Puasa Tarwiyah, Arafah, dan Hewan Qurban Kendaraan di Akhirat

Fiqh
Dalil hadits shahih secara umum tentang puasa Dzulhijjah adalah: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi, sungguh beliau bersabda: Tidak ada amal yang lebih utama daripada amal ibadah di 10 hari Dzulhijjah ini. Sahabat bertanya: Apakah juga tidak jihad? Beliau menjawab: Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apapun.” (HR al-Bukhari) Dari hadits ini, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dijadikan dalil keutamaan puasa di sepuluh hari Dzulhijjah sebab puasa masuk dalam amal ibadah.” Sedangkan dalil khusus puasa hari Tarwiyah adalah: “Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa setahun dan Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun.” (HR Ibnu Hibban dalam at-Tsawab dan Ibnu an-Najjar dalam at-Tarikh dari Ibnu Abbas) Sementara Madzhab Maliki secara tegas menganjurkan puasa Tarwiyah: “Di dalam kitab al-Jawahir: Dianjurkan puasa 9 Muharram…
Read More
Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Hubungan Diplomatik Sriwijaya dengan Dinasti Umayyah-Abbasiyah

Sejarah
Kalau melihat lebih luas dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia, kerajaan Sriwijaya punya peranan penting. Dalam Buku Pintar Aswaja, disebutkan secara gamblang hal ini. Salah satu kekuatan bangsa nusantara di masa lampau adalah kemampuan masyarakatnya di sektor kelautan. Para pelaut dan pedagang Sriwijaya (Palembang) menjalin hubungan perniagaan dengan bangsa-bangsa lain, seperti Arab, India, Cina dan lainnya. Dinamika Islam di dunia Arab pun diketahui masyarakat nusantara. Masyarakat Sriwijaya misalnya, secara intens mengenal Islam sejak abad VII. Hubungan diplomatik terjadi antara penguasa Sriwijaya era Sri Maharaja Indra Warmadewa dengan dinasti Umayyah era Muawiyah bin Abi Shufyan (661 M) dan Umar bin Abdul Aziz (717-720 M). komunikasi intensif masyarakat nusantara dengan Dinasti Umayyah mempererat keduanya. Komunikasi penguasa nusantara dengan dunia Arab juga terus berlanjut di era Dinasti Abbasiyah masa kepemimpinan Harun al-Rasyid (786-809…
Read More

Larangan Melaknat dalam Islam

Tasawuf, Tauhid
Melaknat yaitu mendoakan orang lain agar dijauhkan dari rahmat Allah swt. Dalam kitab Maraqi Ubudiyah karya Syeikh Nawawi Banten, sebuah kitab syarh (penjelasan) dari kitab Bidayah Hidayah karya Imam Ghazali, disebutkan larangan menggunakan lisan untuk melaknat. Meskipun, dalam era teknologi informasi saat ini, bukan hanya terbatas pada lisan, tapi juga tulisan. Disebutkan: jangan melaknat ciptaan Allah, entah itu terhadap hewan, makanan, tumbuhan, dan manusia meskipun ia kafir. Misalnya, kamu berkata, “Semoga Allah swt melaknat si Fulan karena orang Yahudi.” Sebab, hal ini sangat berbahaya karena bisa jadi ia mendapat hidayah lalu masuk Islam, kemudian mati, dan di akhirat kelak termasuk orang-orang yang didekatkan di sisi-Nya. Adapun melaknat tanpa menyebutkan nama seseorang, maka hal itu diperbolehkan seperti ungkapan, “Semoga Allah melaknat orang-orang zhalim, semoga Allah melaknat orang-orang kafir, semoga Allah melaknat…
Read More
Dalil Tentang Kenabian Khidir

Dalil Tentang Kenabian Khidir

Sejarah
Dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, beliau memberikan bukti kuat kenabian Khidir. Perbincangan tentang nabi Musa dalam al-Quran, Allah menceritakan kisah nabi Khidir: “Dan aku tiada melakukannya menurut kemauanku sendiri.” (QS al-Kahfi [18]: 82). Secara tekstual, ayat ini dapat dipahami bahwa Khidir melakukannya karena perintah dari Allah. Perbuatan tersebut meliputi melubangi perahu yang dinaikinya bersama nabi Musa, membunuh seorang anak yang masih suci, dan menegakkan dinding rumah yang hampir roboh. Namun, ada pula kemungkinan pendapat lain yang menyatakan bahwa perintah itu disampaikan melalui perantara nabi lain yang tidak disebutkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Pendapat yang terakhir ini sangat jauh dari kebenaran. Tidak ada jalan untuk mengatakan bahwa itu merupakan suatu ilham (kepada seseorang yang bukan nabi). Sebab ilham akan muncul sebagai wahyu dari seseorang yang bukan…
Read More
Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Ternyata Kerajaan Nusantara Pernah Mengirim Delegasi Menemui Rasulullah

Sejarah
Sejarah selalu mengungkapkan banyak hal. Salah satunya, dalam Buku Pintar Islam Nusantara, dituliskan bahwa kerajaan nusantara pernah mengirim sebuah rombongan delegasi untuk menemui Rasulullah saw setelah mendengar kabar tentang keagungan beliau. Delegasi khusus dari sebuah kerajaan di Sumatera dikirim untuk menemui Rasulullah saw di Madinah. Utusan khusus tersebut terdiri dari dua orang, yaitu seorang pejabat kerajaan dan didampingi oleh seorang staf. Keduanya dikirim ke Madinah untuk melihat secara langsung aktivitas Nabi Muhammad saw. Eksistensi nabi Muhammad saw membangun kota Madinah yang beradab ternyata telah didengar masyarakat luas, termasuk masyarakat nusantara. Perjalanan utusan dari salah satu kerajaan nusantara menuju Madinah penuh tantangan. Sesampai di Madinah ternyata kedua orang utusan tersebut gagal menunaikan misinya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad saw, karena Nabi telah wafat. Bahkan Khalifah Abu Bakar pun telah wafat. Pada…
Read More

Fath Al-Qadir Fi Ajaib Al-Maqadir: Kitab Metrologi Islam Nusantara

Sejarah
Kitab yang berjudul Fath al-Qadir fi Ajaib al-Maqadir ini dikarang oleh KH Mashum Ali, ulama besar nusantara dari Jombang, Jawa Timur (w. 1351 H/ 1933M). Kitab ini membahas kajian ilmu ukur dan timbangan, atau yang juga disebut metroogi dan surveying (the science of measurement). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Arab (Jawi), dan kadang diselingi dengan bahasa Jawa. Dalam kolofon, disebutkan jika kitab ini diselesaikan pada ahun 1339 H (1921 M. Kitab ini lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan (Surabaya) tanpa tahun. Versi cetakan Nabhan, tebal kitab ini sebanyak 24 halaman. Dalam ensiklopedi Wikipedia, disebutkan jika metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu ini erat kaitannya dengan satuan ukuran dan timbangan. Dalam tradisi Arab Islam,…
Read More

Hasyiah Al-Tarmasi: Karya Fikih Madzhab Syafii Terbesar Abad ke-20

Sejarah
Ini adalah kitab Mauhibah Dzi al-Fadhl Hasiyah ala Syarh Ibn Hajar ala Muqaddimah Ba-Fadhal. Disebut pula al-Manhal al-Amim bi Hasyiah al-Manhaj al-Qawwim karangan seorang ulama beswar dunia Islam yang hdiup di abad ke-14 H (akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M) dan bermukim di Makkah, yang berasal dari nusantara (Tremas, Jawa Timur, yaitu Syaikh Muhammad Mahfudz ibn Abdullah ibn Abd al-Mannan al-Tarmasi tsumma al-Makki (dikenal dengan Syaikh Mahfudz Tremas, w. 1920 M). Kitab ini juga dikenal dengan nama Hasyiah al-Tarmasi, yang tercatat sebagai karya terbesar dalam fikih madzhab Syafii di seluruh dunia Islam yang ditulis pada abad ke-14 H. karena itu, tidaklah mengherankan jika karya ini dikaji dan dirujuk di pelbagai belahan dunia Islam yang penduduknya menganut fikih madzhab Syafii, mulai dari Haramain, Mesir, Suriah, Irak, Kurdistan, Dagestan…
Read More

Kenapa Dinamakan Khidir?

Sejarah
Dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan tentang asal-usul nama Khidir. Suatu ketika dia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang dia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau (khadra’). Pendapat ini diungkapkan oleh Imam Ahmad, mengutip riwayat Ibnu Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam, yang bersumber dari Abu Hurairah ra. sebagaimana dijelaskan di atas, farwah berarti tanah kering. Dalam riwayat lain, Imam Ahmad juga mengungkapkan riwayat ini dengan redaksi sebagai berikut, “Kami mendapatkan kisah dari Abdurrazzaq, dia diberitahu Ma’mar kisah dari Hammam, dari Abu Hurairah ra bahwasanya dinamakan Khidir karena ketia dia duduk di atas farwah, tanah itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” Dalam hadis ini, farwah diartikan sebagai rumput kering yang berwarna putih. Mengenai riwayat di atas, Abdullah bin Ahmad menyatakan,…
Read More

Ini Dia Sebab Karya Ulama al-Azhar Diterima di Pesantren

Sejarah
Ada banyak faktor yang menjadikan karya ulama al-Azhar dapat diterima secara luas oleh kalangan pesantren. Di sini, ada 3 faktor utama, yaitu: Pertama. Faktor hubungan guru-murid. Hubungan guru-murid memegang peranan sangat penting dalam penyebaran sebuah karya. Maklum diketahui bahwa seorang murid akan merasa tersanjung apabila dapat meneruskan dan mengembangkan pemikiran sang guru. Ikatan di antara keduanya yang tidak terbatas di dunia saja menjadikan seorang murid merasa berkewajiban untuk melestarikan ajaran sang guru. Hubungan guru-murid ini berlanjut kepada cucu murid dan seterusnya. Hal ini yang mendorong alumnus Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Tremas sebagai dua tokoh yang sangat berpengaruh di dunia pesantren untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari dari guru-gurunya dalam pesantren yang mereka dirikan. Kemudian, murid-murid para kiai alumnus juga bertindak sama sehingga dari pesantren satu ke pesantren lain…
Read More

Ini Dia 10 Riwayat tentang Garis Keturunan Nabi Khidir

Sejarah, Tauhid
Ada beberapa riwayat berkaitan dengan garis keturunan Nabi Khidir. Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa Khidir adalah putra nabi Adam as, yang tercipta dari tulang sulbinya. Pendapat ini diriwayatkan oleh Daruquthni dalam kitab al-Afrad dari jalur Rawwad bin Jarah. Ia memperoleh kisah ini dari Muqatil bin Sulaiman, dari adh-Dhahhak, yang bersumber dari  Ibnu Abbas ra. Rawwad adalah perawi yang lemah (dhaif), Muqatil perawi yang ditinggalkan (matruk), sedangkan adh-Dhahhak tidak pernah mendengar hadis ini dari Ibnu Abbas ra. Kedua. Pendapat yang menyatakan, Khidir adalah anak dari Qabil, putra nabi Adam. Pernyataan ini dikatakan oleh Abu Hatim as-Sijistani dalam kitab al-Muammarin. Ia mengatakan, “Kami mendapatkan kisah ini dari guru-guru kami, salah satunya Abu Ubaidah.” Kemudian Abu Hatim menyebutkan riwayat yang menyatakan bahwa Khidir adalah putra Qabil. Riwayat ini mu’dhal, hadis mu’dhal yaitu para…
Read More
Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Sejarah
Para ulama inilah yang membuka awal hubungan keilmuan antara nusantara dan al-Azhar. Di kemudian hari, pertalian ini sangat erat karena lebih diikat oleh pertalian sanad keilmuan. Ulama-ulama nusantara pun banyak yang berguru kepada ulama asal Mesir, meskipun tidak langsung di Mesir, melainkan bertemu di Makkah. Alhasil, ulama nusantara banyak yang menjadi pengajar di Makkah, mempunyai murid dari nusantara dan daerah lain selain nusantara. Murid-murid dari nusantara ini ketika kembali ke tanah air, lantas menjadi para pengasuh pesantren di banyak daerah. Beberapa tokoh ulama tersebut adalah: Abdus Shamad al-Falimbani Dalam buku Akar Tasawuf di Indonesia karya Dr. Alwi Syihab, dijelaskan bahwa Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (1791 M) adalah tokoh besar yang membawa ajaran Tarekat Samaniyah dan mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang kedua disebut adalah tarekat yang berkembang sangat pesat di Mesir.…
Read More
Corak Keilmuan Ulama Nusantara-Ulama Al-Azhar: Persamaan dan Perbedaan

Corak Keilmuan Ulama Nusantara-Ulama Al-Azhar: Persamaan dan Perbedaan

Umum
Pesantren dan al-Azhar adalah dua institusi yang dapat dibilang sebagai saudara kandung, tua-muda. Kedua institusi ini mempunyai kesamaan layaknya saudara kandung. Sama-sama berpengaruh, melahirkan sekian banyak tokoh, benteng moral dan ilmu agama, pengembang dan pelestari paham Ahlussunnah waljamaah, mengikuti empat madzhab Fiqih, berpaham Asy’ari dan Maturidi dalam beraqidah, dang mengikuti rumusan tasawuf Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam al-Ghozali. Sama dalam banyak hal tidak menafikan adanya perbedaan. Dalam bahasa mantiq sering diistilahkan Umum Khushush Wajhi, mempunyai titik persamaan sekaligus mempunyai titik perbedaan. Saudara kandung seringkali sama dalam beberapa hal dan punya kekhasan sendiri dalam hal lain. Persamaan: Al-Azhar dan pesantren sama-sama mengembangkan madzhab fiqih yang diakui, madzhab empat. Hanya saja pesantren dalam sejarahnya hanyamengajarkan madzhab Syafii, sementara al-Azhar mengembangkan keempatnya. Ulama al-Azhar berjiwa sufi, sama dengan ulama pesantren. Ulama al-Azhar berakidah…
Read More

Mengenal Fath al-Mutafakkirin Karya Syaikh Usman Ibnu Syihabuddin Pontianak

Sejarah
Kitab Fath al-Mutafakkirin merupakan karya terjemahan ulama besar nusantara asal Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat) yang berkarir di Makkah, yaitu Syaikh Usman ibnu Syihabuddin Funtiyanaq al-Jawi. Kitab ini mempunyai judul lengkap Fath al-Mutafakkirin Supaya Bertempat Iman dan Yakin, ditulis dengan bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi), sebagai terjemahan dari risalah karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti besar madzhab Syafii di Makkah. Kitab ini berisi kajian kontemplatif (tadabbur dan tafakkur) terhdap beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, penciptaan manusia dan hakikat eksistensinya, tazkiyatun nafs (jalan menuju pribadi manusia yang bersih dan bening), serta tuntunan menuju kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat. Isi kitab Fath al-Mutafakkirin bisa dikatakan sebagai perpaduan antara kajian teologi dan tasawuf. Karya ini diselesaikan di kota Thaif di Semenanjung Arabia…
Read More

Secarik Fatwa dari Syaikh Ahmad Nahrawi, Ulama yang Terlupakan Zaman

Sejarah
Fatwa tersebut tertulis di secarik kertas dan menjadi sangat berharga, bukan hanya karena berisi fatwa syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi (Kiyai Nahrawi Banyumas) terkait masalah hukum naqus (kentongan), melainkan juga karena selembar kertas ini dapat melngkapi informasi dan data akan keberadaan sosok beliau yang jejaknya sudah lama hilang terkubur. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi adalah salah satu ulama Makkah asal Jawi yang cukup berpengaruh, satu generasi dengan beberapa ulama besar Makkah asal Nusantara lainnya seperti Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Ahmad Fathani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain. Meski demikian, tak banyak yang mengupas sejarah hidup tokoh wong ngapak satu ini, baik dalam sumber-sumber Arab atau pun sumber-sumber Nusantara. Hal inilah yang menjadikan sosok beliau seakan terlupakan, hilang terkubur oleh putaran zaman. Sebuah informasi menyatakan jika beliau lahir di Banyumas pada paruh abad…
Read More
THE ISLAH CENTRE DUGA NEGARA ASING “BERMAIN” DI PILPRES 2019

THE ISLAH CENTRE DUGA NEGARA ASING “BERMAIN” DI PILPRES 2019

Umum
Perhelatan Pileg dan Pilpres 17 April 2019 telah usai, namun suhu politik di Indonesia sampai tiga belas hari pasca-Pilpres masih panas. Saling klaim kemenangan antara BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo-Sandi dan TKN (Tim Kampanye Nasional) Joko Widodo-KH Maruf Amin membuat hasil Pilpres seperti bola liar. Tim sukses kedua belah pihak pun membuat suasana makin panas dengan menyebarkan informasi yang belum tentu benar dan kadang mengandung unsur hasutan (provokatif). Ditambah lagi masifnya penyebaran hoax yang tidak terbendung. Setiap hari hoax, propaganda, provokasi dan sebagainya menjadi bagian yang dianggap jamak terjadi di tengah masyarakat kita. The Islah Centre, lembaga yang fokus dalam rekonsiliasi konflik dan terorisme menilai, stagnansi komunikasi antarelit politik, tokoh dan ulama pendukung Paslon 01 dan Paslon 02 harus segera dicairkan. Pasalnya, jika terus dibiarkan, hal itu bisa merusak tatanan…
Read More

PARADIGMA IDEOLOGI NEGARA (SUATU TINJAUAN ISLAMISASI HINGGA KONFLIK PEMIKIRAN ISLAM-POLITIK KONTEMPORER DI INDONESIA)

Sejarah
Oleh: Octavian Hendra PERSPEKTIF WAWASAN KE-INDONESIA-AN Kharakteristik majemuk merupakan suatu hal yang tak bisa dipungkiri ketika berbicara perihal ke-Indonesia-an. Pandangan tersebut didasarkan atas keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan yang merupakan kekayaan serta aset berharga bagi bangsa Indonesia. Kondisi demuikian dipengaruhi oleh perspektif fundamental yang menyebabkan Indonesia diselimuti keberagaman, sehingga bangsa ini memiliki keunikan tersendiri dari bangsa-bangsa lain di belahan dunia manapun. Perspektif fundamentalis yang dimaksud dapat ditinjau dari sisi geografis maupun dari segi historisitas. Dua ranah  tersebut memiliki efek dominan dalam terbentuknya sebuah karakter bangsa yang plural. Tinjauan dari sisi geografis menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau. Konsekuensi dari faktor geografis tersebut mampu menimbulkan komposisi ragam budaya yang berbeda. Ditambah dengan posisi silang Indonesia yang terletak antara benua Asia dan Australia, serta Samudera Pasifik…
Read More

Hidayah dan Dholalah (Petunjuk dan Penyesatan)

Tauhid
Kaidah }Allah menyesatkan siapapun yang dikehendaki dan menunjukkan siapapun yang dikehendaki }Makna: Allah menciptakan penyesatan dan petunjuk sekaligus, karena Allah Maha Mencipta }Mengapa harus dikaitkan dengan masyi-ah (siapapun yang dikehendaki)? } adalah sebagai penanda bahwa hidayah itu bukan berarti sebagai penjelasan jalan yang benar, karena penjelasan jalan yang benar itu umum dan hak setiap manusia }Menyesatkan di sini juga dengan kehendak Allah, karena bukan berarti bahwa setiap manusia yang lahir dalam keadaan tersesat atau disebut tersesat (mis: setiap manusia yang baru lahir adalah tersesat), karena jika demikian, maka tidak berarti apa-apa bila dikaitkan dengan masyiah (kehendak) Allah }Seringkali hidayah disandarkan kepada Nabi dan Quran, itu tidak lain sebagai kiasan sebagai salah satu jalan penyebab diberi petunjuk }Sebagaimana penyesatan disandarkan kepada syetan sebagai kiasan, sebagaimana pula disandarkan kepada berhala. }Hidayah: petunjuk…
Read More

Urgensi Agama Islam di Dunia

Umum
}Peradaban ada yang runtuh, ada yang bangkit }Informasi sudah semakin canggih agar bangsa satu mengenal bangsa lain }Kerja sama antar bangsa, negara, kelompok }Terjadilah perdagangan skala global, sebagaimana belum pernah ditemukan kondisi ini sebelumnya }Islam hadir di tengah-tengah masyarakat saat ini }Mukjizat Islam adalah bahwa Islam adalah agama terakhir dari agama ilahiyah }Agama yang umum bagi seluruh manusia }Islam sejatinya bukan agama baru, tetapi sama dengan agama yang dibawa oleh Nuh as, dan nabi-nabi setelahnya }Jika manusia melihat banyak agama yang berbeda, sesungguhnya banyak terjadi penyimpangan pada pembawanya }Allah mengutus nabi Muhammad di akhir zaman }Manusia merasakan nikmat persatuan dan kesatuan dengan adanya Islam ini }Maka dengan ini menuju kesempurnaan masyarakat yang telah dijanjikan sebelumnya }Apakah masuk akal jika Allah menurunkan agama kemudian agama ini berbeda-beda (saling bertentangan antara satu…
Read More