Indonesia itu Berbeda (Refleksi HUT RI ke – 74)

Home / Pendidikan / Indonesia itu Berbeda (Refleksi HUT RI ke – 74)

Terhitung Sabtu, 17 Agustus 2019 Indonesia akan genap berusia 74 tahun. Di usianya yang tak lagi muda, seharusnya bangsa ini bisa menunjukkan kedewasaan dan sikap bijaknya, layaknya seseorang yang sudah berusia tiga perempat abad. Namun, nampaknya sikap tersebut belum dimiliki oleh sebagian masyarakat di republik ini. Buktinya masih ada sikap dan perilaku eksklusivisme kelompok yang mengusung tema primordialisme di masyarakat. Perbedaan SARA pun tak segan untuk mereka bawa ke tengah ruang publik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mereka tentang pluralisme dan kebhinnekaan masih tergolong rendah.

Negeri yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote ini dihuni oleh banyak etnik dengan keragaman budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama. Inilah realitas yang harusnya kita terima dengan tulus sebagai bangsa Indonesia. Sebuah kenyataan yang harusnya kita terima dengan hati yang lapang karena sesungguhnya keberagaman yang ada di bumi ini adalah sunnatullah. Firman Allah SWT:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang sudah dikehendaki oleh Tuhan. Perbedaan etnis, warna kulit, bahasa, budaya, adat istiadat, dan yang lainnya bukanlah sesuatu yang seharusnya dibesar-besarkan dan dipermasalahkan. Kebhinnekaan tersebut justru seharusnya memberikan pelajaran dan hikmah bagi kita.

Di ayat yang lain Allah SWT. kembali berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa Allah SWT. menjadikan manusia beraneka suku dan berbeda bangsa agar mereka dapat saling mengenal, dan tidak untuk saling meninggalkan atau saling berbangga diri satu sama lain. Oleh karena itu, sebagi bangsa Indonesia, bangsa yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,  seharusnya kita memaklumi kebhinnekaan yang ada di bumi pertiwi ini dan tidak memaksakan orang lain harus sama dengan kita. 1.340 suku bangsa (menurut sensus BPS tahun 2010) tidak mungkin kita paksa untuk menjadi satu suku bangsa. Tidak mungkin pula kita paksakan hanya ada satu agama di negeri ini, karena faktanya ada enam agama yang diakui, ‘Laa Ikraaha fid Diin’. Oleh karena itu, sikap saling menghormati mutlak harus dimiliki oleh setiap elemen bangsa ini. Dialog antar etnis, budaya, agama, dan organisasi sosial kemasyarakatan perlu untuk ditingkatkan intensitas dan kualitasnya agar masing-masing individu maupun kelompok bisa saling memahami. Di samping itu, dengan seringnya intensitas bertemu dalam forum-forum dialog, maka kedekatan emosional pun akan muncul. Dengan demikian, kebersamaan dalam kebhinnekaan “(kembali)” akan bisa terwujud. Karena hanya dengan semangat kebersamaan itulah “jamrud khatulistiwa” akan tetap mempesona. Wallahu a‘lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *