Agama Islam: Simbol dan Esensi

Home / Pendidikan / Umum / Agama Islam: Simbol dan Esensi

 

Di dalam agama Islam ada dua hal, pertama: hal yang mengatur syar’i dan yang kedua: hal yang hakiki. Hal yang mengatur syar’i tercermin dengan adanya peribadatan, hubungan, muamalah, ekspresi, cara, waktu, dan lain-lain yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Adapun hal yang hakiki adalah perbuatan-perbuatan baik (yaitu perbuatan baik yang tidak mengorbankan dan merusak yang lain). Secara hakiki ia adalah bagian dari agama, karena Allah memerintahkan berbuat baik. Meskipun ada perdebatan menyangkut identitas pelakunya. Intinya di dalam agama ada hal yang bersifat syar’i dan ada hal yang bersifat hakiki.

 

Secara syariat berbuat baik itu sangat dianjurkan. Namun, kita juga harus memahami bahwa hakikat berbuat baik itu adalah dengan tidak mengorbankan atau membuat kerusakan bagi yang lain. Simbolisasi dari suatu performance adanya suatu hal syari’at adalah bagus, namun lebih bagus lagi jika performance esensi dari hal syari’at tersebut juga dilakukan dengan cara memberikan kebaikan dan manfaat tanpa membuat kerusakan dan kerugian bagi yang lain. Menyuruh orang berbuat baik itu bagus, tetapi lebih bagus lagi jika dilakukan dengan teladan diri dengan tanpa berkata kasar, apalagi sampai berkata-kata keras bak seorang orator demonstrasi yang sedang berorasi di depan panggung penuh dengan semangat tetapi untuk mengajak berbuat kebencian, menghasut dan penuh ujaran mengadu domba, juga tidak menyakiti kepada orang yang kita suruh berbuat baik tersebut dengan tanpa mengolok, mengejek atau menjelekkannya. Janganlah bungkus perbuatan baikmu dengan sikap yang jauh dari hakekat kebaikan itu sendiri.

 

Inilah yang bisa disebut menjalankan hal yang bersifat syari’at agama dengan sekaligus menjalankan hal yang bersifat hakikat. Sebab keduanya harus berjalan seiring, seirama dan seimbang. Bukan kah kita hidup harus bersyariat dengan agama islam dan hakikat kita dalam hidup di dunia ini adalah harus selalu menghambakan diri pada Alloh SWT.

 

Oleh karena itu janganlah kita mengagungkan simbolisasi agama tetapi meninggalkan esensi dari agama itu sendiri. Jangan lah kita bersyari’at tetapi kita ternyata sama sekali tidak mengenal Alloh SWT.. Kita bersyari’at untuk berbuat baik kepada sesama muslim tetapi kita lupa bahwasanya Alloh SWT juga menciptakan makhluk dan manusia yang tidak bersyari’at dengan agama Alloh SWT sehingga kita juga perlu bermuamalah dengannya. Harus lah kita menempatkan syariat sebagai jalan untuk mengenal dan seterusnya jalan untuk senantiasa menghambakan diri kepada Alloh SWT.

 

 

Oleh karena itu, upaya mengenal Alloh SWT adalah hal yang hakiki dalam agama Islam dan harus senantiasa kita usahakan untuk dipelajari, dihayati, dipahami yaitu berkaitan langsung mengenai hal mencari dan mengenal Allah SWT. Dalam hal ini kita perlu merespons dengan tiga pemahaman. Yang paling elementer, merujuk pada ungkapan yang sudah dipahami bersama, jangan memikirkan Allah tapi pikirkanlah ciptaan-Nya. Kedua, jangan mencari Allah dengan konsep materi. Sebab itu adalah hal yang sangat fatal lagi salah dan memang tidak seperti itu adanya. Kita sebagai makhluk dengan fisik/raga lemah tidak akan mampu menghadap ke hadirat Alloh SWT secara langsung. Bahkan, perlu kita ingat bagaimana kejadian Nabi Musa yang pingsan di Jabal Thursina saat Allah mau menampakkan wajah-Nya. Dan gunung di sekitarnya telah meleleh hancur. Padahal belum tampak wajah Alloh SWT, hanya sebagian kecil dari pancaran keilahian Alloh SWT dan ternyata gunung tersebut hancur. Ketiga, anda tidak bisa menemukan Allah SWT. Allah-lah yang datang kepada Anda, dan memang demikian yang terjadi.

 

Selanjutnya, apabila penghambaan diri kita murni kepada Alloh SWT, dan kita oleh Alloh SWT diberikan karunia digolongkan temasuk di antara hamba-hamba-Nya secara istiqomah yang mukhlis, maka selanjutnya Alloh SWT akan menjaga kita dengan memberi karunia makrifatullah. Sebagaima termaktub dalam Al Qur’an “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba (Nabi Khadir AS) di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari Kami.” (QS. Al-Kahfi: 65). Penjelasan ahli tafsir dalam QS. Al-Kahfi ayat 65 ini Nabi Khadir AS telah merealisasikan penghambaan kepada Alloh SWT. Berkahnya, ia diberi rahmat dan makrifat dari sisi-Nya.

 

Berkaitan dengan hal ini, Al Ghazali berkata:

 

“Jalan menuju makrifat, adalah mendahulukan mujahadah, atau menghapus sifat-sifat yang tercela, memutus semua ikatan-ikatan hati dan menghadap dengan hakikat cita-cita kepada Alloh SWT. Apabila hal itu berhasil maka Alloh-lah yang akan menjadi penjaga hati hamba-Nya dan yang menjamin meneranginya dengan cahaya-cahaya ilmu (makrifat). Bila Alloh SWT telah menjaga urusan hati, maka rahmat Alloh SWT akan meluap kepadanya, cahaya akan menerangi hati, hati menjadi lapang, rahasia kerajaan alam malakut menjadi tersingkap kepadanya, tirai kelalaian akan lenyap dari hati dengan percikan rahmat-Nya, dan hakikat-hakikat ilahi akan terang benderang di dalamnya. Seorang hamba hanya berkeharusan menyiapkan diri, dengan membersihkan diri secara murni, menghadirkan cita-cita yang disertai dengan kemauan yang benar, kehausan yang sempurna dan menunggu tanpa henti terhadap rahmat Alloh SWT yang akan dibukakan kepadanya.”

 

 

Banyak yang tidak menggunakan akal untuk mengolah informasi, untuk mencari kebenaran, untuk memahami relasi-relasi, dan untuk menemukan hakikat dari suatu peristiwa. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an sangat banyak ayat-ayat Allah yang menanyakan atau mempertanyakan kepada manusia “afala tatafakkarun, afala ta’qilun, tidakkah kalian berpikir, tidakkah kalian menggunakan akal.”

 

Oleh karena itu perlu adanya perspektif dalam melihat masyarakat atau orang dengan kategorisasi radikal, liberal, moderat, fundamentalis dan lain-lain, karena semua unsur itu adalah bagian-bagian di dalam diri manusia. Manusia bukan bagian-bagian itu, melainkan manusia bisa mengandung semua unsur tersebut.

 

Mari kita kurangi kebiasaan melihat hidup sebagai bentuk paired things. Itu mengakibatkan kita kalau melihat hidup hanya pada hal sempit dalam dua hal berpasangan, yaitu benar-salah, hitam-putih, atas–bawah, kanan-kiri dan lain sebagainya. Dalam hal permasalahan kehidupan misalnya, Ahok salah, maka Anies pasti benar. Melihat Banser membakar kalimat tauhid sebagai pihak yang salah dan golongan yang demo bela kalimat tauhid adalah yang benar atau sebaliknya.

 

Hidup tidak seperti itu, yang salah bisa dimaafkan dan yang benar jangan segan untuk memberi maaf. Ciptakan harmoni kehidupan yang indah, Arahkan perspektif kita pada universal things yaitu berpikir universal tidak terbatas pada simbol tetapi pada sudut pandang yang lebih esensial tentang sesuatu hal. Tentunya perspektif ini nantinya akan menuntun kita untuk selalu memahami bahwa hakikat berbuat itu adalah dengan tidak mengorbankan atau membuat kerugian bagi yang lain, tetapi akan senantiasa memberi kemanfaatan dan keberkahan kepada semuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *