Etika Pedagang (Sanksi Sosial itu Kejam)

Home / Pendidikan / Umum / Etika Pedagang (Sanksi Sosial itu Kejam)

Pembeli adalah raja. Begitulah kira-kira ungkapan yang kerap didengungkan oleh para pembeli ketika ia tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari penjual. Sebagai pelaku dagang, memang seharusnya atau sebisa mungkin memberikan pelayanan terbaik kepada para pembeli. Dari hal-hal yang remeh, ini akan memberikan perspektif tersendiri kepada para pembeli. Misal, ucapan selamat datang, penyambutan di pintu toko, atau sekedar memberikan permen saat pelanggan menunggu antre. Atau cukup memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan, “Ada yang bisa kami bantu?” Hal ini akan menambah kesan positif kepada pelanggan.

Naasnya, ada beberapa pedagang yang kurang profesional dalam menjalankan profesinya. Sudah tahu isu tentang Buka-lapak yang baru-baru ini menjadi tranding topic? Hanya gara-gara emosi pribadinya yang menyangkut masalah pilpres, salah satu pelaku ekonomi kreatif ini dihujam kritik oleh netizen yang berbeda pemikiran dengan dia. Sanksinya mungkin tidak sampai berbuntut mengantarkannya ke meja hijau, namun ada sanksi yang lebih kejam dari itu. Yaitu sanksi sosial. Ia akan banyak ditinggalkan oleh pelanggan-pelanggan pengguna jasa Buka-lapak yang sekarang sedang dalam posisi berseberangan. Ini dibuktikan mulai munculnya tagar gerakan #UnInstallBukaLapak. Jika sudah un-install aplikasi di gadget anda. Adakah kemungkinan anda akan re-instal (instal ulang) aplikasi tersebut, lebih-lebih aplikasi yang anda buang bukanlah aplikasi penyedia jasa satu-satunya ? Non-Sense.. !!

Jika sudah demikian apa yang bisa diperbuat ? Mau klarifikasi ? Langkah klarifikasi mungkin tetap harus dilakukan. Walaupun bisa dibilang ini sia-sia, kenapa sia-sia ? Customer juga sudah mengetahui di pihak mana ia berafiliasi. Walaupun bisa dibilang mungkin ini sedikit egois, dengan spekulasi-spekulasi pribadi netizen. Tetapi itulah kenyataannya, netizen selalu menang dalam hal-hal seperti ini. Ditambah lagi pelaku pasar kreatif bukan hanya brand Buka-Lapak saja. Ada Lazada, Tokopedia, bli-bli, Shopee, dan lain sebagainya. Customer berhak memilih untuk memanfaatkan media mana yang akan dijadikan partner dan mana yang lebih memberikan peyanan ekstra kepada pelanggan.

Profesional adalah kunci agar kita sukses dalam berdagang. Jangan sekali-kali menyangkut-pautkan tentang masalah yang akhir-akhir ini mudah membuat orang lain sensi. Karena anda adalah pengusaha. Kalau bisa, anda harus merebut hati siapa saja. Jangan terpagari dengan jargon “Kampret VS Cebong”, karena tujuan anda adalah barang dagangan atau jasa yang anda tawarkan diminati oleh banyak kalangan. Tidak usah ikut ‘bodoh’ dengan statement yang menyerang ataupun menyudutkan salah satu paslon. Cukup berikan pelayanan terbaik untuk customer. Karena itulah tugas seorang pedagang.

Perhatikan dengan seksama, jika posisi ini ada pada anda. Anda adalah seorang customer yang memanfaatkan jasa Facebook, IG, atau aplikasi dumay lainnya. Anda ingin membeli barang yang dijajakkan disana. Setelah anda melihat beranda atau profil pedagang. Ternyata akun pedang tersebut tidak benar-benar bersih dari masalah yang kontroversi (bisa jadi dia suka, orang lain tidak suka, begitu pula sebaliknya). 95 % anda sebagai costumer, akan memilih meninggalkan lapaknya untuk mencari lapak baru yang suci dari unsur-unsur kontroversi, termasuk masalah pilpres.

Jangan terpaku dengan idealisme semu. Jika dagangan anda tak laku, anda-lah yang menerima konsekuensinya. Jadilah pedagang yang profesional. Mengedepankan pelayanan, peningkatan mutu, dan mampu bersaing dengan bijak. Pembeli adalah raja, walaupun mereka bukan raja dengan mahkota, tapi mereka adalah raja yang menentukan mau belanja dimana. Ditempat anda, atau ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *