Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Home / Sejarah / Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Para ulama inilah yang membuka awal hubungan keilmuan antara nusantara dan al-Azhar. Di kemudian hari, pertalian ini sangat erat karena lebih diikat oleh pertalian sanad keilmuan. Ulama-ulama nusantara pun banyak yang berguru kepada ulama asal Mesir, meskipun tidak langsung di Mesir, melainkan bertemu di Makkah. Alhasil, ulama nusantara banyak yang menjadi pengajar di Makkah, mempunyai murid dari nusantara dan daerah lain selain nusantara. Murid-murid dari nusantara ini ketika kembali ke tanah air, lantas menjadi para pengasuh pesantren di banyak daerah.

Beberapa tokoh ulama tersebut adalah:

  1. Abdus Shamad al-Falimbani

Dalam buku Akar Tasawuf di Indonesia karya Dr. Alwi Syihab, dijelaskan bahwa Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (1791 M) adalah tokoh besar yang membawa ajaran Tarekat Samaniyah dan mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang kedua disebut adalah tarekat yang berkembang sangat pesat di Mesir. Sebab pendirinya bermukim di sana sampai ajal menjemput.

Abdus Shamad adalah murid dari Syekh Sulaiman al-Kurdi, penulis kitab al-Fawaid al-Madaniyah yang menjadi anak murid dari Syekh Ahmad bin Hasan bin Abdul Karim al-Khalidi al-Mashri as-Syafii. Al-Falimbani juga termasuk murid dari Syekh Ahmad Abdul Mun’im ad-Damanhuri, Syekhul Azhar kesepuluh (wafat 1778 M). ditarik kesimpulan bahwa  al-Falimbani menggabungkan ilmu syariat dan ilmu hakikat dari ulama Mesir. Kedekatan antara Syekh Sulaiman dengan pelajar-pelajar dari Nusantara dapat ditelisik melalui satu karya beliau yang bernama ad-Durar al-Bahiyah fi Jawab al-As’ilah al-Jawiyah.

Jalur sanad al-Falimbani sampai sekarang dapat ditemukan dalam sanad Lubb al-Ushul KH AM Sahal Mahfudh dan sanad-sanad kitab keagamaan yang dirangkum dalam sebuah buku tsabat (kisah pertalian sanad keilmuan) karya Syekh Yasin al-Fadani yang dinamakan  al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid.

Dalam genealogi keillmuan al-Falimbani, kita dapat mengetahui hubungan dekat antara ulama pesantren dengan ulama-ulama Mesir. Sanad keilmuan antara al-Falimbani dengan Syekhul Islam Zakaria al-Anshari sesuai dengan sanad Lubb al-Ushul melewati enam ulama, yaitu Syekh Aqib bin Hasanudin al-Falimbani, Syekh Thayib bin Ja’far al-Falimbani, Ja’far bin Muhammad bin Badrudin al-Falimbani, Syamsudin Muhammad bin Ahmad, Nurudin Ali bin Ibrahim, Syekh Samsudin Ahmad ar-Ramli, dari Syekhul Islam Zakaria al-Anshari.

Untuk jalur keilmuan al-Falimbani dari Syekh Ahmad ad-Damanhuri (Syekhul Azhar) dapat dilihat dalam buku Tsabat al-Lathaif an-Nuriyah fi al-Minah ad-Damanhuriyah, buku yang khusus membicarakan sanad keilmuan yang dimiliki oleh Syekh Damanhuri. Hanya saja buku tersebut  masih berupa manuskrip.

  1. Syekh Yusuf dan Sunan Gunung Jati

Bila dirunut ke arah lebih jauh, tercatat nama Syekh Yusuf al-Makassari (1110 H/1699 M) sebagai pembawa Tarekat Khalwatiyah. Beliau menerima ijazah Tarekat Khalwatiyah dari Syekh Ibnu Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi. Kita ketahui bahwa pendiri Tarekat Khalwatiyah adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Karimudin al-Khalwati yang wafat di Mesir pada tahun 986 H sehingga tarekat ini berkembang pesat di sana. Salah satu tokoh besar yang mengikuti Tarekat Khalwatiyah dan karyanya dikaji hingga sekarang di pesantren adalah Abu al-Barakat Syekh Ahmad ad-Dardir (1201 H). bahkan Syekh Azhar yang sekarang, Dr. Ahmad al-Thayib mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Keluarga besar beliau di Luxor tercatat sebagai pembesar tarekat ini.

Apabila cerita turun temurun yang mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan putra Mesir, anak dari Sayid Abdullah penguasa kota Ismailiyah, maka hubungan antara pesantren dengan Mesir terjalin sejak awal mula pesantren berdiri. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo mengutip dari Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, mengatakan bahwa Syarif Hidayatullah adalah anak dari Sultan Mahmud yang bernama Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alim, penguasa kota Ismailiyah, Mesir. Naskah yang disebut pertama juga cocok dengan apa yang ada dalam Naskah Negara Kretabhumi, katanya.

  1. Keluarga Tremas

Dalil nyata bahwa ulama al-Azhar telah menancapkan pengaruh di tanah air dapat dilihat dalam beberapa kajian biografi Syekh Abdul Manan, kakek Syekh Mahfudz Tremas. Di sana dijelaskan bahwa kakek Mahfudz yang bernama Abdul Manan kembali ke Jawa untuk selanjutnya mendirikan pesantren di Tremas pada kurun 1820-1830, setelah sebelumnya melaksanakan rihlah ilmiah di Mekkah dan menginjakkan kaki di Mesir. Di Mekkah, ia belajar secara intensif kepada Syekh Muhammad Syatha (1226 H), ulama asli Mesir yang memilih Mekkah untuk menyebarkan ilmunya dan di Mesir dia belajar salah satunya kepada Syekh Ibrahim al-Bajuri (1276 H).

Abdul Manan melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Mesir setelah Muhammad Syatha yang menjadi guru utamanya wafat pada tahun 1226 H. Hal itu lumrah dilakukan oleh para ulama terdahulu, yakni akan meninggalkan tempat di mana ia belajar setelah sang guru wafat menuju tempat asal sang guru, dalam hal ini adalah Mesir.

Andai saja Syekh Abdul Manan datang sebelum tahun 1232 H, yakni sebelum Syekh Amir al-Kabir pemilik kitab Tsabat al-Amir wafat, ada kemungkinan beliau mendapat sanad dari beliau. Akan tetapi, jejak sanad keilmuan beliau hanya merujuk kepada Syekh Ibrahim Bajuri yang merupakan murid Syekh Amir Kabir dan ulama-ulama yang hidup setelah tahun 1232 H. Pada waktu itu Imam Bajuri masih tergolong ulama muda. Jalur sanad Syekh Abdul Manan yang diterima dari Syekh Ibrahim al-Bajuri terekam dalam kitab al-Iqdu al Farid karya Syekh Yasin al-Fadani.

Syekh Abdul Manan selama menetap di Mekkah belajar kepada Syekh Muhammad Syatha, ulama kelahiran Dimyath, Mesir pada tahun 1190 H. Muhammad Syatha lama belajar di al-Azhar sebelum berhijrah ke Mekkah. Hubungan guru murid ini sangat dekat. Kedekatan mereka dapat ditemui pada kehidupan Syekh Mahfudz at-Tarmasi dan bapaknya dengan keluarga Syatha setelah bermukim di Mekkah. Kedua keluarga ini seakan mempunyai hubungan darah sehingga ketika Syekh Mahfudz wafat, beliau dimakamkan di pemakaman keluarga Syatha.

Sekitar satu atau dua dekade setelah Syekh Abdul Manan menyebarkan Islam di Jawa, muncul nama Syekh Nawawi al-Bantani. Bapak pesantren ini bolak-balik ke Mesir dan sangat terpengaruh oleh Syekh Ibrahim al-Bajuri. Keterpengaruhan Nawawi dapat dilihat dari karya-karya beliau. Seringkali beliau mengutip perkataan gurunya itu. Bahkan dalam Nur al-Dzalam, di awal tulisan, yakni dalam pembahasan “bismillah”, beliau sudah mengutip perkataan Imam al-Bajuri. Karya dari Imam Nawawi juga hampir semuanya diterbitkan di Mesir. Tercatat penerbit Bulaq, al-Maimaniyah, al-Jamaliyah, Abdur Raziq, Mushthafa dan Isa Halabi menerbitkan karya-karya beliau.

Syekh Nawawi juga sangat terpengaruh oleh Syekh Utsman al-Dimyathi, murid dari Syekh Amir al-Kabir sekaligus guru dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Syekh Ahmad Zaini Dahlan merupakan guru dari ketiga anak Syekh Muhammad Syatha, yaitu Umar, Usman, dan Bakri Syatha. Syekh Ahmad juga mempunyai guru yang menerima Tsabat al-Amir dari Syekh al-Amir secara langsung yang bernama Ahmad Marzuqi, pengarang nadzam Aqidah al-Awwam.

Di penghujung abad 13 H, Syekh Mahfudz at-Tarmasi mulai belajar kepada Syekh Bakri Syatha, ulama keturunan Mesir yang menetap di Mekkah. Sebelum menetap di Mesir, Syekh Mahfudz belajar Tafsir Jalalain, Syarah Syarqawi atas kitab Hikam, Syarah Mardini dalam ilmu falak, dan Wasilah at-Thulab kepada Kiai Sholeh Darat Semarang. Ini adalah dalil tak terbantahkan yang didapat terkait pengaruh ulama Mesir di pesantren pada penghujung abad 19 M. Kitab-kitab di atas adalah karangan ulama Mesir.[red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *