REVIEW: THESIS ISLAM AND JAVANESE ACCULTURATION TEXTUAL AND CONTEXTUAL ANALYSIS OF THE SLAMETAN RITUAL

Home / Sejarah / REVIEW: THESIS ISLAM AND JAVANESE ACCULTURATION TEXTUAL AND CONTEXTUAL ANALYSIS OF THE SLAMETAN RITUAL

REVIEW

  1. Judul dan pegarang

 

Judul : Islam and Javanese Acculturation, Textual and Contextual Analysis of the Slametan Ritual

 

Terjemahan : Akulturasi Islam dan Jawa, Analisis Teks dan Kontekstual Ritual Slametan

 

Pengarang/Penulis : Masdar Hilmy

 

Penerbit : Institut of Islamic Studies McGill University Montreal Canada 1999

 

 

  1. Latar Belakang

Javanese Islam has the reputation in some quarters of being an inferior variety of Islam, mainly because it differs from what people May consider ta be “genuine Islam,” or the so-called “Middle Eastern Islam.[1]

 

Islam Jawa memiliki catatan di beberapa tempat yang menjadikan nuansa Islam yang berbeda, apalagi terdapatnya kelompok “Islam murni” atau yang biasa disebut “Islam Timur Tengah.” Namun demikian, komunitas Muslim Jawa sebagian besar terdiri dari Muslim nominal (abangan) yang hanya sedikit pengetahuan formal tentang agama. Oleh karena itu, Islam Jawa dianggap unik bahkan dianggap sebagai “pendatang baru” karena telah menggabungkan Islam dengan Hindu pra-Islam, Budha, animisme yang mengakomodasi terhadap “tradisi lokal”. Fakta menunjukkan bahwa Islam Jawa dapat dikategorikan sebagai agama sinkretistik, yaitu orang Jawa yang mencoba memahami perkembangan Islam di Jawa, di mana proses akulturasi antara Islam dan tradisi lokal Jawa sudah begitu kuat salah satu contohnya adalah slametan.

Slametan merupakan contoh klasik pernikahan budaya unsur-unsur Islam dan budaya lokal. Meskipun secara teologi masih diperdebatkan, slametan tetap merupakan arbitrase (jual-beli) antara religius – budaya yang mengakomodasi nilai-nilai dasar Islam kepada budaya lokal. Pelaksanaan seremoni slametan merupakan tanda bagian terpenting dalam kehidupan. Hal ini pula yang menjadikan faktor pemersatu bagi masyarakat Jawa dalam berteologi kepada Yang Maha Pemurah. Hal ini juga nampak adanya pembagian kastanisasi masyarakat jawa yang terbagi kepada: muslim saleh (santri), muslim nominal (abangan). Secara ringkas bahwa di Jawa terdapat muslim tradisionalis dan muslim modernis.

In a narrower sense, the slametan May be defined as a Javanese Muslim ritual conducted in arder ta gain certain blessings !rom Gad; in such areas as persona! safety, well-being, prosperity, and others.s In some parts of Java, the slametan is aIso called kenduri or kenduren (J.) due ta its close association with the ritual meal tradition known throughout the Muslim world (Indo-Persian, Acehnese. and Urdu kanduri, Malay kenduri). [2]

 

Dalam arti sempit, slametan itu bisa didefinisikan sebagai seorang muslim jawa yang melakukan ritual untuk mendapatkan berkah tertentu dari Tuhan, seperti: keselamatan, kesejahteraan, kemakmuran, dan lain-lain. Di beberapa bagian di Jawa, slametan ini disebut kenduri atau kenduren. Karena hubungannya erat dengan ritual dan tradisi makan yang sudah dikenal di seluruh dunia Muslim (Indo-Persia, orang-orang Aceh dan Urdu menyebutnya dengan kanduri, sementara orang Melayu menyebut dengan kenduri). Pola ritual ini biasanya terjadi (terbatas pada individu maupun keluarga), komunal (desa atau perayaan massal). Sebagian besar ilmuwan mencirikan slametan sebagai ritual sinkretistik dalam artian berbagai elemen bisa saja terjadi, apakah itu Muslim, Hindu-Budha, atau tradisi lokal lainnya.

Perkembangan slametan sebagai rituaI ‘unik’ yang terdiri dari berbagai elemen mungkin bisa dipahami sebagai fungsi sejarah Islam di Jawa dan proses akulturasi Muslim. Seiring dengan proses yang sedang berjalan di tingkat makro, akulturasi yang sama terjadi pada tingkat mikro yang merupakan evolusi slametan. Awalnya slametan merupakan ritual Jawa kuno, yang kemudian diadaptasi oleh Sunan Kalijaga, sebagai salah satu walisongo yang paling terkenal di Jawa. Bahkan dalam penemuan yang terakhir, praktik itu diakui oleh pemerintah Demak, sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Saat itu juga slametan telah menjadi bagian terpenting sebagai ketaatan Islam di Jawa.

Untuk mendapatkan gambaran slametan yang komprehensif, seseorang harus menggunakan sebuah pendekatan yang menggabungkan perspektif tekstual dan kontekstual.

Teristimewa lagi kombinasi dari kedua pendekatan di atas sama-sama penting, mengingat bahwa fakta dari Geertz dan Woodward, para ilmuwan terkemuka yang melakukan penelitian di Indonesia, berkesesuaian dalam membahas isu tentang slametan. Geertz dan Woodward yang menjadi wakil dalam masalah ini. Geertz, mendasarkan dirinya pada penelitian lapangan sosio-antropologi yang dilakukan pada tahun 1950an, yaitu sesuai dengan dugaannya bahwa orang Jawa Muslim, slametan adalah jenis ritual animisme. Di sisi lain, Woodward mengatakan bahwa slametan bukanlah ritual Islam melainkan adaptasi produk sufi yang menjadi interpretasi budaya lokal. Faktanya tidak ada teori final tentang slametan yang terkait dengan proses akulturasi antara Islam dan tradisi Jawa.

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikankan perspektif baru tentang proses slametan dengan pendekatan tekstual dan analisis kontekstual. Studi ini didasarkan pada asumsi bahwa di dalam slametan ada dua elemen dasar, yaitu elemen inti/dalam dan luar. Kedua elemen ini harus diperhatikan secara benar,  begitu juga dengan metode penelitian yang harus komprehensif. Dengan kata lain, jika tidak menggunakan pendekatan holistik dalam mengamati proses akulturasi, seseorang tidak bisa memperoleh gambaran yang komprehensif tentang Islam Jawa (termasuk juga slametan) yang di dalamnya terdapat keunikan dan sangat kompleks.

Rumusan masalah yang dikaji meliputi: 1) Sejauh mana Islam dan tradisi Jawa terlibat satu dengan yang lain di dalam ritual slametan; 2) Apakah slametan berteologikan animistik, sinkretistik, atau Islami; 3) Apakah argumen teoritis untuk analisis tekstual dan kontekstual slametan.

Diskusi tersebut dimulai dengan sebuah survei singkat tentang Islam dan budaya Jawa, termasuk sejarah kedatangan Islam ke Jawa, proses Islamisasi Jawa dan proses akulturasi Islam ke Jawa. Bab kedua pada penelitian ini memberikan gambaran tentang slametan dan peranannya dalam Islam Jawa, dengan fokus pada konsep dasar slametan,  pola dan implementasi praktis, dan kontroversi yang sedang berlangsung tentang pokok(inti) dan batas luar di dalam slametan. Bab terakhir akan membahas tekstual-religius dan analisis kontekstual-budaya slametan.

 

  1. Manfaat Penulisan

This Thesis deals with the cultural encounter between Islam and Javanese culture as represented by the slametan rituaI. The major purposes of this thesis are threefold; (1) to give a brief account of the histarical backdrop of the encounter between Islam and the Javanese tradition; (2) to discuss the ongoing dispute among scholars over whether the slam.etan is animistic, syncretistic or Islamic; and (3) to provide a new perspective on the slametan ritual based upon textual (religious) and contextual (socia-cultural) analysis.[3]

 

Dari pemaparan saudara Masdar Hilmi di atas, maka dapat dikutip bahwa manfaat penulisan tesis akulturasi Islam dan Jawa, analisis teks dan kontekstual ritual slametan adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan gambaran yang jelas tentang proses Islamisasi Jawa dan proses akulturasi Islam ke Jawa.
  2. Memberikankan perspektif baru tentang proses slametan dengan cara tekstual dan analisis kontekstual. Studi ini didasarkan pada asumsi bahwa di dalam slametan ada dua elemen dasar, yaitu elemen inti/dalam dan luar. Kedua elemen ini harus diperhatikan secara benar, begitu juga dengan metode penelitian yang harus komprehensif. Dengan kata lain, jika tidak menggunakan pendekatan holistik dalam mengamati proses akulturasi, seseorang tidak bisa memperoleh gambaran yang komprehensif tentang Islam Jawa (termasuk juga slametan) yang di dalamnya terdapat keunikan dan sangat kompleks.
  3. Sebagai Muslim yang totalitas dapat mengetahui hasanah budaya Islam, sejauh mana Islam dan tradisi Jawa terlibat satu dengan yang lain di dalam ritual slametan.
  4. Mengetahui kebenaran slametan yang masih diperdebatkan; berteologikan animistik, sinkretistik, atau justru Islami.
  5. Mengetahui argumen teoritis untuk analisis tekstual dan kontekstual slametan. Tekstual-religius dan analisis kontekstual-budaya slametan.

 

  1. Alasan Penulisan
  2. Suku Jawa adalah diantara suku-suku dengan paham sinkritisme yang tinggi. Hal ini merupakan tradisi pribumi warisan agama Hindu dan Budha yang telah dikenalkan beberapa abad yang lalu. Hal itu yang kemudian terjadi pencampuran tradisi dengan datangnya Islam sebagai pendatang baru yang komparatif. Hal itu bisa menjadikan pijakan karena pendekatan akomodatif yang dilakukan oleh umat Islam sebagai propaganda terhadap kepercayaan lokal. Pola adaptasi keyakinan ini telah mencapai titik kulminasi dalam Islam Jawa.
  3. Adanya penolakan pemahaman terhadap esensi fenomena Islam Jawa dan mereka menyebut sebagai “Islam yang buruk” dan tidak berguna. Oleh karena itu, hanya melalui ilmu pengetahuan yang komprehensif dan pendekatan yang holistik, berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual yang bisa mengerti sepenuhnya mengapa Islam Jawa berpegang teguh pada sinkretisme.

 

  1. Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan tesis Islam and Javanese Acculturation, Textual and Contextual Analysis of the Slametan Ritual adalah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis tekstual dan kontekstual. Pendekatan tekstual memungkinkan seseorang untuk melacak slametan berdasarkan agama (normatif), sedangkan pendekatan kontekstual  melibatkan analisis perspektif sosio-kultural. Kombinasi dari keduanya ini akan memungkinkan seseorang untuk mengamati slametan secara obyektif dalam proses alkulturasi yang panjang, dan karakteristik slametan sangatlah kompleks. Untuk melihat slametan dari perspektif tunggal sangatlah naif secara akademis, jika tidak dengan benar-benar, maka akan terjadi kekeliruan.

 

  1. Hasil penulisan

Tesis ini membahas tentang pertemuan/perkawinan budaya, yaitu antara Islam dan budaya Jawa yang salah satunya adalah slametan.

  1. Penjelasan singkat tentang latar belakang sejarah pertemuan antara Islam dan tradisi Jawa;

It is generally assumed that Indonesian Islam was introduced from peninsular India; many scholars and historians in fact point specifically to Gujarat as the source.l In trying to determine exactly when Islam first came to Java in particular, however, most scholars generally relyon the paradigm on the coming of Islam ta the archipelago as a whole (Nusantara).[4]

 

Secara umum diasumsikan bahwa Islam Indonesia diperkenalkan dari semenanjung India, banyak ilmuwan dan sejarawan yang sepakat Gujarat sebagai sumbernya. Dalam mencoba untuk menentukan kapan Islam pertama kali datang ke Jawa, kebanyakan ilmuwan umumnya mengandalkan paradigma tersebut. Paradigma ini nampaknya cukup masuk akal, karena dalam kasus daerah secara keseluruhan ada bukti yang menjelaskan bagaimana hal ini terjadi.

Dilihat dari sisi apa pun, sangatlah sulit disangkal bahwa Islam di Indonesia adalah versi keberagamaan yang eklektik (memilah dan memilih) atau yang dalam bahasa sederhana “Islam campur-campur”. Namun demikian, perlu digarisbawahi, sejak awal eklektisisme Islam Indonesia bukanlah eklektisisme serampangan, gegabah, atau asal comot. Ia adalah eklektisisme yang elegan, penuh kearifan, dan mencerahkan.

Dalam budaya Jawa. Orang-orang Jawa terkenal dengan berbagai budaya dan tradisi mereka yang sangat dekat dengan mitos. Mitos-mitos ini sering ditemukan dalam praktik ritual Jawa. Salah satu praktik ritual yang paling terkenal adalah Slametan. Ini adalah ritual atau upacara yang diadakan untuk tujuan tertentu. Dengan melakukan Slametan, umat Islam mendoakan agar Allah memenuhi keinginan mereka. Ini menggambarkan kondisi damai dan harmonis, di mana Islam dan budaya lokal berakulturasi dengan baik. Mereka hidup berdampingan. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh proses akulturasi yang sangat panjang. Kedatangan Islam tidak mengganggu budaya lokal; Jika tidak, Islam berasimilasi dan memperkuat semangat budaya lokal. Ini membuktikan bahwa religiusitas Jawa adalah model ideal untuk mensintesis Islam dan budaya lokal.

Modus persilangan budaya dapat dijumpai pada kosmologi Muslim tentang ruang, waktu, dan artefak fisik sebagaimana tecermin dalam arsitektur rumah ibadah. Produk akhir dari persilangan itu dapat diterima sebagai realitas faktual, tetapi proses pembentukannya sering absen dari pencernaan kognitif umat Muslim pada umumnya.

  1. Perselisihan yang sedang berlangsung di antara para ilmuwan mengenai apakah slametan itu bersifat animistik, sinkretistik atau Islam;

Slametan adalah merupakan manifestasi budaya Jawa asli untuk mendapatkan jalan lurus menuju sasaran, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Slametan memiliki dua versi. Masing – masing bersifat permohonan simbolik, dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam seisinya. Oleh karna itu slametan juga di sebut syukuran.

Hakikat slametan dalam pandangan Jawa dinyatakan bahwa manusia hidup di dunia tidak hanya mencari sandang, pangan, dan papan saja, melainkan yang lebih penting adalah kesuwargan (sorga). Maka setiap kehidupan orang Jawa yang belum hilang “Jawa”-nya, saat hendak memulai sesuatu usaha, biasanya di dahului dengan mengadakan slametan. Juga sejak ia masih dalam kandungan ibu, lahir di dunia, menjalani kehidupannya, dan sampai kembali ke liang kubur, senantiasa menjumpai slametan yang di tandai dengan kenduri atau dalam bahasa Jawa disebut kepungan.

Tradisi slametan ini merupakan wujud tindakan ritual dari teks – teks Hindu, Budha, dan Islam yang sampai zaman modern sekarang ini masih lekat dihati orang – orang Jawa. Bahkan ketika orang – orang Jawa zaman dahulu masih banyak yang menganut animisme dan dinamisme, slametan menjadi pusat mistik kejawan. Sementara kenduri sebagai tanda slametan dalam bentuk ragawi,  kenduri dapat jelas terbaca juga merupakan budaya campuran. Sebab bila disimak secara seksama, unsur – unsur yang memberi warna dalam kenduri tersebut, mencerminkan tahap berlangsungnya pengaruh animisme (kejawen), Hindu, Budha dan Islam.

Perangkat yang mutlak harus ada dalam kenduri itu, adalah nasi tumpeng beserta lauk – pauknya, yang masing – masing memiliki makna. Menurut pengertian, tradisi kenduri adalah makan bersama dengan jenis makanan tradisional. Sebelum makan di mulai, makanan yang telah tersaji dihapan undangan, terlebih dahulu dilengkapi dengan doa – doa menurut agama Islam. Inilah kehebatan orang Jawa yang bisa beradaptasi dengan budaya  apapun tanpa adanya benturan. Semua saling mendukung dan jalin – menjalin.

Titik sentral dari Islam Jawa tidak lain tertuang pada ritual-ritual slametan yang dioplos dengan adat istiadat Jawa. Tradisiyang masih primitif dan puritan (murni), justeru dengan adanya proses mewarnai keaslian hubungan mistik, slametan dipandang sebagai representasi harapan yang penuh pengorbanan secara ikhlas lahir batin.

Itulah sebabnya, melalui sinkretisme yang semakin kental, membuat sulit untuk membedakan, mana budaya slametan yang sudah terpengaruh dan mana yang masih asli. Akhirnya masyarakat Jawa tidak peduli dan mempersoalkan antara asli dan yang tidak asli. Mereka dengan ikhlas dan sadar, menerima kontrak budaya spiritual dan selanjutnya mengklaim sebagai budaya miliknya. Pernyataan yang paling realistis adalah mungkin bahwa slametan tidak murni animistik maupun murni Islam, akan tetapi unsur keduanya itu ada (sinkretistik).

 

  1. Perspektif baru tentang ritual slametan berdasarkan analisis tekstual (normatif) dan kontekstual (sosial budaya).

Hipotesis yang mendasari karya ini adalah bahwa slametan adalah bentukan dari ritual sinkretisme, unsur-unsur Islam yang representatif sebagai ajaran pokok/inti, dan tradisi lokal – sebagai ajaran bagian luar. Dalam tesis ini pula membicarakan tentang perdebatan teori slametan yang dikembangkan oleh Geertz dan Woodward. Sebagian para cendekiawan hanya melihat slametan dari perspektif sosial budaya saja, namun demikian para ilmuan mutakhir melihatnya berdasarkan dasar teologi Islam. Sedangkan peneliti tesis ini berpendapat bahwa seseorang harus menggunakan perspektif holistik untuk melihat slametan tersebut secara komprehensif; kedua-duanya dari “dalam” (perspektif agama) dan yang di “luar” (perspektif budaya).

Suku Jawa adalah diantara suku-suku dengan paham sinkritisme yang tinggi. Hal ini merupakan tradisi pribumi warisan agama Hindu dan Budha yang telah dikenalkan beberapa abad yang lalu. Hal itu yang kemudian terjadi pencampuran tradisi dengan datangnya Islam sebagai pendatang baru yang komparatif. Hal itu bisa menjadikan pijakan karena pendekatan akomodatif yang dilakukan oleh umat Islam sebagai propaganda terhadap kepercayaan lokal. Pola adaptasi keyakinan ini telah mencapai titik kulminasi dalam Islam Jawa.

Adanya penolakan pemahaman terhadap esensi fenomena Islam Jawa dan mereka menyebut sebagai “Islam yang buruk” dan tidak berguna. Oleh karena itu, hanya melalui ilmu pengetahuan yang komprehensif dan pendekatan yang holistik, berdasarkan analisis tekstual dan kontekstual yang bisa mengerti sepenuhnya mengapa Islam Jawa berpegang teguh pada sinkretisme. Analisis tekstual memberi kita model “Islam normatif” merupakan blueprint yang masih orisinal yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Disisi lain, analisis kontekstual merupakan alat yang memungkinkan kita untuk mengamati historisitas Islam dalam kerangka berfikir budaya Jawa.

Dilihat dari perspektif tekstual dan kontekstual, slametan memiliki sebuah fondasi budaya yang kokoh di Jawa. Kita dapat meghubungkan historis antara dua zaman besar: peradaban Islam dan Hindu-Budha. Heterogenitas unsur -unsur lokal di dalam slametan menunjukkan IsIam di Indonesia menerima kreasi “non-Islam” yang dinilai tidak bertentangan secara teologis substansi menurut ajaran Islam. Ini adalah perspektif yang sifatnya Islam kosmopolitanisme.

 

  1. Kesimpulan

Ritual slametan merupakan contoh yang paling nyata dalam sinkretistik Islam Jawa. Sebahagian orang berpendapat bahwa slametan adalah hasil interpretasi yang diajarkan oleh guru Sufi kepada masyarakat Jawa yang pada akhirnya mempertemukan dialektika antara dua peradaban: Islam dan tradisi Hindu-Budha. Meskipun sebagian besar beberapa golongan telah menghapus praktik slametan, hal ini tidak mengurangi sinkretisitas Islam Jawa atau ritualnya itu sendiri. Ini adalah masalah catatan pola slametan yang diadopsi oleh Muslim pendahulu sebelum ada ‘kendaraan’ yang efektif untuk mengenalkan Islam kepada orang Jawa. Ini adalah realitas historis yang tidak harus disalahkan dan justru bisa menjadi dokumen yang bisa dilampirkan.

Demikianlah slametan, baik sebagai Islam atau sinkretis atau pun animistik bukanlah sebuah masalah. Studi ini menunjukkan bahwa inti slametan pada dasarnya Islami, namun demikian beberapa kelompok mengatakan bahwa slametan merupakan singkritisme budaya Jawa. Bagi orang Muslim Jawa, slametan adalah ritual yang paling populer untuk mempresentasikan persembahan mereka kepada Tuhan mereka, dan dipandang sebagai cara paling efektif untuk mencapai hal ini. Slametan juga sangat efektif, karena mampu dalam menjaga keseimbangan sosial dan harmoni. Ini adalah salah satu dari sedikit kesempatan di mana orang Jawa Muslim – abangan – priyayi – santri – dapat berbagi dan menunjukkan kepatuhan kepada Tuhan, sebagaimana Geertz mengatakan, sebuah “toleransi relativistik.”

Dari sudut pandang sumber teks Islam, eksistensi slametan bukan tanpa pembenaran agama. Meski tidak disebutkan secara eksplisit baik di dalam Alquran atau hadis, semangat slametan ada dalam beberapa ayat-ayat Alquran dan hadis, karena inti dari slametan adalah doa, yang bisa diartikulasikan dalam bahasa apapun di mana saja dan kapan saja. Selain itu, beberapa orang akan mengatakan bahwa slametan tersebut sebagaimana dikatakan oleh Woodward sebagaimana interpretasinya tentang kesalean Islam yang  berkesesuaian dengan tradisi Sufi.

 

  1. Rekomendasi/Saran

Penulis menyarankan bahwa, seharusnya dalam melihat dan menyikapi masyarakat Islam Jawa tentang ritual slametan harus dipahami sebagai percampuran yang harus dipadukan secara komprehensif dengan pendekatan yang menyeluruh. Slametan adalah ritual animistik yang menolak kenyataan bahwa itu benar-benar Islamisasi. Di sisi lain, kelompok yang membantah bahwa slametan adalah murni bukan dari Islam, hal ini merupakan sebuah penegasian terhadap historisitas orang Jawa Islam. Pernyataan yang paling realistis adalah mungkin bahwa slametan tidak murni animistik maupun murni Islami, tapi unsur kedua itu ada (sinkretistik).

[1] Masdar Hilmy, Islam and Javanese Acculturation, Textual and Contextual Analysis of the Slametan Ritual, (Canada: Institut of Islamic Studies McGill University Montreal, 1999), h. 1.

 

[2] Masdar Hilmy, Islam and Javanese… h. 2.

 

[3] Masdar Hilmy, Islam and Javanese… h. i.

[4] Masdar Hilmy, Islam and Javanese… h. 6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *