Contoh Pidato Bahasa Arab tingkat SD dan MI

Perangkat Pembelajaran, Umum
Pidato Bahasa Arab SD/MI السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ المُكَرَّمُ سِيَادَةَ رِجَالِ التَّحْكِيْمِ وَالحَاضِرُوْنَ الكِرَامُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ  وَ نَسْتَعِيْنُهُ  وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا وَ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَـمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَـمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ اِبْرَاهِيْمَ, فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. أَمَّا بَعْدُ ... قَالَ شَاعِرٌ: العَقْلُ السَّلِيْمُ فِى الْجِسْمِ السَّلِيْمِ إِنَّ الْمَدْرَسَةَ الْإِسْلَامِيَّةَ قَائِمَةٌ بِوَظِيْفَةٍ عَقْلِيَّةٍ وَ جِسْمِيَّةٍ فَهِيَ تُكَوِّنُ أَجْسَامَ تَلَامِيْذِهَا قَوِيَّة ًوَ صَحِيْحَةً فَتَلِدُ مِنْ بَعْدِ تَكْوِيْنِهَا عَقْلًا سَلِيْمًا وَ فِكْرًا ذَاكِيًا وَ ذِهْنًا جَيِّدًا وَ قَلْبًا صَافِيًا فَاعْلَمُوْا يَا أَيُّهَا النَّاسُ...!!! إِنَّ الْمَدْرَسَةَ الْإِسْلَا مِيَّةَ تُكَوِّنُ الثَّقَافَةَ الْإِسْلَامِيَّةَ.…
Read More

Kiai Agung Muhammad Besari

Sejarah
Silsilah Keturunan Kiai Agung Muhammad Besari berasal dari Caruban, Madiun. Ayahnya bernama Kiai Anom Besari dari Kuncen, Caruban, Madiun. Kiai Agung Muhammad Besari mempunyai sembilan putra-putri. Salah satunya bernama Zainal Abidin yang diambil menantu oleh Raja Selarong, Malaysia. Sedangkan putri bungsunya dinikahkan dengan Kiai Binu Umar. Dalam catatan sejarah, tokoh yang namanya disebut terakhir ini nantinya menjadi ulama besar yang mengajar di daerah Banjar. Berguru Kepada Kiai Danapura Sewaktu muda, Ki Agung Besari bersama adiknya, Nur Shadiq, berguru kepada Kiai Danapura, seorang ulama besar yang tinggal di sebelah tenggara Kota Ponorogo. Kiai Dana pura adalah keturunan dari Sunan Tembayat. Empat tahun lamanya mereka berdua belajar, setelah mereka melanglang buana ke daerah Ponorogo. Pada saat singgah di Mantub, Ngadisan, mereka berdua bertemu dengan Kiai Nur Salim dan singgah di rumah kiai…
Read More
Penerapan Hukum Islam di Indonesia

Penerapan Hukum Islam di Indonesia

Fiqh
Oleh: Zusron, SH   Penerapan Hukum Islam bagi Umat Islam di Indonesia terdiri dari dua kategori yaitu : Pertama berlaku secara formal yuridis dalam hal ini berlakunya hukum islam sebagai hukum positif yang berlandaskan pada undang – undang. Kedua berlakunya hukum islam secara normative yaitu hukum yang diakui, dapat di terapkan dan dihayati dengan berdasarkan pada keyakinan dan kesadaran dari umat islam untuk mengamalkannya (M. Daud Ali 1991: 75). Pemberlakuan hukum islam di Indonesia secara formal yuridis sebenarnya sudah berlangsung di Indonesia, hanya saja hanya bersifat parsial, yaitu hukum keperdataan seperti halnya hukum mengenai perkawinan, waris, perwakafan, (yang disebut dengan kompilasi hukum Islam) dan di tahun 1999 mulai di terapkan hukum islam yang mengatur menganai Zakat dan di atur dalam Undang – undang. Pemberlakuan hukum islam yang lebih luas menempati…
Read More
Tiga Tingkatan Hamba dalam Menjalankan Agama (Kitab Maraqi Al-Ubudiyah)

Tiga Tingkatan Hamba dalam Menjalankan Agama (Kitab Maraqi Al-Ubudiyah)

Tasawuf
Ketahuilah, posisi seorang hamba dalam agamanya dibedakan dalam 3 tingkatan. Pertama, adakalanya hamba itu selamat dari dosa. Yaitu, orang yang membatasi diri hanya mengerjakan amalan-amalan fardhu dan meninggalkan maksiat. Kedua, adakalanya orang yang beruntung untuk akhiratnya. Yaitu, orang yang rela dan berlapang dada melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengerjakan amalan-amalan sunnah. Ketiga, seorang hamba yang merugi, celaka, atau berdosa. Yaitu, orang yang ceroboh dan lalai dalam mengerjakan kewajiban yang harus ditunaikan. Allah Swt berfirman, “Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri (dengan kelalaian dalam amal), dan di antara mereka ada yang pertengahan (yang beramal pada sebagian besar waktunya), dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan (dengan belajar, beramal dan mengajar serta membimbing orang lain dalam beramal) dengan izin Allah.” (QS…
Read More

Dalil tentang Umur Panjang Nabi Khidir dan Penyebabnya

Sejarah
Daruqhuthni meriwayatkan sebuah kisah dari Ibnu Abbas ra dengan mata rantai perawi sebelumnya. Dia menuturkan, “Ajal (kematian) Khidir ditangguhkan sampai dia bisa mendustakan Dajjal saat kemunculannya nanti.” Adapun dalam kitab al-Mubtada’ Ibnu Ishaq mengungkapkan, “Para sahabat kami memberitahu bahwa ketika maut hendak menjemput Nabi Adam as, dia mengumpulkan anak-anaknya dan berkata, “Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab kepada penghuni bumi. Maka, bawalah jasadku ini ke dalam gua dan kuburkan aku di negeri Syam.’ Demikian pula ketika banjir bandang melanda, Nuh berkata kepada anak-anaknya, ‘Sesungguhnya Adam berdoa kepada Allah agar Dia memanjangkan umur orang yang menguburkan jasadnya hingga terjadi hari kiamat. Ternyata, tak ada seorang pun yang menguburkan jasad Adam, hingga Khidir melakukannya. Maka, Allah pun mengabulkan permintaan Adam sehingga Khidir bisa hidup hingga waktu yang dikehendaki Allah.” Dalam biografi Zulkarnain, Ibnu…
Read More
Yayasan BCKMI Selenggarakan Pemotongan Hewan Kurban

Yayasan BCKMI Selenggarakan Pemotongan Hewan Kurban

Umum
Pada hari Ahad (11/8) Yayasan Bina Cipta Karya Mulia Insani (BCKMI) menyelenggarakan pemotongan hewan kurban di kota Bontang, Kalimantan Timur. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan dalam rangka menyemarakkan hari raya Idul Adha, serta sebagai bentuk pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. “Alhamdulillah tahun ini kami memotong 1 sapi. Daging kurban ini kami distribusikan ke berbagai tempat di Bontang, seperti Selambai Loktuan, Berbas Pantai, Pisangan, Simpang Sangata, dan lain sebagainya. Ada sekitar 100 orang yang mendapatkan daging hari ini,” ungkap Jehan Fiqhi, ketua panitia. Menurutnya, antusias seluruh panitia dan masyarakat sangat tinggi. Meskipun banyak penyelenggaraan pemotongan hewan kurban di berbagai tempat, ternyata masih banyak warga Bontang dan sekitarnya yang belum mendapatkan akses distribusi daging kurban. “Kami isi celah-celah tersebut, mudah-mudahan dengan itu dapat meng-cover seluruh warga Bontang yang membutuhkan,”katanya sambil tersenyum. Kegiatan…
Read More
Monopoli Klaim Kebenaran: Hanya Mereka yang Sesuai Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Monopoli Klaim Kebenaran: Hanya Mereka yang Sesuai Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Umum
Oleh: Nasrudin Toha Aliran atau kelompok yang membangun paham tidak benar terhadap makna-makna tamkin, sebagian kelompok tersebut memplokamirkan diri dengan ilmu dan dakwah, lebih-lebih bahwa mereka satu-satunya contoh yang mempraktekkan ahlus sunnah wal jamaah. Struktur dan metode aliran ini dianggap madzhab mubtadi’ (dari kata bid’ah) dipandang dari sisi perkembangan, rujukan, deskripsi, dan cara pandangnya terhadap negara muslim dan klasifikasi mereka tentang masyarakat muslim. Dari hal-hal itulah mereka sebenarnya jauh dari metode ahlus sunnah wal jamaah. Mereka membatasi metode yang dinisbahkan kepada ahlus sunnah hanya dalam serangkaian isu keilmuan dan fiqih, yang umat Islam sendiri sudah membahasnya sejak dahulu. Dari hanya beberapa isu dan permasalahan inilah, muncul parameter dan timbangan, apakah seseorang masuk atau keluar dari ahlus sunnah dalam pandangan mereka. Oleh karena itu, kita temukan bahwa porsi terbesar dari hasil…
Read More
Membongkar Kesesatan Tamkin: Kebelet Berkuasa Berkedok Agama

Membongkar Kesesatan Tamkin: Kebelet Berkuasa Berkedok Agama

Umum
Oleh: Nasrudin Toha Tamkin secara bahasa berarti mashdar dari kata makuna (kuat dan tinggi). Maka tamkin bermakna menghilangkan penghalang. Secara istilah, tamkin sesuai dengan apa yang ada di al-Quran dan hadits (tidak keluar dari makna bahasa), yaitu kepemilikan, kekuatan, dan kekuasaan. Dapat pula dimaknai sebagai mempermudah urusan, menghilangkan penghalang, dan melimpahnya sebab-sebab. Jika ditinjau dari segi syariat, tamkin sendiri berarti menegakkan ibadah, tersebar dan eksisnya agama Islam. Secara umum, tamkin merupakan perwujudan dari perbuatan Tuhan yang mutlak. Manusia di bawah naungan-Nya dapat mewujudkan tujuan mereka secara bermacam-macam.   Pengertian Tamkin Menurut Kelompok Menyeleweng Para anggota dan pembesar kelompok menyeleweng telah membentuk pengertian, pandangan, pemahaman yang salah terhadap Islam. Kelompok menyeleweng ini kerapkali membentuk sebuah pemahaman baru terhadap agama dan syariat. Mereka menciptakan definisi  yang baru terhadap beberapa istilah dalam syariat…
Read More

Puasa Tarwiyah, Arafah, dan Hewan Qurban Kendaraan di Akhirat

Fiqh
Dalil hadits shahih secara umum tentang puasa Dzulhijjah adalah: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi, sungguh beliau bersabda: Tidak ada amal yang lebih utama daripada amal ibadah di 10 hari Dzulhijjah ini. Sahabat bertanya: Apakah juga tidak jihad? Beliau menjawab: Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apapun.” (HR al-Bukhari) Dari hadits ini, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dijadikan dalil keutamaan puasa di sepuluh hari Dzulhijjah sebab puasa masuk dalam amal ibadah.” Sedangkan dalil khusus puasa hari Tarwiyah adalah: “Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa setahun dan Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun.” (HR Ibnu Hibban dalam at-Tsawab dan Ibnu an-Najjar dalam at-Tarikh dari Ibnu Abbas) Sementara Madzhab Maliki secara tegas menganjurkan puasa Tarwiyah: “Di dalam kitab al-Jawahir: Dianjurkan puasa 9 Muharram…
Read More
Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Sejarah
Kalau melihat lebih luas dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan Sriwijaya punya peranan penting. Dalam Buku Pintar Aswaja, disebutkan secara gamblang hal ini. Salah satu kekuatan bangsa nusantara di masa lampau adalah kemampuan masyarakatnya di sektor kelautan. Para pelaut dan pedagang Sriwijaya (Palembang) menjalin hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Arab, India, Cina dan lainnya. Dinamika Islam di dunia Arab pun diketahui masyarakat nusantara. Masyarakat Sriwijaya misalnya, secara intens mengenal Islam sejak abad VII. Hubungan diplomatik terjadi antara penguasa Sriwijaya era Sri Maharaja Indra Warmadewa dengan dinasti Umayyah era Muawiyah bin Abi Shufyan (661 M) dan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). komunikasi intensif masyarakat nusantara dengan Dinasti Umayyah mempererat keduanya. Komunikasi penguasa nusantara dengan dunia Arab juga terus berlanjut di era Dinasti Abbasiyah masa kepemimpinan Harun al-Rasyid (786-809…
Read More

Larangan Melaknat dalam Islam

Tasawuf, Tauhid
Melaknat yaitu mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah swt. Dalam kitab Maraqi Ubudiyah karya Syeikh Nawawi Banten, sebuah kitab syarh (penjelasan) dari kitab Bidayah Hidayah karya Imam Ghazali, disebutkan larangan menggunakan lisan untuk melaknat. Meskipun, dalam era teknologi informasi saat ini, bukan hanya terbatas pada lisan, tapi juga tulisan. Disebutkan: jangan melaknat ciptaan Allah, entah itu terhadap hewan, makanan, tumbuhan, dan manusia meskipun ia kafir. Misalnya, kamu berkata, “Semoga Allah swt melaknat si Fulan karena orang Yahudi.” Sebab, hal ini sangat berbahaya karena bisa jadi ia mendapat hidayah lalu masuk Islam, kemudian mati, dan di akhirat kelak termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi-Nya. Adapun melaknat tanpa menyebutkan nama seseorang, maka hal itu diperbolehkan seperti ungkapan, “Semoga Allah melaknat orang-orang zhalim, semoga Allah melaknat orang-orang kafir, semoga Allah melaknat…
Read More
Dalil Tentang Kenabian Khidir

Dalil Tentang Kenabian Khidir

Sejarah
Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau memberikan bukti kuat kenabian Khidir. Perbincangan tentang nabi Musa dalam al-Quran, Allah menceritakan kisah nabi Khidir: “Dan aku tiada melakukannya menurut kemauanku sendiri.” (QS al-Kahfi [18]: 82). Secara tekstual, ayat ini dapat dipahami bahwa Khidir melakukannya karena perintah dari Allah. Perbuatan tersebut meliputi melubangi perahu yang dinaikinya bersama nabi Musa, membunuh seorang anak yang masih suci, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh. Namun, ada pula kemungkinan pendapat lain yang menyatakan bahwa perintah itu disampaikan melalui perantara nabi lain yang tidak disebutkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Pendapat yang terakhir ini sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada jalan untuk mengatakan bahwa itu merupakan suatu ilham (kepada seseorang yang bukan nabi). Sebab ilham akan muncul sebagai wahyu dari seseorang yang bukan…
Read More
Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Sejarah
Sejarah selalu mengungkapkan banyak hal. Salah satunya, dalam Buku Pintar Islam Nusantara, dituliskan bahwa kerajaan nusantara pernah mengirim sebuah rombongan delegasi untuk menemui Rasulullah saw setelah mendengar kabar tentang keagungan beliau. Delegasi khusus dari sebuah kerajaan di Sumatera dikirim untuk menemui Rasulullah saw di Madinah. Utusan khusus tersebut terdiri dari dua orang, yaitu seorang pejabat kerajaan dan didampingi oleh seorang staf. Keduanya dikirim ke Madinah untuk melihat secara langsung aktivitas Nabi Muhammad saw. Eksistensi nabi Muhammad saw membangun kota Madinah yang beradab ternyata telah didengar masyarakat luas, termasuk masyarakat nusantara. Perjalanan utusan dari salah satu kerajaan nusantara menuju Madinah penuh tantangan. Sesampai di Madinah ternyata kedua orang utusan tersebut gagal menunaikan misinya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad saw, karena Nabi telah wafat. Bahkan Khalifah Abu Bakar pun telah wafat. Pada…
Read More

Fath Al-Qadir Fi Ajaib Al-Maqadir: Kitab Metrologi Islam Nusantara

Sejarah
Kitab yang berjudul Fath al-Qadir fi Ajaib al-Maqadir ini dikarang oleh KH Mashum Ali, ulama besar nusantara dari Jombang, Jawa Timur (w. 1351 H/ 1933M). Kitab ini membahas kajian ilmu ukur dan timbangan, atau yang juga disebut metroogi dan surveying (the science of measurement). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Arab (Jawi), dan kadang diselingi dengan bahasa Jawa. Dalam kolofon, disebutkan jika kitab ini diselesaikan pada ahun 1339 H (1921 M. Kitab ini lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan (Surabaya) tanpa tahun. Versi cetakan Nabhan, tebal kitab ini sebanyak 24 halaman. Dalam ensiklopedi Wikipedia, disebutkan jika metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu ini erat kaitannya dengan satuan ukuran dan timbangan. Dalam tradisi Arab Islam,…
Read More

Hasyiah Al-Tarmasi: Karya Fikih Madzhab Syafii Terbesar Abad ke-20

Sejarah
Ini adalah kitab Mauhibah Dzi al-Fadhl Hasiyah ala Syarh Ibn Hajar ala Muqaddimah Ba-Fadhal. Disebut pula al-Manhal al-Amim bi Hasyiah al-Manhaj al-Qawwim karangan seorang ulama beswar dunia Islam yang hdiup di abad ke-14 H (akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M) dan bermukim di Makkah, yang berasal dari nusantara (Tremas, Jawa Timur, yaitu Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah ibn Abd al-Mannan al-Tarmasi tsumma al-Makki (dikenal dengan Syaikh Mahfudz Tremas, w. 1920 M). Kitab ini juga dikenal dengan nama Hasyiah al-Tarmasi, yang tercatat sebagai karya terbesar dalam fikih madzhab Syafii di seluruh dunia Islam yang ditulis pada abad ke-14 H. karena itu, tidaklah mengherankan jika karya ini dikaji dan dirujuk di pelbagai belahan dunia Islam yang penduduknya menganut fikih madzhab Syafii, mulai dari Haramain, Mesir, Suriah, Irak, Kurdistan, Dagestan…
Read More

Kenapa Dinamakan Khidir?

Sejarah
Dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan tentang asal-usul nama Khidir. Suatu ketika dia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang dia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau (khadra’). Pendapat ini diungkapkan oleh Imam Ahmad, mengutip riwayat Ibnu Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam, yang bersumber dari Abu Hurairah ra. sebagaimana dijelaskan di atas, farwah berarti tanah kering. Dalam riwayat lain, Imam Ahmad juga mengungkapkan riwayat ini dengan redaksi sebagai berikut, “Kami mendapatkan kisah dari Abdurrazzaq, dia diberitahu Ma’mar kisah dari Hammam, dari Abu Hurairah ra bahwasanya dinamakan Khidir karena ketia dia duduk di atas farwah, tanah itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” Dalam hadis ini, farwah diartikan sebagai rumput kering yang berwarna putih. Mengenai riwayat di atas, Abdullah bin Ahmad menyatakan,…
Read More

Ini Dia Sebab Karya Ulama al-Azhar Diterima di Pesantren

Sejarah
Ada banyak faktor yang menjadikan karya ulama al-Azhar dapat diterima secara luas oleh kalangan pesantren. Di sini, ada 3 faktor utama, yaitu: Pertama. Faktor hubungan guru-murid. Hubungan guru-murid memegang peranan sangat penting dalam penyebaran sebuah karya. Maklum diketahui bahwa seorang murid akan merasa tersanjung apabila dapat meneruskan dan mengembangkan pemikiran sang guru. Ikatan di antara keduanya yang tidak terbatas di dunia saja menjadikan seorang murid merasa berkewajiban untuk melestarikan ajaran sang guru. Hubungan guru-murid ini berlanjut kepada cucu murid dan seterusnya. Hal ini yang mendorong alumnus Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Tremas sebagai dua tokoh yang sangat berpengaruh di dunia pesantren untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari dari guru-gurunya dalam pesantren yang mereka dirikan. Kemudian, murid-murid para kiai alumnus juga bertindak sama sehingga dari pesantren satu ke pesantren lain…
Read More

Ini Dia 10 Riwayat tentang Garis Keturunan Nabi Khidir

Sejarah, Tauhid
Ada beberapa riwayat berkaitan dengan garis keturunan Nabi Khidir. Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa Khidir adalah putra nabi Adam as, yang tercipta dari tulang sulbinya. Pendapat ini diriwayatkan oleh Daruquthni dalam kitab al-Afrad dari jalur Rawwad bin Jarah. Ia memperoleh kisah ini dari Muqatil bin Sulaiman, dari adh-Dhahhak, yang bersumber dari  Ibnu Abbas ra. Rawwad adalah perawi yang lemah (dhaif), Muqatil perawi yang ditinggalkan (matruk), sedangkan adh-Dhahhak tidak pernah mendengar hadis ini dari Ibnu Abbas ra. Kedua. Pendapat yang menyatakan, Khidir adalah anak dari Qabil, putra nabi Adam. Pernyataan ini dikatakan oleh Abu Hatim as-Sijistani dalam kitab al-Muammarin. Ia mengatakan, “Kami mendapatkan kisah ini dari guru-guru kami, salah satunya Abu Ubaidah.” Kemudian Abu Hatim menyebutkan riwayat yang menyatakan bahwa Khidir adalah putra Qabil. Riwayat ini mu’dhal, hadis mu’dhal yaitu para…
Read More