Kenabian Menurut Syiah Imamiyah

Home / Tauhid / Kenabian Menurut Syiah Imamiyah
  1. Kelompok Mu’tazilah dan Syiah menegaskan pentingnya pengutusan rasul dan mereka berkata bahwa pengutusan rasul merupakan hal yang wajib bagi Allah SWT.

Bantahan:

  1. Perkataan ini bertentangan dengan sifat ketuhanan yaitu Yang Maha Mencipta, Yang Maha Mengatur segala sesuatu. Tidak cocok pula ketika Allah sebagai al-Hakim, Yang Maha Memutuskan segala perkara, yang mewajibkan sesuatu kepada hamba-Nya, untuk ditaati dan dipatuhi, dan tidak layak bagi hamba-Nya untuk mewajibkan Allah untuk berbuat sesuatu, meskipun kewajiban mengutus rasul.
  2. Perkataan ini dirasa menyematkan sifat kekurangan kepada Allah SWT, padahal Allah bersifat dengan segala kesempurnaan dan terbebas dari segala kekurangan.
  3. Sesungguhnya pengutusan rasul adalah nikmat dari Allah kepada hamba-Nya, maka Ia berhak memilih siapapun di antara hamba-Nya untuk membawa beban kerasulan dan Ia memerintahkannya untuk menyampaikan wahyu kepada manusia.
  4. Jika pengutusan rasul itu kewajiban Allah, maka bertentangan dengan ayat di dalam al-Quran, yaitu: ”Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.” (QS Ali Imran: 164). Juga ayat berikut: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka.” (QS al-Baqarah: 129)Ayat tersebut berkenaan dengan doa Nabi Ibrahim as ketika meminta kepada Allah SWT untuk mengutus nabi di antara keturunan beliau. Kalau memang pengutusan nabi adalah kewajiban bagi Allah, maka untuk apa nabi Ibrahim as berdoa, karena jika doa sudah pasti terjadi, maka doa tersebut adalah kesia-siaan belaka, dan para nabi (termasuk nabi Ibrahim as) jauh dari kesia-siaan.
  5. Syiah berpendapat bolehnya taqiyah bagi rasul. Bahkan mereka berkata hal tersebut wajib bagi para rasul jika para rasul takut terhadap segala sesuatu yang mengancam dakwah mereka.

Bantahan: Hal ini adalah tikaman terhadap maksumnya para rasul. Sesungguhnya Allah menjaga mereka secara lahir dan batin dari meninggalkan segala perintah-Nya dan dari berpura-pura melakukan larangan-Nya.  Tidaklah sempurna pengutusan mereka kecuali mereka memiliki sifat shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.

  1. Syiah berkata bahwa Amir (Ali bin Abi Thalib) mengikuti Nabi ketika Mi’raj.

Bantahan: Hal ini bertentangan dengan yang diyakini oleh kaum muslimin. Dalam al-Quran, semua ayat menunjukkan bahwa ketika peristiwa Mi’raj, Rasulullah saw sendirian tanpa bersama orang lain, dikatakan: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.” (QS al-Isra’:1). Semua mufassir sepakat bahwa makna “hamba-Nya” adalah Nabi Muhammad saw.

  1. Syiah Imamiyah berkata bahwa Ali bin Abi Thalib (disebut Amir) diberi wahyu, dan beda antara wahyu Rasulullah dan wahyu Amir, bahwa Rasulullah melihat pewahyuan, sedangkan Amir hanya mendengar suara saja.

Bantahan: Perbedaan mendasar antara rasul dan manusia biasa lainnya adalah wahyu. Tidak ada wahyu kecuali turun kepada para rasul. Allah berfirman: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.” (QS al-Kahfi: 110) Maka rasul seperti manusia kecuali perbedaannya adalah bahwa rasul diberi wahyu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *