Berlebihan dalam Beribadah?

Home / Fiqh / Berlebihan dalam Beribadah?

Semua manusia dan jin memang diciptakan oleh Allah untuk beribadah.

Namun Allah ﷻ  dan Baginda Nabi Agung Muhammad ﷺ tidak menyuruh orang-orang untuk beribadah melebihi kemampuan masing-masing, agar tidak memberatkan.

طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Artinya: “Thâhâ. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepada-Mu (Muhammad) supaya engkau menjadi susah.” (QS Thâhâ: 1-2).

Ayat lain menyebutkan:

يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: “Allah menghendaki kalian kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kalian kesulitan.” (QS Al-Baqarah: 185)

Dalam hal menjalankan ibadah, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh umatnya untuk melakukan perintah agama semampunya.

Berbeda jika berupa larangan, kita harus meninggalkan larangan secara total.

Shalat wajib kita lakukan, tapi pada batas semampunya. Mampu berdiri, dengan berdiri; mampu duduk, dengan duduk; dan seterusnya. Orang puasa hanya bagi yang mampu. Orang yang sakit, kalau sampai tidak mampu, tidak wajib berpuasa.  Begitu pula zakat dan haji dan lain sebagainya. Semuanya berdasarkan kemampuan.

Kisah 3 Orang Sahabat

Satu ketika, ada tiga kelompok orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi. Mereka menanyakan bagaimana ihwal ibadah yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Saat mereka dikasih tahu, seolah-olah mereka menganggap bahwa yang dilakukan Rasulullah itu sedikit.

“Terus di antara kita ini, mana coba yang termasuk seperti Nabi? Padahal Nabi adalah orang yang diampuni segala kesalahannya baik masa silam maupun yang akan datang,” tanya salah seorang di antara mereka kepada komunitasnya.

Ada yang menjawab, “Aku shalat sepanjang malam penuh.”

“Aku puasa sepanjang tahun, tidak pernah bolong,” jawab yang lain.

Yang satunya lagi mengatakan, “Kalau aku menghindari wanita. Aku tidak pernah menikah selamanya.”

}mereka mengutarakan usahanya untuk bisa mirip dengan Rasulullah, Nabi kemudian datang seraya menanyakan, “Hai, apakah kalian tadi yang mengatakan demikian, kamu menyebutkan begini, begini? Perlu aku jelaskan, aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku,” tandas Rasulullah ﷺ. (HR Bukhari Muslim)

Shalat dan Khutbah Rasul

Sahabat Abdullah bin Jabir mengakui lewat ceritanya yang terekam pada sebuah hadits sebagai berikut:

كُنْتُ أصَلِّي مَعَ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – الصَّلَوَاتِ، فَكَانتْ صَلاتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا

Artinya: “Saya shalat bersama Nabi ﷺ berkali-kali. Shalat beliau sedang, khutbahnya juga sedang (tidak terlalu cepat dan tidak terlampau lama).” (HR Muslim: 866)

Tali di Masjid

Satu ketika Nabi Muhammad ﷺ masuk ke dalam masjid. Di sana, Rasul melihat ada tali yang membentang antara dua tiang masjid.

“Tali apa ini?” tanya Rasul

“Oh, itu tali milik ibu Zaenab, Ya Rasul. Saat letih, beliau berpegangan pada seutas tali itu,” jawab sahabat.

Rasul kemudian berpesan, “Lepaskan tali itu. Shalatlah kalian saat bugar. Ketika capek, tidurlah.” (MuttafaqAlaih)

Munaffir, Siapa itu?

Munaffir: orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah

Kesalahan yang timbul disebabkan semangat pribadi dikaitkan dengan agama Allah, sehingga sebuah ibadah terasa berat untuk dijalankan oleh manusia. Kemudian ia menuduh mereka munafik dengan tidak melihat kondisi mereka.

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Abu Mas’ud, ia berkata,”Seorang lelaki berkata: “Wahai Rasululllah, saya ingin datang agak telat saat jamaah shalat Subuh karena imam si fulan memanjangkan bacaannya.” Rasulullah SAW pun marah.

Aku (Abu Mas’ud) tidak pernah melihat beliau marah melebihi marahnya saat itu. Kemudian beliau bersabda: wahai manusia sekalian, sesungguhnya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan orang lain dari agama Allah. Barangsiapa menjadi imam sholat maka hendaklah memperpendek bacaannya, karena dalam deretan makmum ada orang lemah, lanjut usia, dan memiliki keperluan.”[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *