Cinta Tanah Air dalam Tinjauan Ulama

Home / Pendidikan / Umum / Cinta Tanah Air dalam Tinjauan Ulama

Apakah cinta tanah air sebenarnya ada dalam Islam? Pertanyaan inilah yang sering muncul ketika Islam dibenturkan dengan konsep negara. Padahal, para mayoritas ulama banyak yang menyinggung tentang cinta tanah air. Di bawah ini adalah beberapa pembahasan cinta tanah air menurut para ahli di bidangnya masing-masing.

Cinta Tanah Air di Dalam Al Quran dan Menurut Ahli Tafsir

Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan bahwa cinta tanah air adalah dorongan fitrah yang sangat kuat di dalam jiwa manusia. Ia mengatakan itu ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu.” (QS An-Nisaa:66), Imam al-Razi berkata: Allah menjadikan meninggalkan kampung halaman setingkat dengan bunuh diri.

Seolah-olah Allah berfirman: Seandainya Aku perintahkan kepada mereka salah satu dari dua kesulitan terbesar di alam semesta maka mereka pasti tidak akan melaksanakannya. Dua kesulitan terbesar itu adalah bunuh diri dan meninggalkan tanah air.” Allah menjadikan kesulitan untuk melakukan bunuh diri sama persis dengan kesulitan meninggalkan tanah air.

Meninggalkan tanah air bagi orang-orang yang berakal adalah perkara yang sangat sulit sekali, sama seperti sakitnya bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai tanah air merupakan perkara yang sangat dalam maknanya pada diri manusia.

Cinta Tanah Air Dalam Perspektif Hadits dan Ahli Hadits

Diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Hibban, dan Tirmidzi, dari hadits Anas ra bahwa Nabi SAW ketika kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding kota Madinah, beliau mempercepat laju untanya. Dan jika beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya – untuk mempercepat – karena kecintaan beliau kepada Madinah.

Hadits ini menceritakan tentang perbuatan Rasulullah SAW yang berkenaan dengan kecintaan dan kerinduan hati kepada kampung halaman. Sehingga, beliau mempercepat untanya ke Madinah ketika pulang dari bepergian untuk melihat kondisi Madinah, dilandasi kecintaan beliau kepada Madinah.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “Hadits ini menunjukkan akan keutamaan Madinah serta disyariatkannya cinta tanah air.”

Imam Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala mengatakan: “Nabi SAW mencintai Aisyah dan ayahnya (Abu Bakar), mencintai Usamah dan kedua cucu beliau (Hasan dan Husein), mencintai manisan dan madu, mencintai gunung Uhud dan tanah air beliau, mencintai kaum Anshar, dan hal-hal lainnya yang jumlahnya tidak terhitung, yang dibutuhkan oleh seorang mukmin.”

Bahkan para ulama menjadikan cinta tanah air sebagai sebab (illah) beratnya perjalanan atau bepergian dari tanah air, dalam kategori mutlak. Para ahli hadits berpendapat seperti ini ketika menafsirkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Thabrani dari hadits Uqbah bin Amir al-Juhani ketika Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga orang yang doanya pasti dikabulkan, doa orang tua kepada anaknya, musafir (orang yang bepergian), dan orang yang teraniaya terhadap orang yang menganiayanya.”

Para ahli hadits memberikan alasan sebab dikabulkannya doa seorang musafir, yaitu penderitaannya yang meliputi kekurangan bekal, kebutuhan, dan kesedihan karena meninggalkan tanah air dan keluarganya.

Cinta Tanah Air Menurut Ulama Fiqih

Para ulama Fiqih menyatakan bahwa hikmah haji dan pahalanya yang besar dikarenakan ibadah ini dapat mendidik jiwa seseorang menjadi lebih baik dengan meninggalkan tanah air dan keluar dari kebiasaannya. Imam al-Qarafi dalam kitabnya Al-Dakhirah berkata: Manfaat haji adalah mendidik diri dengan meninggalkan tanah air.

Cinta Tanah Air Menurut Para Wali

Orang-orang soleh senantiasa mencintai tanah air. Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah Al-Auliya meriwayatkan dengan sanadnya kepada pimpinan kaum zuhud dan ahli ibadah Ibrahim bin Adham, ia berkata: “Saya tidak pernah merasakan penderitaan yang lebih berat daripada meninggalkan tanah air.”

Cinta Tanah Air Menurut Ahli Hikmah

Al-Ashma’I berkata:”Hindun berkata: Ada tiga hal di dalam tiga jenis makhluk: Unta senantiasa merindukan kandangnya meskipun ia berada di tempat yang jauh, burung merindukan sarangnya meskipun tempatnya kering tidak subur, dan manusia senantiasa merindukan tanah airnya meskipun tempat lain lebih memberikan manfaat baginya.”

Al-Dinawari dalam kitab al-Mujaalasah meriwayatkan dari jalur Al-Ashma’i, ia berkata: “Aku mendengar seorang badui berkata: Jika kamu ingin mengetahui jati diri seseorang maka lihatlah kadar kecintaannya kepada tanah airnya, kerinduannya kepada sahabat-sahabatnya, dan tangisannya atas masa lalunya.”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *