Meninjau Ulang Hasil Ijtima’ Jilid II

Home / Pendidikan / Umum / Meninjau Ulang Hasil Ijtima’ Jilid II

Euforia Natal yang seharusnya dinikmati dengan khidmat oleh kaum kristiani, kini ramai menjadi pembahasan. Sebenarnya masalah ini sudah selesai, karena fakta sejarah mengatakan hal ihwal masalah mengucapkan “Selamat natal” terjadi beberapa perbedaan. Ada yang mengatakan haram walaupun sekedar mengucapkan, ada juga yang mengatakan selama hal ini tidak diyakini dan mengganggu aqidah (hanya sebatas pengucapan selamat yang sifatnya umum) maka diperbolehkan mengucapkan selamat natal. Fix, masalah tersebut masuk dalam masalah khilafiyah.

Kemudian masalah berkembang dan ditarik masuk ke dalam atmosfir politik praktis. Kita pahami bersama, kandidat capres dan cawapres 2019 hanya ada dua. Antara kubu petahana dan kubu oposisi. Sebenarnya tak etis menyeret urusan masalah teologi ke dalam politik praktis. Namun, karena santernya kampanye yang didengungkan oleh kubu oposan kental dengan mengatas-namakan agama, lantas hal ini disambut dengan tangan terbuka oleh pihak petahana. Terbukti sekarang yang menjadi cawapres dari pihak petahana adalah ulama, tak tanggung-tanggung. Bahkan Mbah nya Ulama. Disamping sebagai ketua MUI, kita pahami bahwa KH. Ma’ruf Amin juga sempat menjadi Rais Am, kepengurus tertinggi Nahdlatul Ulama.

Santernya isu agama yang dibawa oleh pihak oposisi hanya berhenti dan stagnan pada tataran teori-teori. Paling tidak ada dua hal faktual yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur. Pertama, rekomendasi kumpulan Ulama yang tergabung dalam PA 212 yang mengingkan pencalonan Cawapres sebagai pasangan nomor urut 02 diambil dari orang yang paham agama. Sebagaimana kita ketahui bersama, ada beberapa nama yang direkomendasikan. Antara lain Ustadz Abdus Somad, Aa Gym, Ustadz Arifin Ilham, dan beberapa tokoh agama lainnya. Tetapi apa yang terjadi ? Pihak oposisi, atau mungkin lebih cenderung dalam putusan internal partai (dalam hal ini yang paling berpengaruh kuat adalah Gerinda) justru tidak mengambil atau melirik rekomdendasi ijtima ulama PA 212.

Seharusnya, putusan yang bertepuk sebelah tangan ini mendapatkan somasi dari PA 212, karena rekomendasinya tak sama sekali di-Indah-kan. Mungkin karena tidak mau tujuan awal untuk mengusung capres nomor urut 02 suaranya berkurang, PA 212 tidak kekurangan siasat. Akhirnya diadakan lagi ijtima Ulama jilid 2. Terlihat sangat memaksakan kehendak sih, tapi ingat. Fleksibilitas dalam berpolitik praktis sangat-sangat dibutuhkan. Dari ijtima ulama jilid 2 versi PA 212 inilah kemudian mengeluarkan konsensusnya bahwa ulama PA 212 akan tetap mendukung paslon nomor urut 02. Jadi percuma dong ijtima jilid I ? Sebenarnya walapaun ijtima ulama diadakan ratusan bahkan ribuan kali. Kalau keputusan hasil ijtima tidak disambut oleh panglima oposan (bapak Prabowo Subianto) akan percuma. Untuk menyelamatkan suara di akar rumput, maka mau tidak mau harus tetap meng-iya-kan apa yang diinginkan internal partai pendukung.

Baru-baru ini juga ramai diperbincangkan masalah natal. Kita pahami, hal ini adalah masalah klasik dan bersifat tahunan. Setiap menjelang tanggal 25 desember, maka akan ramai himbauan “Haram mengucap natal bagi kaum muslim”, tetapi ternyata tahun ini sedikit berbeda. Muslim fundamental yang dari dulu getol menyuarakan hal tersebut. Kini suaranya sedikit meredup. Mereka terlihat lebih toleran ? Jika memang benar seperi itu, syukurlah. Atau karena Capres yang didukung ketahuan basah ternyata juga mengucapkan “Selamat Natal” ?

Jika hanya sekedar mengucapkan selamat natal mungkin masih bisa ditolelir, karena disamping Bapak Prabowo juga sebagai sosok yang ditokohkan di Indonesia, keluarga beliau juga banyak yang beragama nasrani. Jadi sah dan tak menjadi masalah, apa lagi mengucapkan “Selamat Natal” lagi-lagi masuk dalam ranah khilafiyah.

Lantas bagaimana jika tak hanya sekedar mengucapkan. Tetapi juga turut serta euforia dalam merayakan natal ? Cuplikan video yang berdurasi tidak lebih dari dua menit yang tersebar di media sosial. Terlihat betapa enjoynya capres no urut 02 sedang lenggang kangkung menari poco-poco dalam sebuah acara yang disinyalir itu adalah perayaan natal. Jika sosok yang ada pada video tersebut adalah benar Bapak Prabowo Subianto, maka hal ini perlu dipertanyakan. Bukan mempertanyakan masalah ke-Islaman beliau. Karena ini masalah hati, tidak ada satupun makhluk yang mengetahuinya. Tetapi ini tentang hasil produk ijtima ulama jilid II. Lucu jika sampai keluar statemen begini “Capres yang didukung Hasil Ijtima Ulama ikut memeriahkan perayaan natal”.

Jika dikembalikan ke personal pribadi, maka hal ini sangat wajar dan lumrah. Karena Bapak Prabowo sendiri besar dilingkungan kristiani, ibunda dan adik beliau juga umat kristiani. Beliau juga pernah bersekolah di sekolah dengan basic kristen. Yang perlu disoal adalah “Hasil Ijtima Ulama”. Ini bukan masalah remeh. Karena yang merekomendasikan mengatas-namakan Ulama. Bukankah ini akan memcoreng nama Ulama? Adakah rencana meninjau ulang rekomendasi ijtima ulama yang diberikan kepada paslon nomor urut 02 ?

Seharusnya memang harus ada. Agar umat yang awam tak menjadi bimbang. Masalah aqidah tidak bisa dibandrol sebegitu murahnya hanya karena syahwat politik praktis. Apa lagi hal ini mengatasnamakan Ijtima Ulama, jika dulu saja rekomendasi ijtima ulama jilid satu bisa dianulir hanya karena berbeda putusan. Seharusnya hasil rekomendasi Ijtima Ulama jilid dua ini juga harus ditinjau ulang. Bukan karena masalah politik praktis, karena hal ini sudah menyangkut masalah aqidah. Sebagaimana yang dulu kental diperjuangkan oleh pihak muslim fundamentalis. Apakah hanya lantaran mereka mayoritas pendukung capres nomor urut 02 lantas melegalkan atau apatis tentang masalah ini ?

Sedikit demi sedikit kita akan melihat bagaimana Tuhan memperlihatkan hal yang benar-benar baik atau hanya berpura-pura menjadi baik.

Selamat menikmati Sandiwara Politik di bumi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *