Kenapa Dinamakan Khidir?

Sejarah
Dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan tentang asal-usul nama Khidir. Suatu ketika dia duduk di atas tanah kering berwarna putih. Tiba-tiba tanah yang dia duduki itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau (khadra’). Pendapat ini diungkapkan oleh Imam Ahmad, mengutip riwayat Ibnu Mubarak, dari Ma’mar, dari Hammam, yang bersumber dari Abu Hurairah ra. sebagaimana dijelaskan di atas, farwah berarti tanah kering. Dalam riwayat lain, Imam Ahmad juga mengungkapkan riwayat ini dengan redaksi sebagai berikut, “Kami mendapatkan kisah dari Abdurrazzaq, dia diberitahu Ma’mar kisah dari Hammam, dari Abu Hurairah ra bahwasanya dinamakan Khidir karena ketia dia duduk di atas farwah, tanah itu berguncang dari bawah dan berubah menjadi hijau.” Dalam hadis ini, farwah diartikan sebagai rumput kering yang berwarna putih. Mengenai riwayat di atas, Abdullah bin Ahmad menyatakan,…
Read More

Ini Dia Sebab Karya Ulama al-Azhar Diterima di Pesantren

Sejarah
Ada banyak faktor yang menjadikan karya ulama al-Azhar dapat diterima secara luas oleh kalangan pesantren. Di sini, ada 3 faktor utama, yaitu: Pertama. Faktor hubungan guru-murid. Hubungan guru-murid memegang peranan sangat penting dalam penyebaran sebuah karya. Maklum diketahui bahwa seorang murid akan merasa tersanjung apabila dapat meneruskan dan mengembangkan pemikiran sang guru. Ikatan di antara keduanya yang tidak terbatas di dunia saja menjadikan seorang murid merasa berkewajiban untuk melestarikan ajaran sang guru. Hubungan guru-murid ini berlanjut kepada cucu murid dan seterusnya. Hal ini yang mendorong alumnus Syekh Nawawi Banten dan Syekh Mahfudz Tremas sebagai dua tokoh yang sangat berpengaruh di dunia pesantren untuk mengajarkan apa yang telah dipelajari dari guru-gurunya dalam pesantren yang mereka dirikan. Kemudian, murid-murid para kiai alumnus juga bertindak sama sehingga dari pesantren satu ke pesantren lain…
Read More

Ini Dia 10 Riwayat tentang Garis Keturunan Nabi Khidir

Sejarah, Tauhid
Ada beberapa riwayat berkaitan dengan garis keturunan Nabi Khidir. Pertama. Pendapat yang mengatakan bahwa Khidir adalah putra nabi Adam as, yang tercipta dari tulang sulbinya. Pendapat ini diriwayatkan oleh Daruquthni dalam kitab al-Afrad dari jalur Rawwad bin Jarah. Ia memperoleh kisah ini dari Muqatil bin Sulaiman, dari adh-Dhahhak, yang bersumber dari  Ibnu Abbas ra. Rawwad adalah perawi yang lemah (dhaif), Muqatil perawi yang ditinggalkan (matruk), sedangkan adh-Dhahhak tidak pernah mendengar hadis ini dari Ibnu Abbas ra. Kedua. Pendapat yang menyatakan, Khidir adalah anak dari Qabil, putra nabi Adam. Pernyataan ini dikatakan oleh Abu Hatim as-Sijistani dalam kitab al-Muammarin. Ia mengatakan, “Kami mendapatkan kisah ini dari guru-guru kami, salah satunya Abu Ubaidah.” Kemudian Abu Hatim menyebutkan riwayat yang menyatakan bahwa Khidir adalah putra Qabil. Riwayat ini mu’dhal, hadis mu’dhal yaitu para…
Read More
Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Ulama Perintis Hubungan Nusantara dan Al-Azhar

Sejarah
Para ulama inilah yang membuka awal hubungan keilmuan antara nusantara dan al-Azhar. Di kemudian hari, pertalian ini sangat erat karena lebih diikat oleh pertalian sanad keilmuan. Ulama-ulama nusantara pun banyak yang berguru kepada ulama asal Mesir, meskipun tidak langsung di Mesir, melainkan bertemu di Makkah. Alhasil, ulama nusantara banyak yang menjadi pengajar di Makkah, mempunyai murid dari nusantara dan daerah lain selain nusantara. Murid-murid dari nusantara ini ketika kembali ke tanah air, lantas menjadi para pengasuh pesantren di banyak daerah. Beberapa tokoh ulama tersebut adalah: Abdus Shamad al-Falimbani Dalam buku Akar Tasawuf di Indonesia karya Dr. Alwi Syihab, dijelaskan bahwa Syekh Abdus Shamad al-Falimbani (1791 M) adalah tokoh besar yang membawa ajaran Tarekat Samaniyah dan mengikuti Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang kedua disebut adalah tarekat yang berkembang sangat pesat di Mesir.…
Read More

Mengenal Fath al-Mutafakkirin Karya Syaikh Usman Ibnu Syihabuddin Pontianak

Sejarah
Kitab Fath al-Mutafakkirin merupakan karya terjemahan ulama besar nusantara asal Kesultanan Pontianak (Kalimantan Barat) yang berkarir di Makkah, yaitu Syaikh Usman ibnu Syihabuddin Funtiyanaq al-Jawi. Kitab ini mempunyai judul lengkap Fath al-Mutafakkirin Supaya Bertempat Iman dan Yakin, ditulis dengan bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi), sebagai terjemahan dari risalah karangan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, mufti besar madzhab Syafii di Makkah. Kitab ini berisi kajian kontemplatif (tadabbur dan tafakkur) terhdap beberapa ayat al-Quran dan hadits Nabi yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta, penciptaan manusia dan hakikat eksistensinya, tazkiyatun nafs (jalan menuju pribadi manusia yang bersih dan bening), serta tuntunan menuju kehidupan yang dipenuhi kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat. Isi kitab Fath al-Mutafakkirin bisa dikatakan sebagai perpaduan antara kajian teologi dan tasawuf. Karya ini diselesaikan di kota Thaif di Semenanjung Arabia…
Read More

Secarik Fatwa dari Syaikh Ahmad Nahrawi, Ulama yang Terlupakan Zaman

Sejarah
Fatwa tersebut tertulis di secarik kertas dan menjadi sangat berharga, bukan hanya karena berisi fatwa syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi (Kiyai Nahrawi Banyumas) terkait masalah hukum naqus (kentongan), melainkan juga karena selembar kertas ini dapat melngkapi informasi dan data akan keberadaan sosok beliau yang jejaknya sudah lama hilang terkubur. Syaikh Ahmad Nahrawi al-Jawi adalah salah satu ulama Makkah asal Jawi yang cukup berpengaruh, satu generasi dengan beberapa ulama besar Makkah asal Nusantara lainnya seperti Syaikh Mahfuzh Tremas, Syaikh Ahmad Fathani, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, dan lain-lain. Meski demikian, tak banyak yang mengupas sejarah hidup tokoh wong ngapak satu ini, baik dalam sumber-sumber Arab atau pun sumber-sumber Nusantara. Hal inilah yang menjadikan sosok beliau seakan terlupakan, hilang terkubur oleh putaran zaman. Sebuah informasi menyatakan jika beliau lahir di Banyumas pada paruh abad…
Read More
Sandal Wudlu Itu pun Sampai ke Amsterdam

Sandal Wudlu Itu pun Sampai ke Amsterdam

Sejarah, Umum
Kebersihan itu sebagian dari iman. Orang yang beriman pasti mencintai kebersihan. Kebersihan merupakan cara untuk memperoleh kesucian. Allah sangat mencintai orang-orang yang bersih dari dosa (Taubat) dan mensucikan dirinya. Sebagaimana tercantum di dalam surat al-Baqoroh/2: 222 yang menjelaskan tentang darah menstruasi. Bahwa para suami dilarang mendatangi atau berhubungan dengan istrinya, ketika mengalami menstruasi. Tunggulah sampai menstruasi itu berhenti dan mandi sebagai tanda menghilangkan hadats besarnya. Setelah suci baru dibolehkan kembali para suami mendatangi istrinya. Menjaga kesucian baik dari najis atau pun hadats merupakan bab pertama dalam fikih. Dalam kitab-kitab kuning klasik seperti fathul qorib, safinatunnajah, kifayatul akhyar, fathul muin, ianatut tholibin, dan lain-lain diletakkan pada bab pertamanya tentang bersuci. Sebelum jauh-jauh membicarakan sholat, puasa, zakat, dan haji, atau segudang masalah khilafiyah yang banyak terjadi di kalangan masyarakat, dalam ilmu fikih…
Read More

REVIEW: THESIS ISLAM AND JAVANESE ACCULTURATION TEXTUAL AND CONTEXTUAL ANALYSIS OF THE SLAMETAN RITUAL

Sejarah
REVIEW Judul dan pengarang   Judul : Islam and Javanese Acculturation, Textual and Contextual Analysis of the Slametan Ritual   Terjemahan : Akulturasi Islam dan Jawa, Analisis Teks dan Kontekstual Ritual Slametan   Pengarang/Penulis : Masdar Hilmy   Penerbit : Institut of Islamic Studies McGill University Montreal Canada 1999     Latar Belakang Javanese Islam has the reputation in some quarters of being an inferior variety of Islam, mainly because it differs from what people May consider ta be "genuine Islam," or the so-called "Middle Eastern Islam.[1]   Islam Jawa memiliki catatan di beberapa tempat yang menjadikan nuansa Islam yang berbeda, apalagi terdapatnya kelompok "Islam murni" atau yang biasa disebut "Islam Timur Tengah." Namun demikian, komunitas Muslim Jawa sebagian besar terdiri dari Muslim nominal (abangan) yang hanya sedikit pengetahuan formal…
Read More

PARADIGMA IDEOLOGI NEGARA (SUATU TINJAUAN ISLAMISASI HINGGA KONFLIK PEMIKIRAN ISLAM-POLITIK KONTEMPORER DI INDONESIA)

Sejarah
Oleh: Octavian Hendra PERSPEKTIF WAWASAN KE-INDONESIA-AN Kharakteristik majemuk merupakan suatu hal yang tak bisa dipungkiri ketika berbicara perihal ke-Indonesia-an. Pandangan tersebut didasarkan atas keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan yang merupakan kekayaan serta aset berharga bagi bangsa Indonesia. Kondisi demuikian dipengaruhi oleh perspektif fundamental yang menyebabkan Indonesia diselimuti keberagaman, sehingga bangsa ini memiliki keunikan tersendiri dari bangsa-bangsa lain di belahan dunia manapun. Perspektif fundamentalis yang dimaksud dapat ditinjau dari sisi geografis maupun dari segi historisitas. Dua ranah  tersebut memiliki efek dominan dalam terbentuknya sebuah karakter bangsa yang plural. Tinjauan dari sisi geografis menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang terdiri dari ribuan pulau. Konsekuensi dari faktor geografis tersebut mampu menimbulkan komposisi ragam budaya yang berbeda. Ditambah dengan posisi silang Indonesia yang terletak antara benua Asia dan Australia, serta Samudera Pasifik…
Read More

Contoh Terbaik dalam Membangun Umat

Sejarah
Di masa lalu, Platon dengan konsep Republik, Aristoteles dengan konsep politiknya, keduanya gagal mengimplementasikan masyarakat dengan konsep tersebut Bahkan Romawi setelahnya malah tidak beres sistemnya Akan tetapi, rasulullah saw justru menerapkan pondasi-pondasi wahyu di dalam masyarakat Misalnya, dalam Quran disebutkan untuk mengajak perdamaian dan solidaritas di antara umat, menegaskan bahwa kemuliaan bukan tergantung pada suku atau nasab dll, akan tetapi dari sudut pandang keunggulan moral dan etika. Maka Islam tidak menyatukan dengan pondasi pada satu kaum saja, sebagaimana para nabi sebelumnya hanya diutus untuk kaumnya saja Akan tetapi, Islam menyatukan umat seluruhnya, umat manusia Penyatuan itu didasarkan pada umat terbaik yang melepaskan sekat-sekat kesukuan, meredam berbagai peperangan di antara mereka, Yang mana peperangan tersebut menghilangkan tujuan awal penciptaan manusia di alam ini Rasulullah saw menampakkan mukjizat sosial, yang mana setiap…
Read More

Pandangan KH Wahab Chasbullah soal Hukum Potong Tangan

Sejarah
Dalam lintas sejarah Indonesia pasca-kemerdekaan, pemerintahan Indonesia pernah mengalami berbagai perubahan bentuk. Pada 1945-1949 menggunakan sistem presidensial, 1949-1950 berbentuk parlemen semu, 1950-1959 berbentuk parlementer, kemudian dari 1959 hingga saat ini, Indonesia masih menggunakan sistem presidensial. Pada rentang 1956-1959 perwujudan pemerintahan parlementer yaitu dengan membentuk Majelis Konstituante. Pada masa ini terjadi perdebatan alot antara tiga faksi (kubu) terkait dengan unsur yang ingin dijadikan sebagai dasar negara. Pertama ialah Faksi Pancasila yang sama sekali tidak menginginkan piagam Jakarta menjiwai dalam dasar negara. Kedua Faksi Islam (NU termasuk di kubu ini) yang menginginkan piagam Jakarta tidak dihilangkan secara serta merta, dan ketiga, kubu ekonomi sosialis demokrasi yang menginginkan dasara negara sosialis. Bahkan di tubuh faksi Islam secara formal menginginkan Islam menjadi dasar negara. Meskipun NU ada di kubu ini, organisasi para kiai tersebut…
Read More
Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah

Empat Alasan Mengapa Madinah Dipilih sebagai Tempat Hijrah Rasulullah

Sejarah
Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bercerita bahwa suatu ketika dirinya pernah bermimpi berhijrah dari Makkah ke ke suatu kota yang memiliki banyak pohon kurma. Pada saat itu, Rasulullah mengira bahwa kota tersebut adalah Yamamah atau Hajar. Namun dugaan Rasulullah meleset, ternyata tempat yang dipilih untuk tempat hijrah adalah Madinah Yatsrib. Lalu apa sebetulnya yang menyebabkan Madinah dipilih sebagai tempat untuk berhijrah Rasulullah dan umat Islam secara keseluruhan? Perintah Allah sudah pasti menjadi alasan utama. Rasulullah tidak akan berhijrah kecuali atas perintah Allah. Bahkan Allah melalui malaikat Jibril juga sudah menentukan waktu Rasulullah berhijrah ke Madinah, yaitu tengah malam. Di saat para elit kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah untuk menghabisinya lengah. Dipilihnya Madinah sebagai tempat berhijrah juga tidak lepas dari beberapa penduduk Madinah yang sudah berbaiat kepada Rasulullah,…
Read More
Historiografi dan Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Historiografi dan Rekonstruksi Jati Diri Bangsa

Sejarah
Pendahuluan Sejarah tentu mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi sebuah bangsa. Segala peristiwa di masa lalu dapat diceritakan kembali dengan pendekatan dan metode yang berbeda, sesuai dengan kemampuan para sejarawan untuk mengaitkannya dengan topik tertentu. Akan tetapi, sejarah kerapkali tidak dilirik kembali dan dianggap barang usang, terutama bagi generasi millenial. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Masduki Baidlawi mengkhawatirkan terjadinya pendangkalan nilai-nilai kebangsaan pada generasi millenial mengingat sebagian besar mereka hanya melihat sesuatu hanya dari permukaan. Mereka enggah membaca informasi secara mendalam, padahal masalah kebangsaan merupakan masalah yang rumit.[1] Beliau menyayangkan sikap dan kemauan generasi millenial yang tidak mau mendalami sejarah kebangsaan secara detail, melainkan hanya permukaan saja. Dalam hal ini, kaitan antara sejarah, bangsa, dan generasi millenial menjadi acuan yang menarik, terutama bagaimana permasalahan hubungan antara bangsa, negara, dan agama…
Read More
Maulid Nabi: Perspektif, Sejarah, dan Peneguh Nasionalisme

Maulid Nabi: Perspektif, Sejarah, dan Peneguh Nasionalisme

Sejarah
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Sudah menjadi tradisi yang mengakar, setiap memasukin bulan ke 3 dalam penanggalan hijriah umat muslim Indonesia khususnya dan umat muslim dunia pada umumnya akan berbondong-bondong menyibukkan diri untuk menyiapkan momentum perayaan bulan kelahiran Nabi Muhammad. Walaupun secara historis ada beberapa perbedaan pendapat kapan tepatnya kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw. Namun, mayoritas Ulama telah bersepakat bahwa tanggal 12 Rabiu’ul awal atau tepat pada tanggal 20 april tahun 571 M adalah bulan dimana makhluk paling mulia ini dilahirkan. Tradisi perayaan maulid setiap daerah memiliki sebutan tersendiri dalam perayaannya. ada yang menyebut maulid, ada yang menyebut maulud, muludan, mevlud dan lain-lain. Namun tetap memiliki inti yang sama, yaitu memperingati hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw. Tidak hanya dari segi penamaan saja yang memiliki perbedaan, dalam perayaannya pun demikian.…
Read More
MELAWAN HOAX DI MUSIM KAMPANYE: Konsep Falsifikasi Popper dan Manusia Ruang EMHA

MELAWAN HOAX DI MUSIM KAMPANYE: Konsep Falsifikasi Popper dan Manusia Ruang EMHA

Sejarah
Perkembangan teknologi digital memberi konsekuensi dari melimpah ruahnya informasi yang kita terima. Bukan mustahil dalam derasnya arus informasi, melalui media digital khususnya, seiring difusi pesan (teks, gambar, video dan sebagainya) mengakibatkan apa yang kemudian disebut sebagai polusi informasi. Kita tidak lagi mampu dengan mudah membedakan mana informasi yang valid (benar sesuai fakta) dan sebaliknya. Celakanya, bagi kalangan awam seringkali berita yang diterima dikonsumsi begitu saja. Seolah berita tersebut menggambarkan fakta yang terjadi di lapangan. Tanpa melakukan verifikasi, cek dan ricek – (dalam bahasa agama disebut tabayyun). Memang benar, tengara yang disampaikan oleh Nicholas Carr dalam bukunya The Shallow, bahwa internet mengakibatkan pendangkalan berpikir. Hal itu tampak dengan semakin mudahnya kita membagikan berita yang kita terima seolah itu pasti sebuah kebenaran padahal bisa jadi itu adalah hoax. Seandainya false information (informasi…
Read More
Jejak-Jejak Khawarij: Sejarah Pertama Pemberontakan dalam Islam dan Eksistensinya di Era Modern

Jejak-Jejak Khawarij: Sejarah Pertama Pemberontakan dalam Islam dan Eksistensinya di Era Modern

Sejarah, Tauhid
Bibit-bibit Khawarij Pada Masa Rasulullah SAW Konflik internal dalam tubuh Islam mulai tampak nyata setelah beberapa saat ketika Rasulullah SAW mangkat. Berdasarkan kesepakatan para pakar, motif utama terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam salah satunya adalah berangkat dari masalah politik, yaitu soal khilafah atau suksesi kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah SAW. Perselisihan dalam soal kepemimpinan ini bermula karena tidak adanya nash (teks) secara baku dan definitif, baik itu di dalam Al-Qur’an maupun dalam Al-Hadits siapakah calon yang akan menjadi pengganti beliau sebagai pemimpin umat Islam pasca Rasulullah SAW wafat. Kendati demikian, hal ini juga dapat dijadikan sebagai bukti bahwa perihal pemilihan kepemimpinan negara diserahkan kepada umat Islam secara keseluruhan. [1] Walaupun adanya konflik internal belum terlalu nampak pada masa Rasulullah SAW, tetapi pada masa itu sudah mulai ada bibit-bibit pembangkangan terhadap…
Read More
Cara Rasulullah Menggunakan Wewangian

Cara Rasulullah Menggunakan Wewangian

Sejarah
Rasulullah saw mencintai wewangian dan memakainya. Simak bagaimana hadits-hadits berikut ini diriwayatkan: Anas ibnu Malik ra meriwayatkan: Rasulullah saw memiliki sebotol minyak wangi yang dengannya beliau mengharumkan diri.  (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Sa’id) Tsumamah ibnu Abdillah meriwayatkan: Anas ibnu Malik tidak pernah menolak pemberian minyak wangi. Ia berkata, “Sungguh, Rasulullah saw tidak pernah menolak pemberian minyak wangi.” (HR at-Tirmidzi, Bukhari, Nasa’I, dan Ahmad) Ibnu Umar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga (pemberian) yang tidak boleh ditolak, yaitu bantal, minyak wangi, dan susu.” (HR at-Tirmidzi, Abu Syaikh, dan Baghawi) Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Wewangian bagi laki-laki adalah wewangian yang aromanya keras dan warnanya tidak tampak. Sedangkan wewangian bagi perempuan adalah wewangian yang warnanya tampak dan aromanya tidak menyengat.” (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’I,…
Read More
Cara Rasulullah Berbicara

Cara Rasulullah Berbicara

Sejarah
Bagaimana sikap dan perangai Rasulullah saw ketika berbicara? Mari kita lihat beberapa hadits berikut ini: Aisyah ra meriwayatkan: Rasulullah saw. tidak pernah berbicara seperti cara kalian berbicara yang sangat cepat ini. Beliau selalu berbicara denganyang jelas dan rinci sehingga orang-orang yang duduk bersama beliau dapat menghapalnya. (HR Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud, dan Abu Syaikh) Anas ibnu Malik ra meriwayatkan: Rasulullah saw mengulangi perkataan beliau sebanyak tiga kali agar bisa dipahami (oleh pendengarnya). (HR at-Tirmidzi dan Hakim) Hasan ibnu Ali ra meriwayatkan: Saya pernah bertanya kepada pamanku, Hindun ibnu Abi Halah, yang sangat pandai menggambarkan sesuatu. Saya katakan kepadanya, “Gambarkanlah kepadaku bagaimana cara Rasulullah berbicara!” Ia berkata, “Rasulullah adalah seorang yang tampak selalu prihatin dan senantiasa berpikir. Beliau lebih banyak diam dan berbicara seperlunya. Beliau memulai dan mengakhiri pembicaraan beliau dengan…
Read More