan
koeksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat.
Globalisasi sendiri dalam percaturan masyarakat dunia telah menjadi terma
yang sangat populer dan sering digunakan untuk menggambarkan situasi dunia
yang sedang berkembang. Hal ini pernah dinyatakan secara gamblang oleh Alvin
dan Heidi Toffler:
“Few words are more loosely thrown about today than the term ‘global’.
Ecology is said to be a ‘global’ problem. The media are said creating a ‘global’
rillage. Companies proudly announce that they are ‘globalizing’. Economists speak
of ‘global’ growth or recession. And the politician, UN official, or media pundit
doesn’t exists who isn’t prepared to lecture us about the ‘global system’ .” 3
Secara prinsip, globalisasi merupakan sebuah proses ‘penyatuan’ dunia,
yang secara perlahan, tetapi pasti mulai menghilangkan sekat-sekat negara dan
bangsa. Proses penyatuan ini melibatkan manusia, informasi, perdagangan, dan
modal. Derasnya arus informasi yang masuk lintas benua telah menghilangkan halangan-halangan yang diakibatkan oleh batas-batas dimensi ruang dan waktu.
Oleh karenanya, suatu peristiwa yang terjadi di belahan bumi akan segera bisa
diketahui di belahan bumi lainnya.
Ada banyak indikasi yang menunjukkan telah berlangsungnya proses
globalisasi pada masyarakat dunia. Di antaranya; (a) setiap harinya bisa kita
saksikan ribuan manusia terbang di seluruh dunia, (b) hadirnya media komunikasi
dan informasi seperti internet, telepon, televisi, dan radio yang tidak mengenal batas
teritorial tertentu, (c) perusahaan-perusahaan multinasional dan kecil mulai
kehilangan identitas kebangsaan dan secara bertahap mulai mengglobal, (d)
semakin populernya bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi masyarakat dunia,
dan (e) terbukanya layanan transaksi keuangan (valuta asing) selama 24 jam di
seluruh dunia. Kecenderungan globalisasi ini telah melanda hampir semua aspek
kehidupan, mulai dari ekonomi, teknologi, kebudayaan, pendidikan, hingga agama.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang
diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan
negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain
adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat
dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil
makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung
berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap
bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang
yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985. Jan Aart
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi: (1) Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya
hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap
mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung
satu sama lain. (2) Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin
diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas
devisa, maupun migrasi. (3) Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai
semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman
di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia. (4) Westernisasi:
Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin
menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal. (5) Hubungan
transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat
definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih
mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global
memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Sementara itu, menurut Atang Abd. Hakim dalam globalisasi terkandung
ciri-ciri.4 Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya
fenomena globalisasi di dunia: a) Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang
antar negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia. b) Perubahan
dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon
genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global
terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. c) Pasar dan
produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung
sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh
perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade
Organization (WTO). d) Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan
media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga
internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan
pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya,
misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan. e) Meningkatnya masalah
bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi
regional dan lain-lain.
Perkembangan teknologi informasi yang merupakan signal utama dari
hadirnya era globalisasi informasi. Kehadiran era globalisasi tersebut yang begitu
gencar ini telah memfasilitasi kita hingga dengan mudah dapat mengakses sumbersumber
informasi guna memenuhi kebutuhan informasi kita. Sebenarnya tidak
hanya kebutuhan informasi saja yang dengan mudah dapat kita penuhi, akan tetapi
kebutuhan-kebutuhan media massa lainnya seperti informal education,
entertainment, personality development sampai pada tataran masyarakat kelas
bawah dan sebagainya juga sangat mudah dapat kita penuhi dengan memanfaatkan
jasa kemajuan teknologi yang serba canggih.

Reaksi Pemikiran Islam terhadap Globalisasi

Era globalisasi sudah tidak dapat dielakkan lagi bahkan dihindari oleh setiap
orang termasuk orang Islam sendiri. Kecuali ia sengaja mengucilkan diri dan
mengungkung serta menjahui berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.
Ketika seseorang masih membaca surat kabar, atau dengan menggunakan lat
lainnya, terlebih lagi dengan menggunakan fasilitas jasa internet, ia tetap akan
terperangkap dalam proses dan model pergaulan globalisasi. Ini membuktikan
bahwa kita tidak bias terlepas dari bias yang namanya globalisasi, baik dalam
kondisi apapun.
Ketika globalisasi merupakan alat, maka globalisasi tersebut sanagt netral.
Artinya ia berarti mengandung hal-hal yang positif, ketika dimanfaatkan untuk
tujuan yang baik. Sebaliknya ia juga dapat berakibat negative, ketika hanyut ke
dalam hal-hal negative.
Globalisasi akan tergantung kepada siapa yang menggunakan dan untuk
keperluan apa serta tujuan ke mana ia dipergunakan, jadi sebagai alat dapat
bermanfaat dan dapat pula menimbulkan mudarat. Terobosan teknologi informasi
dapat pula dijadikan alat untuk dakwah Islam, dalam waktu yang bersamaan dapat
pula menjadi bumerang atau ancaman dakwah.5
Sedangkan ketika globalisasi sebagai ideologi sudah barang tentu
mempunyai arti tersendiri dan netralitasnya sangat berkurang, oleh karena itu tidak
aneh kalau kemudian tidak sedikit yang menolaknya. Sebab tidak sedikit akan terjadi benturan nilai, antara nilai yang dianggap sebagai ideologi globalisasi dan
nilai agama, termasuk agama Islam. Ketika bermakna ideologi itulah globalisasi
atau juga pergaulan hidup global harus ada respon dari agama, termasuk agama
Islam. Baik sebagai alat maupun sebagai ideologi.
Ada sebagian kalangan masyarakat menilai tentang globalisasi merasa naik
gengsinya jika mengikuti gaya hidup global. Untuk kalangan seperti ini globalisasi
merupakan wujud dari sebuah gaya hidup yang berarti mentalitasnya sudah
termasuki oleh gaya hidup global tersebut. Untuk pengertian inilah apa yang kita
ketahui tentang gaya pergaulan globalisasi, demikian pula termasuk gengsinya
tersendiri, dan bukan sekadar rasa, demikian pula termasuk merek dan model
pakaian, mobil dan lain sebagainya.
Namun demikian, globalisasi dipihak lain juga memberi pengaruh hal-hal,
nilai dan praktik yang positif, maka seharusnya menjadi tantangan bagi kehidupan
kita. Untuk itu diharapkan mampu menyerapnya, terutama hal-hal yang tidak
mengalami benturan dan dengan budaya local maupun masyarakat pada umumnya.
Sebaliknya ketika mereka mengetahui nilai-nilai yang positif dan bermanfaat untuk
bangsanya maka akan meniru dan akan mengadopsinya, bukan lantas
menghindarinya. Ini berarti berkaitan dengan banyak aspek, termasuk pendidikan,
politik, praktik hukum, dakwah agama dan masih banyak lagi.
Ada satu pertimbangan yang layak direnungkan. Islam sebagai agama
inklusif tentu tak mungkin menolak suatu budaya hanya semata-mata karena ia
berasal dari luar/produk barat. Islam akan menelaah budaya maupun peradaban tersebut, memilih-milih kandungannya secara seksama dan mengambil elemenelemen
yang bernilai positif dan bermanfaat dalam dinamika kehidupan.
Selanjutnya globalisasi dibidang budaya maupun peradaban Islam, bila hal
ini didefinisikan sebagai upaya mewujudkan suatu budaya masyarakat yang Islami
yang bertujuan membangun kesadaran setiap individu maupun tujuan-tujuan
membangun kebersamaan demi kemanusiaan.6
Oleh karena itu, agama dan globalisasi merupakan suatu kegiatan yang
dapat dilihat secara praktis dan teoritis, artinya agama dapat dikembangkan dari
segi ilmu pengetahuan dan globalisasi merupakan bentuk prakteknya di lapangan.
Keduanya merupakan satu kesatuan yang saling mengisi, sehingga makin baik dari
segi ilmu pengetahuan yang di peroleh dari agama akan makin baik pula praktek
dilapangan (transformasi global) akan bisa kita terima baik secara langsung maupun
tidak dalam kehidupan kita. Pengalaman praktek agama merupakan realitas nyata
yang dapat dipakai pembaharuan wawasan keilmuan suatu agama.
Fakta ini cukup membuktikan, betapa Islam mampu memberikan
perlindungan kepada umat, karena Islam memang bukan untuk menghancurkan
umat atau menghancurkan alam tetapi memberi kehidupan, dengan begitu, Islam
sebagai agama dakwah bisa tersebar hampir ke penjuru wilayah di dunia ini.
Walaupun peradaban Islam memang mengalami jatuh-bangun, berbagai peristiwa
telah menghiasi perjalanannya, akan tetapi Islam tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya untuk umat manusia ini,
pencerahan pun terjadi di segala bidang dan di seluruh dunia.
Sejarawan Barat W. Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia
kemajuan Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku
antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama, dalam kata lain Islam juga bisa
menerima pemikiran sehat (radikal) sebatas demi kemajuan peradaban Islam dan
demi memperkaya hasanah keIslaman. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam
satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki
prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.
Landasan ini akan tetap berlaku sekalipun berhadapan dengan era
globalisasi dan informasi dimana agama juga menerapkan nilai-nilai dasar strategis
yang mendasari kegiatan ajaran agama secara teoritis dan praktis dimasa-masa
mendatang. Maka agama Islam di era globalisasi ini harus berlandaskan pada
prinsip qur’ani dan acuan budaya, artinya mempertahankan yang mapan yang masih
tetap baik dan mengambil nilai-nilai baru yang ternyata lebih baik dan relevan.
Agama sebetulnya tidak mempertentangkan ilmu agama dan ilmu non agama.
Bahkan justru ilmu agama harus mampu menciptakan paham agama/nilai agama
dalam era globalisasi sekarang sebagai motivator dan dinamisator pengembangan
keilmuan, kerja keras sebagai amal shaleh, kribadian yang luhur, mempertahankan
nilai-nilai moralitas dimana agama mampu menciptakan manusia yang berkualitas
sebagai dasar tujuan.
Di dalam menghadapi era globalisasi, Islam mempunyai peran besar dengan
landasan amaliah keimanannya. Islam harus mampu memberi benteng penangkal pengaruh budaya yang kurang baik menurut Islam. Di dalam era ini dimana tidak
ada batas waktu dan wilayah, hendaknya kita menempatkan posisi Islam bukan
sebagai victim atau korban era globalisasi yang merupakan era komunikasi dan
informasi sebagai hasil teknologi dalam proses global. Namun dengan era itu Islam
hendaknya mampu mengisi dan memanfaatkan era ini. Islam yang sifatnya
universal tanpa mengingkari nilai-nilai lokalnya justru menjadi sesuatu yang
menarik untuk diekspresikan melalui media dan alat komunikasi canggih lainnya.
Di era globalisasi, nilai-nilai antar agama dan budaya akan terjadi
pertemuan, pergeseran yang kompetitif. Wajar kalau akan terjadi saling pengaruh
mempengaruhi. Konsekuensinya nilai sebuah agama atau budaya akan bedampak:
Pertama, bertahan dari pengaruhnya, yang berarti mungkin sekali terjadi isolasi.
Kedua, akomodatif, artinya menerima beberapa elemen dari nilai budaya lain
sejauh bisa ditolerir dan tanpa mengubah ajaran dasarnya. Ketiga, peran aktif
artinya mempengaruhi dan akan terwujud keterbukaan. Di era globalisasi disana
ada ruang bahwa Islam mampu berperan aktif jika memang dikerjakan oleh
pemikirnya secara serius dan dengan pendekatan yang tepat (Qur’an dan Hadisnya).
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan dalam sebuah hipotesis pertanyaan
yang menarik “Siapkah Islam (kita) menghadapi era globalisasi yang tidak
terelakkan ini,” Apakah Islam mampu bertahan bergandengan dengan transformasi
global saat ini,” dan apakah dengan era globalisai saat ini wacana keIslaman akan
semakin luntur, dangkal atau justru sebaliknya”.
Dari gambaran tersebut, idealnya kita tidak mengambil posisi sebagai
pendukung atau penentang globalisasi. Tetapi kita harus menyikapi globalisasi secara kritis, karena kami yakin bahwa kaum muslimin memang harus mengambil
sikap kritis dengan menelaah setiap permasalahan yang berkembang dari segala
sisinya, bahkan jangan tergesa-gesa mendukung atau menolak arus global tersebut
yang datang tanpa disertai kesadaran yang utuh. Menurut hemat kami ada beberapa
catatan penting yang harus digaris bawahi dengan tegas: (1) Bahwa Islam sebagai
agama bukan sebatas aliran pemikiran atau fenomena temporer belaka, yang
seharusnya tidak perlu mencemaskan aliran pemikiran baru dari luar, karena agama
mempunya basis sejarah yang kokoh dan kuat yang tidak dimiliki oleh aliran yang
baru bermunculan termasuk era globalalisasi. Selama umat Islam sendiri mampu
memahami agama dengan benar dan menghayati secara utuh tujuan, target, maupun
mutiara yang terkandung di dalamnya. (2) Harus disadari bahwa globalisasi
merupakan suatu kenyataan yang tak mungkin dihidari dan ditolak. Pada mulanya
ia merambah lewat jalur ekonomi, kemudian melebar ke jalur politik dan budaya,
sehingga akhirnya benar-benar menjelma menjadi sebuah fenomena tak terpungkiri
yang muncul dihadapan kita. (3) Kita tak bisa terus berpura-pura tidak tahu bahwa
kita hidup bersama komunitas-komunitas lain di dunia. Saat ini kita telah berada di
era globalisasi komunikasi dan informasi, teknologi serta era yang penuh dengan
keterbukaan yang tak mungkin menyediakan peluang untuk mengisolasi diri kita
sendiri. Jika benar globalisasi bertujuan mengikat dan menghapus sekat-sekat
waktu, tempat, budaya, bahkan sampai religipun yang pada akhirnya dengan
berbagai cara bertujuan pula menegakkan nilai-nilai peradaban tertentu, maka hal
itupun tetap tidak boleh membuat kita kecil hati dan kehilangan keseimbangan.
Tetapi, fenomena globalisasi yang paling penting untuk disorot adalah penyebaran cara pandang seputar hubungan keluarga, kerukunan umat, sosial, terutama yang
berkembang di negara maju yang notabene merupakan pemeran utama globalisasi.
Siapapun tak dapat menjamin bahwa seandainya kita menutup semua pintu dan
jendela rapat-rapat dari gelombang besar globalisasi, kita tetap tak mampu menahan
nilai-nilai global melalui satelit, parabola, siaran televisi, internet dan masih
banyak lagi. Untuk itu kami dapat memastikan bahwa kita berada di tengah-tengah
realitas yang harus dihadapi dengan berpikir kritis-konstruktif bila mau berinteraksi
dengan era globalisasi.
Sekarang ini duni dengan perkembangan muktakhir di bidang teknologi
komunikasi hampir tidak memiliki batas yang jelas satu peristiwa yang sedang
terjadi di eropa atau amerika serikat. Secara langsung kita dapat menyaksikannya
di rumah kita sendiri di Indonesia, sayangnya, seperti yang telah dielaborasikan
dalam pembahasan mengenai sumbangan Islam terhadap peradapan dunia, umat
Islam sekarang ini berada pada posisi yang sangat menghawatirkan, diantara
mereka masih ada yang belum mampu mengoprasikan komputer, internet, dan
beberapa produk teknologi lainnya.
Karena rendah dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi,
umat Islam menjadi kelompok yang terbelakang mereka hampir di identikkan
dengan kebodohan, kemiskinan dan tidak berperadapan sedangkan sisi lain umat
agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi pertanian atas dasar itulah,
terjadi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara
umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis, dan transformatif.7 Penjelasan masing-masing kecenderungan
tersebut dapat diikuti pada bagian berikut.
1. Tradisionalis
Pemikiran tradisionalis percaya bahwa kemunduran umat Islam adalah
ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya tuhan yang maha tau tentang arti dan hikmah
di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Kemunduran dan
keterbelakangan umat Islam di nilai sebagai “ujian” atas keimanan, dan kita tidak
tau malapetaka. Apa yang akan terjadi di balik kemajuan dan pertumbuhan umat
manusia (mansour fakih dalam ulumul Qur’an, 1997: 11) yakni bahwa manusia
harus menerima ketentuan dan rencana Tuhan yang telah dibentuk sebelumnya.
Paham jabariyah yang pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham kemudian
disebarkan oleh Jahm Bin Shafwan dari Khurasan, ini menjelaskan bahwa manusia
tidak memiliki free will untuk menciptakan sejarah mereka sendiri.
Banyak diantara mereka yang dalam faktor kehidupan sehari-hari menjalani
kehidupan yang sangat modern dan mengasosiasikan diri sebagai golongan
modernis, namun ketika kembali kepada persoalan teologi dan kaitannya dengan
usaha manusia, mereka sesungguhnya lebih banyak dikategorikn sebagai golongan
tradisionalis.
2. Modernis
Dalam masyarakat barat, modernisme mengandung arti pikiran, aliran,
gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham dan institusi-institusi lama untuk di sesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, modern (modernis, pelaku) lebih
mengacu pada dorongan untuk melakukan perubahan karena paham-paham dan
institusi-institusi lama di nilai “tidak relavan”.
Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat Islam lebih banyak
disebabkan oleh kesalahan sikap metal, budaya, atau teknologi mereka, pandangan
kaum modernis merujuk pada pemikiran modernis muktazillah yang cenderung
bersifat antroposentris 8 dengan doktrinnya yang sangat terkenal, yaitu ushul alkhamsah.
9 Akar teologi muktazilah dalam bidang af’al al-‘ibad (perubahan
manusia) adalah qadariyah sebagai anti tesis dari jabariyah di antara mereka adalah
Muhammad Abduh di Mesir dan Musthafa Kamal Attatruk di Turki. Oleh karena
itu mereka juga dikenal sebagai golongan purifikasi.
Asumsi dasar hukum modernis adalah bahwa keterbelakangan umat Islam
karena mereka melakukan sakralisasi terhadap semua bidang kehidupan. Oleh
karena itu, mereka cenderung melihat nilai-nilai sikap mental, kreativitas, budaya
dan paham teologi sebagai pokok permasalahan mereka menganjurkan agar kaum
tradisionalis mengubah teologi mereka, dari teologi jabariyah kepada teologi
rasional dan kreatif yang cocok dengan globalisasi dengan menyiapkan sumber
daya manusia yang handal, melalui pendidikan dengan menciptakan sekolah
unggulan.

3. Revivalis –Fundamentalis
Kecenderungan umat Islam ketiga dalam menghadapi glibalisasi adalah
revivalis. Revivalis menjelaskan faktor alam (internal) dan faktor luar (eksternal)
sebagai dasar analisis tentang kemunduran umat Islam. Bagi revivalis, umat Islam
terbelakang karena mereka justru menggunakan idiologi atau “isme” lain sebagai
dasar pijakan dari pada menggunakan al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan
ini berangkat dari asumsi bahwa al-Qur’an pada dasarnya telah menyediakan
petunjuk secara komplit, jelas dan sempurna sebagai dasar bermasyarakat dan
bernegara. Karena itulah, mereka juga disebut kaum fundamentalis; mereka di
pinggirkan oleh kaum developmentalis 10 karena dianggap sebagai ancaman bagi
kapitalisme.11 Dengan demikian, revivalis bagi kalangan developmentalis, indentik
dengan fundamentalis.12
4. Transformatif
Islam transformatif berkomitmen sebagai mahluk zoon politician terhadap
mereka yang tertindas, untuk bersama-sama berusaha mengusahakan pembebasan.
Dengan demikian, memfungsikan agama dalam konteks sekarang dan di masa yang
akan datang, tidak lagi cukup dengan berbicara atau menafsirkan tentang tuhan
(seperti arti “teologi” selama ini “ilmu tentang Tuhan”), tetapi tidak kalah penting ikut terlibat mengubah kondisi material yang telah membawa masyarakat dalam
situasi de Humanisasi itu.13
Pemikiran “Teologi Islam Transformatif” menurut Moeslim Abdurrahman,
hal ini menekankan perhatian kepada soal kemiskinan dan ketidakadilan. Teologi
ini berangkat dari paradigma bahwa arus besar modernisasi dengan ideologi
pembangunannya telah menghasilkan eksploitasi dan marjinalisasi terhadap kaum
miskin dan mustadh’afin.
Dengan demikian teologi transformatif lebih menaruh perhatiannya
tentang persoalan keadilan dari ketimpangan sosial saat ini yang dianggap sebagai
struktur yang menjadikan banyak umat tidak mampu mengekspresikan harkat dan
martabat kemanusiaannya. Hal ini karena semua permasalahan tersebut sekarang
ini diyakini secara sosiologi berpusat pada logika kapitalisme bukan hanya karena
ketidaktaatan kepada Tuhan.
Sebagai contoh, kata Nur Kholis Madjid, hubungan antara agama dan
negara bukanlah hubungan saling menguasai, namun satu sama lain bersifat
dialogis terus menerus. Begitu pula hubungan antara ideologi dan agama. Bahkan
Nur Kholis Madjid dalam soal negara menganggap hal ini bersifat instrumental,
dalam arti hanya alat untuk mewujudkan masyarakat yang etis dan diridhai Tuhan.
Adapun dalam soal ini, Abdurrahman Wahid melihatnya sebagai hubungan yang
komplementer satu sama lain, yang saling membutuhkan. Bagi kalangan teologi Transformatif, semua persoalan peradaban manusia
sekarang ini dianggap berpangkal pada persoalan ketimpangan sosial ekonomi,
karena adanya struktur yang kurang adil. Terdapatnya sejumlah orang yang jauh
dari agama antara lain disebabkan oleh faktor adanya jarak sosial ekonomi yang
cukup berjarak antara mereka yang dhuafa dan pusat-pusat ortodoksi agama. Secara
fisik misalnya, jarak antara masjid dan pasar itu umumnya sangat dekat. Namun
secara sosial ekonomis tidak jarang banyak bakul gendongan enggan berteduh
disitu, bahkan merasa maqomnya tidak patut harus bergaul dengan orang-orang
“saleh” yang berkecukupan hidupnya. Kesalehan seringkali harus diartikan dengan
biaya mahal, karena harus membayar zakat, memakai sorban haji, atau harus pergi
ke sekolah agama yang jauh untuk menjadi seorang alim. Dalam kaitan ini, yang
lebih tragis, jika agama ikut terlibat dalam proses ketimpangan sosial itu.
Struktur yang timpang, bagi kalangan “teologi Transformatif” bahkan
dipandang sebagai bagian dosa barat yang membawa ide modernisasi. Sebab
modernisasi dalam prakteknya sering melakukan eksploitasi, dengan sumbersumber
informasi dan ekonomi hanya dikuasai sekelompok orang elite yang
dengannya mengontrol sejumlah orang yang hidup tanpa kesempatan dan harapan
untuk mengubah masa depannya.14
Dalam pemikiran keagamaan Transformatif diyakini pertama kali bahwa,
”manusia ditentukan lingkungannya”. Itulah sebenarnya, mengusahakan tujuan
transformasi dan egaliterianisme, dilakukan dengan: “mengubah dunia untuk
mengubah manusia, bukan manusia mengubah manusia untuk mengubah dunia. Demikian kita telah mengetahui empat respon umat Islam terhadap globalisasi,
yaitu konservatif – tradisional, modernis, revivalis – fundamentalis, dan
transformatif.

Simpulan

Perkembangan teknologi informasi yang merupakan signal utama dari hadirnya era globalisasi informasi. Kehadiran era globalisasi tersebut yang begitu gencar ini telah memfasilitasi kita hingga dengan mudah dapat mengakses sumber-sumber informasi guna memenuhi kebutuhan informasi kita. Sebenarnya tidak hanya kebutuhan informasi saja yang dengan mudah dapat kita penuhi, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan media massa lainnya seperti informal education, entertainment, personality development sampai pada tataran masyarakat kelas bawah dan sebagainya juga sangat mudah dapat kita penuhi dengan memanfaatkan jasa kemajuan teknologi yang serba canggih.
Di era globalisasi, nilai-nilai antar agama dan budaya akan terjadi pertemuan, pergeseran yang kompetitif. Wajar kalau akan terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Konsekuensinya nilai sebuah agama atau budaya akan bedampak: Pertama, bertahan dari pengaruhnya, yang berati mungkin sekali terjadi isolasi. Kedua, akomodatif, artinya menerima beberapa elemen dari nilai budaya lain sejauh bisa ditolerir dan tanpa mengubah ajaran dasarnya. Ketiga, peran aktif artinya mempengaruhi dan akan terwujud keterbukaan. Di era globalisasi disana ada ruang bahwa Islam mampu berperan aktif jika memang dikerjakan oleh pemikirnya secara serius dan dengan pendekatan yang tepat (Qur’an dan Hadits-nya).

DAFTAR PUSTAKA

Alvin dan Heidi Toffler. War and Anti-War: Survival at Dawn of the 21st
Century. New York: Warner Book, 1993.
Azizy Qodri. Melawan Globalisasi, Reinterpretasi Ajaran Agama.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Fiske, E.B. Desentralisasi Pengajaran, Politik dan Consensus. Jakarta: PT.
Gramedia Widia Sarana Indonesia, 1998.
Hakim, Atang Abd. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2011.
Hamdi Zaqzuq Mahmud. Reposisi Islam Di Era Globalisasi. Yogyakarta:
LKiS, 2004.
Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta: PT. Pembangunan,
1980.
Wayong J. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah, Jakarta: Djambazan, 1979.
Madjid, Nurcholish. Islam, Doktrin, dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.
Nasution, Harun. Islam Rasional. Bandung: Mizan, 1998.
Rahman, Budhy Munawar (ed). Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah.
Jakarta: Yayasan Paramadina, 1994.

Guru PAI SMA YPK, Bontang-Kaltim.

Juara III Nasional Lomba Multi Media Pembelajaran ICT tahun 2008, Juara III Nasional Lomba Kreasi Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis ICT SD, SMP dan SMA/SMK bidang pendidikan tahun 2010, Juara III Nasional Olimpiade Guru Nasional (OGN), bidang pendidikan tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *