Internet, Pendidikan, Budaya Karakter Bangsa, dan Taksonomi Bloom

Home / Pendidikan / Umum / Internet, Pendidikan, Budaya Karakter Bangsa, dan Taksonomi Bloom

Menurut Kompas. 2014, “Hasil penelitian terbaru mencatat pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mencapai 30 juta. Penelitian juga mencatat ada kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan. Data tersebut merupakan hasil penelitian berjudul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia” yang yang dilakukan lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF, bersama para mitra, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard, AS.

 

Tahun 2018 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) kembali menggelar survei mengenai penetrasi dan perilaku pengguna internet Indonesia. Merujuk survei ini, diketahui jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta. Jumlah tersebut meningkat dari survei serupa yang dilakukan pada 2016. Menurut survei itu, penetrasi pengguna internet di Indonesia adalah 132,7 juta. Sekadar informasi, total populasi penduduk Indonesia saat ini adalah 262 juta.

 

Untuk jumlah pengguna internet berdasarkan usia, didominasi oleh kisaran usia 19 hingga 34 tahun. Survei mencatat ada sekitar 49,52 persen responden, dan disusul oleh usia 35 hingga 54 tahun dengan persentase 29,55 persen. Persentase ini sedikit berbeda jika dibandingkan survei pada 2016. Dalam survei tersebut, pengguna internet di Indonesia lebih didominasi pengguna dalam rentang usia di 35 hingga 44 tahun. Sementara persentase pengguna internet di rentang usia 19 hingga 34 tahun hanya 24,4 persen. Adapun penetrasi pengguna internet di Indonesia lebih banyak berada di rentang usia 13 hingga 18 tahun, dengan persentase 75,50 persen. Rentang usia 19 hingga 34 tahun berada di posisi kedua dengan persentase 74,23 persen.

 

Menurut data lapangan tersebut 75,50 persen remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian mereka. Sebagai pengguna internet aktif, remaja umumnya belum mampu untuk memfilter serta memilah antara aktivitas internet yang bersifat posistif dan negatif. Hal inilah yang menyebabkan remaja cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka.

 

Adanya pengaruh adiktif negatif internet berupa game online, judi online, pornografi yang sudah terbukti nyata berakibat meracuni psikologi, perilaku, sikap remaja dan anak-anak muda, inilah yang menjadi keprihatinan masyarakat akhir – akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini. Sebagian besar masayarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia. Berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini.

 

Di dalam ilmu antropologi dikenal suatu istilah tentang karakter bangsa. Karakter bangsa adalah tata nilai budaya dan keyakinan yang merupakan identitas atau ciri khas dalam suatu tatanan masyarakat dan merupakan pengejawantahan dari suatu kepribadian bangsa itu sendiri sehingga dapat ditanggapi orang luar.

 

Salah satu upaya tersebut guna membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini adalah melalui proses pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita.

Definisi pendidikan menurut para ahli, diantaranya adalah :

  1. Menurut John Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.
  2. Menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
  3. Menurut Frederick J. Mc Donald, pendidkan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. Yang dimaksud dengan behavior adalah setiap tanggapan atau perbuatan seseorang, sesuatu yang dilakukan oleh sesorang.
  4. Menurut M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.

 

Definisi pendidikan menurut kamus dan ensiklopedi adalah:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia : “pendidikan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik;”
  2. Ensiklopedi Wikipedia: Education is a social science that encompasses teaching and learning specific knowledge, beliefs, and skills. The word education is derived from the Latin educare meaning “to raise”, “to bring up”, “to train”, “to rear”, via “educatio/nis”, bringing up, raising.

 

Menurut Undang-Undang adalah:

  1. UU SISDIKNAS No. 2 tahun 1989 : “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”;
  2. UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat

 

 

Maka, pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia.

 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pendidikan di Indonesia saat hingga saat ini sudah menunjukkan adanya pembangunan karakter bangsa?

 

Menurut saya, hingga saat ini pendidikan di Indonesia merupakan pendidikan yang masih berorientasi pada penyampaian teori daripada penerapannya dalam kehidupan. Sehingga tidak ada keseimbangan antara IPTEK dengan akhlak atau perilaku generasi muda.

 

Seiring berjalannya waktu, generasi muda saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Harusnya, ada keseimbangan diantara keduanya maka akan diperoleh generasi muda cerdas dan bermartabat yang siap memajukan bangsa.

 

Taksonomi Bloom dalam bukunya yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives, Handbook 1:Cognitive Domain pada tahun 1956 menggambarkan ada tiga elemen pokok dalam pendidikan yaitu aspek-aspek affective, cognitive, dan psychomotoric.

 

“Taksonomi Bloom”. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956. Sejarahnya bermula ketika pada awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, sebagai kelanjutan kegiatan serupa tahun 1948, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa persentase terbanyak butir soal evaluasi hasil belajar yang banyak disusun di sekolah hanya meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka. Hapalan tersebut sebenarnya merupakan taraf terendah kemampuan berpikir (menalar, “thinking behaviors”). Artinya, masih ada taraf lain yang lebih tinggi. Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl kemudian pada tahun 1956 merumuskan ada tiga golongan domain kemampuan (intelektual, “intellectual behaviors”) yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Beberapa istilah lain yang juga menggambarkan hal yang sama dengan ketiga domain tersebut di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yaitu: cipta, rasa, dan karsa. Selain itu, juga dikenal istilah: penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. penjelaskan ketiga domain tersebut adalah:

 

 

 

 

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif)

Cognitive Domain adalah yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Ranah kognitif meliputi fungsi memproses informasi, pengetahuan dan keahlian mentalitas. Ranah kognitif menggolongkan dan mengurutkan keahlian berpikir yang menggambarkan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir mengekspresikan tahap-tahap kemampuan yang harus siswa kuasai sehingga dapat menunjukkan kemampuan mengolah pikirannya sehingga mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Mengubah teori ke dalam keterampilan terbaiknya sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang baru sebagai produk inovasi pikirannya.

Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).

 

  1. Pengetahuan ( Knowledge ).

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yang berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dan sebagainya.

 

  1. Pemahaman ( Comprehension ).

Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dan sebagainya.

 

  1. Aplikasi ( Application ).

Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yang berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.

 

  1. Analisis ( Analysis ).

Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang ditimbulkan.

 

  1. Sintesis ( Synthesis ).

Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.

 

  1. Evaluasi ( Evaluation )

Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dan sebagainya dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang guru sebagai manajer yang berkualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dan sebagainya.

 

  1. Affective Domain (Ranah Afektif)

Affective Domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri. Pembagian domain ini disusun Bloom bersama dengan David Krathwol.

  1. Penerimaan (Receiving/Attending). Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
  2. Tanggapan (Responding). Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
  3. Penghargaan (Valuing). Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
  4. Pengorganisasian (Organization). Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
  5. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Value Complex). Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.

 

  1. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor).

Psychomotor Domain berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin,dan lain-lain.

Rincian dalam domain ini tidak dibuat oleh Bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain yang dibuat Bloom.

  1. Persepsi (Perception) Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
  2. Kesiapan (Set). Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
  3. Merespon (Guided Response). Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
  4. Mekanisme (Mechanism). Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
  5. Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response). Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
  6. Penyesuaian (Adaptation). Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
  7. Penciptaan (Origination). Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

 

 

 

Berdasarkan uraian di atas Internet, Pendidikan, Budaya Karakter Bangsa, dan Taksonomi Bloom merupakan empat hal yang bisa menjadi suatu solusi untuk bersinergi membangun bangsa, yaitu mendidik budaya dan karakter bangsa dengan perspektif taksonomi bloom yaitu pendidikan hati (afektif), otak (kognitif) dan fisik (psikomotor) berlandaskan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik.

 

Tentunya tetap memperhatikan unsur utama dalam pendidikan yaitu guru/pengajar/dosen. Mereka merupakan fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing peserta didik hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan lingkungan sekitar.

 

Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat.

 

Pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.

 

Bung Karno mengemukakan bahwa karakter bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.

 

Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri berlandaskan nilai pancasila dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat dengan memanfaatkan potensi teknologi dan informasi berdasarkan tata konsep taksonomi bloom.

 

Tentunya, juga dapat dilakukan penerapan metode-metode yang dapat menarik perhatian orang lain dan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif.

 

Bahasa maupun kebudayaan suatu daerah bisa dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, namun dengan disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya.

 

Namun, perlu diingat bahwa setiap penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan bangsa Indonesia. Mari pemuda Bangsa Indonesia, wujudkan generasi milenial ini bukan sebagai generasi gadget melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

Aditya Panji.,2014.Internet-Remaja-Indonesia”,https://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/1623250/Hasil.Survei.Pemakaian.Internet.Remaja.Indonesia.

Alwi, Hasan. Sugono, Dendy. Sukesi Adiwimarta, Sri. Lapoliwa, Hans. dkk. Edisi  III 2005 “Kamus Besar Bahasa Indonesia” Jakarta: Balai Pustaka.

http://oregonstate.edu/instruct/coursedev/models/id/taxonomy/#table

http://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_Taxonomy

http://www.google.co.id/search?q=intitle%3Ataksonomi+penddikan&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

Permatasari, Tessa Andini. 2018.http://www.tribunnews.com/tribunners/2018/05/27/membangun-karakter-bangsa-di-era-milenial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *