Manusia Bertakwa Bukanlah Manusia Ompong

Home / Tauhid / Manusia Bertakwa Bukanlah Manusia Ompong

Pada suatu ketika, Rasulullah SAW memerintahkan kepada Bani Bayadhah agar mereka mengawinkan salah satu perempuan dari suku mereka dengan Abu Hindun. Akan tetapi, mereka menolak, sembari berkata,”Apakah kami akan mengawinkan anak-anak perempuan kami dengan para budak?”

Lantas turunlah ayat ke-13 dari Surat al-Hujurat, bahwasannya  Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat tersebut sudah sangat masyhur bagi kita, bahkan mungkin sebagian besar dari kita telah menghapalnya. Akan tetapi, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari mungkin tidaklah semudah yang dibayangkan. Ayat itu berkenaan dengan toleransi di tengah keragaman makhluk.

Keragamaan adalah suatu hal yang pasti; bukan hanya fakta alamiah melainkan juga kehendak Sang Pencipta. Jika Allah menghendaki, niscaya umat manusia ini seluruhnya seragam. Akan tetapi, Allah berkehendak sebaliknya, yaitu menciptakan makhluk dalam bentuk dan sifatnya nya yang beraneka ragam.

Ayat ini merupakan ayat Makkiyah, yaitu ayat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Karena diturunkan di Makkah, ayat ini tentu saja sangat bernuansa kemanusiaan. Dengan diawali dengan kalimat “Yaa Ayyuhan-Naas”, ayat ini mencirikan bahwa keberagaman manusia adalah sebuah sunnatullah. Tentu saja hingga detik ini, keragaman tersebut masih dijumpai di setiap jengkal tanah di atas muka bumi ini.

Sebagaimana diungkap di akhir ayat tersebut bahwa ketakwaan adalah parameter kemuliaan, dan hal ini tentunya memunculkan pertanyaan, “Apakah keragaman tersebut menjadi penghalang bagi manusia untuk meningkatkan ketakwaannya?”  Seharusnya keragaman justru tidak menjadi penghalang sama sekali. Justru seharusnya keragaman yang ada pada umat manusia menjadi sarana untuk saling mengenal, sehingga identitas perbedaan itu menjadi tidak penting sama sekali karena yang paling penting adalah ketakwaannya.

Cara Al-Quran menyapa kita dengan kalimat “Yaa Ayyuhan-Naas” tentu memiliki hikmah yaitu hendak menjelaskan kepada manusia akan pentingnya kemanusiaan. Setiap manusia harus menghormati manusia yang lain. Setiap bangsa harus menghargai kemerdekaan bangsa lain. Setiap suku menghormati suku yang lain. Oleh karena itu, mereka tidak layak untuk saling berkonflik dan berperang.

Meskipun demikian, sebagian pihak masih belum mau dan belum siap menerima keragaman di antara umat manusia. Beberapa cara dilakukan bahkan untuk menentang fitrah dan takdir Allah tersebut. Di antaranya dengan menciptakan doktrin dan cara pandang beragama yang sama sekali menolak keragaman dalam pemahaman beragama tersebut, sehingga agama menjadi terasa kaku, gersang, kering, dan menakutkan. Selain itu, mereka juga berusaha untuk memaksa orang lain mengikuti pemahaman tertentu dengan mengemukakan doktrin yang bersumber dari dalil nash Al-Quran dan Hadits sebagai back-up pembenaran terhadap pemahamannya . Konsep dan anggapan bahwa “kami selalu benar, selain kami adalah salah” benar-benar mengkhawatirkan dan mengikis makna keragaman tersebut.

Manusia Berasal Muasal Sama

Ayat di atas seolah ingin mengingatkan alam bawah sadar kita, bahwa sebagai umat manusia, sejatinya kita berasal dari Nabi Adam AS dan Hawa. Dari keduanya, maka muncullah umat yang bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Bila kesadaran ini muncul, seharusnya dapat membuat manusia ingat akan asal-muasalnya lalu sanggup untuk membangun kesadaran etis tentang hakikat kemanusiaan.

Ayat tersebut juga mendorong kesetaraan di dalam Islam. Budak yang sudah masuk Islam dapat menikahi perempuan yang merdeka dan sebaliknya, sehingga pada akhirnya sistem perbudakan dihapus sama sekali dalam Islam. Yang membedakan di antara satu dengan lainnya hanyalah ketakwaannya.

Allah tidak hanya menciptakan laki-laki, tetapi juga menciptakan perempuan. Seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan-Nya. Laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Imam al-Razi mengatakan, tatkala Al-Quran menggunakan kalimat “innaa kholaqnaakum”, sesungguhnya ada hikmah bahwa menjadi laki-laki dan perempuan bukanlah kehendak manusia. Itu semua adalah titah-Nya yang berupa takdir. Begitu pula menjadi bangsa Indonesia yang sangat beragam adat, suku, budaya, dan bahasa inipun bukanlah kemauan kita. Justru ini membuat kita bersyukur untuk selalu mewujudkan “ta’arafuu” di antara saudara sebangsa dan setanah air.

Bisa kita bayangkan, dengan jumlah suku yang sangat banyak, bahasa yang sangat bervariasi, agama yang majemuk, kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan di bumi Nusantara ini. Maka yang tersisa di hadapan kita adalah bagaimana melakukan dialog dalam rangka saling mengenal antara satu dengan yang lain. Dialog yang didasari cita-cita mulia untuk saling memahami yang lain.

Kemunculan Manusia Ompong

Anehnya, di era teknologi informasi ini dimana informasi sangat deras lalu lalang dalam kehidupan kita, dialog justru sering menemui jalan buntu. Informasi dapat diakses sedemikian mudah, komunikasi dengan mudah dapat dijalin dengan bantuan piranti canggih dan sarana pendukung yang memadai, namun ternyata tidak dapat menjamin terselenggaranya dialog dalam lingkup ta’arafuu (saling mengenal). Jangankan dialog, untuk melakukan  tabayun saja susah sekali untuk dilakukan.

Yang ada justru maraknya berita bohong (hoax), fitnah keji terhadap kehormatan seseorang, kapitalisasi digital (advertiser vs buzzer), keracunan informasi, taklid a’ma kolektif, dan lain sebagainya. Era ini layak disebut sebagai era infobesitas –dimana manusia menjadi kegemukan karena informasi- sehingga tidak lagi sanggup memilih dan memilah informasi yang ada.

Jika di masa lalu, orang yang pintar adalah orang yang memiliki banyak informasi, maka di saat ini, orang yang pintar bukanlah orang yang demikian melainkan mereka yang cerdik dan sanggup memilih informasi. Kelihatannya memang sederhana, tetapi seringkali orang-orang pintar secara akademis  justru menjadi kalah ketika berhadapan dengan derasnya informasi yang terus membanjiri lingkungannya.

Dalam keadaan seperti ini, muncullah kelompok manusia jenis baru yaitu manusia ompong. Siapa itu manusia ompong? Mereka adalah kelompok manusia yang ketika makan, maunya langsung menelan, tidak mau mengunyah terlebih dahulu. Mereka adalah kelompok yang ketika mendapatkan informasi, tidak pernah menggunakan akal pikirannya dan tidak mau berusaha  menyaring informasi itu terlebih dahulu. Ketiadaan proses penyaringan ini, membuat informasi apapun kerapkali dipercaya dan diterima mentah-mentah. Bahkan informasi yang belum jelas kebenarannya, seketika itu pula langsung disebarluaskan.

Maka terjadilah kekacauan yang mengusik keragaman sesama umat manusia. Toleransi menjadi barang mahal. Perpecahan di depan mata. Tiba-tiba manusia saat ini begitu mudah tersulut emosi, kaku, dan tidak punya sensitivitas terhadap orang lain.

Ketakwaan Adalah Tujuan Utama

Ayat di atas hendaknya direnungi lebih dalam lagi, terutama di saat sekarang ini. Ketika Allah berfirman bahwa manusia yang mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa, maka predikat takwa itulah yang seharusnya menjadi tujuan utama. Imam al-Zamakhsyari berpendapat, bahwa ketakwaan dapat menghapuskan kesombongan, terutama yang dilatarbelakangi status sosial.

Seorang mukmin yang bertakwa tidak mungkin melakukan berbagai tindakan yang menjurus pada kerusakan dan kejahatan.  Seseorang yang mencapai puncak ketakwaan akan senantiasa memelihara kesetaraan dan tidak mendiskriminasikan kelompok lain, baik mayoritas maupun minoritas. Ia akan mendorong terbentuknya kebangsaan sejati dan selalu menghargai keragaman. Dengan demikian, ketakwaan akan mendorong seorang mukmin untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menciderai takdir Allah dan kodrat manusia. Dengan kata lain, manusia bertakwa selalu menjamin toleransi kepada siapapun. Haqqul yakin, manusia bertakwa bukanlah manusia ompong.[]

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *