Dalil tentang Umur Panjang Nabi Khidir dan Penyebabnya

Home / Sejarah / Dalil tentang Umur Panjang Nabi Khidir dan Penyebabnya

Daruqhuthni meriwayatkan sebuah kisah dari Ibnu Abbas ra dengan mata rantai perawi sebelumnya. Dia menuturkan, “Ajal (kematian) Khidir ditangguhkan sampai dia bisa mendustakan Dajjal saat kemunculannya nanti.”

Adapun dalam kitab al-Mubtada’ Ibnu Ishaq mengungkapkan, “Para sahabat kami memberitahu bahwa ketika maut hendak menjemput Nabi Adam as, dia mengumpulkan anak-anaknya dan berkata, “Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab kepada penghuni bumi. Maka, bawalah jasadku ini ke dalam gua dan kuburkan aku di negeri Syam.’ Demikian pula ketika banjir bandang melanda, Nuh berkata kepada anak-anaknya, ‘Sesungguhnya Adam berdoa kepada Allah agar Dia memanjangkan umur orang yang menguburkan jasadnya hingga terjadi hari kiamat. Ternyata, tak ada seorang pun yang menguburkan jasad Adam, hingga Khidir melakukannya. Maka, Allah pun mengabulkan permintaan Adam sehingga Khidir bisa hidup hingga waktu yang dikehendaki Allah.”

Dalam biografi Zulkarnain, Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah kisah dari jalur Khaitsamah bin Sulaiman, dia mendapatkannya dari Abu Ubaidah bin Akhi Hinad, yang diceritakan oleh Sufyan bin Waki’, dari ayahnya. Dia mendapatkan riwayat dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari Abu Ja’far, bersumber dari ayahnya yang menuturkan, dia pernah ditanya tentang Zulkarnain. Dia menjawab, “Zulkarnain adalah satu di antara sekalian hamba Allah yang saleh. Dia memiliki derajat yang tinggi di mata Allah dan kekuasaan yang terbentang dari belahan bumi bagian timur sampai barat. Dia mempunyai sahabat dari bangsa malaikat bernama Rafail. Seuatu hari, malaikat Rafail ini mengunjunginya. Ketika keduanya sedang asyik berbincang, dia bertanya kepada Sang Malaikat, “Ceritakanlah kepadaku, bagaimana ibadah kalian di langit?”

Mendengar pertanyaan itu, Sang Malaikat pun menangis, lalu berkata, “Ibadah kalian sungguh tak ada apa-apanya dibanding ibadah kami. Di langit, terdapat malaikat yang selalu berdoa sambil berdiri dan tak pernah duduk sekali pun, ‘Ya Tuhan kami, sungguh kami tidak sanggup menyembahmu dengan sebenar-benarnya, sebagaimana yang Engkau minta.”

Mendengar penuturan Malaikat Rafail ini, giliran Zulkarnain yang menangis. Lalu dia berkata, “Wahai Rafail, sungguh aku berharap diberi umur panjang sehingga aku bisa beribadah kepada Tuhanku dengan sebenar-benarnya.”

“Apakah kau benar-benar menginginkan itu?” tanya Rafail.

“Ya,” tegas Zulkarnain.

“Sesungguhnya Allah memiliki sebuah mata air yang dinamakan Mata Air Kehidupan. Siapa pun yang meminum air darinya, dia tidak akan pernah mati selamanya, hingga dia sendiri yang meminta kepada Tuhannya supaya dijemput ajalnya,” jelas Rafail.

“Apakah kau tahu di mana tempatnya?” tanya Zulkarnain.

“Persisnya aku tak tahu. Namun, kami (para malaikat) kerap berbincang di langit bahwa Allah memiliki sebuah tempat yang gelap di bumi, yang tidak pernah diinjak oleh bangsa manusia maupun jin. Kami menduga bahwa mata air itu ada di tempat tersebut.”

Maka, Zulkarnain segara mengumpulkan para ulama di bumi dan menanyai mereka tentang Mata Air Kehidupan. Namun, mereka semua mengatakan tidak tahu. Zulkarnain kemudian bertanya, “Apakah menurut ilmu kalian, Allah memiliki sebuah tempat yang gelap di muka bumi ini?”

Salah seorang ulama balik bertanya, “Mengapa engkau bertanya mengenai hal itu?”

“Dalam wasiat Adam yang kubaca disebutkan bahwa tempat gelap itu berada di tanduk matahari,” jelas Zulkarnain.

Selanjutnya, dia segera mempersiapkan diri untuk mencarinya, lalu melakukan perjalanan hingga 12 tahun lamanya, hingga mencapai salah satu sudut tanah yang gelap itu. Ternyata kegelapan itu bukanlah malam, melainkan sesuatu yang memancar seperti asap. Kemudian dia mengumpulkan pasukannya seraya berkata, “Aku ingin melintasinya.”

Akan tetapi, para pasukannya itu melarangnya. Sementara para ulama yang kala itu juga ikut bersamanya, memintanya untuk menghentikan niat tersebut uspaya Allah tidak murka kepada mereka, tetapi Zulkarnain menolak. Dia justru memilih 6.000 pasukan yang menunggak 6.000 kuda betina dan seluruhnya masih perawan. Zulkarnain pun mengangkat Khidir sebagai komandan untuk memimpin pasukan terdepan yang berjumlah 2.000 orang. Khidir berjalan di depan Zulkarnain, dan meskipun dia menyembunyikan keinginannya, Khidir tetap mengetahui apa yang diinginkan rajanya itu.

Di tengah perjalanan, pasukan itu menemukan sebuah lembah, dan Zulkarnain menyangka bahwa Mata Air Kehidupan itu ada di dalam lembah tersebut. Ketika di sampai di bibir lembah, dia meminta para pasukannya untuk berheni. Dia menoleh ke arah mereka, sementara dia telah berada di tepi sebuah mata air. Lalu, Zulkarnain melepas bajunya.

Rupanya, air yang mengalir dari mata air itu lebih putih daripada susu dan lebih manis dari madu. Dia meminum air tersebut dan menggunakannya untuk berwudhu dan mandi. Kemudian dia keluar dan mengenakan pakaiannya lagi, lalu kembali ke pasukannya dan melanjutkan perjalanan. Ternyata Zulkarnain telah keliru, mata aiar itu bukanlah mata air yang dicari.”

Demikian penuturan Ali bin Husain bin Ali  bin Abu Thalib hingga akhir kisah tersebut.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *