Puasa Tarwiyah, Arafah, dan Hewan Qurban Kendaraan di Akhirat

Fiqh
Dalil hadits shahih secara umum tentang puasa Dzulhijjah adalah: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi, sungguh beliau bersabda: Tidak ada amal yang lebih utama daripada amal ibadah di 10 hari Dzulhijjah ini. Sahabat bertanya: Apakah juga tidak jihad? Beliau menjawab: Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu tidak kembali membawa apapun.” (HR al-Bukhari) Dari hadits ini, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini dijadikan dalil keutamaan puasa di sepuluh hari Dzulhijjah sebab puasa masuk dalam amal ibadah.” Sedangkan dalil khusus puasa hari Tarwiyah adalah: “Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa setahun dan Puasa Arafah menghapus dosa dua tahun.” (HR Ibnu Hibban dalam at-Tsawab dan Ibnu an-Najjar dalam at-Tarikh dari Ibnu Abbas) Sementara Madzhab Maliki secara tegas menganjurkan puasa Tarwiyah: “Di dalam kitab al-Jawahir: Dianjurkan puasa 9 Muharram…
Read More
Berzakat Fitrah 8 Uero di Amsterdam

Berzakat Fitrah 8 Uero di Amsterdam

Fiqh
Zakat itu membersihkan. Membersihkan hati kita dari ketamakan. Zakat itu mensucikan. Mensucikan harta kita dari keharaman. Haram karena hak mustahik yang kita makan. Haram karena kewajiban kita sebagai muzakki yang tidak ditunaikan. Berzakatlah karena zakat akan memberikan ketenangan bagi yang memberi dan menerimanya. Berzakat  di bulan Ramadhan ini semakin simpel dan sederhana. Semua dipermudah dengan berbagai fasilitas gerai, unit, dan cara menunaikannya. Bisa dengan langsung menyerahkan ke panitia zakat yang telah diamanahkan dalam bentuk fitrah atau harta. Bisa dengan menyerahkannya kepada lembaga-lembaga terpercaya yang mampu mendistribusikan zakat kepada penerimanya. Bisa melalui transfer bank, akun, EDC, dan lain sebagainya sesuai dengan kemajuan teknologi dan perbankan sekarang ini. Inilah yang disebut jenis ibadah maaliyah. Jenis ibadah yang mengorbankan harta kekayaan dan benda. Jika ibadah mengorbankan fisik namanya ibadah jasadiyah seperti sholat, puasa,…
Read More
Merasakan Puasa 19 jam di Belanda

Merasakan Puasa 19 jam di Belanda

Fiqh
Di mana pun bumi dipijak, di situ pun langit dijunjung. Artinya di mana pun kita berada, kita harus menghormati dan mengikuti adat istiadat, budaya, peraturan, dan hukum yang berlaku di tempat itu. Sekarang saya berada di Belanda. Maka saya harus mengikuti adat istiadat, budaya, peraturan, dan hukum yang berlaku di Belanda. Tentunya yang positif. Bukan sengaja mengikuti yang negatif, atau istilahnya aji mumpung berada di Belanda. Termasuk hukum dan waktu berpuasa. Harus ikut waktu Belanda, bukan waktu Indonesia. Selama satu bulan penuh saya akan berpuasa di Belanda. Hingga sekarang ini, 16/5/2019 waktu berpuasa di Belanda beranjak naik secara drastis. Hari ini mulai berpuasa pukul 03.46 dan berbuka pukul 21.32 waktu Belanda. Setiap hari waktu shubuh bertambah naik 2 menit. Sedangkan waktu berbuka semakin naik setiap harinya antara 1-3 menit. Alhasil,…
Read More

Berlebihan dalam Beribadah?

Fiqh
Semua manusia dan jin memang diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Namun Allah ﷻ  dan Baginda Nabi Agung Muhammad ﷺ tidak menyuruh orang-orang untuk beribadah melebihi kemampuan masing-masing, agar tidak memberatkan. طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى Artinya: “Thâhâ. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepada-Mu (Muhammad) supaya engkau menjadi susah.” (QS Thâhâ: 1-2). Ayat lain menyebutkan: يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ Artinya: “Allah menghendaki kalian kemudahan, dan Dia tidak menghendaki kalian kesulitan.” (QS Al-Baqarah: 185) Dalam hal menjalankan ibadah, Nabi Muhammad ﷺ menyuruh umatnya untuk melakukan perintah agama semampunya. Berbeda jika berupa larangan, kita harus meninggalkan larangan secara total. Shalat wajib kita lakukan, tapi pada batas semampunya. Mampu berdiri, dengan berdiri; mampu duduk, dengan duduk; dan seterusnya. Orang puasa hanya bagi yang mampu. Orang yang sakit, kalau sampai…
Read More

JALUR SILSILAH RIWAYAT KITAB-KITAB MADZHAB SYAFI’IYYAH

Fiqh
Kitab Fiqih dalam Mazhab Syafi’i Rhl. yang dikarang oleh ulama’-ulama’ Syafi’i dari abad ke abad adalah mewarisi pusaka ilmu, kitab-kitab tersebut dikarang oleh sahabat-sahabat Imam Syafi’i Rhl. (Ulama’-ulama’ pengikut Syafi’i) sudah demikian banyaknya. Hampir setiap ulama’ itu mengarang kitab Fikih Syafi’i untuk dijadikan pusaka bagi murid-muridnya dan bagi pencinta-pencintanya sampai akhir zaman. Tidak terhitung lagi banyaknya kerana di antaranya ada yang tidak sampai ke tangan kita, tidak pernah kita melihat dan bahkan kadang-kadang ada yang tidak pernah didengari mengenai kitab-kitab dari segi nama kitabnya, pengarangnya, bahkan tidak mengetahui langsung tentang hal kitab dan para ulama’ bagi penuntut ilmu Islam. Fenomena ini perlu kita sedari bahwa, hal demikian perlu diambil tahu dan peka bagi setiap penuntut ilmu dari siapa kitab menuntut ilmu, dan dari mana kitab mengambil rujukan hukumnya. Kerana dikhawatirkan…
Read More

HUKUM MEMBUAT AKUN FACEBOOK DENGAN NAMA SAMARAN

Fiqh
Memberikan nama tidak asli di facebook hukumnya diperbolehkan. Dan itu tidak termasuk berbohong. Karna hal ini sama dengan memberikan nama julukan untuk seseorang. Memberikan nama tidak asli dalam facebook diperbolehkan. Sebagai bukti, dalam kitab Majmu' dijelaskan bahwa memberikan kun-yah (sebuah nama yang di-awali abu/abi atau ummu/ummi) hukumnya diperbolehkan. Begitu juga memberikan julukan untuk seseorang juga diperbolehkan. Kalau saja merubah nama tidak diperbolehkan maka memberikan kun-yah atau julukan untuk seseorang juga tidak diperbolehkan, karna termasuk dari rangkaian perubahan nama. Padahal kenyataannya tetap boleh, sebagaimana kererangan di atas. [Abdul Qodir Shodiqi ]. Sumber: http://www.piss-ktb.com/2017/02/5022-hukum-membuat-akun-facebook-dengan.html
Read More
Hukum Pengucapan Selamat Tahun Baru

Hukum Pengucapan Selamat Tahun Baru

Fiqh
Apa hukum mengucapkan selamat tahun baru? Sebagai orang beriman kepada Allah SWT kita dituntut untuk optimis, bukan pesimis atau putus asa. Karena orang beriman menggantungkan dan memasrahkan segala kehidupannya kepada Allah SWT . Berpijak pada landasan itu kita mesti menyambut pergantian tahun dengan gembira dan bahagia. Karena pada tahun yang baru ini banyak peluang, kesempatan, kemungkinan, dan harapan baru terbuka. Di samping kita sendiri menyongsong tahun baru dengan gembira penuh harap, kita juga menyaksikan kebahagiaan orang lain dalam menyambut tahun baru. Di sini kita dituntut untuk ikut serta dalam perasaan gembira bersama orang lain seperti ajaran Rasulullah SAW perihal hak-hak terhadap tetangga sebagai berikut.   خاتمة : روى الطبراني في مسند الشاميين ، والخرائطي في مكارم الأخلاق عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله صلى الله…
Read More
Antara Imam Syafi’i dan Islam Nusantara

Antara Imam Syafi’i dan Islam Nusantara

Fiqh
Imam syafi'i, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Indris As-Syafi'i. Beliau adalah salah satu Ulama' mutaqaddimin yang sering kali hasil ijtihadnya dijadikan sebagai rujukan umat Islam dunia. Beliau lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina. Pada usia 45 tahun Imam Syafi'i telah mendapat wewenang dari gurunya untuk berijtihad dan memberikan fatwa. Pada tahun 195-198 H beliau melahirkan produk-produk ijtihad, yang nantinya akan dikenal dengan sebutan Qaul Qodim (fatwa lisan maupun tulisan ketika Imam Syafi'i tinggal di Baghdad/Iraq).   Kemudian pada tahun 198 H beliau pergi ke Mesir untuk melanjutkan studi agamanya. Hal ini didasari karena rasa haus akan ilmu yang dimiliki oleh Imam Syafi'i begitu besar. Ulama yang sudah memiliki otoritas sebagai mufti, tetapi masih juga memiliki rasa ke-ingintahu-an yang mendalam. Maka tak heran jika suatu saat apa-apa yang…
Read More
Historisitas Mazhab Fikih Klasik

Historisitas Mazhab Fikih Klasik

Fiqh
Keberadaan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi terakhir memberikan makna bahwa tidak ada lagi syariat baru sebagai pengganti syariat yang telah diturunkan Tuhan (Allah swt) bagi para nabi terdahulu. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40) Para Nabi memiliki dua pondasi dasar dalam menyampaikan dakwah mereka. Pertama, perbaikan akidah.  Kedua, pembentukan syariat dan akhlaq. Berkenaan dengan akidah, kandungannya tidak pernah berubah sejak diutusnya nabi Adam a.s hingga nabi terakhir Muhammad saw, mempunyai satu makna, yang berkaitan dengan keesaan Tuhan dan kesucian dari segala bentuk yang menyerupai-Nya dengan sifat-sifat makhluk, keimanan pada hari akhir, hari penghitungan serta masalah surga dan neraka. Sedangkan syariat yang dimaksud di sini…
Read More
Puasa Bulan Rajab, Bolehkah?

Puasa Bulan Rajab, Bolehkah?

Fiqh
Puasa Rajab selalu menjadi polemik dan perdebatan di dunia maya ketika tiba. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada dalilnya, ada pula yang mengatakan hal itu berdalil. Sebenarnya, apakah ada dalil untuk puasa Rajab? Berikut ini ada sebuah hadits yang patut direnungi oleh kaum muslimin sekalian: “Utsman bin Hakim al-Anshari berkata: “Aku bertanya kepada Said bin Jubair tentang puasa Rajab, dan sat itu kami sedang dalam bulan Rajab. Lalu ia menjawab, “Aku mendengar Ibnu Abbas ra berkata: “Rasulullah saw. berpuasa hinga kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau juga berbuka hingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa.” (HR Muslim) Dari hadits ini, Imam al-Nawawi berkata: “Lahiriyahnya, maksud Said bin Jubair bahwa tidak ada larangan khusus atau anjuran khusus untuk puasa Rajab, namun sama dengan bulan lainnya. Tetapi hukum asal puasa…
Read More
Bersalaman Setelah Shalat Jamaah

Bersalaman Setelah Shalat Jamaah

Fiqh
Setelah shalat berjamaah banyak yang bersalaman dengan orang di dekatnya. Haditsnya adalah sebagai berikut: عن يزيد بن الأسود السوائيّ أنّه صلّى مع النبيّ ص م الصبح. قال: ثمّ ثار الناس يأخذون بيده يمسحون بها وجوههم. قال: فأخذت بيده فمسحت بها وجهي, فوجدتها أبرد من الثلج و أطيب من المسك. رواه أحمد. صحيح. “Dari Yazid bin Aswad as-Suwai, bahwa ia shalat Subuh bersama Nabi saw. ia berkata: “Kemudian para sahabat berdiri menggapai tangan beliau, dan mengusapkannya ke wajah mereka. Yazid berkata: “Aku pegang tangan Nabi, lalu kuusapkan ke wajahku, aku dapati tangannya lebih dingin dari salju dan lebih harum daripadanya minyak misik.” (HR Ahmad. Shahih) Ada pula hadits shahih riwayat al-Bukhari yang mengisahkan para sahabat shalat Dzuhur dan Ashar dengan jama’ takhir bersama Nabi saw. dan bersalaman setelah shalat. Jika bersalaman…
Read More
Pujian Sebelum Shalat

Pujian Sebelum Shalat

Fiqh
Pujian setelah azan dan sebelum shalat adakalanya dengan membaca shalawat, berikut dalilnya: اذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثمّ صلوا عليّ فإنه من صلّى عليّ صلاة صلّى الله عليه بها عشرا (رواه مسلم) “Jika kalian mendengar muadzin, maka jawablah seperti yang diucapkannya, lalu bershalawatlah kepadaku, sebab, barang siapa bershalawat sekali kepadaku, maka Allah merahmatinya sebanyak 10 kali.” (HR Muslim) Adakalanya dengan membaca doa, berikut ini haditsnya: عن أنس بن مالك قال قال رسول الله ص م : لا يردّ الدعاء بين الأذان و الإقامة (رواه أبو داود. صحيح) “Dari Anas bin Malik ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Doa tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah.” (HR Abu Dawud. Shahih)
Read More
Menambah Gelar Sayyid bagi Nabi Muhammad saw.

Menambah Gelar Sayyid bagi Nabi Muhammad saw.

Fiqh
Rasulullah saw. adalah sayyid, yaitu orang yang memiliki keunggulan dalam hal kebaikan daripada orang lain. Hal ini ditegaskan dalam riwayat berikut أنا سيد الناس (رواه البخاري) “Aku sayyid manusia.” (HR al-Bukhari) أنا سيد ولد ادم (رواه مسلم) “Aku sayyid keturunan Adam.” (HR Muslim) Dengan demikian, jika kita menyebut gelar sayyid di depan nama nabi Muhammad saw. maka kita telah memosisikan beliau sebagaimana pengakuannya sebagai sayyid. Inilah yang dimaksud ulama mutaakhirin sebagai etika kepadanya: “Disebutkan dari Syaikh Ibn Abdissalam bahwa menambah gelar “Sayyid” dalam shalat didasari perbedaan pendapat, apakah yang utama mengikuti perintah Nabi saw. atau melaksanakan etika? Aku berkata: “Yang jelas bagikku dan yang aku lakukan di dalam shalat atau di luar shalat adalah menyebut gelar Sayyid.”[]
Read More
Wajibkah Zakat Profesi ???

Wajibkah Zakat Profesi ???

Fiqh
Pengertian Zakat Profesi (Almaalul Mustafad) Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan tetap/rutin seorang muslim yang penghasilan tersebut merupakan hasil dari profesi/pekerjaan tetap (seperti: Pegawai Negeri/Swasta, konsultan, dokter, dll) ataupun rezeki yang didapatkan secara tidak terduga yang tidak mengandung unsur judi. Dalil dan Hukum Zakat Profesi Dalam ketentuan fiqih klasik, tidak ditemukan penjelasan terkait zakat profesi. Namun demikian, bukan berarti dengan ketiadaan keterangan/penjelasan tersebut maka gaji tidak wajib dizakati. Ulama-ulama kontemporer seperti D.R. Al Qordlowi berpendapat bahwa penghasilan yang diperoleh sebagaimana pengertian tersebut diatas tetap wajib dikeluarkan zakatnya. Pendapat tersebut merujuk pada salah satu riwayat pendapat dari Iman Ahmad bin Hanbal, salah satunya adalah yang dilakukan oleh Mu’awiyah, Awza’i dan Umar bin Abdul Aziz, bahwa mereka mengambil zakat dari ‘Athoyat (gaji rutin), jawaiz (hadiah) dan al madholim (barang goshob/curian…
Read More
Bagaimana Hukumnya Apabila Seseorang Jima’ dalam Keadaan Ihram dan Belum Tahalul Dari Umrah?

Bagaimana Hukumnya Apabila Seseorang Jima’ dalam Keadaan Ihram dan Belum Tahalul Dari Umrah?

Fiqh
Bagaimana hukumnya apabila seseorang jima’ dalam keadaan ihram dan belum tahalul dari umrah, atau sebelum Tahalul Awal pada haji karena lupa atau tidak mengetahui larangannya? Mari kita lihat dari tinjauan madzhab Syafii, antara madzab qadim dan jadid. Madzhab Qadim Haji atau umrahnya menjadi batal dan diwajibkan membayar kafarah. Karena pelanggaran itu sudah membatalkan haji dan atau umrah, maka sama saja dilakukan dengan sengaja atau karena lupa. Madzhab Jadid Tidak batal haji atau umrahnya, tidak pula diwajibkan membayar kafarah.
Read More
Bagaimana Hukumnya Sholat Ketika Disekap di Tempat Najis?

Bagaimana Hukumnya Sholat Ketika Disekap di Tempat Najis?

Fiqh
Tidak ada perbedaan antara madzhab qadim dan jadid dalam madzhab Syafii, bahwa jika seseorang disekap di tempat najis, maka ia harus tetap menunaikan sholat. Pendapat ini berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa rasulullah saw bersabda: اذا أمرتكم بشيء فأتوا منه مااستطعتم Apabila saya memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka hendaknya kalian mengikuti sesuai dengan kemampuan kalian. (HR Bukhari dan Muslim) Dasar lainnya adalah qiyas terhadap orang sakit yang tidak mampu menunaikan sebagian rukun-rukun sholat, dalam kasus ini ia harus semaksimal mungkin dapat menghindarkan diri dari najis dengan kedua tangannya dan lututnya. Serta harus bersujud sebatas tidak terkena najis, dan tidak boleh menempelkan jidatnya ke tanah. Perbedaan antara madzhab jadid dan qadim, terdapat pada: apakah ia harus mengulangi sholatnya atau tidak? Madzhab Qadim Tidak wajib baginya mengulangi sholatnya, keadaannya sama dengan orang yang…
Read More
Seseorang yang Memiliki Luka Berdarah, Apakah Wajib Baginya Mengulangi Shalat?

Seseorang yang Memiliki Luka Berdarah, Apakah Wajib Baginya Mengulangi Shalat?

Fiqh
Terjadi perbedaan mengani seseorang yang lukanya cukup besar dan mengalirkan darah cukup banyak, dimana tidak dapat dimaafkan dan ia takut membasuhnya. Lalu ia shalat dengan keadaannya itu, apakah ia wajib mengulangi shalatnya juga? Mari kita tinjau dari pendapat qadim dan jadid Imam Syafii. Madzhab Qadim Tidak wajib mengulangi shalatnya, karena najisnya itu disebabkan adanya udzur. Maka kewajibannya juga telah gugur. Pendapat ini sejalan dengan pemikiran Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Daud. Madzhab Jadid Ia harus mengulangi shalatnya, kasusnya sama dengan orang yang shalat dan terdapat najis pada pakaiannya, karena lupa. Asy-Syirazi dan an-Nawawi mengatakan, “Pendapat ini adalah pendapat yang paling shahih.”
Read More
Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Benarkah Sholat Maghrib Punya Satu atau Dua Waktu?

Fiqh
Tidak ada perbedaan antara qadim dan jadid bahwa masuknya shalat Maghrib adalah pada saat terbenam matahari. Dasar hukumnya adalah hadits yang menceritakan bahwa Jibril shalat Maghrib ketika matahari terbenam, dan orang puasa telah berbuka. Perbedaannya terletak pada, apakah Maghrib mempunyai dua waktu atau satu waktu? Mari kita tinjau dari pendapat qadim dan jadid Imam Syafii.   Madzhab Qadim Abu Tsaur menceritakan dari Asy-Syafii bahwa shalat maghrib memiliki dua waktu, yaitu saat terbenam matahari, dan kedua adalah dari terbenamnya matahari hngga hilangnya benang merah di langit. Sebagian pengikut madzhab Syafii menjadikan waktu kedua sebagai madzhab jadidnya. Riwayat ini ditentang oleh mayoritas pengikut madzhab Syafii, karena az-Za’farani yang dipercaya orang paling terpercaya dalam madzhab qadim mengatakan bahwa hanya satu waktu bagi shalat maghrib. An-Nawawi menegaskan, “Waktu maghrib yang kedua dari terbenamnya matahari…
Read More