Corak Keilmuan Ulama Nusantara-Ulama Al-Azhar: Persamaan dan Perbedaan

Home / Pendidikan / Umum / Corak Keilmuan Ulama Nusantara-Ulama Al-Azhar: Persamaan dan Perbedaan

Pesantren dan al-Azhar adalah dua institusi yang dapat dibilang sebagai saudara kandung, tua-muda. Kedua institusi ini mempunyai kesamaan layaknya saudara kandung. Sama-sama berpengaruh, melahirkan sekian banyak tokoh, benteng moral dan ilmu agama, pengembang dan pelestari paham Ahlussunnah waljamaah, mengikuti empat madzhab Fiqih, berpaham Asy’ari dan Maturidi dalam beraqidah, dang mengikuti rumusan tasawuf Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam al-Ghozali.

Sama dalam banyak hal tidak menafikan adanya perbedaan. Dalam bahasa mantiq sering diistilahkan Umum Khushush Wajhi, mempunyai titik persamaan sekaligus mempunyai titik perbedaan. Saudara kandung seringkali sama dalam beberapa hal dan punya kekhasan sendiri dalam hal lain.

Persamaan:

  1. Al-Azhar dan pesantren sama-sama mengembangkan madzhab fiqih yang diakui, madzhab empat. Hanya saja pesantren dalam sejarahnya hanyamengajarkan madzhab Syafii, sementara al-Azhar mengembangkan keempatnya.
  2. Ulama al-Azhar berjiwa sufi, sama dengan ulama pesantren.
  3. Ulama al-Azhar berakidah Asy’ari, sama dengan ulama pesanren.
  4. Ulama al-Azhar ikut serta dalam memecahkan masalah bangsa, bahkan ikut serta dalam revolusi fisik, sama dengan ulama pesantren.
  5. Al-Azhar menyediakan pondokan, sama dengan pesantren.
  6. Banyak ulama al-Azhar yang berasal dari keluarga tidak mampu, sama dengan ulama pesantren.
  7. Kitab yang dikaji mempunyai persamaan. Sama-sama institusi paling tua di dua negara berbeda.
  8. Benteng moral.
  9. Benteng keilmuan.
  10. Hubungan yang kuat antar guru-murid.
  11. Memperhatikan sanad keilmuan.
  12. Sama-sama berbenah dalam mengakomodir kemajuan zaman.
  13. Pengajian klasik masih dipertahankan.
  14. Membuka perguruan tinggi.
  15. Santri yang datang dari berbagai penjuru negeri, sama dengan al-Azhar. Bahkan yang datang ke al-Azhar dari seluruh penjuru dunia Islam.
  16. Benteng moderatisme dan penangkal radikalisme.

Perbedaan:

  1. Ilmu mantiq dan maqulat mendapatkan perhatian serius di al-Azhar, sementara di pesantren kurang, setidaknya untuk tahun-tahun belakangan ini.
  2. Ilmu Ushul Fiqih mendapatkan porsi yang lebih besar di al-Azhar, sementara pesantren lebih banyak mengajarkan kitab Fiqih.
  3. Umur al-Azhar sudah seribu tahun lebih, pesantren baru setengahnya.
  4. Pengasuh pesantren memerankan peran sangat vital, sementara di al-Azhar pengajian tidak tertumpu pada seorang pengasuh.
  5. Porsi pelajaran yang ada di al-Azhar lebih beragam ketimbang yang ada di pesantren.
  6. Kitab dan materi pengajaran yang ada di pesantren kebanyakan hasil karya ulama-ulama di al-Azhar. Sementara al-Azhar tidak menggunakan kitab karya ulama nusantara kecuali hanya sedikit saja.
  7. Ulama al-Azhar sangat produktif dalam menulis sementara ulama pesantren kurang.
  8. Al-Azhar menjadi tempat berkumpulnya ulama dari berbagai dunia. Pesantren hanya dari Indonesia dan kadang dari negeri Jiran.
  9. Al-Azhar mengalami beberapa fase perkembangan di bawah kekuasaan yang berbeda-beda.
  10. Cabang al-Azhar berada di seluruh penjuru Mesir bahkan ada di beberapa negara Islam seperti di Suriah dan Malaysia.
  11. Tokoh-tokoh dari al-Azhar banyak berbicara di level dunia, sementara dari pesantren hanya terbilang dengan jari.
  12. Pendaan di al-Azhar awalnya dari usbsidi pemerintah dan sekarang mandiri, sementara pesanttren biasanya tidak melibatkan pemerintah, apalagi ketika di masa penjajahan.
  13. Pengajaran di al-Azhar menerapkan metode tanya jawab antara murid dengan gurunya. Dalam pesantren tidak atau jarang menerapkannya.
  14. Bidan hadits musthalah dan takhrij mendapatkan perhatian serius dari al-Azhar, sementara di kebanyakan pesantren tidak.

Itulah mengapa pesantren dan al-Azhar memiliki corak kelimuan yang mirip di beberapa hal, tetapi juga memiliki perbedaan di hal lainnya. Meskipun demikian, keduanya masih sangat berkembang dalam merespon keadaan zaman dan masyarakat dunia Islam. Mudah-mudahan keduanya akan terus menjadi rujukan keilmuan dan mampu menjadi jawaban atas tantangan zaman.[red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *