Indikator Keberhasilan Puasa

Home / Pendidikan / Indikator Keberhasilan Puasa

Seperti yang diketahui bersama bahwa tujuan ibadah puasa yang dikerjakan oleh umat Islam di bulan Ramadhan adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertaqwa kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. dalam Al Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Albaqarah: 183)

Oleh karena tujuan puasa adalah untuk membentuk manusia menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa, maka seseorang bisa dikatakan berhasil di dalam menjalankan ibadah puasanya  di bulan Ramadhan, apabila di dalam dirinya terdapat kriteria-kriteria orang yang bertaqwa. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “apa saja kriteria orang yang bertaqwa?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dapat dilihat di dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Ayat di atas menjelaskan ayat sebelumnya yaitu tentang orang-orang bertaqwa yang telah dipersiapkan untuk mereka surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa paling tidak ada tiga kriteria orang yang bertaqwa kepada Allah SWT.

 

  1. Pribadi yang gemar berinfaq (الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ)

Kriteria orang bertaqwa yang pertama disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 134 adalah orang-orang yang mau menginfakkan hartanya dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Imam Ibnu Jarir At Thobari di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang mkasud lafadh فِي السَّرَّاءِ adalah  فى حال السرور بكثرة المال sedangkan lafadh وَالضَّرَّاء oleh beliau dijelaskan dengan  حال الضيقف . Sehingga dapat disimpulkan bahwa, orang yang bertaqwa itu mereka akan berinfak baik dalam keadaan bergelimang harta maupun dalam keadaan susah.

 

  1. Pribadi yang mampu menahan amara (وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ)

Lafadh كَاظِمِينَ berasal dari kalimat كظم  yang memiliki arti menahan, membendung, mengikat. Sehingga, orang yang mampu menahan amarah itu bisa diilustrasikan seperti orang yang membeli makanan berkuah yang ditempatkan di dalam kantong plastik, lalu ujung plastik tersebut diikat agar makanan tersebut tidak tumpah. Begitu juga orang yang bertaqwa, dia harus mampu mengikat amarah yang ada di dalam dadanya agar tidak tumpah dan keluar memenuhi ruang jiwa. Kalau amarah yang ada di dalam dada tidak diikat, maka amarah tersebut akan keluar dalam berbagai bentuk, terkadang lewat ucapan dan terkadang juga lewat perbuatan atau tindakan. Maka jangan heran kalau kita melihat ada orang yang sering mengumpat, memaki, dan mengeluarkan kata-kata kotor, atau bahkan memukul-mukul sesuatu, berarti orang tersebut tidak mampu mengikat amarahnya sehingga amarah tersebut meluber dan tumpah memenuhi jiwanya.

Nabi Muhammad SAW pernah menasihati para sahabat agar tidak mudah marah. Bahkan beliau sampai mengulangi perkataannya (la taghdhab) lebih dari sekali. Di dalam kitab Riyadhus Sholihin dijelaskan bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, melainkan orang  yang mampu mengontrol emosinya dengan baik.

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

Orang yang kuat bukanlah ia yang pandai bergulat, melainkan ia yang mampu mengontrol emosinya dengan baik ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Pribadi yang mudah memberi maaf (وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ)

Menjadi pribadi yang mudah untuk memaafkan bukanlah perkara yang mudah karena ketika memberi maaf ada dua pekerjaan sekaligus yang harus dilakukan. Pertama, merelakan kesalahan orang lain yang pernah dilakukan terhadap diri kita. Kedua,
menghapuskan ingatan tentang kesalahan yang telah diperbuat dari memori kita. Sehingga, ketika ada orang yang berkata: “Saya maafkan kamu, tapi saya tidak akan pernah lupa terhadap apa yang telah kamu perbuat kepadaku”, maka sesungguhnya orang tersebut belum bisa memberi maaf.  Hal itu disebabkan karena dia hanya merelakan kesalahan, tapi dia belum menghapuskan kesalahan tersebut dari ingatannya. Mengapa dia masih mengingat kesalahan tersebut? Karena kelasahan tersebut dia simpan di dalam memori jangka panjangnya. Sesuatu yang tersimpan di dalam memori jangka panjang (long term memory) akan sulit untuk dihapus. Akan tetapi, ingatan tersebut sedikit demi sedikit bisa dilupakan dengan cara mengalihkan pikiran kita kepada sesuatu yang lain. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi pribadi yang pemaaf, maka mau tidak mau kita harus melupakan kesalahan yang telah diperbuat oleh orang lain terhadap kita.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang bisa dikatakan berhasil di dalam menjalankan ibadah puasanya  di bulan Ramadhan, apabila pasca Ramadhan di dalam dirinya terdapat kriteria-kriteria diantaranya gemar berinfak, mampu menahan amarah, dan mudah memberi maaf kepada orang lain.

Wallohu A’lam bish-Showâb wal Khotho’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *