Antara Imam Syafi’i dan Islam Nusantara

Antara Imam Syafi’i dan Islam Nusantara

Fiqh
Imam syafi'i, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Indris As-Syafi'i. Beliau adalah salah satu Ulama' mutaqaddimin yang sering kali hasil ijtihadnya dijadikan sebagai rujukan umat Islam dunia. Beliau lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Pada usia 45 tahun Imam Syafi'i telah mendapat wewenang dari gurunya untuk berijtihad dan memberikan fatwa. Pada tahun 195-198 H beliau melahirkan produk-produk ijtihad, yang nantinya akan dikenal dengan sebutan Qaul Qodim (fatwa lisan maupun tulisan ketika Imam Syafi'i tinggal di Baghdad/Iraq).   Kemudian pada tahun 198 H beliau pergi ke Mesir untuk melanjutkan studi agamanya. Hal ini didasari karena rasa haus akan ilmu yang dimiliki oleh Imam Syafi'i begitu besar. Ulama yang sudah memiliki otoritas sebagai mufti, tetapi masih juga memiliki rasa ke-ingintahu-an yang mendalam. Maka tak heran jika suatu saat apa-apa yang…
Read More
Historisitas Mazhab Fikih Klasik

Historisitas Mazhab Fikih Klasik

Fiqh
Keberadaan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir memberikan makna bahwa tidak ada lagi syariat baru sebagai pengganti syariat yang telah diturunkan Tuhan (Allah swt) bagi para nabi terdahulu. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40) Para Nabi memiliki dua pondasi dasar dalam menyampaikan dakwah mereka. Pertama, perbaikan akidah.  Kedua, pembentukan syariat dan akhlaq. Berkenaan dengan akidah, kandungannya tidak pernah berubah sejak diutusnya nabi Adam a.s hingga nabi terakhir Muhammad saw, mempunyai satu makna, yang berkaitan dengan keesaan Tuhan dan kesucian dari segala bentuk yang menyerupai-Nya dengan sifat-sifat makhluk, keimanan pada hari akhir, hari penghitungan serta masalah surga dan neraka. Sedangkan syariat yang dimaksud di sini…
Read More
Puasa Bulan Rajab, Bolehkah?

Puasa Bulan Rajab, Bolehkah?

Fiqh
Puasa Rajab selalu menjadi polemik dan perdebatan di dunia maya ketika tiba. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada dalilnya, ada pula yang mengatakan hal itu berdalil. Sebenarnya, apakah ada dalil untuk puasa Rajab? Berikut ini ada sebuah hadits yang patut direnungi oleh kaum muslimin sekalian: “Utsman bin Hakim al-Anshari berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang puasa Rajab, dan sat itu kami sedang dalam bulan Rajab. Lalu ia menjawab, “Aku mendengar Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah saw. berpuasa hinga kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau juga berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa.” (HR Muslim) Dari hadits ini, Imam al-Nawawi berkata: “Lahiriyahnya, maksud Said bin Jubair bahwa tidak ada larangan khusus atau anjuran khusus untuk puasa Rajab, namun sama dengan bulan lainnya. Tetapi hukum asal puasa…
Read More
Bersalaman Setelah Shalat Jamaah

Bersalaman Setelah Shalat Jamaah

Fiqh
Setelah shalat berjamaah banyak yang bersalaman dengan orang di dekatnya. Haditsnya adalah sebagai berikut: عن يزيد بن الأسود السوائيّ أنّه صلّى مع النبيّ ص م الصبح. قال: ثمّ ثار الناس يأخذون بيده يمسحون بها وجوههم. قال: فأخذت بيده فمسحت بها وجهي, فوجدتها أبرد من الثلج و أطيب من المسك. رواه أحمد. صحيح. “Dari Yazid bin Aswad as-Suwai, bahwa ia shalat Subuh bersama Nabi saw. ia berkata: “Kemudian para sahabat berdiri menggapai tangan beliau, dan mengusapkannya ke wajah mereka. Yazid berkata: “Aku pegang tangan Nabi, lalu kuusapkan ke wajahku, aku dapati tangannya lebih dingin dari salju dan lebih harum daripadanya minyak misik.” (HR Ahmad. Shahih) Ada pula hadits shahih riwayat al-Bukhari yang mengisahkan para sahabat shalat Dzuhur dan Ashar dengan jama’ takhir bersama Nabi saw. dan bersalaman setelah shalat. Jika bersalaman…
Read More
Pujian Sebelum Shalat

Pujian Sebelum Shalat

Fiqh
Pujian setelah azan dan sebelum shalat adakalanya dengan membaca shalawat, berikut dalilnya: اذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثمّ صلوا عليّ فإنه من صلّى عليّ صلاة صلّى الله عليه بها عشرا (رواه مسلم) “Jika kalian mendengar muadzin, maka jawablah seperti yang diucapkannya, lalu bershalawatlah kepadaku, sebab, barang siapa bershalawat sekali kepadaku, maka Allah merahmatinya sebanyak 10 kali.” (HR Muslim) Adakalanya dengan membaca doa, berikut ini haditsnya: عن أنس بن مالك قال قال رسول الله ص م : لا يردّ الدعاء بين الأذان و الإقامة (رواه أبو داود. صحيح) “Dari Anas bin Malik ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Doa tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Dawud. Shahih)
Read More
Menambah Gelar Sayyid bagi Nabi Muhammad saw.

Menambah Gelar Sayyid bagi Nabi Muhammad saw.

Fiqh
Rasulullah saw. adalah sayyid, yaitu orang yang memiliki keunggulan dalam hal kebaikan daripada orang lain. Hal ini ditegaskan dalam riwayat berikut أنا سيد الناس (رواه البخاري) “Aku sayyid manusia.” (HR al-Bukhari) أنا سيد ولد ادم (رواه مسلم) “Aku sayyid keturunan Adam.” (HR Muslim) Dengan demikian, jika kita menyebut gelar sayyid di depan nama nabi Muhammad saw. maka kita telah memosisikan beliau sebagaimana pengakuannya sebagai sayyid. Inilah yang dimaksud ulama mutaakhirin sebagai etika kepadanya: “Disebutkan dari Syaikh Ibn Abdissalam bahwa menambah gelar “Sayyid” dalam shalat didasari perbedaan pendapat, apakah yang utama mengikuti perintah Nabi saw. atau melaksanakan etika? Aku berkata: “Yang jelas bagikku dan yang aku lakukan di dalam shalat atau di luar shalat adalah menyebut gelar Sayyid.”[]
Read More
Wajibkah Zakat Profesi ???

Wajibkah Zakat Profesi ???

Fiqh
Pengertian Zakat Profesi (Almaalul Mustafad) Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan tetap/rutin seorang muslim yang penghasilan tersebut merupakan hasil dari profesi/pekerjaan tetap (seperti: Pegawai Negeri/Swasta, konsultan, dokter, dll) ataupun rezeki yang didapatkan secara tidak terduga yang tidak mengandung unsur judi. Dalil dan Hukum Zakat Profesi Dalam ketentuan fiqih klasik, tidak ditemukan penjelasan terkait zakat profesi. Namun demikian, bukan berarti dengan ketiadaan keterangan/penjelasan tersebut maka gaji tidak wajib dizakati. Ulama-ulama kontemporer seperti D.R. Al Qordlowi berpendapat bahwa penghasilan yang diperoleh sebagaimana pengertian tersebut diatas tetap wajib dikeluarkan zakatnya. Pendapat tersebut merujuk pada salah satu riwayat pendapat dari Iman Ahmad bin Hanbal, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Mu’awiyah, Awza’i dan Umar bin Abdul Aziz, bahwa mereka mengambil zakat dari ‘Athoyat (gaji rutin), jawaiz (hadiah) dan al madholim (barang goshob/curian…
Read More
Bagaimana Hukumnya Apabila Seseorang Jima’ dalam Keadaan Ihram dan Belum Tahalul Dari Umrah?

Bagaimana Hukumnya Apabila Seseorang Jima’ dalam Keadaan Ihram dan Belum Tahalul Dari Umrah?

Fiqh
Bagaimana hukumnya apabila seseorang jima’ dalam keadaan ihram dan belum tahalul dari umrah, atau sebelum Tahalul Awal pada haji karena lupa atau tidak mengetahui larangannya? Mari kita lihat dari tinjauan madzhab Syafii, antara madzab qadim dan jadid. Madzhab Qadim Haji atau umrahnya menjadi batal dan diwajibkan membayar kafarah. Karena pelanggaran itu sudah membatalkan haji dan atau umrah, maka sama saja dilakukan dengan sengaja atau karena lupa. Madzhab Jadid Tidak batal haji atau umrahnya, tidak pula diwajibkan membayar kafarah.
Read More
Bagaimana Hukumnya Sholat Ketika Disekap di Tempat Najis?

Bagaimana Hukumnya Sholat Ketika Disekap di Tempat Najis?

Fiqh
Tidak ada perbedaan antara madzhab qadim dan jadid dalam madzhab Syafii, bahwa jika seseorang disekap di tempat najis, maka ia harus tetap menunaikan sholat. Pendapat ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa rasulullah saw bersabda: اذا أمرتكم بشيء فأتوا منه مااستطعتم Apabila saya memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka hendaknya kalian mengikuti sesuai dengan kemampuan kalian. (HR Bukhari dan Muslim) Dasar lainnya adalah qiyas terhadap orang sakit yang tidak mampu menunaikan sebagian rukun-rukun sholat, dalam kasus ini ia harus semaksimal mungkin dapat menghindarkan diri dari najis dengan kedua tangannya dan lututnya. Serta harus bersujud sebatas tidak terkena najis, dan tidak boleh menempelkan jidatnya ke tanah. Perbedaan antara madzhab jadid dan qadim, terdapat pada: apakah ia harus mengulangi sholatnya atau tidak? Madzhab Qadim Tidak wajib baginya mengulangi sholatnya, keadaannya sama dengan orang yang…
Read More
Seseorang yang Memiliki Luka Berdarah, Apakah Wajib Baginya Mengulangi Shalat?

Seseorang yang Memiliki Luka Berdarah, Apakah Wajib Baginya Mengulangi Shalat?

Fiqh
Terjadi perbedaan mengani seseorang yang lukanya cukup besar dan mengalirkan darah cukup banyak, dimana tidak dapat dimaafkan dan ia takut membasuhnya. Lalu ia shalat dengan keadaannya itu, apakah ia wajib mengulangi shalatnya juga? Mari kita tinjau dari pendapat qadim dan jadid Imam Syafii. Madzhab Qadim Tidak wajib mengulangi shalatnya, karena najisnya itu disebabkan adanya udzur. Maka kewajibannya juga telah gugur. Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Daud. Madzhab Jadid Ia harus mengulangi shalatnya, kasusnya sama dengan orang yang shalat dan terdapat najis pada pakaiannya, karena lupa. Asy-Syirazi dan an-Nawawi mengatakan, “Pendapat ini adalah pendapat yang paling shahih.”
Read More
Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Fiqh
Tidak ada perbedaan antara qadim dan jadid bahwa masuknya shalat Maghrib adalah pada saat terbenam matahari. Dasar hukumnya adalah hadits yang menceritakan bahwa Jibril shalat Maghrib ketika matahari terbenam, dan orang puasa telah berbuka. Perbedaannya terletak pada, apakah Maghrib mempunyai dua waktu atau satu waktu? Mari kita tinjau dari pendapat qadim dan jadid Imam Syafii.   Madzhab Qadim Abu Tsaur menceritakan dari Asy-Syafii bahwa shalat maghrib memiliki dua waktu, yaitu saat terbenam matahari, dan kedua adalah dari terbenamnya matahari hngga hilangnya benang merah di langit. Sebagian pengikut madzhab Syafii menjadikan waktu kedua sebagai madzhab jadidnya. Riwayat ini ditentang oleh mayoritas pengikut madzhab Syafii, karena az-Za’farani yang dipercaya orang paling terpercaya dalam madzhab qadim mengatakan bahwa hanya satu waktu bagi shalat maghrib. An-Nawawi menegaskan, “Waktu maghrib yang kedua dari terbenamnya matahari…
Read More
Zikir dan Doa dengan Suara Keras

Zikir dan Doa dengan Suara Keras

Fiqh
Ahli hadits Abdurrauf al-Munawi menyebutkan beberapa hadits-hadits yang menunjukkan anjuran zikir dengan suara keras, di antaranya adalah Hadits al-Baihaqi “Saya berjalan bersama Nabi SAW suatu malam, lalu beliau bertemu dengan seseorang yang mengeraskan suara berzikir. Saya berkata: ‘Wahai Rasulullah, mungkin orang ini pamer?’ Nabi menjawab: “Tidak, dia orang yang banyak mengingat kepada Allah.” Hadits al-Hakim “Dari Jabir bin Abdillah ra, ia berkata: “Orang-orang melihat ada obor di kuburan, mereka mendatanginya ternyata Rasulullah SAW ada di kuburan dan berkata, “Bantulah aku mengubur sahabat kalian.” Ternyata jenazah itu adalah seorang yang banyak zikirnya kepada Allah, yang mengeraskan suaranya dengan zikir.” (HR al-Hakim, dan dinilai shahih oleh al-Dzahabi) Sementara khusus zikir setelah shalat dengan suara keras adalah sesuai dengan riwayat: كان ابن الزبير يقول فى دبر كل صلاة حين يسلّم : لا إله…
Read More

ZAKAT DAN LENYAPNYA (HARTA) QORUN

Fiqh
Secara bahasa, zakat mengandung makna berkembang. Sedangkan menurut istilah, zakat adalah nama harta tertentu yang diambil dari harta tertentu dengan cara tertentu, dan diberikan kepada golongan tertentu (Syaikh Al Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qoshim al Ghozi dalam Fathul Qorib). Kalau kita mau meneliti lebih jauh tentang ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan perintah zakat, maka kita akan mendapati bahwa perintah tersebut selalu menggunakan kata “atu”-suatu kata yang dari akarnya dapat dibentuk berbagai ragam kata dan mengandung berbagai makna (Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Lentera Al Quran; Kisah dan Hikmah Kehidupan). Diantara makna-makna tersebut adalah istiqomah dan cepat atau bergegas. Dari kedua makna tersebut dapat ditarik sebuah benang merah bahwa pertama, mengeluarkan zakat harus dilakukan secara istiqomah. Istqomah di sini mengandung pengertian bahwa zakat yang dikeluarkan harus disertai dengan…
Read More
Ini Dia Beberapa Pendapat Lama Imam Syafii yang Tetap Diunggulkan Ulama

Ini Dia Beberapa Pendapat Lama Imam Syafii yang Tetap Diunggulkan Ulama

Fiqh
Para ulama madzhab Syafiiyah telah mengunggulkan madzhab qadim dalambeberapa masalah. Telah diketahui, Imam Syafii punya pendapat lama dan baru dalam beberapa permasalahan. Setelah mendapatkan sanad hadits yang lebih kuat, beliau merevisi pendapatnya yang disebut qaul jadid (pendapat baru). Akan tetapi, pemuka madzhab Syafii masih tetap mengunggulkan pendapat lama Imam Syafii dibanding pendapat barunya. Apa saja pendapat lama Imam Syafii yang tetap diunggulkan oleh para pemuka madzhab Syafii? Ini dia masalah-masalah tersebut: Menyucikan diri dengan batu, dimana qadim membolehkannya Menyentuh muhrim, dalam madzhab qadim tidak membatalkan wudhu Air yang mengalir, dalam qadim disebutkan suci menyucikan kecuali salah satu sifatnya berubah Menyegerakan sholat Isya, madzhab qadim mengatakan lebih utama Waktu Maghrib, qadim menetapkan sampai hilangnya benang merah dari langit Seorang yang sholat sendiri kemudian ingin berjamaah, dalam qadim disebutkan boleh Memakan kulit…
Read More
Bagaimana Kedudukan Ibnu Taimiyah Dalam Madzhab Imam Ahmad bin Hambal?

Bagaimana Kedudukan Ibnu Taimiyah Dalam Madzhab Imam Ahmad bin Hambal?

Fiqh
Ibnu Taimiyah yang sering dirujuk oleh sebagian kecil masyarakat saat ini, nama panjangnya adalah Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Ia salah satu ulama madzhab Hambali, seorang mujtahid yang mumpuni dalam bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, dan hadits. Lahir pada tanggal 10 Rabiul Awwal 661 H. Ada dua macam kelompok terhadap figur Ibnu Taimiyah ini. Pertama, sangat menyukainya dan yang kedua, sangat membencinya. Kalau kita mau proporsional dalam menyikapi ini, tentu penting sekali. Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid. Akan tetapi, di kalangan madzhab Hambali sendiri, ia banyak dikritik keras oleh ulama-ulama madzhab Hambali sendiri, semisal Adz Dzahabi, Ibnul Qayyim, dan al-Hafidz Ibnu Rajab. Di dalam buku yang ditulis oleh Musthofa Hamdu Alyan al-Hambali, as-Sadah al-Hanabilah wakhtilafuhum Ma’a as-Salafiyah al-Mu’ashiroh, penulis memaparkan bahwa kedudukan pendapat Ibnu Taimiyah dalam madzhab Hambali…
Read More
Wow… Ternyata Imam Syafi’i Berpendapat Lebih Baik Mengakhirkan Sholat Isya

Wow… Ternyata Imam Syafi’i Berpendapat Lebih Baik Mengakhirkan Sholat Isya

Fiqh
Dalam pendapat Imam Syafii, dikenal dengan istilah Madzhab Qodim (Pendapat Lama) dan Madzhab Jadid (Pendapat Baru). Dalam madhzab baru, Imam Syafii merevisi pendapatnya karena menemukan dalil jalur periwayatan hadits yang lebih kuat. Itulah sebabnya, ada beberapa pokok masalah yang kemudian direvisi oleh beliau, salah satunya tentang mengakhirkan atau melambatkan sholat Isya lebih utama (dalam pandangan Madzhab Jadid). Titik Temu Secara Umum Bahwa secara umum, tidak ada perbedaan dalam madzhab qodim dan jadid, yang utama ialah menyegerakan sholat pada setiap waktu. Kecuali, pada waktu Dzuhur bila cuaca sangat panas. Hal ini berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW, pekerjaan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau bersabda: sholat tepat pada waktunya.” Alasan lainnya, karena Allah SWT mewajibkan kaum muslim agar menjaga sholat. Imam Syafii megeaskan dalam kitab…
Read More